Cerpen “Pilihan” Sakura Alvino dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Pilihan

Cerpen: Sakura Alvino

Sudah setengah jam Indra menatap layar gawainya. Satu nama di aplikasi berwarna hijau mengusiknya pagi ini. Kepulan asap hinggap kemana-mana, melukis kegelisahan di hatinya.

Pesan itu menyentaknya yang sedang mengasuh si bungsu, aktivitas rutinnya ketika hari libur bekerja. Sudah sepuluh tahun ia bekerja sebagai buruh pabrik di salah satu kota besar tempat tinggalnya. Pekerjaan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

[Ibu sakit, Kak. Pulanglah]

Begitulah isi pesan singkat dari adik perempuannya yang sudah lama tak ia jelang. Sejak pernikahan itu seperti merenggut kehidupannya bersama orang tuanya. Hidup bersama perempuan yang memikat hatinya saat pandangan pertama, melahirkan  empat orang anak dengan jarak yang dekat, menuntutnya untuk memalingkan muka menafkahi ibu dan adiknya.

***

Malam kian beranjak. Surti, perempuan berusia tiga puluhan itu ditemani Indra melipat kain hasil jemuran tadi siang. Indra ingin membicarakan perihal pesan adiknya tadi pagi dengan perasaan maju mundur, memastikan mood istrinya tidak buruk malam ini.

“Aku dapat pesan dari Rina tadi pagi,” Indra membuka bicara. Tangannya meletakkan baju kaos Si Bungsu di jejeran baru yang sudah dilipat.

“Pesan apa? Minta uang lagi?” tiba-tiba mood Surti berubah mendengar nama adik perempuannya.

“Ibu sakit. Aku disuruh pulang.” Indra masih enggan melanjutkan keinginannya untuk pulang besok pagi.

“Trus kalau kamu pulang, kerjaanmu gimana? Anak-anak gimana? Aku susah ngurus empat bocah seharian,” Surti semakin cemberut.

“Palingan sakit demam biasa. Besok juga sembuh,” sambungnya lagi. Indra beranjak dari dudukannya menuju teras rumah. Sulit sekali untuk sekadar menjenguk orang tua di kampung. Sesekali ia menyesali nasibnya yang harus ia jalani.

“Mau kemana kamu, Bang?” Surti meninggikan suara. Anak-anaknya sudah terlelap di kasur busa disudut ruangan.

“Ngerokok” jawab Indra berlalu. Pikirannya pelik. Ia merasa sakit ibunya kali ini cukup serius. Pasalnya ia melihat status adiknya siang tadi berada di salah satu rumah sakit swasta di kotanya.

Mungkinkah ibu dirawat? Batinnya

Tapi keinginannya membalas pesan dari adiknya selalu ia tunda. Ia takut memberikan janji yang tidak pasti.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Rina terpampang jelas. Tanpa pikir panjang ia langsung menggeser tombol hijau dari smartphone-nya.

“Ibu di rawat, Kak. Tadi siang aku bawa ke IGD diantar tetangga” Rina menyampaikan berita itu pada Indra selepas menjawab salam.

“Ibu sakit apa?” Napas Indra bergetar. Jauh dari dalam hatinya, ia menyiapkan mental untuk mendengar jawaban Rina.

“Ibu sakit kanker usus, Kak,” suara Rina parau di seberang.

“Kapan Kakak pulang? Ibu nggak sadarkan diri,” tangis Rina pecah. Isakannya terdengar sampai ke seberang telpon.

“Doakan Kakak bisa pulang, besok atau lusa insyaAllah,” tanpa memikirkan izin istrinya, Indra menjawab mantap.

Telpon terputus setelah lama Rina terisak dan Indra kesulitan untuk menenangkan gadis remaja itu.

Indra segera melangkah ke kamar. Ia dapati Surti sedang menyusun baju ke dalam lemari.

“Aku harus pulang besok. Ibu dirawat di rumah sakit.” Indra menjelaskan dengan nada setengah panik.

