
Oleh:
Dr. Sulastri, M.Hum.
Dosen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas
Pengabdian seorang mahaguru akan tampak pancarannya apabila sang murid berhasil menyusun kemilau menerangi kehidupan di dunia ini. Mungkin cahaya terang akan menarik, bisa bak pelangi berwarna-warni disusun dan diejanya warna agar tampak indah terbentang di kaki langit luas ini. Tulisan ini kupersembahkan untuk mahaguruku, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, M.A. Seorang mahaguru dengan pembawaannya yang tenang, bersahaja, dan bijak dengan ketekunan, kecerdasan, dan sarat ilmu yang dimilikinya. Luasnya pandangan akan bisa menjadi suri teladan bagi para dosen yang juga mantan mahasiswanya di seluruh Indonesia. Karena makin hari, makin langka manusia yang bisa dijadikan panutan di dunia akademik. Langka orang-orang yang santun pada guru, apalagi penilaian manusia sekarang yang serba terbalik ini.
Orang baik bila tidak mau pamer dianggap orang bodoh. Orang bodoh bila banyak uang dianggap sangat pintar, hebat, dan dermawan. Begitulah warna-warni kehidupan kini. Akibat perguliran waktu dari masa ke masa, makin sirna sikap, prilaku, dan kriteria nilai baik dan benar. Penilaian tanpa standar dan ukuran yang jelas dan selalu berubah. Semakin langka manusia yang bisa dijadikan suri teladan. Kendatipun teladan tersebut tidaklah mudah ukuran dan kriterianya.
Sapardi Djoko Damono (berikut disingkat menjadi SDD). Berguru kepada beliau bagi penulis bak menggali air sumur yang jernih. Semakin digali semakin bersua air bersih dan jernihnya. Bila menggalinya dangkal, barangkali air bersua juga namun tentu tidak sebening air di dalam. Berdalam-dalam menimba ilmu pada beliau sangatlah mengasyikkan.
Nilai yang dapat dipetik dari uraian di atas merupakan sebuah indikasi bahwa seorang mahaguru ilmunya luas, sangat arif dan bijaksana, tidak membeda-bedakan muridnya, dan tetap setia pada bidang yang digelutinya. Sebagai seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia, SDD yang berasal dari priyayi Solo telah berhasil memberikan pondasi yang kokoh terhadap bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi modern. Ia berhasil mempreteli, merumuskan, mengakomodasikan bahasa Indonesia ilmiah menjadi bahasa Indonesia yang bisa digunakan oleh khalayak ramai sehingga menjadi bahasa ilmiah populer. Dengan kata lain, beban ilmiah yang dikandung, dilebur, dan dirumuskan menjadi bahasa trendi, gaul, dan disukai banyak orang. Tidak mudah melakukan proses pembelajaran seperti itu, karena bahasa yang sarat dengan simbol. Tanda/lambang dan makna dalam perpuisian diolah oleh SDD dengan adukan/racikan dengan bumbu-bumbu yang “pas”. SDD memberikan fondasi yang kokoh terhadap bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang mampu memberikan kontribusi menyeluruh dan menjadikan bahasa Indonesia modern.
Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang memenuhi tuntutan sebagai bahasa bermartabat dan efektif. Artinya, ia ingin mencairkan batas antara bahasa sebagai alat komunikasi dan bahasa sebagai ‘alat proses pembelajaran”. Konsep efisien dan efektif bagi SDD bukan rela mengorbankan tradisi, namun berupaya merombak garis pembatas modern dan residu dari tradisi tersebut dengan sebuah olahan dan kemasan baru. Dengan kata lain, bahasa Indonesia menjadi species, genre, dan hibrid dalam keberagaman genetik budaya Indonesia. Respektabilitas SDD terhadap pengembangan bahasa Indonesia dan menjadikan bahasa Indonesia menyatu dengan peradaban modern. Bahasa Indonesia yang dipopulerkan masyarakat Indonesia tanpa kelas.
Sebenarnya, SDD ingin mengembalikan fungsi dan manfaat sastra itu sendiri. Apakah intensi tersebut secara kebetulan atau karena posisinya sebagai seorang mahaguru yang memungkinkan meneruka jalan ke arah itu. Bagaimana kosakata dan simbol dirumuskan dan dikembangkan. Dirumuskan bukan hanya sebagai definisi saja, melainkan berusaha membuat eksperimen-eksperimen yang berbeda. Ia berhasil menyerap kosakata abstrak kemudian dirumuskan dengan bentuk indrawi yang bisa diuji dan dieksperimenkan secara saintifik. Ketabahan, imajinasi, dan kreativitasnya berhasil sangat baik dalam menjadikan bahasa Indonesia menjadi “bahasa sains” yang populer.
Sang profesor ingin membimbing masyarakat melakukan perubahan cara pandang tentang bagaimana bermain-main dengan bahasa dengan secara menyenangkan dan tidak perlu rumit untuk menghayatinya. Karena karya sastra itu tidak perlu ada perantara, dia milik masyarakat. Orang menghayati tanpa memahami. Hal ini sejalan dengan ucapan T.S. Eliot bahwa poetry can experienced before it is understood. Begitu juga ketika puisi SDD dikutip orang lain dan dituliskan dalam kartu undangan pernikahan. Ada yang tidak tahu siapa penyair sebenarnya karena puisi “Aku ingin mencintaimu dengan sangat sederhana” sangat populer. Coba perhatikan puisi “Hujan Bulan Juni”.
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Kata “tabah, bijak, dan arif” tidak sesederhana itu untuk dihimpun. Dalam bait demi bait, pembaca diajak dan ditembangkan dengan puisi tersebut. Kata-kata dipadukan dalam permainan visual dan semantik. Resonansi aural kata tabah, bijak, dan arif mengingatkan kita akan petuah lama yang dimodernkan pemaknaannya.
Gunawan Mohammad mengatakan sebagai bahasa sains yang terpatok pada konsep yang ketat. Bahasa sains telah dibiarkanya bergerak liar. Ia tidak saja terbangun dari ‘arti pemaknaan kaku’, namun lebih diperkaya oleh imaji atau metafor yang kuat. Contohnya kata kunci dalam puisi “Hujan Bulan Juni”, yakni kata “ tabah” diberi bau (imaji/tambahan) rahasia. Kata “bijak” diberi bau hapus. Kata “arif” diberi bau biarkan” (Bila pembacaan retroaktif maka maknanya sebagai berikut: Seseorang baru bisa dikatakan tabah apabila pandai menyimpan rahasia. Seseorang dapat dikatakan bijak apabila bisa dan pandai menghapus kesalahan orang lain. Seseorang baru bisa dikatakan arif ketika mampu membiarkan apa saja berjalan tidak sesuai dengan aturan).
Kata kunci dalam HBJ (Hujan Bulan Juni) menjadi lebih hidup dalam metafor dan imaji bahasa. Definisi dan pengertian kata “ tabah, bijak dan arif, bukan bagaimana rumus, symbol, dan definisi kata tabah, bijak, dan arif yang harus dirumuskan dan didefinisakan lagi. Ornamen yang menyertai pendefinisian kata-kata tersebut yang diutamakan sesuai dengan pengalaman empiris. Metafor telah dijadikan ‘pembebasan’ dari kungkungan konsep pendefinisian baku yang ketat. Ia telah menjangkau keanekaragaman yang dialami oleh imaji. Ia juga terbentuk oleh alam di bawah sadar. Ia barangkali disebabkan lahir dari trauma dan hasrat yang terpendam dari seorang penyair. Proses memungut kata-kata yang bersentuhan dengan alam sangat memesona dan produktif oleh SDD. Puisinya sangat hidup. Puisinya memberikan penggambaran tentang alam, puisi adem, tenang tidak reseh, tidak heboh, namun bukan berarti pula ia tidak berbicara kritis dalam merumuskan yang tak lempang. Dalam ilustrasinya, evaluasi mengenai kehidupan dan perasaan ‘senang’ dielaborasi dengan baik sehingga penghayatan dan pemahaman terhadap puisi sangat komunikatif. Keberhasilan SDD dalam membuka lahan dan merangkai kata-kata indah, menyenangkan, memberikan alternatif, dan usaha mengukuhkannya sebagai poetic license yang original. SDD telah berhasil menunjukkan kepiawaian menggunakan bahasa-bahasa yang segar. Bahasa telah diberi “roh”, telah dihidupkan, dan digairahkan seolah-olah ‘benda mati’ diberi nyawa.
Tendensi kata-kata dalam sajak SDD sangat terlihat intelektual sekaligus menunjukkan kepiawaian orang bersekolah tinggi. Kalimatnya runut, imaji, emosi, ide, dan gerak selalu terjaga kadangkala juga menyentak. Lalu, dalam kumpulan sajak “Ada berita apa hari ini, Den Sastro”?, diksi terlihat lebih menyentak dari judul puitik yang biasa ditulisnya, seperti “Aku Ingin” atau “Dukamu Abadi”. Monolog dalam sajak “Den Sestro” seperti orang bercakap-cakap dengan “Kau” atau dengan diri sendiri dalam suasana kekinian. Deskripsinya menarik dan mengasyikkan. Kita seolah-olah membaca kisah cerita via berita yang dijalin dari timbunan huruf. Kita memungut huruf yang dirangkai dalam metafora yang memesona. Imaji yang dibentuk sesuai dengan pigura bahasa dan selera muda. Kepiawaian SDD bak film cerita yang sejuk, tenang, dan bergairah. SDD membuat hiburan atau seni yang disandang dalam sastra mendatangkan kelegaan.
Hiburan itu dinikmati dan disebarluaskan oleh masyarakat tanpa tekanan. Hiburan semacam itu mengandung sifat didaktik dan propaganda sehingga bisa menjadi populer tanpa tekanan dan paksaan. Kondisi ini sebagaimana yang dilakukan Ari Reda dalam menggarap musikalisasi puisi SDD yang digandrungi anak-anak muda. Begitu juga pengakuan Ebiet G Ade yang mendapat pengaruh tidak langsung dari SDD.
Nah, apabila karya sastra telah populer dan mendapat simpati dari pembaca, secara tidak sadar gagasan, ideologi, dan propaganda dengan sendirinya mampu mempengaruhi pembaca.
Padang, 11 September 2020

Tinggalkan Balasan