Sendu Penuh Kenangan | Puisi Karya Surya Hafizh dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Puing-puing Hujan

Reruntuhan itu

Kau kenang juga

Puing-puing hujan yang menimpa atap rumahmu,

Menenggelamkan jembatan satu-satunya di desa

Memutus jalan setapak yang membawa kita sepulang sekolah

Tak pernah berselisih paham tentang siapa yang melahirkan hujan

Bagimu langit dan awan hanya menawar sepi bunga-bunga taman,

Kehilangan

Kemudian, saat tampak olehnya atap rumahmu

ia pun menguap: karena panas perasaan

 

Belajar Terbang

Kasih seperti burung; belajar terbang

Masih basah dari mimpi-mimpi semalam,

Bulu-bulu cokelat tua itu:merebung

Angan-angan tersisih

Ranting-ranting cemara tinggi, mendaki

Bersarang di lembar kartu pos pudar,

Kata-kata tak lagi jelas

senja yang belum sempat dilukis,

sunyi dari warna-warna

 

Mana tahu kau tua dan sedang memandang ke luar jendela,

Di antara reranting angsana

Coba dengarkan cicitnya. Membisikkan rindu terjaga.

(30/06/20)

 

Stasiun Gondang Dia

Depok-Jakarta, Oktober 2017

Peron-peron yang mengigil, rel-rel melengkung ditabrak sinar matahari, pekik peluit kereta sore ini, bangku-bangku kosong; merasa sepi. Di antara mereka yang pulang-pergi, aku berdiri. Merapat ke sisi sunyi. Untuk pertama kali. Serasa mendengar jerit rel kereta api.

Aku masih berdiri di stasiun  yang sama. Cuaca yang sama:mencintaimu hingga waktu tiada. Menunggumu di Gondangdia.

 

Genangan

Payakumbuh, Desember 2019

Sekumpulan cerita kecil

Yang tertinggal

saat hujan

Sebut saja ia genangan

Sedang untuk kota kita:kenangan.

 

Mengetuk Gerimis

Sehabis gerimis

Mengetuk ranting-ranting bambu

Masih basah bulu-bulu matamu itu

Dan sarang-sarang burung seperti kata-kata ibu:hangat tanpa abu

menggebu

(05/07/20)

 

Surya Hafiz

Surya Hafizh lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat 05-04-2002. Berdomisili di kota rendang, Payakumbuh. Siswa abadi di bumi Tuhan. Tulisan- tulisanya tergabung dalam antalogi “Buah Sebuah Pilihan”, Berkisah di Kimiadan “Empati”. Mempunyai motto “ Hidup perjuangan mencari ridha Allah”. Kalau ingin bersilahturahmi silakan kunjungi@Surya.Hafizh , suryahafizh979@gmail.com.

 


 

Ulasan Puisi-puisi Sendu Penuh Kenangan

Oleh:Ragdi F. Daye
(Ketua Forum Lingkar Pena Sumatera Barat)

Sehabis gerimis/ mengetuk ranting-ranting bambu/ Masih basah bulu-bulu matamu itu/ Dan sarang-sarang burung seperti kata-kata ibu:hangat tanpa abu/  menggebu (“Mengetuk Gerimis”

Ada lima judul puisi Surya Hafizh yang menghiasi rubrik Kreatika minggu ini; “Puing-Puing Hujan”, “Belajar Terbang”, “Stasiun Gondangdia”, “Genangan”, dan “Mengetuk Gerimis”. Kelimanya menghadirkan emosi yang kuat. Ada nuansa murung yang membuat kita tertegun untuk mengingat kembali apa yang pernah terjadi pada hari-hari nan lampau. Ingatan yang berat untuk dilupakan.

Surya Hafizh menulis tentang perpindahan masa remajanya yang disibukkan oleh urusan sekolah dan buku-buku pelajaran menuju awal dewasa yang digoda oleh keinginan bertualang dan mengenal dunia yang lebih luas, dunia yang lebih berwarna. Puisi-puisi yang sangat menarik untuk dibaca menyelami romantika generasi milenial yang menyukai sastra.

Puisi adalah karya sastra hasil ungkapan pemikiran dan perasaan manusia yang secara teknik, bahasanya terikat dengan irama, matra, rima, penyusunan lirik dan bait, serta mengandung banyak makna. Keindahan puisi terletak pada pilihan kata yang mengandung permainan bunyi dan dapat bermakna ganda (multiinterpretasi). Maksud tuisan disembunyikan melalui metafora dengan memanfaatkan aneka imaji alam yang diakrabi penyair. Dalam buku Yuk Nulis Puisi (1998), Tjahjono Widarmanto mengungkapkan tujuh aliran puisi, yakni aliran realisme, ekspresionisme, impresionisme, romantisme, simbolisme, mistisme, dan surealisme. Aliran realisme ini sering disebut pula realisme sosial. Ada pula yang menyebutnya sebagai seni yang objektif. Aliran ini menuntut penyairnya untuk melukiskan sesuatu sesuai dengan kenyataan sebenarnya secara teliti dan detai. Aliran ini berpandangan bahwa adanya hubungan dialektika antara sastra dan kenyataan.

Berbanding terbalik dengan aliran realisme, aliran ekspresionisme lebih mementingkan pengucapan secara spontan. Aliran ini sangat sesuai dengan hati penyair, semua rasa yang menumpuk dan bergejolak dalam hati sangat tepat menggunakan aliran ekspresionisme. Aliran impresionisme berasal dari kata impresio yan berarti kesan. Impresionisme merupakan aliran sastra yang berusaha melukiskan kesan sesaat dari sesuatu hal yang diamati penyairnya. Bisa dibilang impresionisme ini adalah sketsa, semuanya tidak dilukiskan secara jelas.

Romantisme adalah aliran yang lebih mengutamakan perasaan (Tjahjono,1998:224). Aliran romantisme berpendapat bahwa rahasia alam tidak cukup dipelajari melalui otak manusia, tetapi juga harus melalui intuisi dan perasaan. Aliran romantisme mengutamakan rasa. Pengarang-pengarang aliran romantisme mengajak pembacanya mengarungi semua keindahan dengan mengutamakan keharuan rasa.

Aliran Simbolisme, Aliran ini merupakan aliran yang muncul sebagai reaksi atas realisme. Pengarang yang beraliran simbolisme berupaya melukiskan sesuatu dengan tidak secara terang-terangan, tetapi dengan menggunakan simbol atau lambang-lambang seperti hewan atau tumbuhan.Aliran mistisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan manusia dengan wujud keilahian, persatuan yang tinggi. Mistisme selalu memaparkan keharuan dan kekaguman penulis terhadap ketuhanan dan keabadian. Aliran Surealisme merupakan aliran sastra yang melukiskan berbagai objek dan tanggapan secara serentak. Karya sastra aliran ini umumnya memiliki gaya pengucapan yang melompat-lompat dan bawah sadar atau mengangkat obyek-obyek dalam mimpi, keadaan jiwa antara tidur dan jaga.

Dari pilihan kata dan gaya bertuturnya, puisi-puisi Surya Hafizh lebih mengarah pada aliran romantisme dengan mengeksplorasi alam dan perasaan manusia. Penyair mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman puistis melalui diksi ‘puing-puing hujan’, ‘sepi bunga-bunga taman’, ‘lembar kartu pos pudar’, ‘senja yang belum sempat dilukis’, ‘peron-peron yang mengigil’, ‘mendengar jerit rel kereta api’, ‘ranting-ranting bambu’, dan ‘sarang-sarang burung’. Rangkaian kata yang berhasil membawa pembaca pada suasana yang cenderung sepi dan sendu. Aliran romantisme memang dekat dengan atmosfer seperti itu.

Kebanyakan penulis yang berasal dari Sumatera Barat cenderung membangun dunia estetikanya dengan elemen-elemen alam, baik dihadirkan secara realis sebagai latar maupun menjadi metafora untuk menyampaikan pesan tersirat. Kemampuan berbahasa konotatif penuh makna ini telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat di Sumatera Barat, terutama yang bersuku bangsa Minangkabau. “Binatang tahan palu, manusia tahan kias”, ungkapan ini mengajarkan orang Minangkabau untuk selalu memperhatikan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. Mereka juga peka terhadap simbol-simbol bahasa. Kemahiran ini menjadi modal yang penting dalam menulis karya sastra.

Karya sastra menggunakan bahasa sebagai medium estetikanya. Gagasan penulis dikonkretkan dalam bentuk-bentuk bahasa, seperti kata, frasa, klausa, dan kalimat yang dalam genre puisi berbentuk larik dan bait. Tidak sekadar menghantarkan pesan dan makna, sebuah puisi adalah media rekreatif yang merangsang imaji pembaca dengan menggunakan alat indera. Penyair dan pembaca berkomunikasi melalui kata-kata yang dipilih penyair. Puisi yang berhasil, ketika dibaca berulang kali dapat memberi pengalaman makna yang berbeda-beda. Begitu pula ketika dibaca oleh orang yang berbeda dan suasana yang lain. Bahkan, seperti mengupas bawang, puisi semakin dikupas semakin membuat pembacanya merenanung untuk menemukan pemahaman lebih dalam.

Kelima puisi Surya Hafizh menunjukkan harapan yang menjanjikan dari penulis belia ini. Surya sudah memiliki dasar yang kuat dalam memilih dan memilah kata untuk membangun karyanya. Puisi-puisinya dapat dinikmati dengan segenap perasaan, tinggal kita tunggu puisinya yang lebih pekat oleh emosi dan gagasan sehingga menggoda untuk dibaca lagi, dibaca lagi, dan dibaca lagi.


Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *