Oleh: Muhammad Nazri Janra
(Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas)
Indonesia pernah heboh dengan kasus masuknya imigran asal Cina secara masif ke Indonesia di mana mereka banyak yang bekerja di berbagai sektor riil yang sebenarnya tidak memerlukan pemakaian tenaga kerja asing. Kasus ini sampai-sampai dikaitkan dengan isu politik tanah air yang masih hangat pascapemilu yang sudah jauh berlalu. Entah benar atau tidak, ada agenda tertentu di balik mobilisasi tenaga kerja asing tersebut, yang jelas masyarakat telanjur kasak-kusuk. Sebenarnya, jauh sebelum isu tersebut berkembang negara kita sudah berulangkali didatangi oleh jenis pendatang lain. Sayangnya, pendatang ini kurang terekspos oleh media walaupun sebenarnya kehadiran mereka dapat memberikan dampak tertentu terhadap lingkungan kita. Pendatang itu dinamakan dengan burung migran.
Ketika berbagai negara di belahan utara (atau selatan) bumi mengalami musim dingin yang identik dengan salju, es serta suhu udara yang mencapai minus derajat Celcius, bagi sebagian besar binatang saat-saat tersebut adalah yang paling sulit bagi kehidupan mereka. Sebagian hewan di negara-negara empat musim tersebut, terutama beruang, kelelawar, ular bahkan lebah, jauh-jauh hari telah menimbun cadangan makanan dan lemak dalam tubuh atau sarangnya sehingga begitu salju pertama turun, mereka langsung menjadi nonaktif dan melakukan tidur panjang selama musim dingin atau yang dikenal dengan hibernasi. Tidak semua makhluk mempunyai mekanisme bertahan hidup seperti itu. Sebagai gantinya, mereka berpindah tempat sementara waktu menghindari daerah yang sedang mengalami musim dingin menuju ke tempat lain yang lebih kondusif untuk mencari makan dan tinggal. Peristiwa perpindahan hewan akibat musim dingin inilah kemudian dikenal sebagai migrasi. Burung, karena mempunyai kemampuan terbang yang sangat baik, dapat melakukan perpindahan dalam jarak yang sangat jauh sekali melintasi batas-batas geografis yang ada di dunia. Burung tersebut kemudian disebut burung migran, karena mereka melakukan perjalanan migrasi dari wilayah asal tempat mereka lahir (menetas) dan besar menuju ke wilayah lain di belahan bumi. Mereka tinggal di daerah migrasinya tersebut hanya dalam jangka waktu tertentu, kemudian kembali lagi ke wilayah asalnya untuk mengulang siklus berbiaknya. Jika umur dan kondisi fisik masih memungkinkan, kembali bermigrasi ke wilayah tujuan yang sama. Begitu berulang-ulang.
Indonesia beruntung menjadi negara tropis khatuliswa karena posisinya menghubungkan dua jalur migrasi burung di dunia, yaitu dari utara, benua Asia dan dari selatan, benua Australia. Jalur ini dinamakan dengan East Asian Australasian Flyway (EAAF). Burung-burung migran dari kedua benua yang disebutkan di atas akan mampir ke pulau-pulau Sumatera, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Antara bulan Oktober sampai Maret pada saat musim dingin sedang berlangsung di belahan bumi utara, jenis-jenis migran dari kawasan tersebut dapat dijumpai di kawasan kita. Begitu pula sebaliknya, untuk belahan bumi selatan. Wilayah Sumatera lebih banyak dipengaruhi oleh migrasi dari jenis-jenis burung belahan bumi Utara, sedangkan jenis-jenis burung yang berpindah terdiri atas beragam jenis, tetapi yang lebih sering mendapatkan perhatian adalah jenis burung migran pantai (shorebird) yang umumnya berasal dari bangsa burung perancah Charadriiformes.
Walaupun perpindahan burung ini terjadi hampir di semua bagian pulau Sumatera, peristiwa migrasi burung lebih mudah diamati di sepanjang garis pantai. Para nelayan biasanya mengenal burung-burung ini yang biasanya muncul sekitar bulan Oktober atau November, sampai mereka kembali lagi ke tempat asalnya paling lambat pada bulan Maret atau April. Karena pada waktu tersebut, daerah asalnya telah kembali menghangat memasuki musim semi. Waktu yang baik untuk berbiak ketika cuaca dan persediaan makanan cukup banyak.

Manfaat Burung Migran di Kawasan Migrasinya
Keberadaan burung-burung migran ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata. Secara statistik, terdapat peningkatan yang signifikan dari jumlah wisatawan yang masuk ke negara kita dengan tujuan khusus untuk melakukan birdwatching (mengamati burung di suatu lokasi) yang kini diistilahkan dengan aviturisme. Di Indonesia sendiri, tercatat ratusan jenis burung migran yang rutin berkunjung setiap waktu migrasinya. Potensi terpendam ini jelas menguntungkan secara ekonomi jika dapat dikemas dan dipromosikan dengan baik.
Kedatangan burung migran juga mempunyai manfaat sebagai penanda pergantian musim. Karena pergerakan mereka dipengaruhi oleh pergantian musim di belahan bumi utara atau selatan. Kedatangannya juga dipengaruhi oleh pergerakan angin muson yang juga mempengaruhi musim di Indonesia sehingga kehadiran mereka di banyak daerah di Indonesia dijadikan sebagai petunjuk musim tanam dan musim melaut bagi nelayan serta pertanda lainnya.
Sebagian besar dari burung migran tersebut banyak yang bersifat insektivora dan karnivora. Kehadirannya di antara jenis-jenis burung lokal selama musim migrasi dapat membantu mengurangi populasi serangga dan hewan hama yang mengganggu lahan pertanian serta kegiatan hidup manusia lainnya. Belum terhitung manfaat ekologis lainnya dari burung-burung ini yang mungkin perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahuinya.
Ancaman Keberadaan Burung Migran di Sumatera (Barat) dan Kemungkinan Akibatnya bagi Manusia
Sayangnya, terdapat beragam ancaman terhadap jenis burung migran yang datang ke negara kita secara rutin tersebut. Ancaman langsung berupa perburuan jenis-jenis burung pantai dengan menggunakan senapan, jerat dan perangkap. Burung-burung yang tertangkap dijadikan sumber lauk pauk musiman di banyak daerah yang menjadi perlintasan burung migran tersebut. Selain itu, ancaman juga terjadi akibat adanya alih fungsi lahan serta pencemaran lingkungan.
Di Sumatera Barat, sepanjang jalan lintas barat, seringkali dapat kita jumpai orang-orang yang menawarkan burung-burung migran yang berhasil mereka tangkap. Selain itu, pembuatan jalan atau infrastruktur di sepanjang kawasan pantai mengurangi secara massif luasan lahan basah yang menjadi habitat utama burung pantai migran dan nonmigran. Di Pantai Padang, dapat dilihat pembangunan jalan pantai, pertambahan lahan tambak akibat meroketnya popularitas udang budidaya jenis vannamei serta pengembangan kawasan wisata yang kurang terarah telah mempersempit lahan untuk burung pantai dan burung migran. Di lain pihak, kebiasaan sebagian besar masyarakat yang menjadikan aliran sungai sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga, telah berujung menjadikan garis pantai Kota Padang dan Sumbar pada umumnya sebagai kawasan dengan pencemaran limbah sampah yang memprihatinkan. Sampah inilah yang kemudian memberikan masalah kepada berbagai burung air, karena menutupi dan mencemari tempat mereka mencari makan. Beberapa jenis burung seperti pelican dan camar sering memakan langsung limbah plastik tersebut karena tertarik oleh warna-warninya sehingga sering ditemukan kasus burung-burung terdampar mati dengan perut dipenuhi limbah plastik.
Rangkaian ancaman terhadap burung pantai dan burung migran tersebut mungkin kurang dirasakan oleh manusia walaupun sebenarnya proses ini berpotensi untuk kembali ke manusia dalam tingkat ancaman yang jauh lebih berbahaya lagi. Mengutip hasil penelitian John Swaddle, seorang ahli biologi dari College of William and Marry di Virginia, Amerika Serikat, jumlah populasi yang seimbang dari burung dan hewan liar lainnya yang hidup di sekitar manusia dapat membantu dalam menekan dan mencegah munculnya suatu wabah penyakit di suatu kawasan.
Secara teori, bibit penyakit (biasanya berupa virus, jamur atau bakteri) sebenarnya telah ada di dalam suatu lingkungan, hidup seimbang melalui mekanisme pembagian populasi bibit penyakit tersebut, di antara semua makhluk hidup yang menjadi inangnya. Jika agak sulit memahami teori ini, coba bayangkan ilustrasi berikut; sepuluh orang pemain basket diberikan dua puluh lima bola basket secara simultan dan mereka harus memegang bola tersebut dengan berbagai cara. Bola tidak boleh sampai jatuh. Kedua puluh lima bola basket tersebut pasti bisa dipegang oleh sepuluh orang dengan kedua tangan dan sebagian lagi dijepit dengan kaki. Jika pemain basket dikurangi menjadi lima orang, bola yang harus dipegang tetap berjumlah sama maka dipastikan akan ada bola basket yang jatuh ke lantai. Walaupun kelima orang yang tersisa melakukan segala upaya untuk menahan semua bola basket.
Bola basket adalah virus, bakteri atau jamur pathogen yang ada di lingkungan, sementara pemain basket adalah semua makhluk tingkat tinggi, termasuk manusia. Selama jumlah makhluk inang berada dalam populasi yang seimbang, para pathogen tadi akan hidup tenang pula. Begitu populasi makhluk inang tersebut berkurang (di dalam contoh di atas dengan pemain basket yang dikurangi), di sinilah masalah mulai terjadi.
Apa yang harus dilakukan?
Berbicara tentang burung migran, potensi mereka sebagai pembawa beragam pathogen jauh lebih besar dari burung lokal. Hal ini disebabkan karena luasnya wilayah jelajah yang mereka tempuh, yang memperbesar kemungkinan terdedah dengan beragam pathogen selama berada di lintasan migrasinya. Cukup beralasan bagi semua pihak, terutama pemerintah, untuk semakin memperhatikan masalah ini. Selain menjadikannya sebagai salah satu isu ekologis yang menjadi tanggung jawab pemerintah, kesadaran masyarakat juga harus terus ditingkatkan. Ini dapat ditempuh melalui berbagai tindakan penyadartahuan dan penyuluhan sehingga nilai penting keberadaan satwa liar, khususnya burung migran serta habitatnya dapat menjadi pengetahuan kita bersama.
Pembangunan pada kawasan yang menjadi habitat burung migran (dan nonmigran) sebenarnya sangat mungkin untuk dilakukan dengan mengintegrasikan pola-pola yang dapat ikut menjamin keberlangsungan hidup mereka pada struktur yang diciptakan oleh manusia (baca: pembangunan berwawasan lingkungan). Selain itu, menggiatkan masyarakat pada sektor-sektor yang dapat mengambil manfaat dari keberadaan burung migran, nonmigran atau satwa lainnya melalui skema ekoturisme, juga dapat mencegah kerusakan lingkungan. Konsep pemanfaatan tersebut bersifat sustainable, bukan eksploitatif sehingga dapat menjamin kelangsungan hewan-hewan tersebut. Manusia juga dapat mengambil manfaat ekonomi untuk mendukung kehidupannya.
Mengingat besarnya manfaat yang dapat mereka berikan kepada kehidupan manusia, sudah selayaknya setiap aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh manusia ikut menimbang kesejahteraan hewan yang ada di sekitarnya. Sektor pembangunan yang digiatkan untuk sebesar kemakmuran manusia, juga harusnya dapat dinikmati secara bersama-sama dalam jangka waktu selama mungkin dengan makhluk hidup lainnya.

Tinggalkan Balasan