SIANG DI RANTAU
Djoe.H.T.Bagindo
Kering menyapa di atas tiang lampu merah menyala
Terik menyobek kulit berbau debu aspal kota
Di kawah rantauterdampar jiwa
Aku yang lahir dari rahim kesunyian
Terdampar pada kolong peradaban yang biadab
Padanegri yang sibuk bersolek seperti
Belia yang baru kenal lelaki
Siang yang keparat
Dari sebuah armada sepatu laras panjang mendarat
Sumpah serapah lelaki berkaca mata berucap
Serupa auman singa yang terluka menatap tajam menemukan mangsa
Dan kerdil aku dalam netra nya
Ah rantau Tubuhku di cabik tanahmu
Dibawah sepatu, aspal berdebu
Ah tanah rantau
Aku bukan pengemis jalan
Bukan jua sampah peradaban
Hanya ingin mengubah kemiskinaan
*Ujuang Batuang 30 Maret 2020
PERUNTUNGAN
Djoe.H.T.Bagindo
Terik membakar kulit
kemarau yang melukis siang di tanah rantau
Sejuta langkah di antara pokok-pokok beton
yang menghujan ketanah yang tak lagi hijau
Di bawah tudung hitam; di antara pancang batang raksasa
di tanah yang tak lagi perjaka
Menyemai benih mendulang rupiah di rahim bumi yang tak lagi ramah
berharap debu menjadi permata
Terik membakar kulit di antara kantuk yang garing di dada hari
para istri dan bujang menyambut suka di pintu rumah
Nyanyian kampung halaman memanggil
namun kemarau telah menghapus jejak untuk pulang.
*Sunur, 30 Maret 2020
PENGASINGAN GELAP PERTIGA
Djoe. H.T. Bagindo
Aku pergi mencari-Nya
Takan jauh;dekat saja memanggil berbisik di gelap pertiga.
Mi’rajkan jiwaku
Pada genggaman-Nya
Aku pergi menjalang pengasingan di pertiga kelam
Bertandang ke hadirat pintu penyerahan
Walau tiada bayang dalam netra
Namun hadirkan dalam rasa
Semua gerak dalam genggaman-Nya
Pengasingan gelap pertiga
Walau tak bertemu sepanjang hayatku
Langitkan cinta dalam tak berupa
Rindu pada Mu satu
*Talauak, 22 Maret 2020
Djoe.H. T.Bagindo/Hendri Tanjung lahir di Padang Pariaman.Hobi menulis semenjak bangku sekolah.
Email. Hendritanjung700@gmail.com
Puisi dan Kesumat pada Rantau
Sebuah Ulasan untuk Puisi-puisi Djoe. H.T. Bagindo
Oleh:
Azwar Sutan Malaka
(Pengurus FLP Sumbar dan Dosen UPN Veteran Jakarta)
Pada Kreatika edisi 2 Agustus 2020 ini, redaksi memilih 3 puisi yang dikirimkan Djoe. H.T. Bagindo. Djoe H.T. Bagindo merupakan nama pena dari Hendri Tanjung yang merupakan seorang guru di Pariaman. Hendri Tanjung sudah banyak menulis sejak masa-masa kuliah. Penulis ini sudah memulai proses kreatifnya sebagai penulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Sumatera Barat.
Tiga puisi Djoe H.T. Bagindo yang akan dibahas kali ini berjudul “Siang di Rantau,” “Peruntungan,” dan “Pengasingan Gelap Pertiga,”. Tiga puisi ini sama-sama berkisah tentang rantau. Baik rantau dalam artian sebenarnya, maupun rantau sebagai kiasan perjalanan manusia di dunia yang fana ini.
“Siang di Rantau” bercerita ungkapan batin seseorang yang merasa berkesumat dengan rantau. Di mata penulis kehidupan di rantau adalah kehidupan yang keras. Hal ini dapat dilihat dari pilihan diksi yang menggambarkan kerasnya hidup di rantau seperti pada bait “terik menyobek kulit berbau debu aspal kota”.
Penyair menggambarkan bagaimana rantau yang dia jalani sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Ia menggambarkan seolah-olah terdampar di kolong peradaban yang biadab. Padahal ia mengisahkan bahwa ia lahir dari rahim kesunyian. Dalam hal seperti ini terlihat bagaimana penyair membandingkan rantau yang biadab dengan tanah asalnya yang sunyi.
Penyair juga menggambarkan bagaimana kekerasan yang sering dialaminya di rantau. Orang-orang berkata kasar, mengucapkan sumpah serapah yang bertentangan dengan hati nuraninya sendiri. Hal yang ia sesalkan adalah orang-orang yang berkata kasar itu pemegang kekuasaan, barangkali aparat, dan sejenisnya. Sementara itu, ia merasa sebagai rakyat jelata yang dianiaya oleh kezaliman penguasa.
Di tanah rantau penyair merasa hancur. Jiwa dan raganya sakit, padahal ia pergi merantau untuk mengubah kehidupan agar menjadi lebih baik. Karena gagal mewujudkan mimpi mendapatkan hidup yang lebih baik, penyair merasa berkesumat dengan tanah rantau.
Puisi yang kedua berjudul “Peruntungan”. Seperti puisi yang pertama, puisi kedua ini juga menceritakan tentang rantau secara eksplisit. Penyair menuliskan kata-kata rantau dengan jelas. “Sejuta langkah di antara pokok-pokok beton,” dengan jelas merujuk pada kata rantau pada bait sebelumnya.
Pada bagian selanjutnya penyair juga menggambarkan rantau sebagai tanah yang tidak lagi alami sebagaimana tanah asalnya. Penyair ini mengungkapkan bagaimana rantau sudah dikomodifikasi sedemikian rupa untuk ditukar dengan rupiah.
Pada bagian terakhir puisi “Peruntungan” ini penyair juga dengan jelas mengungkapkan bagaimana kerinduan orang-orang rantau atas tanah kelahiran mereka. Suasana kampung yang alami, kehidupan sosial yang bersahaja menjadi tempat yang dirindukan orang-orang yang sedang berjuang di tanah rantau.
Puisi ketiga berjudul “Pengasinga Gelap Pertiga”, dalam puisi ini rantau dimaknai secara tersirat. Puisi ini mengungkapkan bahwa dunia ini adalah “rantau” manusia sejatinya. Tempat manusia mencari Tuhannya. Dalam bagian pertama puisi ini dinyatakan bagaimana kerinduan seorang “perantau” untuk bertemu dengan Tuhannya. Ia meminta dimi’rajkan akan segera bisa kembali pada Tuhannya.
Puisi ini menceritakan bagaimana pengembaraan manusia di dunia, sebagai tanah rantau menusia menuju dunia yang kekal nantinya. Sama dengan rantau yang membuat seseorang rindu pada kampung halamannya, puisi ini menunjukkan bagaimana kerinduan seorang penyair pada tempat dimana ia biasa bertemu dengan Tuhannya.
Secara garis besar, tiga puisi ini memiliki benang merah yang sama, yaitu berkisah tentang rantau yang tidak bersahabat dengan sang perantau. Puisi ini menunjukkan kisah orang-ornag yang gagal di tanah rantau, sehingga ia berkesumat dengan kehidupan rantau yang keras. Penyair menggambarkan bagaimana kegagalan orang-orang yang pergi merantau beradaptasi dengan dunia yang keras.
Pesan moral dari puisi ini adalah kegagalan akan membuat seseorang membenci tempat ia gagal itu. Gambaran rantau yang kejam adalah gambaran banyak orang yang pergi merantau. Puisi ini menunjukkan rasa kebersamaan dari orang-orang yang merasakan kejamnya rantau itu. Puisi ini ditulis dengan rasa pesimis.
Akan berbeda diksi-diksi yang muncul jika penyair meniupkan roh yang optimis dalam puisi ini. Semangat yang dipancarkan tentu juga akan berbeda. Jika pada puisi ini yang tergambar adalah lagu orang-orang kalah, roh yang optimis ditiupkan dalam puisi ini akan muncul semangat yang positif dari para perantau yang sedang menakhlukkan tanah rantau.
Banyak orang yang menyukai nada puisi yang bercerita tentang pesimistisnya para perantau, tapi mungkin para pembaca juga membutuhkan puisi yang mampu memberi secercah harapan dari kehidupan di rantau, baik rantau yang asli maupun rantau pada makna konotasi.
Secara umum, dari sekian banyak keberhasilan puisi ini yang telah mampu menarik perasaan senasib para perantau, ada kelemahan puisi ini, yaitu semangat yang diberikannya bernada negatif. Puisi ini membuat pembaca pesimis atas kehidupan di rantau. Selain bernada pesimis dari sisi isi, dari sisi bahasa banyak kesalahan tata bahasa yang ditemukan pada ketiga puisi ini.
Contoh kesalahan bahasa itu adalah penulis masih belum bisa membedakan penulisan di yang dipisah dan di yang disambung. Ada beberapa salah ketik yang menunjukkan penulisnya kurang teliti atau tidak sempat mengedit tulisannya setelah diproduksi.
Terakhir, selamat kepada penulis yang sudah berhasil menuliskan puisi ini. Semoga ke depan akan lahir puisi-puisi yang menarik dari buah tangan penulis berdarah Pariaman ini. (*)
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan