RANAH KUTUKAN

Cerpen : M. Adioska
Hujan rintik-rintik. Tiga orang lelaki baru saja menuruni tangga sebuah rumah panggung yang reot. Pada setiap injakan, tangga itu selalu menjerit atau lebih tepat dikatakan merintih karena telah termakan usia. Dua di antara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam elegan, sepatu kulit mengkilat buatan Italia dan pernak-pernik kemegahan abad dua puluh satu lainnya. Seorang lagi berbadan kekar, rambut panjang berombak, otot tersembul dari kaosnya yang sedikit ketat. Tampangnya sangar, di tambah sedikit hiasan kumis di bibirnya.
Ketiga orang itu kemudian berlari kecil menuju sebuah sedan mengkilat. Kembali, kemewahan peradaban modern dipersembahkan di hadapan rumah panggung yang reot. Mereka berusaha menghindari tetes demi tetes rintik hujan yang belum juga reda. Pintu sedan terbuka, mereka masuk. Kemudian suara halus mesin berteknologi tinggi lamat terdengar dalam rintik. Mobil itu bergerak maju, menyusuri jalan beraspal yang kecil. Kemudian, detik berikutnya ia hilang dalam keremangan kabut yang diciptakan rintik.
Sementara, di dalam rumah panggung yang baru saja ditinggalkan ketiga orang itu, duduklah seorang wanita tua renta. Ia menyandarkan tubuhnya di atas sebuah kursi rotan yang sama reotnya dengan keseluruhan rumah. Matanya menerawang jauh menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik, bahkan menembus deretan awan yang setia menurunkan hujan. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela dengan perlahan. Dari tempat itu, ia bisa mendengar sedikit deburan ombak yang menyatu dengan tetes air yang turun dari lapisan atap ijuk rumah tersebut.
Tanpa ia sadari, setetes air hangat keluar dari bola matanya yang cekung. Air itu menuruni kerutan wajah, lalu terjatuh ke lantai setelah sempat bergelayut di ujung dagu tuanya. Hatinya terluka dalam kesendirian.
Ia semakin sedih tatkala ingat anak cucunya yang telah pergi meninggalkan ia berteman duka dan berlindungkan rumah tua. Anak cucunya telah terpengaruh oleh gemerlap duniawi dengan alasan takut dikutuk oleh ranah bencana. Mereka kemudian pindah memperturutkan kecemasan yang tidak beralasan dan menyingkirkan rasa iba, bahkan terhadap seorang wanita tua.
Ia kembali teringat hari di mana seluruh koper telah terisi dan dijinjing dan siap meninggalkan rumah usang.
“Mak, ranah ini telah dikutuk. Sebentar lagi, jeritan akan menggema dan mayat-mayat akan terlantar. Kami tidak ingin tubuh kami ditemukan di tengah gelimpangan mayat itu nantinya. Sudahlah, Amak jangan pertahankan lagi prinsi-prinsip kuno itu atau paham atau apalah namanya. Jika Amak berubah pikiran sekarang, masih ada satu bangku yang kosong. Kita akan pindah ke tempat yang aman dan akan saya sediakan sebuah rumah khusus buat Amak, yang pasti bukan rumah seperti ini.”
Hati wanita tua itu hancur seiring meluncurnya dua buah mobil dari halaman rumah usang yang sekarang ia diami. Sendiri hingga saat ini.
***
Dini hari yang dingin. Ketika suara ombak masih menggema dari kejauhan, orang-orang terpekik dan lari memenuhi jalan raya yang terasa semakin sempit. Wajah-wajah tegang dan takut menyatu dalam kepanikan. Semua histeris dalam goncangan dunia. Tangis-tangis bayi yang terkejut ikut mewarnai kesemrawutan.
Begitu juga di sebuah rumah panggung, seorang wanita tua lari dengan tergesa menuju dapur. Ia mengambil sebuah piring dan sendok. Lalu, pikiran paniknya memandu ia keluar rumah dan menuruni tangga tua secepat mungkin.
Bumi masih bergoyang ketika ia sampai di halaman. Pohon, tiang-tiang listrik, pagar-pagar besi ikut meliuk. Tanpa pikir panjang, ia memukulkan sendok ke piring yang ia ambil tadi. Lama.
Bunyi-bunyian itu masih terdengar mengeluarkan irama tak menentu. Yang pasti suaranya keras, bercampur dalam teriakan ketakutan. Terus. Ia terus memukul. Hingga akhirnya goncangan berhenti. Ia masih berdiri mematung, memperlambat pukulan, dan memandang berkeliling. Akhirnya, berhenti. Tak ada lagi bunyi-bunyian, tak ada lagi goncangan. Hanya jerit tangis dan wajah kepanikan. Wanita itu perlahan sujud. Ia mencium tanah, menghamba pada Yang Patut Disembah. Air matanya keluar pertanda syukur.
Menjelang subuh, goncangan, jeritan tangis, terulang. Wanita tua, piring, sendok, bunyi-bunyian, kembali, tapi laut masih biru dan berombak seperti biasa. Melebur dalam seluruh kepanikan.
Sebelum matahari sampai di puncak langit, goncangan masih terasa beberapa kali. Setiap itu pula, bunyi-bunyian si wanita tua mengiringi. Sementara dua orang anaknya tidak peduli. Mereka dengan tergesa-gesa mengepak barang-barang, mengumpulkan alat-alat, dan tidak lupa uang.
Esoknya, seorang bocah cilik mengahampiri wanita tua itu.
“Nek, kenapa waktu gempa kemarin nenek memukul piring?”
Wanita tua itu menjangkau si bocah dengan lembut dan memandang penuh kasih sayang. Seulas senyum sederhana terukir di bibir tuanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan si bocah.
“Kata orang-orang tua dahulu, gempa disebabkan oleh seekor kerbau besar. Kerbau itu tinggal jauh di dalam tanah. Sekali-kali, ia akan menggerakkan seluruh badannya untuk menggoncang dunia. Katanya, ia ingin memastikan kalau di atas dunia ini masih ada manusia atau tidak. Makanya, nenek membunyikan piring supaya kerbau tahu bahwa kita masih ada. Katanya jika tidak ada bunyi-bunyian lagi, kerbau itu akan menghancurkan dunia. Buktinya setelah mendengar bunyi-bunyian itu sekarang tidak ada lagi gempakan?” Wanita tua itu menjelaskan dengan gamblang, karena memang semenjak kecil ia sudah mendengar cerita itu. Sampai sekarang, ia sangat meyakininya.
“Ah…nenek bohong, nenek kuno…”
Bocah itu kemudian mencibir dan berlari. Ia kembali bermain dengan boneka yang bisa menangis, alat-alat dokter, dan komputer mainan.
Hati wanita tua itu perih. Tak ada seorang pun yang mempercayai ceritanya, bahkan bocah ingusan pun tidak. Tapi ia sangat yakin, kerbau besar, dunia, goncangan, dan bunyi-bunyian.
Selang dua puluh empat jam berlalu, ketika senja mulai membuka tabir keindahannya, sebuah sedan mewah berhenti tepat di halaman rumah panggung. Pintu terbuka, empat laki-laki turun dan salah seorang dari mereka adalah Si Buyung, anak sulung dari wanita tua itu. Tampak ia mempersilahkan ketiga temannya-atasannya atau relasinya atau apalah namanya- dengan sangat hormat.
Mereka berjalan dengan wibawa yang sangat tinggi. Langkah demi langkah hingga akhirnya menaiki tangga reot.
“Dia ibuku…” Si Buyung bersuara sembari menunjuk wanita tua yang duduk di kursi rotan. Langsung, tanpa basa-basi, ketiga laki-laki itu mendekati wanita yang dipanggil Buyung dengan ibu. Lalu, salah seorang dari mereka mengeluarkan kertas putih dari jas hitamnya, dan dengan sedikit hempasan meletakkannya di atas meja yang juga sudah tua.
“Bu, ini surat jual beli. Kedua anak ibu telah sepakat akan menjual tanah dan seluruh yang berdiri dan yang tumbuh di atasnya, termasuk rumah tua ini. Silahkan ditandatangani”
“Aa…, jual? Anakku? Si…siapa kalian ?”
“Kami orang yang akan membeli tanah dan juga rumah yang akan dibangun monumen ini untuk dikembangkan menjadi pusat wisata, belanja, dan pusat segala-galanya.”
Wanita tua itu gusar, kedua bibir pucatnya bergetar. Ia memalingkan wajah pada Si Buyung yang berdiri kaku dengan tatapan ketidakmengertian. Buyung diam. Dingin. Tanpa dosa. Lalu, tetes air hangat keluar dari mata si wanita tua. Ia segera membentuk anak sungai di kedalaman kerutan wajahnya.
“Aku tidak bisa membaca. Aku tidak punya tanda tangan. Aku adalah tanah ini, Rumah ini adalah ruhku. Aku dibentuk oleh pesakitan dan kesenangan di setiap helai papan rumah ini.”
“Cepat tanda tangani. Kami tidak punya banyak waktu.” si badan kekar angkat suara. “atau…”
“Sabar,…Jika anda belum bisa memutuskan sekarang. Besok, kami masih punya waktu. Saya sarankan malam ini Anda belajar membuat tanda tangan,” Salah seorang laki-laki mencoba mendinginkan suasana, tapi diiringi oleh sedikit ancaman. Kemudian, ia sedikit mengangguk, mengambil langkah, lalu diiringi oleh dua orang lainnya.
Suasana hening, mendung tiba-tiba menghitam di mata wanita tua. Angin membeku. Dalam ruangan it, hanya ada dia dan anak sulungnya, Buyung. Kebisuan meraja. Wanita tua menatap kosong, menembus atmosfer senja. Sebentar lagi malam.
Sementara Buyung menatap wanita yang ia panggil ibu itu dengan tajam. Marah. Kecewa. Heran. Menyatu sejadi-jadinya.
“Memalukan…, seharusnya Amak menandatangani surat itu, atau paling tidak Amak menyetujuinya. Tak ada lagi yang dapat kita harapkan dari tanah ini karena ia telah dikutuk. Memang, ombak itu masih seperti biasa, tapi esok, malam nanti atau bahkan semenit lagi ia akan mewujudkan keangkaraan, menagih janji kutukan dan melumat seluruh keberadaan. Lalu apa lagi yang Amak harapkan….?”
“Itu takdir, sudah ketentuan langit. Tak ada yang bisa lari dari semua itu. Walau engkau sembunyi ke puncak gunung sekalipun, kalau sudah takdir yang bicara, kau tidak akan bisa mengelak, anakku.” Suara wanita tua itu bergetar. Tubuhnya bergoncang menahan isak. Air matanya kian deras.
“Menjual tanah ini…? Tidak pernah Amak pikirkan, bahkan membayangkannya pun Amak tak sanngup. Ini tanah warisan turun-temurun dari nenek moyang. Sebagai seorang Bundo Kanduang, Amak wajib menjaga keberadaan tanah ini. Amak tidak akan menjualnya, terutama pada orang-orang seperti mereka. Amak takut anak cucu Amak nantinya di pertontonkan dengan hal yang buruk. Amak bisa membayangkan jika tanah ini dijual. Di sini akan di pamerkan tubuh-tubuh setengah telanjang, makanan haram dan hilangnya akal sehat.”
“Tapi Mak, saya tidak mau mati sia-sia. Saya tidak mau hanyut oleh gelombang dan saya tidak mau tubuh saya tidak dikenali.”
“Siapa yang mengatakan itu padamu? Tanah ini bukan kutukan. Sejak kecil Amak sudah di sini. Tidak ada yang namanya mayat yang berserakan. Kalau hanya goncangan seperti kemarin-kemarin, itu biasa. Itu hanya ulah seekor kerbau yang ingin memastikan keberadaan manusia.”
“Ah…, cerita kuno itu lagi. Bosan. Baiklah, jika Amak tidak mau menjual tanah usang ini, terpaksa saya harus pergi dan meninggalkan Amak sendirian di rumah yang hampir roboh ini. Andai saja Amak berpikiran lain, tentu tumpukan uang sudah ada di meja ini sekarang.”
Si Buyung segera membalikkan badan. Mukanya merah. Tangan terkepal. Matanya bersinar garang. Kecewa. Marah. Ia melangkah menuju halaman dan kemudian hilang dalam hitungan detik.
Esoknya, lusanya dan hari-hari berikutnya, tiga orang laki-laki itu selalu datang dengan bujukan, bentakan dan ancaman. Sementara itu, Si Buyung dan saudaranya telah pergi, hilang tanpa kabar, membawa koper. Padat. Mereka pindah membawa seluruh barang-barang berharga dengan dua buah mobil yang mereka dapatkan entah darimana.
“Tidak.”
Tegas. Keluar dari mulut seorang wanita tua yang kolot, yang mempertahankan tanah pusaka, yang ditinggal dan disakiti.
***
Hujan rintik-rintik. Tiga orang laki-laki baru saja menuruni tangga rumah gadang yang reot. Dua di antara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam, dan sepatu buatan Itali. Seorang lagi berbadan kekar. Mereka berlari kecil menuju sedan mengkilat. Pintu terbuka, mereka masuk dan mobil berteknologi tinggi itu melaju menyusuri jalan beraspal yang kecil.
Di dalam Rumah Gadang, duduk seorang wanita tua renta. Matanya menerawang, menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus awan. Ia berharap ketiga laki-laki itu tidak kembali lagi dan menunggu anak-anaknya pulang. Selamanya.
Resistensi Tradisi Melawan Modernitas

Oleh:
Azwar Sutan Malaka
(Dosen UPN Veteran Jakarta
dan Pengurus FLP Sumbar)
Siapa yang bisa melawan perubahan? Tak ada. Tak ada yang bisa membendung perubahan zaman. Namun, dalam setiap perkembangan kehidupan manusia, tetap saja ada sesuatu yang melakukan perlawanan. Dalam cerpen “Ranah Kutukan” karya Medi Adioska, seorang guru di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, yang juga alumni Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas ini digambarkan bagaimana resistensi atau perlawanan tradisi terhadap proses modernisasi yang terjadi.
Jalil dan Aminah (2017) mengutip Michael Rowland yang menulis dalam sebuah artikel yang berjudul “Inconsitent Temporalities In A Nation State” yang membicarakan antara tradisi dan modernitas. Menurut Rowland, keduanya tidak bisa disatukan karena masing-masingnya memiliki kepentingan yang berbeda.
Modern mengklaim dirinya sebagai representasi sesuatu yang berada di luar yang lama. Ia merupakan sesuatu yang diidentikkan dengan pemberian kebebasan individu untuk mengakses segala sesuatu yang dianggap penting dan sesuatu yang baru. Sementara itu, tradisi merupakan representasi generasi klasik yang dianggap statis, cendrung normatif konservatif, dan mengedepankan nilai-nilai luhur. Tradisi adalah sesuatu yang indegeneous yang belum ternodai oleh gelombang globalisasi.
Cerpen “Ranah Kutukan” bercerita tentang seorang perempuan tua yang mempertahankan Rumah Gadang beserta tanah pusakanya dari incaran pemodal besar yang ingin membeli tanah pusaka itu untuk dijadikan gedung pertokoan. Tokoh “Amak” dalam cerpen itu mewakili generasi tradisional yang masih percaya pada nilai-nilai leluhurnya.
Tokoh lain dalam cerita itu adalah Si Buyung, anak Amak yang berperan sebagai perantara yang menjual tanah pusaka ibunya itu kepada pengusaha. Tokoh lain yang muncul adalah seorang lelaki berdasi, berkacamata hitam, memakai sepatu dari Itali –begitu penulis cerita itu menggambarkannya—dia adalah pengusaha yang akan membeli tanah pusaka dan rumah gadang itu beserta anak buahnya yang sangar.
Kampung itu sudah digosipkan mendapat kutukan karena sering mengalami gempa. Kampung itu juga akan diisukan akan ditimpa tsunami besar yang akan menghancurkan penduduknya. Ada beberapa catatan yang bisa saya sampaikan setelah membaca cerpen ini. Selain membahas resistensi atau perlawanan tradisi melawan modernitas, yang menjadi persoalan utama cerpen ini ada catatan lain di antaranya; pertama lokalitas dalam cerpen ini menjadi sesuatu yang bukan pemanis cerita saja, tetapi lokalitas menjadi sesuatu yang penting yang membentuk cerita. Cerita ini menjadi menarik karena menceritakan tema-tema yang menjadi persoalan sosial dalam kehidupan masyarakat lokal. Masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah pusaka warisan leluhur mereka yang akan dirampas oleh para pemilik modal yang punya banyak uang.
Kedua, cerita seorang anak yang kejam yang rela melawan orang tuanya sendiri. Hal ini layaknya kisah yang ada dalam sinetron Indonesia di mana seorang anak kandung tega memusuhi orang tuanya sendiri demi memperebutkan harta. Saya membahasakannya kisah ini seperti kisah fiksi saja. Akan tetapi, kadang realitas bisa lebih kejam dibandingkan fiksi. Tentang anak-anak yang tega memusuhi orang tuanya karena ingin mengambil harta pusaka dari orang tuanya barangkali tidak hanya ada dalam kisah sinetron saja. Dalam dunia nyata, banyak berita yang telah mengabarkan betapa durhakanya anak-anak yang tega mencampakkan ibunya karena harta.
Ketiga, ada konspirasi yang sengaja diciptakan untuk mengusir penduduk kampung yang tidak mau menjual tanah pusaka mereka kepada para kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa memikirkan nilai-nilai luhur masyarakat. Konspirasi ini terbilang canggih dengan menciptakan isu bahwa kampung itu adalah Ranah Kutukan sebagaimana judul cerpen ini.
Kabarnya, ranah itu telah dikutuk akan mendapatkan bencana disapu ombak besar (tsunami) sehingga penduduk disitu bersedia pindah dari kampung itu dan menjual tanah dan harta pusaka mereka kepada pengembang yang akan mendirikan gedung-gedung mewah dan pusat pertokoan modern di tanah itu. Orang-orang kampung yang diwakili generasi modern yang haus akan “uang” terperangkap dalam isu itu. Mereka bersedia menjual tanah orang tua mereka dengan alasan ingin mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman.
Akan tetapi, generasi tua yang masih memegang erat tradisi dan nilai-nilai leluhur, tidak percaya isu yang dihembuskan itu. Orang-orang tua itu lebih percaya pada nilai luhur yang diwariskan nenek moyang mereka tentang gempa yang merupakan hentakan kaki kerbau besar di dasar bumi yang ingin mengabari manusia tentang suatu saat bumi akan dihancurkan.
Cara generasi tua menyikapi gempa itu pun sesuai dengan persepsi mereka akan peristiwa itu. Oleh sebab itu, tokoh Amak dalam cerita ini membunyikan piring yang diketok dengan sendok yang menurut kepercayaannya untuk mengabarkan kerbau besar di dasar bumi bahwa mereka manusia di atas bumi masih ada. Inilah resistensi atas modernitas itu. Tradisi melawan habis-habisan cara-cara modernitas untuk menghancurkan mereka.
Inilah hebatnya karya fiksi. Ia bisa merekam keresahan-keresahan pengarang atas apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Menurut bacaan saya, penulis cerpen ini sebenarnya peduli pada tradisi yang semakin kalah oleh modernitas ini. Cerpen ini adalah salah satu cara yang dilakukan penulisnya untuk melawan modernitas. Sebagai pembaca, kita dapat mengerti betapa pilunya perasaan tokoh Amak dalam cerita ini yang berjuang seorang diri mempertahankan Rumah Gadang dan harta pusakanya.
Ia tidak mau menjual Rumah Gadang dan harta pusaka yang diamanatkan nenek moyangnya padanya. Ia tidak mau menjadi bagian yang akan memberikan ruang pada modernitas yang akan menghancurkan anak cucu dan generasi penerusnya. Hal ini seperti keresahan tokoh Amak itu dalam narasinya:
“Menjual tanah ini…? Tidak pernah Amak pikirkan, bahkan membayangkannya pun Amak tak sanggup. Ini tanah warisan turun temurun dari nenek moyang. Sebagai seorang Bundo Kanduang, Amak wajib menjaga keberadaan tanah ini. Amak tidak akan menjualnya, terutama pada orang-orang seperti mereka. Amak takut anak cucu Amak nantinya di pertontonkan dengan hal yang buruk. Amak bisa membayangkan jika tanah ini dijual. Disini akan dipamerkan tubuh-tubuh setengah telanjang, makanan haram dan hilangnya akal sehat.” (Adioska, 2020)
Narasi tokoh Amak itu terasa begitu berat. Penulis terlihat terlalu memaksakan pesan moral yang padat dalam penutup cerpen “Ranah Kutukan” ini. Akan tetapi, bagian terakhir itu adalah hal terpenting yang harus disampaikan penulis kepada pembaca. Penulis seolah merasa satu paragraf yang terasa berat bagi sebuah cerpen itu merupakan amanat yang disampaikannya dalam cerita.
Walaupun terkesan seperti ceramah yang ditempelkan di dalam karya sastra, namun hal tersebut menjadi sesuatu yang patut direnungkan oleh pembaca. Apalagi seperti yang disindir oleh penulis cerita ini. Orang-orang modern yang tidak memiliki moral sehingga tega membuang orang tuanya demi setumpuk uang yang dijanjikan agen-agen kapitalis yang justru akan memperbudak mereka sendiri nantinya.
Terakhir, sebelum menutup ulasan cerpen ini, saya menyampaikan selamat kepada Medi Adioska yang sudah menghasilkan karya dengan nuansa lokal ini. Lokalitas dalam cerpen Ranah Kutukan tidak hanya sekadar tempelan, tetapi menjadi nyawa dalam cerita ini. (*)
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan