Cerpen Dara Puspa Mulyana dan Ulasannya oleh Medi Adioska

Surat Cinta Setelah Kematian

 

Foto : Sepucuk Surat Cinta dari Laki-Laki untuk Perempuan

Cerpen:Dara Puspa Mulyana

“Ketaatanmu kepada Tuhan membuatku jatuh. Sejatuh-jatuhnya!”
~darapuspamulyana~


Awan tampak kelabu menyelimuti bumi yang sudah menua. Kesegaran disuguhkan oleh tumbuhan setelah bercumbu dengan hujan karena lama memendam rindu yang kekeringan. Sepertinya hujan masih enggan meninggalkan bumi yang sabar menantinya. Itu terlihat dari raut awan yang betah dalam posisi mendung.

Dalam keheningan yang menyelimuti kamar bernuansa abu-abu, duduk terpekur seorang gadis. Gadis itu menulis pada lembaran kertas dengan sesekali terdengar isakan dari bibirnya, bahunya naik-turun menandakan dia berusaha menahan tangis. Tangannya gemetar menuliskan kaa-kata pada lembaran kertas.

Matanya menerawang ke depan dengan pandangan yang terlihat kosong, jejak-jejak air mata masih tampak jelas pada pipi gadis itu, matanya bengkak dengan hidung memerah. Setelah menulis, gadis itu meletakkan tangan di atas meja dengan tangan kanan dijadikan sebagai alas kepala. gadis itu ingin berteriak dan menangis sekencang-kencangnya, tapi yang bisa ia lakukan hanya mengurung diri di dalam kamar sambil menangis, menangis, dan menangis.

Perlahan, lelah merobohkan pertahanan gadis cantik itu. Matanya terpejam dan sedikit merasakan perih saat kelopak matanya ingin menutup.

Oh ayah,

Mengertilah

 Rindu ini, tak terbelenggu …

Laraku,  setiap teringat penunggunya …

Ho.. ooo…ho…ooo…

Seorang gadis cantik dengan rambut dikucir kuda berjalan sambil menyenandungkan salah satu lagu Indie milik Banda Neira. Kakinya berjalan lebar-lebar sambil mengunyah permen karet di dalam mulutnya.

“Hei kucing manis, kamu terlihat lapar, maukah kamu memakan ini?” Terdengar suara berat seorang pemuda, ia menyodorkan sepotong ayam goreng pada kucing yang tampak kurus dan terlihat tidak terurus itu.

Gadis itu tiba-tiba berhenti, lalu memerhatian interaksi yang ada di depannya.

“Masyaallah, ganteng banget.. Ya Allah! Baik lagi, sama binatang.” Batin gadis itu.

Deg. Deg. Deg.

Gadis itu menyentuh dadanya, kenapa jantungnya berdetak kencang dan mukanya terasa memanas?

“Ugh…”

Terdengar lenguhan dari bibir sang gadis, kepalanya terasa pusing  karena efek  lama menangis dan sempat tertidur. Gadis itu melihat pada pada jam dinding dan sekarang sudah memasuki waktu salat Ashar, dia melangkangkahkan kakinya untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat. Dalam salatnya ia tidak bisa menahan air mata yang tumpah, bahunya naik-turun, isakan-isakan kecil terdengar di sela-sela salatnya, betapa ia merasa malu pada Sang Pencipta. Dalam sujud terakhir, tangis gadis itu pecah, ia hanya menangis karena tau tanpa ia ucapkan, Allah SWT pasti akan tau dan mengerti apa yang ia rasakan dan berharap semoga Allah SWT mau memaafkan semua kesalahannya. Usai salat dan berzdikir, gadis itu keluar dari dalam kamarnya dan mengambil kertas yang ditulisnya tadi, lalu dimasukkannya ke dalam saku gamis yang dipakainya.

Semilir angin berhembus lembut, mengibarkan ujung kerudung hitam sang gadis, gadis itu berjalan melewati gundukan-gundukan tanah merah dengan nisan di atasnya, semerbak bau bunga kamboja memenuhi indera penciuman. Betapa kita manusia sangat kecil, tidak ada yang bisa disombongkan, sebab semua yang hidup akan meninggal dan dikubur di dalam tanah, membusuk dan dimakan oleh cacing-cacing dan lintah. Kecantikan, jabatan, harta tidak ada yang bisa menolong. Hanya amalan shalehlah yang akan menemani kita di bawah tanah yang tertimbun itu.