“Pulanglah. Tapi jangan lama-lama. Aku nggak mau lama-lama ngurus anak-anakmu sendirian,” Surti berlalu ke kamar mandi. Rutinitasnya sebelum tidur.

***

Perjalanan darat selama hampir 8 jam mengantarkan Indra ke kampung halamannya. Tujuannya bukanlah rumah batu dengan desain lama, tapi rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota kelahirannya. Meski agak kesulitan menghubungi adik semata wayangnya, ia akhirnya bertemu dengan perempuan yang kemerut di wajahnya sudah kentara. Ia gamit tangan lemah itu, ibunya belum sadarkan diri.

“Bu, aku pulang,” Air mata Indra membasahi punggung tangan ibunya. Namun ibunya bergeming. Suara mesin-mesin otomatis di ruangan itu berdenyit beraturan.

Rani memandangi punggung kakak lelakinya dari ujung ranjang. Ada rasa syurkur menyelinap dalam hatinya, ia kembali merasa ditemani.

Sudah tiga hari perempuan yang rambutnya mulai memutih helai demi helai itu, akhirnya membuka mata. Indra yang sejak kemarin menggenggam telapak tangan ibunya ikut tersentak. Ibu siuman.

Perempuan tua itu tersenyum. Kebahagiaan memancar dari wajahnya. Anak lelakinya akhirnya pulang menemuinya setelah bertahun-tahun yang lalu pamitan merantau ke negeri sebelah bersama perempuan muda yang telah sah menjadi istrinya.

Kondisi ibu belum stabil, tapi sejak dua jam yang lalu Indra nampak gusar. Ia berulang kali menerima telpon dari istrinya dan puluhan pesan di aplikasi hijau sampai di gawainya.

“Bang, kapan pulang? Aku sudah nggak tahan mengurus anak-anak. Mereka rewel  terus menanyaimu. Aku capek, pulang kerja di pabrik mengurus rumah dan anak sendirian.” Celoteh Surti di seberang telpon.

“Ibu baru siuman tadi pagi. Tunggulah sampai ibuku pulang ke rumah,” Indra menjelaskan dengan singkat.

“Lah, ibumu kan sudah sadar. Ya udah. Pulang. Apa kamu nggak kasian sama anak-anak?” ucap Surti tidak peduli.

“Tunggulah beberapa hari lagi. Ibu juga belum kuat. Gimana aku bisa pulang?”

“Ya tinggal pulang aja. Kenapa jadi susah. Adikmu memang tidak bisa mengurus ibu sendiri. Kan dia sudah besar”

“Iya, sabarlah dulu,” Indra masih ingin meminta waktu. Lagi pula dia sudah minta izin cuti karena ibunya sakit.

“Sabar. Sabar. Aku capek kerjaan menggunung begini,” ucap Surti.

“Pokoknya kamu pulang besok. Aku nggak mau tahu. Kalau besok kamu belum berangkat ke sini, aku akan pergi tinggalin anak-anak di rumah,” lanjutnya.

“Loh. Kamu mau kemana?” Indra terjepit. Surti semakin susah dikendalikan.

“Aku capek, Bang!” bentak Surti sambil memutus telpon.

Indra dilema. Ia harus memilih ibu atau istri dan anaknya. Ia ingin berpamitan pada ibunya, namun hatinya tidak tega. Sementara tanggung jawabnya juga ada di rumah.

Akhirnya, setelah berpikir berjam-jam, Indra terpaksa izin pamit pada ibunya agar berangkat esok hari. Dengan berat hati, ibunya mengizinkan. Ada sebutir genangan air di sudut mata perempuan tua itu. Rani pun juga tidak bisa menghalangi kakaknya, ia paham tabiat kakak iparnya yang keras.

Di tengah perjalanan pulang, Indra mendapati foto ibunya tertidur sambil tersenyum. Foto itu diiringi pesan dari Rani, bahwa ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya telah berpulang ke rahmatullah.

 

Biodata Penulis

Sakura Alvino. Nama pena dari Fitri Afriani. Lahir dua puluh delapan tahun yang lalu. Saat ini berdomisili di Bukittinggi. Saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Karya terbarunya terangkum dalam antologi Melukis Waktu (2019). Penulis dapat dihubungi via whatsapp di 081374507670 atau afrianifitri92@gmail.com

 


 

Cerpen Pilihan dan Luka Kultural Laki-Laki Minangkabau

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Dosen UPN Veteran Jakarta dan
Pengurus FLP Sumbar)

 “Sastra harus berpihak pada kemanusiaan,” (Azwar Sutan Malaka)

Dalam buku Membaca Sastra Membaca Dunia yang diterbitkan oleh Penerbit Basabasi, pada tahun 2018, saya menuliskan bahwa manusia harus berpihak pada nasib kurang baik manusia lainnya. Dalam karya sastra, harus ada pengarang-pengarang yang menulis tidak hanya untuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi juga harus ada pengarang yang memihak pada orang-orang tertindas. Mesti ada pengarang yang memperhatikan nasib rakyat miskin dan harus ada pengarang yang berjuang untuk kemakmuran sesamanya.

Cerpen “Pilihan” karya Sakura Alvino yang dibahas dalam Kritika minggu ini walaupun tidak secara gamblang menceritakan kisah-kisah manusia tertindas dalam ceritanya. Akan tetapi, setidaknya penulis sudah mencoba mengangkat ketertindasan manusia. Melalui tokoh Indra sebagai tokoh utama dalam cerpen ini, Sakura sudah membela nasib laki-laki Minangkabau yang belum merdeka secara ekonomi sehingga menyebabkan tertindas oleh tuntutan-tuntutan duniawi.

Indra, laki-laki Minangkabau yang menikah dengan perempuan yang bukan dari latar belakang budaya Minangkabau (ini terlihat dari pemilihan nama tokoh Surti untuk istri Indra yang tinggal di seberang). Saya membayangkan Indra pindah Riau setelah menikahi perempuan itu. Penulis menceritakan jarak tempat tinggal tokoh ini dengan rumah ibunya sekitar 8 jam perjalanan dengan mobil.

Sebagai buruh pabrik dan istri yang juga bekerja sebagai buruh pabrik, dengan empat orang anak yang masih kecil, kehidupan Indra digambarkan pas-pasan. Mungkin berkekurangan. Karena sempitnya hidup itu Indra tidak bisa pulang ke kampung halamannya sejak dia menikah. Baru ketika Ibunya masuk rumah sakit, karena sakit yang sudah sangat parah, Indra bisa pulang kampung, itupun harus bertengkar dulu dengan istrinya.

Inilah yang saya sampaikan di awal tulisan. Karya sastra harus berpihak pada manusia tertindas, walau dalam artian yang sederhana. Penulis cerpen ini berpihak pada kemalangan hidup Indra, yang pada dasarnya ditindas oleh kepahitan hidup karena belum merdeka secara ekonomi.

Sastra walaupun karya fiksi/rekaan, namun ia lahir dari kristalisasi kehidupan manusia itu sendiri. Menurut Sumardjo dan Saini K.M. (1988) sebagaimana yang ditulis dalam buku Apresiasi Kesusastraan, yang diterbikan PT. Gramedia dinyatakan bahwa karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Sebuah karya sastra yang baik memiliki sifat-sifat yang abadi dengan memuat kebenaran hakiki yang selalu ada selama manusia masih ada.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Suwardi Endraswara penulis buku Metode Penelitian Sastra yang menyampaikan bahwa sastra tidak hanya sekadar karya yang bersifat imajinatif dan pribadi, tetapi dapat pula merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu dilahirkan.

Pendapat-pendapat di atas, mewakili tema besar Cerpen “Pilihan” ini. Sakura mengangkat sebuah persoalan sosial dan budaya yang sering dihadapi lelaki Minangkabau. Sebagai laki-laki yang hidup dalam garis budaya matriakat, lelaki Minangkabau menghadapi masalah-masalah yang barangkali tidak biasa dihadapi oleh laki-laki lain yang tumbuh dan besar bukan dalam budaya matriakat.

Lelaki Minang pada dasarnya secara adat dan budaya Minang tidak memiliki kedudukan yang kuat atas kepemilikan harta. Ia tidak mendapat “kamar” di Rumah Gadang. Kalau lelaki sudah dewasa dia akan tidur di surau, sembari belajar silat dan mengaji. Di surau, ia ditempat bekal-bekal hidup untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya nanti.

Lelaki Minangkabau setelah menikah akan tinggal di rumah istrinya dalam posisi yang menyedihkan “seperti abu di atas tunggua”. Ia mencari kehidupan tidak hanya untuk anak dan istrinya, tetapi dia juga mencari hidup untuk menafkahi orang tua dan saudara-saudara perempuannya. Ia menjadi pelindung untuk kaumnya.

Masalah yang sering muncul dalam kehidupan lelaki Minangkabau adalah ketika ia gagal secara ekonomi. Hal itu akan menjadi pintu kegagalan pada kehidupannya. Ketika ia menjadi lelaki yang tidak mapan secara ekonomi, dia tidak bisa diharapkan oleh kaumnya. Ia tidak bisa memberi nafkah untuk ibu dan saudara perempuannya. Kondisi ini akan menjadi permasalahan dalam keluarga kecilnya. Itulah luka-luka kultural lelaki Minangkabau.

Walaupun mengangkat tema yang klasik, namun Cerpen “Pilihan” ini cukup mewakili kondisi sosial yang sekarang terjadi dan dihadapi oleh banyak lelaki Minangkabau. Istrinya biasanya akan menjadi kunci masalah ketika lelaki Minangkabau tidak merdeka secara ekonomi. Lain halnya jika laki-laki Minangkabau berhasil dalam kehidupannya, ia tidak akan menghadapi masalah seperti masalah yang dihadapi oleh tokoh Indra dalam Cerpen “Pilihan” ini.

Justru, sebagai laki-laki Minangkabau, jika sukses hidup di rantau maka marwahnya dan juga marwah kaumnya akan terangkat di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Ia akan menjadi buah bibir dan akan menjadi tauladan bagi anak-anak muda lainnya. Ia akan menjadi tempat bertanya jika perlu, dan tempat mengadu kalau masyarakat mengadapi masalah.

Terlepas dari nilai-nilai positif dari, cerpen ini yang sudah mampu menghadirkan konflik sosial yang dihadapi oleh banyak orang. Cerpen ini juga masih memiliki kekurangan. Pertama dari segi tata bahasa, saya selalu mengingatkan teman-teman penulis agar menguasai teknik penulisan. Karena sebagai penulis, keterampilan bahasa ini adalah keterampilan dasar untuk menulis. Selain itu, saya juga menyarankan agar Sakura Alvino memperkaya bacaannya agar ketika menulis karyanya bisa “berisi” dan lebih mendalam.

Selain itu, hal kedua selain tata bahasa adalah keberanian untuk mengangkat persoalan budaya dalam karya sastra akan memperkuat cerpen ini. Sakura masih ragu-ragu untuk mengangkat persoalan budaya (Indra sebagai lelaki Minangkabau yang memiliki tanggung jawab kepada Ibu dan saudara perempuannya). Konflik dalam cerpen ini seolah menyalahkan tokoh Surti, sebagai istri Indra yang cerewet, tidak berperi kemanusiaan, dan tidak menghargai mertuanya. Padahal sejatinya, konflik akan semakin tajam jika Sakura berani mendalaminya dengan membawa persoalan budaya dan tradisi yang berbeda antara kedua tokoh suami istri ini.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari Cerpen “Pilihan” ini, yang pasti saya mengucapkan selamat pada Sakura Alvino yang telah berhasil menulis cerpen yang menarik ini. Semangat berkarya. Ditunggu karya-karya selanjutnya.

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *