Puisi-puisi Indah Wulandari Pulungan

Bingkisan Terindah

 

Ketika nelangsa menggenangi pelipis belia itu

Ingatlah ada pelipis yang sudah berkerut menantikan sebuah kebahagiaan

Hanya sekadar menjinakkan terik mentari agar tak lagi membuatnya menumpahkan peluh

Hanya sekadar mengistirahatkan rangka jasad yang hampir lapuk dimakan waktu

Untuk sedikit sungging yang manis di ujung bibir ripuk itu

Hingga masa hendak beralih dan perasaian di kandung badan

telah terganti dengan harkat dari si buah hati

Sibolga, 2020

 

Perempuan dalam Tangisannya

 

Hari ini tawanya bersedih

Lekuk bibirnya telah membeku

Matanya hampa dalam sendu

Semua mati dalam genggamnya

Kasih yang diperjuangkan lari tanpa arah

Merobek kenangan dalam cinta tanpa kepastian

 

Kemarin ia masih tersenyum bahagia

Hatinya dipenuhi romansa kasih

Pipinya merona melukiskan kisah dua sejoli

Matanya mengungkap ketulusan perempuan

Tapi alam menyuguhkan kisah yang berbeda

Perempuan dihempas hingga hulu hatinya tercabut dari raga

Matanya tak pernah sepi dari tangisnya

Tubuhnya layu tak bernyawa

 

Kini ia menyesap sepi tanpa kasih

Merindukan tanpa dirindukan

Mencintai tanpa dicintai

Menunggu walau tahu tak akan pernah tiba

Sibolga, 2020

 

Sajadah Cinta

 

Fajar meredam kilaunya dibalik nuansa suci

Menyuarakan gelora istikamah dalam balutan ibadah

Ketulusan hati telah terlahir dari sosok nan penuh cinta

Mengidamkan kasih yang masih jauh dari genggaman

Namun atma tetap pada istikharah meminta sebuah petunjuk

Sajadah cinta menjadi pelepas lara oleh hamba yang penuh pinta

Fajar ini menjadi senja terindah di setiap sujudnya

Bersama aroma khusyuk dalam setiap lantunan doanya

Pintanya tidak banyak dalam mengharap takdir Ilahi

Cukup dipertemukan dalam ikatan tali suci penuh keharmonisan

Dunia akhirat menjadi janji dua insan dalam kearifan hati

Sajadah cinta telah menunggu di setiap sujudnya

Sibolga, 2020

 

Belepas Bahaduri

 

Belepas itu datang dengan membawa sepucuk surat,

Yang merahap di gisiknya

Terombang-ambing bersama tambungnya gelombang,

Yang demam akan sangkala

Seolah lajur tercipta hanya untuk agul terhadap kemolekan dunia

Dan yang lainnya seketika nifak mengelih kefasikan

Surat itu merujuk pada burakahnya insan dengan segala yang dimiliki

Tak pernah merasa lugu dan tak pernah memiliki rasa syukur

Sanubarinya lata namun berlagak maksum,

Hingga membuatnya mungkir pada keabadian yang puguh

 

Siratal mustakim telah menunggu untuk mendekapnya,

Bersama belepas yang telah menjemput atmanya

Kini bungkam telah mengusainya

Terperosok pada ingatan yang membuatnya bergidik

Kisahnya telah khatam,

Dan belepas kini berlayar dengan bahaduri

Sibolga, 2020

 

Indah Wulandari Pulungan merupakan mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas kelahiran 30 Oktober tahun 2000. Ia aktif berkegiatan di komunitas literasi lapak baca Pojok Harapan. Karya-karyanya telah dimuat di media massa dan terhimpun dalam antologi.

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *