Bingkisan Terindah
Ketika nelangsa menggenangi pelipis belia itu
Ingatlah ada pelipis yang sudah berkerut menantikan sebuah kebahagiaan
Hanya sekadar menjinakkan terik mentari agar tak lagi membuatnya menumpahkan peluh
Hanya sekadar mengistirahatkan rangka jasad yang hampir lapuk dimakan waktu
Untuk sedikit sungging yang manis di ujung bibir ripuk itu
Hingga masa hendak beralih dan perasaian di kandung badan
telah terganti dengan harkat dari si buah hati
Sibolga, 2020
Perempuan dalam Tangisannya
Hari ini tawanya bersedih
Lekuk bibirnya telah membeku
Matanya hampa dalam sendu
Semua mati dalam genggamnya
Kasih yang diperjuangkan lari tanpa arah
Merobek kenangan dalam cinta tanpa kepastian
Kemarin ia masih tersenyum bahagia
Hatinya dipenuhi romansa kasih
Pipinya merona melukiskan kisah dua sejoli
Matanya mengungkap ketulusan perempuan
Tapi alam menyuguhkan kisah yang berbeda
Perempuan dihempas hingga hulu hatinya tercabut dari raga
Matanya tak pernah sepi dari tangisnya
Tubuhnya layu tak bernyawa
Kini ia menyesap sepi tanpa kasih
Merindukan tanpa dirindukan
Mencintai tanpa dicintai
Menunggu walau tahu tak akan pernah tiba
Sibolga, 2020
Sajadah Cinta
Fajar meredam kilaunya dibalik nuansa suci
Menyuarakan gelora istikamah dalam balutan ibadah
Ketulusan hati telah terlahir dari sosok nan penuh cinta
Mengidamkan kasih yang masih jauh dari genggaman
Namun atma tetap pada istikharah meminta sebuah petunjuk
Sajadah cinta menjadi pelepas lara oleh hamba yang penuh pinta
Fajar ini menjadi senja terindah di setiap sujudnya
Bersama aroma khusyuk dalam setiap lantunan doanya
Pintanya tidak banyak dalam mengharap takdir Ilahi
Cukup dipertemukan dalam ikatan tali suci penuh keharmonisan
Dunia akhirat menjadi janji dua insan dalam kearifan hati
Sajadah cinta telah menunggu di setiap sujudnya
Sibolga, 2020
Belepas Bahaduri
Belepas itu datang dengan membawa sepucuk surat,
Yang merahap di gisiknya
Terombang-ambing bersama tambungnya gelombang,
Yang demam akan sangkala
Seolah lajur tercipta hanya untuk agul terhadap kemolekan dunia
Dan yang lainnya seketika nifak mengelih kefasikan
Surat itu merujuk pada burakahnya insan dengan segala yang dimiliki
Tak pernah merasa lugu dan tak pernah memiliki rasa syukur
Sanubarinya lata namun berlagak maksum,
Hingga membuatnya mungkir pada keabadian yang puguh
Siratal mustakim telah menunggu untuk mendekapnya,
Bersama belepas yang telah menjemput atmanya
Kini bungkam telah mengusainya
Terperosok pada ingatan yang membuatnya bergidik
Kisahnya telah khatam,
Dan belepas kini berlayar dengan bahaduri
Sibolga, 2020

Indah Wulandari Pulungan merupakan mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas kelahiran 30 Oktober tahun 2000. Ia aktif berkegiatan di komunitas literasi lapak baca Pojok Harapan. Karya-karyanya telah dimuat di media massa dan terhimpun dalam antologi.

Tinggalkan Balasan