Sarah, nama gadis yang sedang memperhatikan orang-orang beranjak pegi dari penguburan jenazah, ia nenatap nanar orang-orang itu. Saat tidak ada lagi orang disana, Sarah berjalan mendekati kuburan itu, langkahnya tertatih. Sarah duduk berjongkok di samping kuburan yang ditaburi berbagai jenis bunga. Tangannya tampak gemetar memegang nisan yang bertulisan M. Alvi binti Ramlan.

“Assalamu`alaikum wahai pemuda yang Insyaallah beriman.” Ucap Sarah dengan air mata yang tak dapat dibendungya.

“Beginikah caramu meninggalkanku? gadis yang bahkan tak kau ketahui namanya. Haha.. lucu bukan?” Sarah tertawa hambar sambil terus bermonolog pada nisan di depanya, berharap orang yang telah meninggalkan dunia yang fana ini dapat mendengarnya.

“Akulah gadis yang diam-diam mencari tau semua kegiatanmu, gadis yang bersemangat pergi ke masjid saat tau kau yang adzhan mengumandangkan asma Allah dengan merdunya, akulah gadi..ss yang merubah penampilan menjadi wanita syar`i supay..a bisa menarik per hati an mu! Hiks .. hiks .. hiks ..”

Sarah terus bebicara dengan sersendat-sendat.

“Taukah kamu? Aku pernah bermimpi bisa salat berjamaah bersamamu, tapi apa yang kau lakukan? Kau memaksaku ikut mensalatkanmu sebagai janazah bukan sebagai imamku!” Sarah menangis tergugu di depan kuburan itu.

“Sebab kau, aku berniat untuk berhijrah berharap kau mau menatapku walau hanya sekali. Tapi kini Allah menegurku, kepergianmu membuatku sadar jika sangat sakit rasanya menggarapkan cinta manusia, sedang cinta Sang Maha Pencipta dan yang Menciptakan cinta itu sendiri aku abaikan.”

“Terima kasih telah mengingatkanku tentang apa saja yang diciptakan Allah itu bersifat fana, dan Allahlah Yang Maha Kekal.”

Sarah kemudian mengeluarkan kertas yang ada pada gamisnya, ia menghirup napas dalam-dalam dan memegang kuat kertas itu.

Assalamu`alaikum…

Maafkan aku yang telah lancang memandangmu diam-diam, padahal itu adalah

dosa

Maafkan aku yang telah menjadikannu alasan untuk berhijrah. Padahal, itu tidak disukai oleh Tuhan kita, Allah SWT.

Detak jantungku seolah menggila saat retinaku menatap punggungmu,

Radarku selalu mencari tau tentangmu

Dan khayalku selalu dengan lancang memikirkanmu

Perihal ketaatanmu pada Tuhan, membuatku jatuh, sejatuh-jatuhnya

Aku bisa apa? Takdir mempertemukan kita dan takdir pula yang memisahkan kita

Kau dengan keimananmu dan aku yang berpura-pura beriman

Kabar kepergianmu bagaikan racun yang menghentikan aliran nadi

Siang tadi aku mendengar kau meninggal akibat kecelakaan

Dan benar, tubuh kaku terbungkus kain putih membuktikan itu semua

Muhammad Alvi, akulah gadis jahiiyah yang mencintaimu

Pemuda yang sangat baik pada kucing kelaparan

Aku sungguh mencintaimu,

Tapi sayang, cinta itu hanya bisa aku tuliskan pada selembar surat cinta ,

yang kutulis setelah kematianmu.

Sarah meremas surat itu, dadanya terasa amat sesak, ia memukul-mukul pelan dadanya berharap ada sedikit rongga untuknya bernapas dan berharap ini hanya mimpi, tapi sesak yang ia rasa membenarkan jika ini adalah nyata. Dia juga menyesal melihat Alvi yang beriman. Itu membuatnya juga ingin terlihat beriman agar bisa mendekati pemuda itu.

Astagfirullahal`adzim……

Astagfirullahal`adzim……

Astagfirullahal`adzim……

Sarah beristigfar dan memohon ampun kepada Allah, ia sadar jika ia salah dan sekarang Allah sedang menegurnya, karena cintanya pada manusia secara berlebihan membuat Alah cemburu, dan Allah ingin ia kembali pada jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah SWT.

Sarah menghapus air matanya dan berdo`a untuk Alvi, sekaligus untuk dirinya. kemudian Sarah berdiri dan menyeret kakinya dari kuburan itu, langkah kakinya masih saja tertatih dengan sesekali menengok ke belakang. Semburat jingga menemani Sarah yang meninggalkan kuburan itu dengan penyesalan yang teramat dalam bersama luka yang ditorehkannya sendiri, kepergian Sarah disambut lantunan adzhan Maghrib.

“ALLAHU AKHBAR….    ALLAH MAHA BESAR…”

“ALLAHU AKHBAR….    ALLAH MAHA BESAR….”

Sarah kembali menitikkan air mata saat mendengar sura adzhan yang tak lagi sama. Sarah bertekad akan berhijrah semata karena Allah, kejadian ini memberikan banyak pelajaran dalam hidupnya.

Setiap manusia pernah mengalami masa jahiliyah, masa dimana belum mengenal Tuhannya dengan baik, masa dimana ia belum dapat mengerjakan ibadah dengan sungguh-sungguh, masa dimana ia sering berbuat keingkaran yang terkadang membuat Tuhan Semesta Alam Murka, yakni Allah SWT. Terlepas dari itu, ampunan Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Dan hidayah Allah akan sangat sering menyapa kita, dan semua ada di tangan kita, ingin menyambutnya atau malah mengacuhkannya.

Alahan Panjang, 2018

 

BIODATA SINGKAT

Dara Puspita MulyanaDara Puspa Mulyana, lahir di daerah yang dikenal sebagai Kota Dingin Tak bersalaju, 03 Juy 2000. Saat ini sedang menyelesaikan program S1 di Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI SUMBAR, dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dara juga aktif menulis antalogi pulisi dan novel di Wadpatt.  IG: @daraa.pm


 

Menunggu Keunikan Pengarang dalam Cerpen
“Surat Cinta setelah Kematian”

 

M. AdioskaOleh: Medi Adioska

Itulah sebabnya, di antara keunikan dan kekhasan karya sastra, di dalamnya selalu saja ada sifat-sifat manusia yang berlaku universal.
(Maman S. Mahayana, 2011)

 Dalam pemaparannya yang dimuat dalam Majalah Sastra Horison, Edisi Oktober 2011, Maman S. Mahayana menerangkan panjang lebar tentang apa yang ia maksud dengan unik, khas, dan sifat manusia yang berlaku universal. Dapat dijelaskan dengan ringkas bahwa unik dalam sebuah karya mengacu kepada proses kreatif dan berpikir dari pengarangnya. Satu peristiwa yang sama, bisa jadi akan digambarkan secara berbeda oleh dua orang pengarang, sebab sebuah karya (sastra) adalah hasil perenungan yang intens dari dua orang pengarang tersebut. Khas  mengacu kepada pandangan, ideologi, sikap, persepsi, dan style dari pengarangnya. Sementara itu, sifat yang berlaku universal dalam sebuah karya digambarkan sebagai sifat yang biasanya tidak terikat oleh perbedaan suku bangsa, warna kulit, agama, dan sebagainya. Contoh sifat tersebut di antaranya keadilan, kemunafikan, cinta, dan sifat-sifat lain yang dimiliki manusia. Mahayana menambahkan bahwa karya sastra yang baik selalu akan menampilkan kekhasan dan kenuiversalan tersebut.

Mengacu pada paparan di atas, membaca cerpen “Surat Cinta Setelah Kematian” karya Dara Puspita Mulyana, secara eksplisit, pembaca dapat langsung menangkap sebuah nilai universal yang ada didalamnya, yaitu cinta. Ya, dari dahulu sekali hingga pada masa ini, cinta adalah adalah sebuah tema yang melulu dicukil oleh para pengarang. Dengan kepiawaian masing-masing, para pengarang menggarap tema yang satu ini dengan apik, sehingga memunculkan karya-karya yang fenomenal. Mereka menggodok cinta menjadi sesuatu yang mengharu biru, merakit cinta hingga berdarah-berdarah, atau merangkai cinta hingga ke ujung nyawa. Dalam cerpen ini pun, kita dapat menemukannya.

Pada sudut pandang yang lebih sempit, cerpen ini membahas tentang cinta yang tak kesampaian, atau pada masyarakat lebih akrab dikenal dengan kasih tak sampai. “Beginikah caramu meninggalkanku? gadis yang bahkan tak kau ketahui namanya. Haha.. lucu bukan?” Sarah tertawa hambar sambil terus bermonolog pada nisan di depanya, berharap orang yang telah meninggalkan dunia yang fana ini dapat mendengarnya.” Cerita tentang kasih tak sampai juga sudah sangat banyak kisahkan oleh pengarang atau penggiat sastra terdahulu. Sebagai contoh dan perbandingan, sebut saja dua buah karya yang sudah sangat umum dikenal, yaitu kisah Siti Nurbaya oleh Marah Rusli, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk oleh Hamka. Kedua karya tersebut secara jelas mengusung tema kasih tak sampai antara tokoh utamanya. Yang membedakan keduanya adalah cara penggarapan kisah tersebut. Melalui tangan ahli serta kepiawaian bercerita yang apik, kedua karya tersebut menjadi besar walaupun dengan tema yang sama. Mengenai hal ini, Mahayana menambahkan: “Tema besar dengan penggarapan yang dangkal, tetap saja tidak akan membantu karya itu menjadi penting. Sebaliknya, tema sederhana dengan pengarapan yang mendalam akan menghasilkan karya yang bermutu (Mahayana, 2011)

Kutipan di atas dengan jelas mengisyaratkan bahwa penggarapan dalam sebuah karya memegang peran yang lebih tinggi dari pada tema. Tema yang sederhana bisa saja menghasilkan sebuah cerita yang luar biasa jika pengarangnya piawai dalam memainkan plot, penokohan, atau unsur cerita lainnya. Kepiawaian para pengarang tersebut pada akhirnya akan memunculkan keunikan dan kekhasan masing-masing, sehingga pada ujunganya karya-karya yang dihasilkan akan lebih menarik dan dilirik.

Mengacu kembali ke “Surat Cinta Setelah Kematian”, dapat dilihat bahwa cerita disampaikan dengan lugas dan bahasa yang mengalir. Hal ini menjadikan cerita ini mudah dicerna bagi pembacanya. Namun, di sisi lain tampaknya penulis belum memunculkan keunikan atau kekhasan karyanya. Ide serta gaya bercerita yang disajikan dalam cerpen ini sudah terlalu umum ditemukan dalam banyak penceritaan, terutama cerita pendek. Kisah tentang seseorang yang jatuh cinta –yang entah apapun alasannya- kemudian orang yang dicintainya meninggal. Tinggallah salah satu tokoh bergelut dengan rasa kehilangan, terutama kehilangan mimpi yang selama ini hanya sebatas khayal.

Ide dan tema cerita seperti di atas sah-sah saja karena memang tidak ada batasan ide dalam berkarya. Namun pada tingkat lanjut, yang menjadi tantangannya adalah bagaimana ide dan tema tersebut digarap sehingga memunculkan keunikan tersendiri. Pada akhirnya keunikan itulah yang akan menjadi nilai tambah dalam setiap karya yang dihasilkan.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa jikapun tidak semuanya, hampir sebagian besar sebuah karya sastra bersumber dari kehidupan nyata untuk kemudian dikembangkan menjadi alur yang menarik dan melahirkannya dalam bentuk sebuah karya. Sebagaimana yang disebutkan oleh Jamal D. Rahman “Karya sastra merupakan respon kreatif seorang sastrawan terhadap lingkungan dan kenyataan yang menarik perhatiannya. (Rahman, 2011).”

Dari kutipan di atas, dapat dilihat bahwa respon kreatif hasil olah pikir dan perenungan pengarang sangat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah cerita yang menarik. Sayangnya, dalam “Surat Cinta Setelah Kematian” hasil respon kreatif dari pengarangnya belum terlihat dengan jelas. Cerita kasih tak sampai yang dipisahkan karena sebuah kematian adalah tema klasik yang berulang kali digarap banyak pengarang.

Selanjutnya, membaca cerpen ini seakan memanggil lagi ingatan belasan tahun yang lalu saat para penulis dari FLP -terutama  wilayah Sumatera Barat- sedang produktif dalam menghasilkan karya. Banyak cerpen atau jenis karya fiksi lainnya yang berbau Islam muncul ke permukaan saat itu. Karya-karya tersebut, secara eksplisit, biasanya ditandai dengan adanya penggunaan istilah atau lafaz-lafaz Islami yang biasa digunakan dalam penceritaanya. Namun yang menariknya, dari sekian banyak karya yang lahir waktu itu, masing-masing karya tersebut mempunyai tempat tersendiri di hati pembacanya meskipun tema yang diusungnya cenderung sama. Lagi, sejarah membuktikan bahwa keunikan dan kekhasan pengarangnya menjadi kekuatan pendorong atas menariknya sebuah karya.

Di luar dari pembahasan di atas, satu hal yang menjadi catatan dalam cerpen ini adalah penempatan posisi pembaca. Pembaca adalah orang yang cerdas. Tidak disampaikanpun biasanya mereka mampu menangkap makna yang tersembunyi dalam sebuah karya bahkan dengan banyak interpretasi sekaligus. Sampaikanlah tapi jangan dikatakan, sebab memadukan ceramah dengan fiksi rasanya juga kurang enak untuk dicerna.

Terakhir, selamat kepada Dara Puspa Mulyana karena sudah menghasilkan sebuah karya. Teruslah berproses untuk hasil yang lebih baik.(*)

 

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *