Datang dan Pergi
Apa yang kita harapkan dari suatu
kedatangan? Bila tidak kepergian
Meskipun ia berangkat perlahan, pelan
Seperti halnya matahari yang turun
ke peraduannya kala senja
Warnanya rupa-rupa, kadang biru, ada jingga,
ada juga berpadu kelabu, gelap redup dan terang
Demikian juga dengan rasa hati bukan? Apabila ada yang datang atau bila kepergian tiba
Ada serupa warna yang sulit untuk dibaca, layaknya membaca pangsa
Persoalan hati memang persoalan rumit bukan? Seperti halnya datang dan pergi
tanpa permisi
Kau pergi tak lagi ku temukan, ditelan sepertiga malam
Namun, senyummu masih saja bersemayam dalam hatiku
biarkanlah kepergianmu sampai ke sudut hati
atau aku pergi
Ada dirimu perihku
Padang, Juni 2020
Kemestian Kita Kembali Mempertanyakan Cinta?
Cinta
Mestikah kita kembali mempertanyakannya?
Di antara kerumunan panjang perjalanan hidup yang datang silih berganti
Banyak peristiwa berkelebat dalam ruang hampa tanda tanya
Rasa menjadi sejarah
Hidup memang kadang mengejutkan
Seperti halnya dirimu, dulu aku juga tak percaya apa itu cinta
Seumpama umpatan sepasang kekasih yang tak mendapatkan arak
Hingga tak mabuk asmara
Atau seperti rengek cengeng saja
Pada titik lain
Aku menemukan selingkaran pada kata cinta
Ia tidak setipis yang engkau kira
Ketebalannya menyelimuti alam semesta
Menyelimuti jagad raya
Seumpama langit dan bumi yang saling memberi menerima
Panas memberikan harapan untuk tumbuh
Dingin menawarkan kedamaian
seperti halnya cinta Tuhan kepada segala ciptaan-Nya
Sayang
Ijinkan aku mengantarkan setitik cinta itu untukmu
Agar kau tahu, bagaimana ia bekerja pada setiap desiran darah
Kita yang saling memadu
Setiap senyumannya memacu jantung terus berdetak
Atau memang biarkan saja, tak harus ada tanya
Seperti halnya cinta Layla dan Majnun
Yusuf dengan Zulaikha
Ia hidup dengan sendirinya
Padang, Mei 2020
Kasihku Tertambat di Pantai Padang
Padang tak lagi berkisah Malin Kundang
atau Niti Nurbaya dan Syamsul Bahri
Namun tentang cintaku yang tertambat di Pantai padang
Riaknya bermuara di jiwa
Menyusupi bulir air tubuh
Menyatu padu
Baumu kuhirup, berpacu degap jantung
Seperti putaran roda sepeda motor waktu malam itu
Saat kita menelusuri jalan pantai
Kita bergulat dalam lipatan lara tawa
Gemercik suaramu mencair, beradu
Kau terus saja bersembunyi di sudut bola matamu
Aku takan pernah menyerah mencintaimu
Sendu kan kutemani menari-nari
Di setiap ingatan dan rasa
Aku mulai kaku, tak hafal lagi irama yang kudengar
Sayup sampai
Seulas senyummu selalu kunanti
Selama nafasku
Cintaku tertambat di Pantai Padang
Lismomon Nata lahir di Kota Sawahlunto 30 Agustus 1984. Alumnus Sosiologi Antropologi Universitas Negeri Padang (UNP) dan Pascasarjana Jurusan Sosiologi Univesitas Andalas (UNAND) kini mengabdikan sebagai Aparatur Sipil Negara di BKKBN, Provinsi Sumatera Barat. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi ‘Kondom Bocor, Sobek Ujungnya’ (Magenta, 2011) dan Antologi Puisi ‘Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal’ (Obelia, 2019).

Tinggalkan Balasan