Di Cangkang Pesakitan
Aku adalah kesakitan
Dipandang cantik karena kesakitan itu sendiri
Berpeluk malam
Ombak menghantam geladak kapal
Di bawah sini–dalam lambung sang laut aku bersemedi
Dan orang-orang berasumsi– sakitku adalah keindahan yang harus di selami
Dalam gelap nan sepi
Samudra tetaplah samudra
Berjuang sendiri– perih melahirkan kesakitan
Kandunganku adalah kesia-siaan
Namun berharga dalam genggam awak kapal
Mereka merampasnya!
Berbulan-bulan pasir menyayatku
Bertahun-tahun laut mencakarku
Sepersekian detik tetaplah luput
Tiba sang waktu
Ketubanku pecah!
kontraksi kian membuncah!
Cangkang-cangkang kerang menggeram
Bayi-bayi kecil berputih
Kesakitan indah terlahir
Silau mutiara dan ibu berjuang dalam gelapnya samudra
Aceh Utara, 2020
Romantisme Baja
Pada tandu yang bergoyang kutatap nyalang kepergianmu
Sebentar lagi– biduk lena pun menjemputku
Ini adalah kisah sepasang insan berkeping baja
Jangan berpikir kepergian adalah kematian ataupun romantisme kerajaan
Aku hanya minta satu– Sabit kelabu jingga maroon pada tatap dan bibirnya yang kaku
Kita akan berpisah
Tandu yang bergoyang menggelindingkan roda di seberang gunung tak bertemu
Biduk lena menghantarkan pemuda pada dayang yang sumbing di hatinya
Sekejap saja puan!
Ini detik terakhir
Petik bulan berikan isyarat Indian– pada hati yang berapi
Aku akan menjemput
kunang-kunang sebagai janji
Di tempat ini
Taman Lebanon terbakar kalap yang hampir usang
lapangan datar tetap bertandang
di wajahnya
Romantisme hanyalah asa
Dia tetap berbaja
Aceh Utara, 2020
Sajak untuk Ayah
Sudah lama aku menanti kepulanganmu, ayah
Secangkir teh telah berubah dinginnya udara malam
Minyak urut telah kupersiapkan sejak sore tadi
Pijatan pada pundakmu mungkin bisa melenyapkan penatmu
Ayah,
Sore ini tidak seperti sore-sore kemarin
Aku tidak melihat senyum seperti magrib-magrib sebelumnya
Sapaan dan salam pada bibir pintu terdengar kecil
Apa hari ini lebih membuncah dari sore kemarin?
Mari kuurut bahu ayah dua jam lebih lama
Dan ibu bilang di meja makan
“Kontrakan menunggak!”
Ayah tetap mempertahankan selera makan
Walau mulut terasa hambar
Uap pada nasi menipu uap pada nafas
Diri mengerti
Pijatan tidak bisa berubah menjadi penebusan kontrakan
Aku harus apa?
Bolehkan aku mengganti penatmu
Tapi aku harus apa?
Ayah, malam ini lepaskan miang di kepala sansai di dada
Senyumlah untuk selebat penat
Aku akan berwudhu dengan lebat itu
Menukarkan doa untuk mencicil hutang-hutang kita
Aceh Utara, 2020
Tiara Nursyita Sariza, lahir 20 Juli 2003 di Kota Pekanbaru, Riau. Saat ini, ia tengah menduduki bangku SMA Jurusan IPA di SMAN 2 Nisam, Aceh Utara. Jejak maya Tiara bisa dilacak melalui akun Instagram @tiarasariza dan Facebook Tiara Nursyita S. Buku solonya berjudul “100 Detik Berpuisi”

Tinggalkan Balasan