Ulasan Cerpen M.Adioska, “Marawa” oleh Linda Tanjung

MARAWA

M.AdioskaCerpen: M.Adioska

 Malam bainai.

Rabab menyamun sepi, mengiris malam. Ada gores yang tersembunyi. Diam dan tinggal dalam hening serupa cerita-cerita lama saat kita berlari di pematang. Atau, seperti janji kanak-kanak yang kita ikatkan sembari saling mengaitkan jari kelingking. Saat itu kau tersenyum, entah merupakan pertanda bahwa kau akan berteguh hati mempertahankan janji itu, atau entah pertanda bahwa saat itupun kau telah melihat kekalahanku.

Kamar. Kau tak boleh diganggu. Kau terlalu lelah. Seharian tadi kau bergelut dengan galau yang tak berkesudahan. Membayangkan esok, saat ia datang ke rumahmu. Ah, sekedar duduk berdampingan seharian penuh disebelahmu untuk dipersaksikan orang banyak. Kau tak terlalu tidur rupanya. Ada dua gadis cilik yang berkutat dengan ujung-ujung jarimu. Membalutkan sebentuk paduan sederhana, hingga esok kau pasti mendapati kukumu menjadi indah karena merah, bukan darah.

Tentang merah, adakah kau ingat di tebing di ujung desa, kita menyebutnya tanjung;

“Aku ingin capung merah”

“Kenapa merah?”

“Suka”

“Merah lebih liar. Lebih sulit ditangkap”

“Kalau begitu, tak jadi”

Tetapi aku tetap saja bergerak. Memasang mata. Menghilangkan suara. Kalau perlu menahan nafas, hanya untuk makhluk berkepala besar yang kalau ia mau, ia bisa mengecoh hanya dengan satu kepakan sayap transparan. Aku jatuh, kau tertawa. Aku tak marah, malah bahagia.

Pada batas itu, lamunanku buyar. Dingin makin bertamu. Sementara rabab kian mengiris dalam lamat. Menyebabkan malam tak mampu bersuara sekedar melampiaskan perih.

Kau rupanya belum juga tidur. Kukumu belum terlalu kering. Meski setiap persendian tubuhmu terasa ngilu, kau pasti belum juga bisa memicingkan mata dengan sempurna.

Sempatkah terbersit dalam pikiranmu sebuah cerita usang lagi? Waktu itu kakimu terinjak beling di semak samping rumahku. Berdarah. Tidak terlalu dalam. Tapi entah karena kanak-kanakmu atau memang sudah bawaan, kau bersikap manja. Kukeringkan lukamu. Ku remas daun pucuak ubi, lalu kutempelken dilukamu. Darah berhenti.

“Masih sakit. Perih”

“Sebentar lagi sakitnya akan hilang”

“Tapi aku tak biasa sakit”

“Aku pun tak ingin kau sakit”

“Bagaimana aku pulang?”

“Aku antar”

“Aku tak mau jalan”

“Lalu?”

“Kau bopong aku, atau kalau mau, gendong aku”

“Boleh, tapi bapakmu?”

“Bapak pasti mengerti”

Aku mengantarmu pulang. Dirumah, bapakmu memandang cemas pada gadis ciliknya; kau. Padaku, menolehpun tidak. Kau pernah cerita, bapakmu tak suka kau bermain denganku. Tak kau ceritakan pun, aku sudah tahu. Kau melangkah masuk. Tak ada terimakasih. Kuanggap kau lupa. Lagipula bapakmu ada disampingmu.

Dilain waktu, aku juga ingat saat kita beristirahat dari bermain, masih disamping rumahku. Kau duduk menyandar pada akar sebuah pohon. Melihatmu lelah, membuatku ingin memanjakanmu. Aku membuatkanmu sebuah mahkota dari daun pakis. Langsung ku pasangkan. Kau tersenyum. Dan meskipun usia kita masih kanak-kanak, indah wajahmu telah mengundang kedamaian seorang laki-laki yang hanya dapat diberikan oleh wanita. Sorenya, kau pulang dengan ceria. Aku bahagia.

Untuk kali sekian, lamunanku luluh. Memudar. Dan aku tahu pasti, kau belum lelap.

Kuedarkan pandangan. Aku ingat, sore tadi aku melihat bendera tiga warna melambai didepan rumahmu. Salah satu warnanya pasti telah menyatu dengan malam. Kelam. Hitam.

 

***

 

Basuluah jo matohari. Bagalanggang jo mato rang banyak

Engkau sepi, aku sunyi. Di pematang yang telah sekian lama kita huni sebagai tempat bermain, semua bisu. Tak pernah sehening ini. Kau memandang jauh. Menghalau jarak dengan matamu. Ditengah petak-petak sawah ada sekelompok bangau putih. Berdiri mematung. Barangkali menikmati senja. Namun tak lama, mereka terbang ke petak sawah yang lain.

Ini hari ketiga kita tenggelam bisu. Hari pertama kau pinta aku menemuimu hanya untuk menyaksikan kau mengunci mulut. Barangkali dengan cara itu kau ingin mengatakan bahwa kita bukan anak-anak lagi.

Aku tak bersuara. Sengaja membiarkan udara senja memainkan peran diantara kita. Kau tetap tak bergeming. Hingga hampir malam menyelimuti kita, kau tak kunjung bicara. Hanya saja, sesaat setelah azan, kau melangkah. Gontai. Menyusuri pematang yang berakhir dijalan setapak. Hai, kau tak mengajakku. Menolehpun kau tidak. Kau terlalu khusyuk dengan diammu. Kepalamu terlalu menunduk.

“aku juga ingin pulang” lirihku. Saat itu, kau telah hilang diujung jalan.

Esoknya, aku datang lagi. Tempat yang sama. Kau telah terlebih dahulu tiba. Kau menoleh. Sedikit. Dan seperti sebelumnya, kita tenggelam sunyi. Sementara, bangau masih bermenung ditengah sawah. Barangkali mereka berpikir bahwa ini senja tercipta sama dengan kemarin, dengan dua orang saling membisu. Hingga hampir menjelang malam, kau baru angkat suara.

“ia datang tadi malam”

“siapa?”

“kau tahu”

“maksudku, namanya?”

“tak penting bagimu”

“kau?”

“bapak setuju. Kukira ia pun baik”

“kita?”

”ada apa dengan kita?” Sepintas, kulihat air matamu hampir jatuh.

Aku diam. Malam kurasa bertamu begitu cepat. Kau melangkah. Aku tak ingin tinggal. Aku berjalan disampingmu. Kau masih menunduk. Sebuah kaleng racun tikus membelintang di jalan. Kutendang. Masuk ke semak. Tetap tak membuyarkan diammu. Di ujung jalan kita berpisah.

Dan, hari ini, pasti kukumu telah memerah. Semalam kau pasti tertidur jua akhirnya. Aku yakin kau pasti terlelap dengan senyum. Yah, paling tidak kau telah mempersiapkan diri. Hari ini kau akan diterangi matahari dan dipersaksikan oleh mata orang banyak.

Didepan rumahmu masih kusaksikan sebuah bendera tiga warna melambai. Gemulai ditiup angin. Salah satu warnanya, sesuai dengan warna payungmu. Kuning.

***

Karatau madang dihulu. Babuah babungo balun.

Semoga saja bekas luka beling di telapakmu tak ada. Namun walaupun ada, aku yakin tak akan mengurangi indahmu. Sejak aku mengantarmu pulang, kau tak pernah lagi membahas perih ditelapakmu itu. Kau lebih sering bercerita tentang kerasnya bapakmu yang menyebabkan pertemuan kita hampir tidak memungkinkan. Namun, adakah kau ingat ketika aku membuatkanmu mahkota dari daun pakis? Dan saat itu kukatakan bahwa mahkota itu hanya untukmu. Tidakkah kau pikir itu adalah kata hatiku yang sebenarnya? Bagiku, itu bukanlah sekedar cerita kanak-kanak.

Permainan-permainan yang kita lakukan ku pelihara dalam benakku. Mengenang cerita itu merangsang senyum di bibirku. Aku tak akan berpikir klise untuk mengulang waktu itu, karena bagaimanapun waktu adalah sesuatu yang tak bisa ditaklukkan. Ia berjalan semaunya. Meninggalkan bekas. Jika luka yang ia tinggalkan, maka sembuh adalah pengharapan kesudahan. Jika bahagia yang ia sisakan, maka luka untuk mengenang akan tercipta. Apalagi itu adalah tentangmu.

Dan seiring waktu jua, ketika kita beranjak untuk meniti detik, ketika remaja adalah masa terindah, maka saat itu aku telah memelihara degup tentangmu.

Ah, adakah kau dengar bahwa degup itu terlalu indah? Ia, dari dalam dadaku, mengeluarkan nada sejuk. Memenuhi kamarku. Dan ketika ada jumpa, apalagi kau tersenyum, semuanya menjelma kata indah. Meski aku tak pernah yakin, apakah kau memelihara degup yang sama.

Hingga pada pertemuan itu, ketika kita dikaram bisu, aku yakin bahwa kita telah sama-sama meninggalkan masa anak-anak. Dan, kelu mu yang sederhana meyakinkan aku bahwa ada degup yang sama di dadamu. Meski akhirnya semua itu dikemas bapakmu dan dilemparkannya untuk orang lain.

“semua cerita tak akan sama lagi” kataku.

“benar”

“kisah kanak-kanak itulah benihnya”

“terimakasih untuk daun pucuak ubimu”

“masih sakit?”

”terasanya dihati”

“ya, pasti”

“tidakkah ada degup lain untuk wanita lain?”

“jika ada degup lain, maka kuharap wanita itu benar-benar mengerti dan menerima bahwa hatiku tinggal separoh” -Percakapan hari ketiga , sehari sebelum kukumu di warnai-

Setelah hari itu, kita benar-benar terpisah. Ada sekat nyata. Dan ada degup yang ingin ku bunuh. Hingga akhirnya, kuputuskan untuk melangkah. Menjauh menuruti kehendak hati. Bukan meninggalkan, tetapi mencoba melupakanmu, agar sekembalinya nanti, aku tak lagi mendapati degup itu. Dan, disenja aku berangkat. Mencoba menjamah negeri lain. Belajar hidup, meski dengan hati separoh. Aku melangkah di bawah langit merah, semerah bendera tiga warnamu. Marawa.

 


 

Kasih Tak Sampai Namun Tak Menyisakan Lara

Oleh:
Linda Tanjung
(Pengurus FLP Sumbar dan Guru SMP Islam Raudhatul Jannah, Payakumbuh)

Cerpen M. Adioska dengan judul Marawa menceritakan tentang dua sahabat masa kecil yang akhirnya saling menyukai namun dipisahkan oleh takdir. Cerita diawali malam bainai yang biasanya menjadi tradisi di Minangkabau. Ppengantin wanita yang dihiasi jemarinya dengan pewarna sampai ke ujung kuku. Sosok yang diceritakan tokoh ‘Aku’ adalah teman masa kecilnya. Penanda kedua tokoh ini merupakan teman masa kecil ada pada kutipan cerpen berikut ini.

Sempatkah terbersit dalam pikiranmu sebuah cerita usang lagi? Waktu itu kakimu terinjak beling di semak samping rumahku. Berdarah. Tidak terlalu dalam. Tapi entah karena kanak-kanakmu atau memang sudah bawaan, kau bersikap manja. Kukeringkan lukamu. Ku remas daun pucuak ubi, lalu kutempelken dilukamu. Darah berhenti.

Tokoh aku yang sangat peduli pada tokoh kau, temannya sejak kecil. Kepedulian itu diceritakan secara flashback dalam alur cerpen ini. Alur yang maju mundur, mulai dari kenanangan kedekatan masa kecil kedua tokoh sampai akhirnya pertemuan keduanya sebelum tokoh si gadis aku akan menikah dengan pilihan bapaknya. Bapak gadis yang tidak pernah menyukai tokoh aku sejak kecil sampai dia dewasa.

Secara jelas pada paragraf pertama di halaman pertama, pembaca dapat menebak jika cerpen ini menceritakan cinta yang tidak berlabuh. Sang gadis yang dijodohkan oleh orang tuanya dan tokoh “aku” sebagai kekasihnya tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam cerpen ini, hanya ada kepasrahan menerima ketetapan yang telah ditentukan. Tanpa ada gejolak dan konflik yang signifikan dari kedua tokoh terhadap kondisi yang mereka alami. Konflik yang hadir hanya konflik batin namun tidak bergejolak seperti amukan samudera. Konflik terasa datar tanpa riak yang berarti, apalagi bergelombang.

Hal yang diperhatikan penulis, cerpen ini masih menyisakan tanda tanya. Mengapa mereka tidak disetujui? Kenapa tidak ada perlawanan untuk memperjuangkan cinta? Apakah ini pengaruh budaya dan karakter orang dalam negeri ini yang pasrah dengan kehidupan percintaannya?

Dari kata-kata yang dimulai dalam cerita ini, jelas sekali cerita ini berlatarkan daerah Minangkabau. Adat sangat dijunjung tinggi dalam permasalahan hubungan dua manusia yang berlainan jenis. Jika boleh memberikan masukan pada cerita ini, keadaan tidak dapat melegalkan hubungan keduanya karena mungkin mereka sesuku sehingga ada kepasrahan terhadap kepatuhan pada adat. Tidak punya keberanian menentang aturan yang sudah dipatuhi turun-menurun, misalnya.

Penulis harus terlebih dahulu memikirkan akhir cerita yang tidak bisa ditebak sehingga pembaca menjadi terasa menikmati cerpennya. Kunci sebuah cerpen di ajang-ajang lomba adalah menceritakan lokalitas daerah dan akhir cerita beserta awalnya yang tidak dapat ditebak pembaca. Ketika membaca sebuah cerpen, ada rasa penasaran untuk menyelesaikan bacaan karena di ujung cerita terdapat kesan yang mendalam.

Deskripsi latar dalam cerita ini memberikan gambaran terhadap tempat dan waktu yang pembaca merasakan keadaan sebenarnya.  Penjabaran keadaan sedih yang kurang memberikan resapan terhadap rasa tokoh aku dan gadisnya. Terasa begitu datar dalam kesedihan yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata seperti pedihnya sembilu. Penulis harus merasakan kesedihan cinta yang tak bertepi. Penulis harus merasakan terlebih dahulu rasa sakit cinta yang tak berujung. Ketika penulis dapat masuk dalam rasa ini, otomatis pembaca pun akan larut dalam rasa pedih cinta yang tak kesampaian tadi. Rasa hanya dapat dijangkau juga dengan rasa. Baik itu sedih, gembira, lucu, dan amarah sekalipun.

Setelah penulis memperhatikan alur, konflik, dan latar sebuah cerita yang membangun cerpennya. Penulis juga memerlukan dialog-dialog yang hidup dan penggunaan bahasa-bahasa yang memberikan imaji bagi pembaca. Tak lupa, pengetahuan mendasar bagi seorang penulis terhadap penulisan rangkaian kata yang membangun ceritanya. Selain itu, penulis wajib memahami Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai buku sakti agar tidak salah dalam pemakaian kaidah bahasa Indonesia.

Penulisan dialog yang benar, kata depan, kata baku yang sesuai dengan PUEBI harus dipahami untuk menyelesaikan tulisan. Penulis adalah editor pertama untuk memperbaiki kaidah kebahasaan dan benar tidaknya penulisan kalimat serta kata yang digunakan. Dalam cerpen ini, kesalahan fatal terdapat pada penulisan kalimat langsung yang merupakan dialog antartokoh. Seperti kutipan berikut;

“semua cerita tak akan sama lagi” kataku.

“benar”

“kisah kanak-kanak itulah benihnya”

“terimakasih untuk daun pucuak ubimu”

“masih sakit?”

”terasanya dihati”

“ya, pasti”

“tidakkah ada degup lain untuk wanita lain?”

 

Kesalahan yang dilakukan adalah tidak digunakannya huruf kapital setelah tanda kutip/petik awal dan tidak ada tanda baca sebelum tanda kutip/petik akhir. Kesalahan dialog lainnya juga terjadi seperti di bawah ini. Hampir semua dialog yang ada selain kesalahan di atas.

“Masih sakit. Perih”

“Sebentar lagi sakitnya akan hilang”

“Tapi aku tak biasa sakit”

“Aku pun tak ingin kau sakit”

 

Huruf kapital sudah ada pada kalimat langsung setelah tanda kutip awal namun tanda baca belum juga ada pada sebelum tanda kutip akhir.

Selain kesalahan dalam penulisan dialog itu, hampir semuanya salah kecuali yang berupa kalimat tanya. Penggunaan kata depan di yang semuanya harus dipisah untuk membedakan dengan imbuhan di yang digabung dengan kata sesudahnya. Hampir semua kata depan di melekat dengan kata sesudahnya.

Contoh pada kutipan berikut;

…penuh disebelahmu untuk dipersaksikan orang banyak.

…masih disamping rumahku.

Itu adalah beberapa contoh dari penulisan penggunaaan kata depan di yang salah dan  beberapa kalimat lagi yang seperti ini. Sebelum seorang penulis mengirim tulisan pada tim redaksi atau panitia dalam ajang lomba, sebaiknya dipastikan penulisan kata depan ini agar tidak salah. Sekali lagi, penulis adalah editor bahasa pertama dari karya yang ditulisnya.

Kesalahan penulisan kata lain adalah penggunaan kata baku. Meski dalam teks sastra, penulis diberikan kebebasan menggunakan bahasa dengan rumus licentia poetica. Namun, penulis tetap harus memperhatikan kaidah kebahasaan. Dalam narasi cerita pun, sebaiknya tetap memperhatikan penulisan kata baku. Apabila harus menggunakan bahasa daerah dan istilah yang lazim atau tidak lazim dalam masyarakat namun tidak baku, aturan penulisannya harus dimiringkan. Kata yang tidak baku adalah nafas, sekedar, terimakasih, dan rabab.  Harusnya ditulis dengan kata bakunya; napas, sekadar dan terima kasih. Rabab karena bahasa daerah ditulis dengan miring Kemudian juga penggunaan klitika, ku, mu. Kata-kata tersebut seharusnya digabungkan dengan kata yang menyertainya. Dalam cerpen ini, terjadi pemisahan dengan kata yang mengikutinya, contoh; ku pelihara,  kelu mu. Penulisannya yang benar adalah kupelihara dan kelumu. Kesalahan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) ini harus jadi perhatian utama penulis setelah menyelesaikan tulisan.

Selain catatan-catatan di atas, penulis sudah mampu membangun cerita dan menyelesaikannya. Ceritanya biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dekat dengan kita. Penulis telah berhasil mengangkatnya dalam rangkaian kata-kata yang indah dan menarik. Semoga penulis dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi dan dapat memberikan kenikmatan pada pembaca dalam membaca cerpen sehingga ceritanya akan dikenang dalam jiwa pembaca. Cerita yang hidup dan dapat mengaduk jiwa raga pembacanya. Pembaca akan merenung hakikat kehidupan setelah meneyelesaikan bacaan. Tetap semangat dalam menulis. Karya tulis berbentuk apapun, seperti cerpen ini adalah bukti pengamalan Surat Al ‘Alaaq ayat 1-5. Aplikasikan dalam kehidupan sehingga kita tetap dapat terus membaca.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *