Puisi-puisi Imam Khoironi

Api di Matamu

Kulihat nyala api, di matamu

bergelora, membakar

tiap-tiap keinginanku untuk berpaling

biarkan aku pelihara

Daripada percikan-percikan

umpama janji kita untuk selalu memelihara api

Yang penuh kesunyian suci

Lampung, Juni 2019

 

Jenuh

Kalau waktu itu tiba,

kau akan jenuh merangkaki bumi

merayapi nasib, sebagai melata

 

Kau akan mengepakkan sayapmu,

meski dengan itu kau harus

memendam dalam-dalam napasmu

 

Karena, di langit nanti,

angin akan menerpa jauh lebih gagah

sehingga siapa pun dari tubuh kita

akan merasakan sesak dan tersengal

Lampung, 27 Februari 2019

 

Bagimu Chairil Kutulis Puisi

Dulu, kukira kau masih hidup,

ternyata,

memang benar kau masih hidup

tapi kau hidup tanpa napas dan darah

Kau hidup berjiwa api, bertubuh puisi

nadimu tetap berdetak dalam buku-buku.

 

Jabat tanganku, aku puisi, dalamnya,

Sudah punah kematian yang mendesak.

Napas jengah, mencuri detik

di bawah terik suara angin, yang

mengerang tiap malam.

 

Ragaku kosong keberanian

Petualang macam dirimu mengikis karang raguan.

Sesal yang kini mengucek lobang

di belakang otakku, mendadak pedih.

Rasanya aku lebih pintar bercinta dan bercumbu,

daripada berdoa dan bersujud,

Sebab “setan bertempik” menghampakan yang suci,

Doaku

Lampung, 21 Maret 2019

 

Belajar Membaca Jalan

Aku orang asing di  negeri asing*

Jalanan yang kulalui menuju rumah

Berbeda sama sekali di kota ini

 

Kususuri setiap jalan yang ada di kota ini

Entah jalan tikus, kucing atau lainnya

Walau kadang kuterjebak

Seperti dalam ular tangga

Yang dimainkan para anak TK

 

Aku berjalan menyusuri waktu

Aku berjalan untuk belajar membaca

Liuk jalan yang berlekuk-lekuk

Seperti tubuh tuna wisma

Di kandang serigala

 

Aku tak mau lagi asing

Di kota ini aku adalah pribumi

Yang masih mencoba meraba-raba jalan

Way Halim, Juli 2019

 

Sebuah Safar

Aku berkelana ke negeri jauh

Negeri asing katanya*

Tubuhku tidak terbiasa

Bahasa angin dan retorika hujan

Sama sekali berbeda

Dengan tempat yang jauh sebelum

Aku mengenal-Mu, Tuhanku

 

Kota dengan bangunan-bangunan tua

Gereja-gereja dengan lonceng mati

Seluruh tubuhku mendengus

Dengusan yang penuh pertanyaan

Buat apa? Untuk apa?

Aku datang ke tempat ini

 

Tak ada masjid ataupun musala

Tapi aku tetap harus suci dan berdoa.

Seluruh kota telanjang

Mata dengan tatap jalang dan suri,

Menggoda

Kota ini tak punya baju

Hanya ada selimut untuk menutupi kemaluan

Saat bercinta

Di mana saja dan sepanjang waktu

Tergelar

 

Seluruh tubuhku kembali mendengus

Dengusan yang memuat banyak pertanyaan

Salah satunya:

Kota apa ini?

 

Seluruh kota kering

Kecuali basahnya bibir-bibir

Mereka yang menebar senyum

 

Aku mengelana ke negeri jauh, negeri asing katanya*

Berharap kutemui diksi-diksi, atau

Ide-ide yang lain, yang lebih nikmat

Dari ciuman pertamaku

Untuk kubawa pulang ke negeriku

Negeri kuno, kujadikan puisi,

Prosa, doa-doa, puji-puja, atau apa saja

Buat kusembahkan, pada-Mu, Tuhanku.

 

Lampung, Juni 2019

*)Mengutip dari puisi “Tuhan” karya Chairil Anwar

 

Imam Khoironi lahir di Desa Cintamulya, Lampung Selatan, 18 Februari 2000. Mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung ini menulis puisi, cerpen, esai dan artikel. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (2019/Al-Qolam Media Lestari). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media cetak maupun online. Ia bisa dihubungi melalui Facebook : Imam Imron Khoironi, WA/Hp : 0858609086924, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *