Rinai dan Alunan
Sepertinya malam adalah cerita-cerita yang cukup ranum.
Ada perihal mengungkap seorang penyair yang hilang ditindas dalamnya lubang di jalanan.
Mengitari kota dan menujui kedai kopi adalah perhentian jalan yang mengasyikan.
Remang malam mengikis duga akan perasaan : lain dan membatin seperti kopi
susu beraroma robusta.
Mega alunan mendengungkan gitar malam.
Dentingnya penuh luka seperti ditimpa kawan
Saat duduk termenung di tepi danau.
Apakah cerita malam harus memilih antara
Lengang dan sunyi yang pasif?
Aku tahu, malam bukanlah lampu yang padam.
Seketika,
Di hadapan kopi susu hangat aku menentang rinai yang mengelebat
Lembut dan memaksaku untuk membuta.
Buta untuk tidak bias menatap siapa yang pernah merobek dadaku sementara dada
Ini ruang yang paling kusayangi??
Titik Payo Coffeeshop, 30 Juli 2020
Ruang
Sebuah ruang menerima tumpahan kalimat
Yang datang dari unggunan gedung tua di sudut kota
Itu nyata tapi tak wajar untuk dibelakangi
Aku datang memberi polesan cat warna-warni
Di dinding ruang itu
Inginnya berwarna putih, lalu hitam
Sebuah ruang telah kucerahi
Dinding kian tegak dan lapang menerima kata-kata
Sebaiknya ada meja, kursi, dan beberapa buku puisi
Terhebat yang telah kukuasai.
Lalu sebuah ruang telah merona
Dengan temaram redup dan bias lilin sempurna nyalanya
Tinggal kuajak seseorang untuk bertamu ke ruang ini
Hai, apa kamu bias bertamu ke sini, Puan?
Sekedar melahap beberapa puisi dan menyeruput
Kopi arabika yang sangat kamu gandrungi.
Di sebuah ruang aku menanti bayangan tubuh
Timbul di seberang lembayung petang.
Aku akan sambut kamu dengan sekuntum anggrek bulan
Dan sebuah puisi yang telah lama kugubah.
Mari, Puan.
Aku menanti
Boekittinggi, 23 November 2019
Sebuah Bangku
Pudar,
Tipis sekali
Sekalian harum kusam nan melukai sebuah bangku bertema kenangan
Sudah pudar sekali warna bangku itu.
Sepertinya terlalu dihabisi oleh monolog-monolog
Nan mengawang akibat peristiwa datang dan pergi.
Oh,
Ternilai sebagai monumen celoteh nan jauh, ya
Terdiam sambil menunggu yang tak jua akan dihampiri
Entah seperti dua hari yang sudah-sudah,
Ada lelaki yang membaca sebuah roman sambil membawa kopi
Favorit hingga remuk gerbang selesainya pada roman itu
Atau seperti akhir pekan nan lalu,
Ada sepasang muda-mudi berdebat
Dan menyorong benaknya tentang benar dan salah,
Lalu beranjak dengan tetes air mata.
Sebuah bangku adalah sebuah kumpulan prosa
Yang tak punya jabatan alurnya
Dalam naskah-naskah yang kokoh.
Ia ada bersama kisah-kisah yang
Tak perlu meresah karena beragamnya
Diorama yang singgah dan berlalu
Solok, 12 Desember 2019
Teracuni
Sebenarnya adalah senja
Aku mengabai jingga seperti angin
Yang tak menjatuhkan dedaunan.
Menyeduh ketenangan dan apa pun
Yang menyimpulkan, sebenarnya aku teracuni.
Di kafe pada suatu sore,
Aku dapati sosokmu memaku
dengan kumpulan puisi di depan dada.
Entah cerah apa yang dipunyai, tidak tahu.
Aku mencuri dari sisi taman
kalau keningmu menyentuh
Dasar terdalam puisi yang sedang dibaca.
Aku bungai tatapku
Aku salami dudukmu dengan secangkir latte yang kau gemari.
Aku puisikan menjadi Mahameru yang terbilang syahdu di Kota Lumajang.
Kau keindahan yang sebenarnya menyirapkan dedarah di dada
Kiri dan menggetarkan jantung nan berderu.
Melangkah jauh beberapa meter
di belakangmu adalah rintik gerimis nan mengurai pelangi
Selepas dari kafe itu, ada resah yang menggempa di kaki
Kau melangkah
Kau melangkah dengan racun yang
Memaksaku merobek hati dan menyayat leher kisahku menuju petang ini.
Mengantar.
Seharusnya di sampingmu kumengajak berbincang tentang M. Aan Mansyur yang
Merayu rerimbunan belantara untuk tumpah
Karena lelehan kata-katanya.
Seharusnya demikian.
Aku tak mau racun itu hal yang menyenangkan.
Tapi candu bagiku.
Sore ini aku kandas oleh canduku.
Kau adalah candu
Seperti espresso yang kuteguk kala mengeja berjilid karangan,
Prosa serta roman yang termegah.
Biasanya aku tak pernah abaikan. Jujur.
Maafkan, senja.
Aku abaikanmu karena aku teracuni
Yang kulihat menikmati puisi
Yang mengawang-awangimu.
Aku teracuni
Titik Payo, 29 Februari 2020
Rozi Erdus lahir di Tikalak, Kecamatan X Koto Singkarak, 8 Juli 1992. Aktif di Trashbag Community, Komunitas Peduli Sampah Gunung Dewan Pengurus Daerah (DPD) Sumatera Barat. Peserta pemilihan Uda & Uni Kab. Solok 2016 dan meraih gelar Mr. Tourism Popularity Sumbar serta Winner Best Video Promotion pada Pemilihan Mister Tourism Indonesia Sumbar 2018. Sekarang, bekerja sebagai Staf Umum Pemerintahan Nagari Tikalak. IG: @tuan_kembara
Tidak Ada Singkarak Hari Ini
Oleh: Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar dan Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)
Kau adalah candu seperti espresso yang kuteguk kala mengeja berjilid karangan, prosa serta roman yang termegah.
Sebagai sebuah karya sastra, puisi sangat mengutamakan aspek keindahannya. Keindahan dalam puisi terbentuk melalui susunan bunyi dan pilihan katanya. Selain itu, puisi juga disusun dari peristiwa yang diberi makna dan ditafsirkan secara estetik. Hal ini disebabkan puisi umumnya mengandung banyak makna konotasi. Makna konotasi itu mengandung nilai emotif yang menyangkut nuansa halus dan kasar pada suatu bentuk kebahasaan.
Puisi memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan karya sastra lainnya. Menurut Waluyo (1991:25-29) unsur-unsur yang membangun puisi adalah unsur fisik dan unsur mental. Unsur fisik adalah segala unsur yang bisa dilihat secara langsung dalam larik-larik puisi, seperti diksi, pengimajian, kata konkret, gaya bahasa, verifikasi (rima, ritma, dan metrum), dan tipografi, serta unsur batin puisi yang terdiri atas tema, perasaan, nada, dan amanat.
Tarigan (2011) juga mengungkapkan ada lima unsur pendukung keindahan puisi, yaitu diksi, citraan, kata-kata konkret, bahasa figuratif, dan rima. Diksi adalah pilihan kata yang digunakan oleh penyair. Citraan merupakan penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, pikiran dan setiap pengalaman indera atau pengalaman indera yang istimewa.Kata-kata konkret merupakan kata yang dapat melukiskan dengan tepat, membayangkan dengan jitu apa yang hendak dikemukakan oleh pengarang. Untuk memperoleh kepuitisan, penyair menggunakan bahasa figuratif berupa bahasa kiasan atau majas. Rima dan ritma merupakan pengulangan bunyi dalam puisi. Dengan pengulangan bunyi tersebut, puisi menjadi merdu bila dibaca. Bentuk-bentuk rima yang paling sering muncul adalah aliterasi, asonansi, dan rima akhir.
Membaca puisi-puisi Rozi Erdus dalam Kreatika edisi pekan ini, saya menemukan upaya penyair merangkai diksi yang mengandung nilai emotif untuk menyampaikan pengalaman batiniah tentang perjalanan hidup. Ada sejumlah kata yang muncul berulang-ulang: kopi, kafe, cerita, jalan, ruang, malam, sunyi, dan senja. Diksi-diksi favorit yang juga kerap dipakai penyair kekinian untuk menciptakan melankolia. Menyebabkan puisi-puisi menjadi sendu dan mengguncang hati pembaca, terutama pembaca yang memiliki pengalaman serupa.
Seperti pengalaman duduk di suatu ruang pada sore hari ditemani minuman—muncul dalam bentuk kopi susu, latte, arabika, atau robusta yang mengisyaratkan tidak ada selera absolut tertentu. Jenis yang dipilih secara setia lebih menunjukkan pada pilihan acak sesuai situasi dan kondisi atau mood kala singgah di kafe selepas menempuh perjalanan atau sengaja datang membawa harapan bertemu seseorang.
Puisi-puisi bertema kegelisahan romantis seperti ini memiliki banyak penggemar dan didukung oleh perkembangan media yang membuka variasi wahana untuk penyebaran puisi ke khalayak pembaca. Puisi tidak hanya dipublikasi di koran atau buku, tetapi juga ‘dijual’ dengan kemasan audio visual yang rancak memuaskan mata dan telinga pembaca, dan tentu saja memesona hati penggemarnya. Kita dapat menemukan puisi-puisi tersebut di media sosial YouTube dan Instagram dengan penonton dan penyuka yang banyak.
Strategi puitik Rozi yang menggunaan citraan, kata-kata konkret, dan bahasa figuratif berhasil memancing imajinasi kita tentang suasana gundah yang agak abstrak. Banyak klausa yang menarik, seperti ‘pernah merobek dadaku’, ‘melahap beberapa puisi’, ‘menanti bayangan tubuh timbul’, ‘menyentuh dasar terdalam puisi yang sedang dibaca’, dan ‘menyayat leher kisahku’ yang memancing kegalauan.
Bait ini misalnya, “Lalu sebuah ruang telah merona/ Dengan temaram redup dan bias lilin sempurna nyalanya/ Tinggal kuajak seseorang untuk bertamu ke ruang ini/ Hai, apa kamu bisa bertamu ke sini, Puan?/ Sekedar melahap beberapa puisi dan menyeruput kopi arabika yang sangat kamu gandrungi./ Di sebuah ruang aku menanti bayangan tubuh timbul di seberang lembayung petang./ Aku akan sambut kamu dengan sekuntum anggrek bulan/ Dan sebuah puisi yang telah lama kugubah./ Mari, Puan./ Aku menanti” Kita dapat merasakan kegalauan ‘aku lirik’ dalam puisi yang gundah gulana dalam penantian. Hanya saja penyair perlu lebih optimal dalam memilih kata-kata untuk membangun keindahan puisi yang padat, yang menukik pada tema yang kuat. Salah satunya dengan menghemat penggunaan kata.
Di dalam beberapa kali diskusi, saya mendapat gambaran tentang penyair dari tepi Danau Singkarak ini. Rozi sangat terpukau dengan seni kata-kata (puisi dan prosa) dan ingin sekali berkecimpung di dunia sastra. Dia sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dan M. Aan Mansyur. Bahkan, sempat terbawa ke dalam puisi berjudul “Teracuni” melalui larik ini ‘berbincang tentang M. Aan Mansyur yang merayu rerimbunan belantara’.
Puitika Sapardi dan Aan Mansyur memang penuh daya magis yang menjadi magnet bagi ribuan pengikut. Siapa yang tidak terpesona dengan puisi berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi yang larik-lariknya begitu kuat: Aku ingin mencitaimu dengan sederhana;/ Dengan kata yang tak sempat diucapkan/ Kayu kepada api yang menjadika abu// Aku ingin mencintaimu degan sederhana;/ Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ Awan kedapa hujan yang menjadikan tiada. Juga puisi Aan Mansyur berjudul “Tidak Ada New York Hari Ini”: “Tidak ada New York hari ini./ Tidak ada New York kemarin./ Aku sendiri dan tidak berada di sini./ Semua orang adalah orang lain.// Bahasa ibu adalah kamar tidurku./ Ku peluk tubuh sendiri. / Dan cinta—kau tak ingin akumematikan mata lampu./Jendela terbukadan masa lampau memasukiku sebagai angin. / Meriang. Meriang. Aku meriang./ Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang….”
Menapaki jalan setapak proses kreatif yang panjang, seorang penyair sah saja menjadikan penyair lain yang sudah mapan dalam penciptaan sebagai role model sebagai contoh. Namun, kerja kepenyairan menantang kreativitas yang unik, punya kekhasan, atau gaya personal. Capaian itu membutuhkan latihan dan kerja keras penyair agar selalu mencari bentuk-bentuk baru dengan memanfaatkan setiap liku perjalanan hidupnya yang pasti berbeda dengan perjalanan hidup orang lain. Dia dapat memasukkan cara pandangnya, kesannya atau pun makna tertentu yang diperolehnya atas fenomena kehidupan.
Kembali ke Rozi Erdus. Pengalaman hidupnya yang dekat dengan Danau Singkarak dan pernah mendaki berbagai gunung, semestinya dapat dijadikan sebagai komponen estetis bagi puisi-puisinya daripada berkeras hati memaksa diri memakai diksi asing yang belum menapak kuat yang justru membuat puisinya kurang utuh. Refleksi perasaan kosong kesepian dapat diungkapkan melalui ‘kulit pensi yang pecah di batu’ atau ‘kabut mengambang di atas danau’, ‘lampu-lampu bus antar kota muram cahaya melintas di Jalan Lintas Sumatra’, ‘keramba penuh ikan mati’, ‘rumah makan tua yang dilupakan’, ‘bantal-bantal kapuk bersarung bunga-bunga mawar yang rindu dipeluk’, dan lain-lain. Tentu akan lebih menggetarkan.
Tidak ada Singkarak dalam puisi-puisi Rozi Erdus yang notabene penyair dari Singkarak. Mungkin belum. Kita tunggu di edisi berikutnya! []
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Tinggalkan Balasan