Awan Pilu

Cerpen: Ulul Ilmi Arham
Tangan Mara gemetar menerima amplop berwarna merah marun dari Sigit. Bagai disambar petir, ia kehilangan kata membaca nama lelaki itu yang tertulis di sampul depannya. Lebih pedih lagi, bukan namanya yang bersanding di situ, melainkan gadis lain yang entah siapa. Seingatnya, sahabat dekatnya itu tak pernah sekali pun menyebut nama gadis ini. Apalagi membahas amplop dadakan. Tak sekali pun. Tanda tanya membuncah dalam benaknya. Kenapa tiba-tiba saja, surat undangan berpita abu-abu dan beraroma mawar ini mendarat di depan pintu rumahnya?
Dia dan Sigit selama ini terbiasa menceritakan apa pun. Keluh kesah, impian, dan kegelisahan, tak ada yang dirahasiakan di antara mereka. Tak sekali dua kali pula mereka merancang masa depan bersama. Mereka berencana setamat kuliah akan merantau ke ibu kota, mencari kemapanan finansial. Tumbuh sebagai dua manusia lugu yang belum pernah menjejakkan kaki ke luar Jogja, menjadikan tekad untuk meraih kesuksesan di perantauan semakin kuat. Sayangnya, Mara tak bisa meninggalkan kampung halaman. Selepas gelar sarjana diraih, ia harus berbakti kepada sang ibunda yang tiba-tiba lumpuh akibat stroke. Mara melepas cita-citanya menjadi seorang arsitek untuk merawat satu-satunya keluarga yang tersisa. Berangkatlah Sigit seorang diri sambil keduanya saling berjanji untuk terus menjaga komunikasi dan saling mengabari.
Jarak yang terbentang jauh dari Jogja ke Jakarta tak mengurangi kedekatan mereka. Kenyamanan itu tumbuh subur dan menyemai benih-benih cinta di hati Mara hingga merekahlah harapan untuk bisa dipersunting sahabatnya itu. Pun juga, Sigit pernah berjanji akan setia menemani Mara. Ia menganggap janji itu sebuah itikad cinta serius dari Sigit.
Mara ingat betul ucapan pemuda itu padanya saat ia berada di titik terendah hidupnya. Tenang, koe ora dewe. Nek enek opo-opo, cerito o karo aku. Aku ra bakal ninggalke kowe.* Ia baru kelas XII SMA saat sang ayah sudah berpulang ke pangkuan Tuhan. Ia benar-benar terpuruk dan merasa sendirian. Saat itulah, Sigit datang dan menawarkan pelukan hangat persahabatan. Perempuan mana yang tak akan luluh pada rayuan itu. Sebuah janji manis yang diucapkan seorang laki-laki bahwa akan setia menemani. Atau mungkin dirinya saja yang terlalu naif? Menganggap kebaikan hati Sigit adalah perlakuan istimewa yang biasanya diberikan lelaki hanya pada perempuan istimewa pula. Kenaifan itu menjadikannya buta. Tujuh tahun lamanya ia hanya memandang Sigit, bahkan di saat pujaannya itu tak ada di dekatnya.
Kenaifan itu membuatnya berani bermimpi. Mengirim candaan yang sebenarnya bermotif terselubung. Ia ingin agar Sigit segera menyatakan perasaannya. Mara tahu, Sigit memang tak pernah berkata cinta padahal sebenarnya ia sayang dan peduli padanya. Instingnya sebagai perempuan meyakini itu. Bukankah laki-laki memang tak perlu mengumbar ucapan? Yang penting adalah pembuktian dengan perbuatan. Sigit sudah membuktikan janji-janji cinta yang biasa diumbar lelaki di luar sana, menemani Mara mengarungi pasang surut dan pahit manis hidupnya.
“Git, mbokmu wis nagih putu.”* Mara terkenang candaannya dengan Sigit via telepon setelah selesai mengantar ibu Sigit ndungo ke acara selametan akikah di desa sebelah.
Rumah mereka berdua yang memang bersebelahan. Itu menjadikan Mara sudah seperti anak sendiri. Tak sekali dua kali ibu Sigit mengantarkan kue untuknya; meniran, klepon, dan tiwul. Makanan kesukaannya yang tak pernah lagi ia nikmati semenjak ibunya lumpuh. Saking dekatnya mereka berdua, tak ada lagi kecanggungan antara Mara dan ibu Sigit untuk bercerita. Apalagi Sigit anak yang paling tua dan punya dua orang adik yang masih kecil, kehadiran Mara seperti sangat dibutuhkan mengingat sosok sang kakak sudah pergi jauh merantau.
“Aku luwih mending dijaluki duit daripada dijaluki putu.”* Sigit tertawa terbahak di seberang telepon. Ia seolah enggan membahas masalah pernikahan.
Ya, saat itu Sigit baru mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan tetap di sebuah perusahaan konstruksi. Ia dan timnya dipercaya mengurus pembangunan sebuah mall di pusat kota Jakarta. Sangat membanggakan. Hampir tiap malam ia berceloteh tentang progres proyek itu atau hal-hal konyol yang terjadi di kantor. Mara ikut senang mendengarnya. Tak sedikit pun, ada rasa iri di hatinya, sahabatnya yang justru berhasil meraih cita-cita. Baginya, apa yang membuat Sigit bahagia akan membuat dirinya bahagia juga.
Semua berjalan begitu indah. Candaan mereka menjadi lebih romantis. Saling memanggil sayang, menyatakan rindu, dan mengajak Mara untuk tinggal di Jakarta. Mara yakin, bukan hanya ia yang memiliki perasaan cinta ini. Diam-diam, ia berharap dan meyakini, Sigit juga memandam perasaan yang sama.
Namun, siang ini di bawah langit mendung Gunung Kidul, ia yang lelah baru saja pulang mengajar semakin tak kuasa berdiri di atas kedua kaki setelah menerima undangan ini. Undangan pernikahan dari laki-laki yang dia kira akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Hatinya hancur sehancur-hancurnya. Seluruh angan masa depannya musnah seketika. Ia kehilangan semangat hidup, kehilangan tujuan. Membayangkan malam-malamnya akan sendiri dan sepi tanpa kehadiran Sigit.
Ia membenci Sigit dengan seluruh pilu yang terukir di atas kenangan manis mereka. Ini tidak adil. Kenapa Sigit harus memberinya janji setia dan membuatnya jatuh cinta? Kenapa Sigit harus berjanji jika pada akhirnya ia justru menikahi gadis lain? Kenapa dan kenapa dan sejuta kenapa yang membuatnya kecewa. Mara tak sangup menahan tangis. Bulir-bulir bening menetes dari kedua matanya. Ini menyakitkan, Git. Bagaimana aku harus berpura bahagia dengan kebahagiaanmu ini? Aku tak bisa menyembunyikan pedihku. Bagaimana aku harus melupakan semua kenangan kita? Mara ambruk, kakinya goyah dan lemah. Ia bersandar di daun pintu dan merebahkan tubuhnya yang kehilangan setengah nyawanya.
Ia yang salah. Ia yang bodoh mempercayai janji Sigit. Ia yang terlalu naif mengira kebaikan hati dan perhatian Sigit adalah perasaan lebih dari sekadar teman. Tujuh tahun, ia sia-siakan hanya untuk menunggu pertanyaan yang tak akan pernah ia dengar dari Sigit. Ia teringat lamaran seorang pemuda yang dua tahun lalu ia tolak dan juga tawaran dari ibunya yang juga tak diindahkannya. Semua penolakan itu sia-sia karena pada akhirnya ia tak mendapatkan apa-apa. Hanya menyisakan kesepian dan kesendirian.
Ia mengambil ponsel dari saku dan mencari nama Sigit. Ditekannya tombol panggilan keluar yang diikuti suara sambungan. Ia menata napasnya agar tak terdengar sesak. Ia berusaha menyembunyikan isakannya. Ingin rasanya ia memaki sahabatnya itu, tapi ditahannya keinginannya. Tidak, aku tak boleh terlihat lemah dan menghalangi kebahagiaanmu. Suara sambungan terhenti, tergantikan suara berat Sigit menjawab di seberang sana.
“Mara! Kamu sudah dapat undangannya, ‘kan? Mesti teko, lho. Kamu sudah janji akan main ke sini, ‘kan?” Sigit terdengar bahagia dan bersemangat.
Pedih menyayat sanubari. Mendung tak segera menurunkan hujannya, hanya menyimpan rindu yang menunggu kapan waktu yang tepat untuk dicurahkan. Bagaimana bisa ia menjawab undangan bahagia ini dengan tangisan air mata. Ia menarik napas panjang dan memaksakan senyum. Nanti, akan ada waktunya rindu ini akan hilang perlahan-lahan. Mencari tempat yang tepat untuk meluapkan tangisnya. Menunggu kemana angin akan membawa awan pilunya pergi. “Iya, aku akan datang.”
Catatan:
*Tenang, kamu tidak sendiri. Kalau ada apa-apa, cerita sama aku. Aku tidak akan meninggalkan kamu.
*“Git, ibumu sudah nagih cucu.”
“Aku lebih balik ditagih uang daripada ditagih cucu”
***
Ulul Ilmi Arham lahir di Padang, 22 April 1992. Gemar menulis sejak SMA saat bergabung di Media Smansa. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi cerpen dan puisi serta di laman instagram pribadinya. Penulis pemula ini masih butuh banyak kritik dan saran. Silahkan layangkan ke instagram @ululilmiarham atau email ululilmiarham@gmail.com.
“Awan Pilu” dan Gaya Kepenulisan Pengarang Perempuan

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Dosen UPN Veteran Jakarta dan Pengurus FLP Sumbar)
Kolom Kreatika minggu ini membahas cerpen berjudul “Awan Pilu” yang ditulis oleh Ulul Ilmi Arham. Cerpen ini memuat kisah yang “sangat perempuan”, ditulis oleh penulis perempuan, dan dengan tema yang khas perempuan. Penulis cerpen ini sabar merangkai kata, teliti dalam mencurahkan perasaan dalam setiap kalimat pada tulisannya, dan berhasil memasukkan jiwanya dalam cerita. Cerpen “Awan Pilu” ini sekilas biasa-biasa saja, datar, mengalir begitu saja seperti air mengalir di sungai yang tak ada riak namun menyimpan pesona tersendiri dalam ketenangan ceritanya.
Cerpen “Awan Pilu” berkisah tentang seorang perempuan muda bernama Mara. Mara memiliki seorang tetangga yang juga temannya sejak kecil bernama Sigit. Sebagaimana yang sudah dapat ditebak pembaca, paragraf awal cerpen ini dibuka dengan kegundahan Mara menerima undangan dari Sigit, cerita ini memang tentang kasih tak sampai Mara kepada Sigit. Bagi Mara, Sigit adalah sandaran hatinya, tempat segala ceritanya bermuara selama lebih kurang 7 tahun pertemanan mereka, dari remaja hingga lulus kuliah sampai Sigit bekerja di Jakarta. Singkat cerita, Mara hanya bertepuk sebelah tangan, perhatian dan kata-kata manis Sigit hanya perhatian biasa saja, tidak seperti yang diharapkan Mara.
Sebelum membahas lebih jauh cerpen karya Ulul Ilmi Arham, salah satu peserta Sekolah Menulis FLP Sumbar tahun 2020 ini, akan lebih baik kita uraikan sedikit persoalan perbedaan gaya kepenulisan pengarang perempuan dan pengarang laki-laki. Hal ini menarik untuk dibicarakan karena selama ini terkait persoalan pengarang perempuan dan pengarang laki-laki hanya dibahas persoalan gender saja. Jarang dibahas apa hal ikhwal penyebab berbedanya cara penulisan perempuan dan laki-laki, termasuk pemilihan tema cerita yang diangkat dalam cerita mereka.
Agoes Dariyo dalam buku Psikologi Perkembangan Remaja (2004) yang diterbitkan Penerbit Ghalia Indonesia, menyampaikan bahwa laki-laki dan perempuan memang memiliki perbedaan, baik dari segi fisik, perilaku, keterampilan berbahasa, maupun pola pikirnya. Dari segi keterampilan berbahasa, pada umumnya remaja wanita mempunyai hasil tulisan tangan lebih baik, rapi, bersih, teratur, dan mudah dibaca, dibandingkan tulisan remaja laki-laki yang cenderung acak-acakan, tak teratur, dan kadang sulit dibaca.
Sepertinya hal ini jugalah yang membuat gaya kepenulisan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Kalau dilihat dari Cerpen “Awan Pilu” karya Ulul Ilmi Arham, terlihat bagaimana pengarang perempuan begitu sabar merangkai cerita-ceritanya. Mungkin berbeda dengan pengarang laki-laki yang kurang sabar dalam menyuguhkan konflik-konflik dalam cerita. Pengarang perempuan berani mengangkat cerita yang biasa-biasa saja, akan tetapi memperkuatnya dengan menyuguhkan kelembutan cerita.
Barangkali hal ini karena dipengaruhi bahwa dalam pemerolehan bahasa, anak perempuan lebih cepat pandai bicara, membaca, dan jarang mengalami gangguan belajar dibandingkan anak laki-laki. Barangkali, hal ini juga terkait dengan perkiraan para ahli yang menyampaikan bahwa ada kaitannya dengan kemampuan wanita menggunakan kedua belah otak besarnya yaitu otak kiri dan otak kanan ketika membaca atau melakukan kegiatan verbal lainnya. Hal ini berbeda dengan pria yang cenderung menggunakan otak sebelah kiri saja. Pernyataan di atas diperkuat oleh pendapat Aan Sugiantomas dalam tulisannya Kajian Prosa Fiksi dan Drama (2012) yang menyampaikan bahwa letak perbedaan laki-laki dan perempuan bisa saja terjadi dalam keterampilan menulis cerpen karena seseorang yang melakukan kegiatan ini tidak mungkin memiliki gaya yang sama antara satu dengan yang lainnya.
Sugiantomas lebih jauh menyampaikan bahwa gaya penulisan cerpen terbagi atas dua macam, yaitu gaya pengarang dalam bercerita dan gaya bahasa pengarangnya. Gaya pengarang dalam mengungkapkan idenya menjadi susunan peristiwa yang disebut cerita adalah cara-cara khas dari pengarang dalam menyusun bahasa, menggambarkan tema, menyusun plot, menggambarkan karakter atau watak, menentukan setting, dan memberikan amanat. Sementara gaya bahasa tentu saja persoalan keterampilan berbahasa sebagaimana diutarakan di atas.
Dari struktur cerita sebenarnya beberapa kritikus sastra sudah sering membedakan bagaimana penulis cerpen perempuan dan laki-laki berbeda dalam mengangkat tema, memilih sudut pandang penceritaan, menyusun konflik cerita dan pemilihan latar cerita. Seperti kebanyakan pengarang, laki-laki lebih suka menggunakan alur konvensional dan perempuan yang lebih suka menggunakan alur nonkonvensional. Perbedaan lain adalah perempuan yang sering menggunakan titik pengisahan orang pertama dan laki-laki lebih suka memilih titik pengisahan orang ketiga. Sementara itu, pada sisi lain pemilihan latar cerita contohnya. Perempuan lebih sering menggunakan latar kehidupan yang dekat dengan dirinya. Pengarang laki-laki lebih suka bercerita tentang masalah sosial, masalah politik, atau hal-hal yang bersifat makro lainnya.
Walaupun tidak semua teori di atas benar, asumsi tersebut terlihat dari Cerpen “Awan Pilu” karya Ulul Ilmi Arham ini. Ulul mengangkat kisah dengan tema kasih tak sampai dari persepsi perempuan. Ia menilai Sigit yang tidak begitu peka terhadap perasaannya, sehingga selama tujuh tahun kisah kedekatan mereka, namun Sigit tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya pada Mara, sebagaimana yang diharapkan Mara. Inilah persoalan yang disuguhkan Ulul dalam ceritanya, bagaimana perempuan lebih suka menunggu untuk dicintai dan hanya memberikan sinyal-sinyal saja. Mungkin berbeda jika Ulul menggambarkan tokohnya sebagai perempuan modern yang berani menyatakan cintanya pada laki-laki. Jika demikian, barangkali kisah ini akan lain ceritanya.
Dari sisi alur, Ulul memilih flasback di mana cerita dimulai dari tokoh Mara yang menerima undangan dari Sigit yang membuat hancur hatinya. Kemudian, Ulul menceritakan bagaimana awalnya Sigit menyediakan “bahu tempat bersandar” bagi masalah-masalah Mara ketika dalam masa titik nadir hidupnya. Lalu, ketika Sigit sudah sukses dan merantau di Jakarta, Mara masih berharap dengan kedekatan mereka, Sigit meminangnya, tapi ternyata tidak. Bagi Sigit, mungkin hubungan mereka hanya persahabatan biasa. Perhatiannya hanya sekadar perhatian pada sahabat dan teman masa kecil saja. Sementara bagi Mara, dia sangat berharap lebih dari sebuah persahabatan yang indah itu.
Begitulah kisah “Awan Pilu” yang ditulis Ulul ini. Selain temanya yang biasa-biasa saja, ada beberapa catatan lain yang mungkin perlu diperhatikan penulis seperti kelogisan bahasa. Hal ini terlihat dari contoh kalimat berikut, “Selepas gelar sarjana diraih, ia harus berbakti kepada sang ibunda yang tiba-tiba lumpuh akibat stroke,” tiba-tiba lumpuh karena stroke itu barangkali tidak tiba-tiba begitu saja, karena dalam cerita tokoh Ibu tidak lumpuh begitu saja, tentu ada musabahnya. Contoh lain “Tujuh tahun ia sia-siakan hanya untuk menunggu pertanyaan yang tak akan pernah ia dengar dari Sigit.” Pertanyaan dalam kalimat di atas membuat pembaca ragu, bagaimana mungkin pertanyaan tidak pernah disampaikan? Bagaimana mungkin pertanyaan tidak pernah didengar oleh tokoh Mara? Dari mana penulis bisa menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah pertanyaan? Apakah mungkin pertanyaan yang dimaksud penulis adalah pernyataan? Nah hal-hal kecil ini merusak suasana yang sudah dibangun pengarang sebelumnya.
Terakhir, kita menunggu cerpen-cerpen dari penulis perempuan yang tidak biasa-biasa saja. Bisa saja Ulul di masa datang menulis tema-tema tentang perjuangan perempuan melawan penindasan tidak hanya pihak laki-laki. Akan tetap, juga penindasan struktur negara yang tidak memberi tempat bagi perempuan untuk setara dengan laki-laki. Ke depan, kita tunggu cerpen-cerpen yang ditulis oleh pengarang perempuan tentang keberhasilan perempuan menjadi manusia seutuhnya dalam kehidupan yang beradab.
Terlepas dari kekurangan cerpen ini, yang pasti Ulul Ilmi Arham sudah berhasil menuliskan sebuah cerpen yang enak untuk dibaca. Cerpen ringan, temanya tidak berat, pantas untuk mengisi waktu-waktu kosong pembaca. Selamat menikmati! (*)
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan