Aku dan Perjalanan

Cerpen:Hamsiah

“Bhineka tunggal Ika” sudah tidak asing lagi di seantero negeri ini. Semboyan yang diambil dari Kitab Sutasoma pada masa Kerajaan Majapahit, buah tangan dari Empu Tantular. Semboyan itu telah menjadi kalimat penuh makna, dijadikan pula semboyan bangsa Indonesia, yang berarti walau berbeda-beda tapi tetap satu jua. Semboyan indah untuk Indonesia yang memiliki beragam perbedaan.

Mulai dari keyakinan, kebudayaan, bahasa, ras, suku, warna kulit. Hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Berada di antara garis khatulistiwa, diapit oleh dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia. Itu membuat Indonesia memiliki iklim yang tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan musim panas. Musim yang sangat baik untuk bercocok tanam. Alam yang luas dan subur telah menjadikan Indonesia kaya akan hasil alam. Alam yang indah adalah anugerah dari Yang kuasa. Letak geografis turut pula mempengaruhi bagaimana kebiasaan suatu daerah. Kekayaan alam yang melimpah ruah, terdiri dari banyak pulau, gunung aktif, perairan-perairan, menjadi berkah bagi masyarakat untuk mencari rezeki dengan bercocok tanam dan melaut.  Letusan gunung api Karakatau pada tahun 1833 tahun silam adalah letusan gunung yang sangat dahsyat, sehingga memisahkan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Letusannya terasa pula sampai Perth, Australia yang berjarak 4.500 kilometer.

Kami adalah anak-anak bangsa dengan keberagaman itu. Perbedaan telah menyatukan kami dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Kami hidup berdampingan dari berbagai suku, bahasa, agama, dan budaya. Perbedaan telah melengkapkan. Perbedaan telah menjadikan kami kuat. Universitas Andalas adalah salah satu kampus terbaik yang masuk dalam jajaran kampus klaster pertama di Indonesia. Aku sangat beruntung diberikan kesempatan untuk bisa menjadi bagian dari kampus yang bergengsi ini.

Sebuah kampus dengan keasriannya terletak paling ujung Kota Padang, di atas ketinggian dengan luas lahan lebih kurang 500 Hektare. Pohon-pohon tumbuh dengan subur, dedaun hijau menyerap cahaya matahari dengan baik sehingga proses fotosintesis berjalan dengan baik. Akar-akarnya kuat membuat serapan dan cadangan air menjadi tercukupi. Di sanalah, kampus Universitas Andalas berdiri.

Pagi itu, aku tengah asyik berjalan mengelilingi stadion GOR Agus Salim Kota Padang. Kebetulan hari ini tidak ada jam perkuliahan. Jadi, aku manfaatkan jalan santai ke GOR untuk menjaga daya tahan tubuh agar tetap segar dan fit. Jam menunjukkan pukul 06.35 WIB. Udara masih segar. Belum banyak kendaraan yang lewat di jalan Raden Saleh. Hanya ada beberapa orang terlihat sedang bersepeda. Ada pula yang berjalan santai menikmati indahnya pagi.

Matahari masih malu-malu menampakkan diri, namun kehangatannya telah terasa. Meskipun embun semalam masih membasahi pohon-pohon yang ada di sekitar jalan, hari ini sangat indah, langit menghijau, dan awan-awan putih menjadi hiasan bak lukisan yang turut menyapa sang mentari pagi. Ada kejadian yang selalu berulang di sana. Setiap jam yang sama melintaslah sebuah bus roda enam, berwarna hijau, dan bertuliskan Universitas Andalas. Di dalamnya, terlihat beberapa orang mengisi bangku yang ada.

Bus itu selalu tepat waktu. Hari ini, aku lihat seorang ibu separuh baya diantar oleh seorang laki-laki berbadan tegap, kulit sawo matang, dan potongan rambutnya rapi. Tebakanku,  dari ciri-cirinya laki-laki itu adalah seorang yang berprofesi sebagai angkatan. Polisi sepertinya. Usianya berkisaran 45 tahun. Pandanganku kembali ke ibu yang baru saja turun dari motor scoppy bewarna pink-putih. Ia mengenakan baju casual bewarna hitam dipadupadankan dengan jilbab bewarna pink fanta dan lengkap dengan sepatu heels setinggi tiga centimeter. Tangan kanannya menjinjing tas bewarna senada dengan baju. Itu menambah kesan anggun sang ibu itu. Ia berhenti tepat depan halte yang berada di depan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Padang di Jalan Raden Saleh.

Selang beberapa waktu, dari arah Raden Saleh,  sebuah bus bewarna hijau bertuliskan Universitas Andalas melaju dengan kecepatan tinggi. Mataku mengamati kejadian ini dengan seksama. Otakku merekam setiap detik kejadian demi kejadian. Sang ibu bergegas naik bus yang memiliki plat merah tersebut. Dibukanya pintu bagian belakang, pintu yang berada tepat di badan mobil di sebelah kiri. Aku menyebutnya pintu belakang, karena mobil ini dilengkapi dengan dua pintu, yaitu bagian sisi depan dan sisi belakang.

Setelah pintu ditutup, mobil melaju meninggalkan aku dan halte kosong itu. Aku yang bukan siapa-siapa. Aku yang bahkan tidak dikenal oleh orang-orang yang berada dalam mobil berwarna hijau itu. Spontan kata-kata keluar, kata-kata yang tanpa aku sadari akan berdampak besar di masa depan. Dalam hati aku berucap, “Insya Allah, suatu saat aku akan menjadi bagian dan juga dijemput bus itu.” Hanya itu kalimat yang aku ucapkan tanpa ada seorang pun tahu.

Namun, Allah SWT Mahakuasa. Dia mengetahui apa pun yang terjadi dalam hidup ini. Di atas dunia ini, tidak luput dari penglihatan-Nya. Setiap kejadian adalah atas izin-Nya. Sebagai manusia kita tidak punya hak untuk menghakimi. Hanya saja sebagai hambanya Allah kita diperintahkan buat ikhtiar, berdoa, dan berserah diri yakin Allah akan memberikan jalan dan petunjuk yang terbaik buat masing-masing kita.

Setelah hari itu, semua berlalu. Aku pun sudah tidak ingat lagi pernah mengucapkan satu kalimat keinginan itu. Hingga suatu ketika, tawaran itu datang.

“Ada Lowongan di Universitas Andalas, di bagian penelitian dan pengabdian.” ujar Lusi padaku.

“Jika kamu berminat, kamu bisa buat surat lamaran dan antar ke Unand.”

“Iya. Aku mau. Kapan deadline–nya?”

“Besok ya.”

Hati berdetak kencang. Ini adalah kesempatan yang tidak pernah aku duga-duga, tanpa mau melewatkan kesempatan ini, aku pun menyiapkan beberapa dokumen yang dibutuhkan. Setelah semuanya lengkap, keesokan harinya aku datang ke Univeritas Andalas. Tujuan hari itu adalah bertemu seorang. Dari informasi yang aku dapatkan, aku harus menemui Ibu Fitri.

Seminggu berlalu, ternyata belum ada kabar tentang lamaran yang aku buat. Aku yakin apa pun itu jika sudah ditakdirkan untukku maka semuanya tidak akan tertukar. Tidak ada yang mampu melawan kuasanya Allah. Qadarullah. Hari kesepuluh. Panggilan itu datang.

“Bisa kamu ke kantor sekarang!”

“Bisa.” jawabku tegas.

“Selamat bergabung. Kamu diterima.”

Bumi seketika berhenti. Alunan rasa syukur kepada Allah SWT menjadi hiasan bibir. Dalam hati aku berucap, “Alhamdulillah, Terima kasih Allah. Engkau Mahakuasa atas apa pun.”

Aku yakin, setiap rezeki memiliki tuannya masing-masing. Setiap orang punya jalan masing-masing. Sukses setiap orang akan berbeda karena berbeda itu indah dan karena perbedaan itu melengkapi setiap kekurangan.

Aku yakin, hidup adalah tentang penerimaan dan tentang pengakuan bahwa kita adalah mahkluk sosial yang tidak akan bisa hidup sendiri. Kita butuh teman, kita butuh keluarga, kita butuh kolega untuk saling membantu, saling melengkapi, dan sama-sama sukses di jalan masing-masing.

Tentang Penulis:

Hamsiah–Besar di Kerinci, lahir pada 07 Mei 1994. Ia merupakan Staf LPPM Universitas Andalas dan bisa di hubungi melalui e-mail : hamsiah370@gmail.com. Instragram : @hamsiahhasim

 


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *