SI NONA
Saat sunyi menerpa, menyapa
Tapak-tapak kecil mulai riuh, menghentak-hentak,
mencoba membangunkan dunia
Sesekali gelak tawa mengiringi bait-bait debu
yang turut menerpa sang gadis-gadis manja
Bunyi kerincing pun tak khayal menambah
keramaian di sudut asrama tua
Di depan sana, si nona terpana menatap hampa
Mungkin berkhayal untuk kembali ke waktu muda,
yang tak kenal dengan pedihnya dunia
Oh coba lihat, rupanya si gadis manja
di ujung sana, melihat si nona yang sedang terpana
Seketika, mereka berbaris rapi
sembari tertawa dan bertanya,
“Wahai Nona, apa yang membuatmu terpana?”
Si nona hanya terdiam dalam,
namun bukan dengan hampa
Dipikirnya “Duh riangnya dunia karena para gadis manja.”
Sesekali si gadis manja melambai
dan tersenyum sapa kepada si nona
Bisa jadi berharap untuk dapat bermain bersama
Namun,
Di ujung sana,
Si nona tersunyum dengan sejuta tanya
Takut-takut nanti ada yang terpana juga,
melihat si nona ikut bermain bersama
Lambaian tangan kecil ke arah si nona
cukup menambah bahagia di raga
Seandainya saja waktu dapat bergerak cepat
Takkan didapat pilu yang kian pekat
SI TUAN
Senyumnya telah dimiliki sang malam
Yang membuat patah hati teramat dalam
Dulu, tak pernah sedikit pun terpana
pada si garis bulan di wajah tuan
Yang terlukis cukup tenteram
Bahkan, tak berani untuk sekedar menatap dalam
Ada saat di mana si topeng menutupi
garis bulan di wajah tuan
Yang membuatku terjerat dan mencari
di mana si garis itu tertelan
Malam-malam rindu kian hinggap menjelma dalam
Membuat sakit kian melekat
Bahkan enggan untuk berangkat
Hingga suatu hari, diri ini berani untuk menerka dalam
Apakah si pemilik garis bulan telah pulang?
Namun tak pernah terdengar jawabnya tenteram
Hingga sang diri mencoba mengiba pada langit malam
“Wahai langit, sampaikan pada sang pencipta,
tolong patahkan rasa di dalam dada hingga
hancur tak tersisa.”
Tapi entah kenapa. Semakin lama, rasa di dada semakin meronta
Tak bisa hilang dengan segala cara
Akhirnya, sang diri kembali mengadu kepada Sang Pencipta
Agar dipertemukan dengan si tuan garis bulan
Riuhnya pagi berlari berganti menjadi sunyinya malam
Menambah syahdu perbincangan dengan Sang Pemilik seluruh alam
Malu-malu, sang diri bertanya tentang hal yang tak terduga
yang sering datang dan juga hilang
Hingga akhirnya didapat sedikit terang
Mengenai si tuan dengan senyum bulan
Malam membisikkan, katanya si tuan adalah penikmat kopi hitam di kala senja
Lagi, kutemui Sang Pemilik alam di tengah malam
Tentu saja untuk memintasi tuan yang tak sedikit pun beranjak di dalam angan
Oh satu lagi kata si malam
Si tuan pernah berkata,
Jika si pahit adalah si manis yang menyamar dan mencoba memberikan arti kehidupan
Wahai malam, tak maukah kau memberi si tuan senyum bulan pada diri yang selalu
merindukannya?
RUANG HAMPA
Lembar hitam kusam tak berwarna
Menunggu di sudut ruang sana
Di antara rak-rak buku yang bertengger gagah dan terdiam terpana
Di sana, di tunggunyan tangan hangat untuk menjamah selamanya
Menunggu tangan yang tepat untuk datang dan memberi warna
Diliriknya lagi beberapa tumpukan buku di sana
Sudah datang tuan yang menjaganya
Namun,
Di ruang hampa, si lembar hitam dengan sabar menanti siapa
Siapa yang akan memberi warna pada kulitnya
Ica Fahkrunisa atau Lulu Fahkrunisa lahir di Kerinci, 24 Maret 1995. Ia merupakan lulusan Universitas Andalas dan Central Luzon State University; Language and Literature. Ia dapat dihubungi melalui: ica.lulufahkrunisa@gmail.com. Facebook: Lulu Fahkrunisa, Instagram: Lulu Fahkrunisa Hardi, Twitter:Lulu Fahkrunisa

Tinggalkan Balasan