Cerpen : Mayherlina
“Pemirsa berita pagi. Pemerintah mulai mencanangkan kehidupan New Normal. Masyarakat diminta untuk mematuhi peraturan pemerintah. Bila keluar rumah, harus memakai masker, rajin cuci tangan, jangan pernah menyentuh hidung, mata, dan mulut. Semoga Indonesia terhindar dari wabah menakutkan ini.” Demikian suara pembaca berita televisi.
“Wi, kamu ke rumah sakit ya. Ayah pusing di sekolah. Mama dari kantor mau menyusul ke rumah sakit.”
Telepon pun mati tanpa sempat Dewi berbicara. Dewi mematikan televisi.
Ia bergegas memakai jilbab dan langsung berangkat.
Di gerbang masuk rumah sakit, Dewi ditahan Pak Satpam.
“Maaf, Dik. Mau ke mana?” tanya Pak Satpam.
“Ke ICU. Ayah saya dirawat, Pak. “ jawab Dewi.
“Baik, motornya diparkir di samping ya. Saya akan antar adik ke ruang tes swab dulu.” ucap Satpam. Dewi pasrah dibawa ke ruang tes swab. O, iya itu protokol kesehatan saat New Normal. Untung masker selalu ada di tas jinjing. Detik-detik terasa lama melewati tes swab. Hatinya gelisah. Pagi tadi, ayah berangkat ke sekolah dalam keadaan sehat walafiat. Akhirnya, tes selesai. Dengan setengah berlari, Dewi menyusuri koridor RSD Medinah. Mama berdiri di depan jendela kaca.
“Ma, ayah bagaimana keadaannya?” tanya Dewi menghampiri mama.
“Dokter sedang memeriksa ayah. Tensi ayah 220. Ini salah satu penyebab ayah pusing.” ujar Mama terisak-isak. Ayah tidak pernah tensi tinggi. Paling tinggi tensi 170.
“Wi, telepon Pak Lek Sudiro, terus telepon Ridwan. Mama lupa.” kata mama lagi.
Dewi beranjak ke taman. Ia menelepon adik ayah, Pak Lek Sudiro. Ridwan, abangnya, dan Ririn, kakak tertuanya. Ririn sangat dekat dengan ayah. Ia memiliki tiga anak. Jika rindu, Ririn pulang meskipun tak diantar suaminya. Cuma untuk disuapi ayah. Terkadang, ada cemburu karena ia anak bungsu, tapi tak diperlakukan seperti itu. Semalaman, keluarga berjaga di depan ruang ICU. Selesai salat Subuh, mama berzikir panjang. Ridwan menemui Mama. Mereka baru saja dari bandara. Mereka dibantu murid ayah sehingga dapat Patwal polisi sehingga jalan bisa dilewati dengan mulus, lancar, dan cepat. Mama keluar dari musala. Sesuai dengan kesepakatan, Pak Sudiro menjaga ayah bersama Bang Ridwan. Mama pulang bersama Dewi dan Kak Ririn. Mama harus istirahat.
Empat hari berlalu. Ayah masih seperti orang tidur. Grafik kesehatan ayah naik turun. Ayah masih bernapas. Kak Ririn selalu membasahi mulutnya dengan zikir. Kami berharap ayah sembuh. Siangnya membuat kami lega. Ayah siuman. Pak Lek diizinkan masuk. Semua mata tertuju pada Pak Lek. Sekali-kali, ayah memandang ke jendela. Mama melambai tangan sambil mengangguk-angguk. Bang Ridwan memeluk Mama. Kak Ririn menatap ayah sendu. Bulir-bulir air mata menetes di sudut matanya.
“Andai Ayah tahu, aku siap gantikan sakit yang ayah rasakan.” gumam Dewi.
Selama ini, ayah jarang sakit. Jika demam atau flu, ayah cuma minum madu campur air jeruk manis. Lalu, ayah akan tidur seharian. Besoknya, ayah bisa beraktivitas kembali. Ayah paling disiplin dalam menjaga kesehatan. Ayah selalu berangkat ke sekolah bak perwira apel pagi. Badan tegak. Kitab di tangan kanan. Pandangan lurus ke depan. Ayunan langkah bersahaja. Jalan kaki itu sehat. Pikiran jernih karena kita menikmati kicauan burung. Kita bertemu setiap orang dan dapat doa keberkahan. Nikmat hidup tiada tara. Tidak bisa diukur dengan apa pun.
“Ayah, cobalah makan mie bakso. Menurut cerita orang di Mekah, apa yang kita tidak suka itulah ujiannya. Kalau puasa, kita menahan makan, minum, dan berkumur-kumur sampai matahari terbenam masuk waktu Magrib. Kebetulan Kak Ririn mengidam bakso Kodim Cak Wawan. Selesai Isya, Bang Dullah meminjam mobil kerabat. Sejak itu, ayah suka mie kuning. Jika makan lontong sayur, ayah tetap tidak mau makan jika tidak ada mie.
“Dewi. Dewi. Bangun, bangun..!” Bang Ridwan menepuk pundak Dewi.
“Ayah mau dipindahkan ke ruang rawat isolasi.”
“Kamu tuntun Mama. Kakak mau ke apotek.” ujar Ridwan.
“Iya, Bang. “
Dewi beranjak dari tempat duduknya. Entah berapa lama ia ketiduran.
Ada sedikit kebahagiaan terpancar dari wajah Mama. Pak Lek mendorong kursi roda ayah dengan hati-hati. Kakak Ririn berjalan di samping ayah. Dewi dan mama mengiringi di belakang. Di kamar, ayah diangkat ke tempat tidur. Suster memperbaiki tiang infus. Mama duduk di sisi kanan ayah. Kak Ririn mengelap muka ayah dengan kasih sayang. Bang Ridwan membawa obat ayah. Semua berharap ayah sehat dan bisa beraktivitas kembali seperti biasa.
“Wi, besok kalau ke rumah sakit. Tolong bawa Kitab Duratunnasihin. Ayah ingin mengisi waktu luang agar lebih bermanfaat dengan membaca kitab. Pahala bertambah dan waktu tidak terbuang percuma.” kata ayah penuh harap.
“Iya, Ayah. Besok Dewi bawakan kitabnya.”
“Ayah ingin tetap berilmu sampai ajal menjemput. Ridwan, kamu sebagai kepala keluarga harus adil membagi waktu. Urusan umat seimbang dengan urusan istri dan anak. Jangan jadi ahli neraka jika anak-anak tidak didik beragama. Istri itu pakaianmu. Baik-buruk istri tanggung jawab suami. Ririn, jangan cengeng. Kamu contoh bagi anak-anakmu. Patuhi suami. Jangan pernah membantah imammu selama kamu tidak disuruh syirik kepada Allah. Dewi, jaga agamamu. Amalkan ilmu supaya hidup berkah. Rajin berkomunikasi dengan Allah, sebaik-baik tempat mengadu. Jangan berharap terlalu banyak kepada manusia. Nanti kamu akan kecewa.“ Itu nasihat ayah selepas salat Isya berjamaah. Semua berganti-ganti menyalami ayah. Kak Ririn, mama, Bang Riwan, dan Dewi. Setelah itu, Dewi dan Kak Ririn pamit pulang. Baru sampai di tempat parkir, telepon seluler Kak Ririn berdering.
“Kak, sudah sampai mana?” Kalau masih di depan balik lagi ke kamar rawat. Ayah sesak napas.” Suara Bang Ridwan agak panik.
“Oke. Kakak kami balik. Ini masih di tempat parkir.” sahut Kak Ririn.
Kami berlari-lari ke ruang rawat ayah. Satu-persatu air mata menetes.
***
Rumah dipenuhi oleh ramai orang bertakziah. Tenda-tenda terpasang di depan rumah sederhana kami. Bang Ridwan sering mengusulkan untuk merenovasi rumah. Ayah kuat pendiriannya bahwa rumah sudah cukup untuk berteduh dari panas dan hujan. Iman kepada Allah SWT yang harus dibangun dan dipelihara. Kita mudah dapat surga jika amal diterima Yang Maha Kuasa. Rumah dipenuhi oleh lautan manusia. Murid, alumni, dan masyarakat sampai ke pejabat turut mengucapkan berbelasungkawa. Yasin berkumandang. Tahlil dilantunkan. Bergema sampai ke angkasa.
“Ya Allah, ampuni dosa ayah. Semoga Allah menempatkan ayah di surga-Nya. Mudahkanlah urusan ayah menjawab pertanyaan malaikat-Mu. Tempatkan ayah di tempat hamba-Mu yang shaleh, Amin.” Dewi memanjatkan doa untuk ayah tercinta.
Para santri tetap membaca Yasin berganti-ganti. Selesai salat Subuh, orang-orang mulai ramai bertakziah. Semua persiapan pemakaman ayah, mulai dari menggali kubur, perlengkapan kain kafan, dan tempat mandi diatur oleh guru dan santri pondok pesantren serta masyarakat. Pak Lek sering dimintai pendapatnya untuk persiapan pemakaman itu. Salat jenazah dilakukan sampai tiga kali. Masya Allah. Begitu cinta mereka pada diri ayah.
Selamat beristirahat, ayah. Tidurlah dengan tenang.
Doa senantiasa kami hadiah untuk ayah.
Selamat jalan ayah. Pasukan langit menyambutmu, ayah.
Terima kasih banyak atas ilmu dan pengalaman hidup untuk bekal menuju akhirat.
Ampek Angkek, 8 Juni 2020
Tentang Penulis:
Mayherlina merupakan Pengajar Agama di SMP negeri dan lahir di Bukittinggi. Ia juga penulis antologi kisah inspiratif dan penulis antologi cerpen Pijar Asmaradahana. Alamat : Batu Taba Ampek Angkek. Agam, Sumatera Barat. Email: Iherlina300@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan