
Cerpen: Buya FH
Bagaimana kabarmu kawan? Semangat untuk kuliah S2-mu agar kau menjadi orang yang dibanggakan keluarga. Jangan seperti sahabatmu ini hanya menjadi omongan tetangga. Berpenampilan seperti gembel dan berandalan. Kebanyakan orang menganggap aku seperti berandalan. Ada juga yang menyorakiku orang sesat. Bermain di dunia gelap, bahkan ada yang berkata.”Percuma saja kau kuliah di kampus Islam jika pekerjaan membuat kerusuhan.” Semua itu kuterima saja. Memang demikian mereka saksikan. Hariku habis dengan anak jalanan. Setiap hari mengamen bermodalan kepiawaianku dalam bermain gitar.
Sebenarnya aku mengamen hanya pelampiasan hobi dalam bermusik. Lebih dari itu, aku bersama anak-anak jalanan mendirikan sebuah panti penampungan orang-orang telantar. Di panti itulah, mereka tinggal belajar hidup mandiri dan diberikan pendidikan nonformal. Mereka juga mendapatkan sebuah pelatihan-pelatiahan mendesain baju dan juga spanduk. Tidak hanya itu, kami juga membuka tempat konveksi baju yang semua pekerjanya anak-anak panti walaupun usaha itu belum besar, tapi cukuplah untuk hidup sehari-hari. Panti ini berlokasi di Kota Padang. Jadi, orang-orang yang selama ini menghinaku tidak mengetahuinya. Ya buat apa juga mereka tahu. Tidak ada untungnya bagiku.
Sudahlah, sebenarnya aku tak ingin menceritakan soal pekerjaanku yang tak jelas ini. Pekerjaan yang kadang membuat sebagian orang menghina malah ada yang memandang sebelah mata kepadaku, bahkan bapakku sendiri sudah lama tidak menegurku lantaran tidak setuju dengan apa yang kulakukan. Ia beranggapan semua ini sia-sia dan membuang waktu. Sampai kapan aku akan seperti ini. Sekarang ini, hanya ibu yang selalu memberikan dukungan moral, semangat, bahkan ketika bapak ingin mengusirku dari rumah ibulah satu-satu yang membelaku. Tidak dengan kedua kakak, mereka sama saja. Aku tak bisa menyalahkan mereka karena belum ada bukti yang kuat untuk meyakinkan mereka bahwa pekerjaanku adalah jalan yang terbaik.
Bapak dari kecil sudah menekankan kepadaku untuk bisa menjadi pegawai negeri. Lantaran, menjadi pegawai hidup akan lebih bahagia dan tenang di hari tua kata bapakku. Akan tetapi, aku tak ingin dan tak perlu kujelaskan kenapa tak ingin jadi pegawai. Kau sudah tahu jawabannya sebab sudah enam tahun kita menjadi kawan sehidup semati. O iya apakah kau masih mengingat aktivis yang selalu dipuja oleh kaum wanita lantaran dia gagah, berwibawa, bersuara lantang, dan tak lupa selalu mengkritik orang rektorat. Kau pasti ingat, kau salah satu orang yang kagum dengannya. Pernah kau berkata kepadaku, “Kalau kau mau jadi aktivis harus totalitas seperti Rahmad. Dia selalu berpihak kepada kebenaran, bersuara untuk penindasan, dan bersuara untuk kaum kecil. Jangan hanya bisa kritis dan sok-sok jadi aktivis HAM hahahaha.”, Ledek kau kepadaku. Semua kata-katamu itu terbukti sekarang. Ia sudah sukses.
Ia menjadi orang yang sangat dihormati di gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Ia menjadi Ketua DPRD. Tidak hanya itu, ia juga punya beberapa perusahaan tambang batu bara, perusahaan sawit, dan kudengar masih banyak lagi harta kekayaannya. Kendati demikian, ia tetap terus berjuang untuk kemajuan. Pernah kulihat, ia diwawancarai oleh stasiun TV ketika membahas tentang pembebasan tanah pembangunan jalan tol yang bersengketa. Sempat terjadi kerusuhan lalu dengan lantang ia berkata bahwa pembangunan jalan tol adalah untuk kemajuan kita bersama. Jadi, jangan ada yang menghalang-halanginya.
Sangat berbanding terbalik denganku hanya seorang yang hidup di jalanan atau bisa disebut sarjana jalanan. Aku sudah pernah berkunjung ke rumahnya yang supermegah. Tiga mobil mewah berjejer di bagasinya. Saat itu, ada reuni dengan kawan-kawan seangkatan. Dan terjadi di sana, sangat mengesankan. Orang-orang suci itu memandangku dengan tatapan sinis, seperti melihat setan yang dikutuk Tuhan. Ada juga seorang kawan yang kasihan, lalu ia mengajakku untuk berkerja di perusahaannya.
Bagiku, semua itu tidak sebuah masalah. Aku memang seperti ini. Hidup dengan kebebasan tanpa sebuah ikatan yang mengatur kecuali Tuhanku. Biarlah Tuhan yang tahu niat dan maksudku. Aku dari dulu sudah tidak memikirkan omongan orang lain. Kau tau kawan kenapa? Kota ini tak pernah maju-maju, Ya karena orang-orang di sini terlalu memikirkan hidup orang lain, sedangkan hidupnya entah bagaimana? Betapa menyedihkannya mereka hidup dengan kemegahan dan mengukur derajat orang dengan harta.
Sudalah, apakah kau masih ingat dengan Diana? Ternyata Pujaan hatiku yang selalu kuceritakan kepadamu sudah menjadi wartawan yang hebat. Bakat yang telah ia kembangkan sejak kuliah dengan bergabung bersama Lembaga Pers Mahasiswa akhirnya membuahkan hasil. Ketika itu, aku dipertemukan dengannya di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja. Saat itu, beberapa anak asuhku di panti diamankan saat sedang mengamen di lampu merah. Aku menjadi wali mereka mereka agar dapat dilepaskan. Setelah urusanku selesai saat menuju keluar kantor tersebut, di sana aku bertemu Diana. Dia tak banyak berubah. Kecantikannya masih membuat jantungku berdetak kencang. Mendengar suaranya nan lembut ingin rasaku peluk.
Ia sama dengan yang lain menanyakan apa pekerjaanku. Ya, jawabanku sama seperti sebelumnya, tetapi reaksinya berbeda dari kawan-kawan yang lain. Ia malah kagum padaku. Ia mengatakan “Kau adalah pahlawan hari ini Bung.” Kau mau meluangkan hidupmu untuk orang-orang yang sebenarnya tidak kau kenal. Orang-orang yang selalu dipandang sebelah mata oleh mayarakat. “Semangat Bung”, ujaranya. Setelah itu, Diana pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Pertemuan itu begitu singkat, tetapi membuat semangatku tambah mengebu-gebu.
***
Setelah pertemuan dengan Diana, aku tak pernah patah semangat lagi. Ternyata masih banyak orang yang setuju dengan apa yang kulakukan walaupun tidak keseluruhan orang. Setidaknya ada. Guruku di Madrasah Aliyah pernah berpesan bahwa pembenaran yang dikatakan banyak orang belum tentu benar. Minoritas belum tentu juga salah dan berjalanlah. Pertemuan itu sudah sepekan berlalu. Aku menyesal tidak bertukar nomor handphone dengan Diana.
Ketika sedang asik membayangkan senyum Diana yang begitu manis, Handphone-ku berdering. Tersirat pesan yang mengharuskan untuk pulang. Tanpa pikir panjang, aku arahkan motor menuju tanah kelahiran. Tiga jam perjalanan lamanya. Di perjalanan, firasatku mulai tak enak. Ada hal yang begitu menganjal di hati. Waktu perjalanan yang seharusnya tiga jam tadi menjadi dua jam.
Sesampai di simpang masuk rumahku ada kerumunan orang. Perkiraanku mereka sedang ada kegiataan di mushola. Perkiraanku itu meleset 180 derajat. Seorang lelaki yang mengendongku di waktu kecil telah terbujur kaku di depan mataku, ya itu bapak. Seorang yang mendidikku dengan keras sehingga aku menjadi keras. Seseorang yang selalu berpesan hidup itu keras maka jangan pernah lembut terhadap diri sendiri sebab kau akan menjadi sengsara di hari tua. Badanku menjadi tak ada daya, tulangku sekaan tak kokoh lagi, belum sempat aku meminta maaf padanya, rasa bersalah ini begitu dalam pada bapak.
Dalam hati kuberkata, “Bapak maaf, aku belum sempat membalas kasih sayangmu yang telah kau curah sepanjang hayatmu. Jangankan membalas kasih sayangmu. Meminta maaf saja tak sempat kusampaikan padamu. Air mata ini tak bisa kubendung lagi. Terbayang ramah senyummu. Terasa hangat pelukmu, Bapak maaf.”
Kau tahu kawan, aku merasa orang yang paling bersalah di dunia ini. Sampai bapak meninggalkanku, tak ada satupun dapat dibanggakan oleh bapak dariku. Malahan bapak menanggung malu dan ocehan orang-orang. Setelah satu minggu kepergian bapak, aku harus kembali lagi ke Kota Padang karena tak mungkin aku meninggalkan panti lama-lama. Sebelum kuberangkat ibu memberikan sebuah kertas. Kata ibu, “Ini surat dari Bapak untukmu.”
Nak, Maafkan bapak yang tidak pernah medukung apa yang kau inginkan dan maafkan juga keegoisan bapak. Bapak tahu kau anak yang baik sebab bapak telah mendidikmu serta memberikan pemahaman agama dari sejak kecil. Satu bulan sebelum surat ini bapak tulis, bapak bertemu dengan salah satu anak jalanan yang sekarang bekerja di kantor pengiriman barang, lalu ia menanyakanmu. Wajar Nak, wajah bapak denganmu tak jauh berbeda. Jadi, orang mudah mengenali. Satu jam ia bercerita tentangmu Nak sampai bapak tak bisa membendung air mata lagi. Maafkan Bapak ya, Nak. Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Salam dari Bapak.
Membaca surat dari bapak membuatku tak rasa ingin kembali ke Panti. Ingin rasanya lebih lama tinggal di kampung sambil mengingat lagi kenangan dengan bapak.
Tentang Penulis:
Buya FH atau Fachri Hamzah lahir di Payakumbuh, sekarang berkuliah di UIN Iman Bonjol Padang, semester 7. Instagram: @seorangkelana. Twiter: @seorangkelana

Tinggalkan Balasan