Cerpen Loli Rahmana Putri dan Ulasannya oleh M. Adioska

Nasib Si Urang Pudua

Loli Rahmana Putri

Cerpen: Loli Rahmana Putri

Bukik Punago memanggil Mak Ujang. Unggas-unggas pemakan padi berayun pada ujung dahan memantau hamparan padi yang mulai menguning. Nampaknya, tundukkan padi yang berisi tak memberikan ruang sembunyi bagi para unggas. Tak heran, ketika sedikit saja Mak Ujang terlambat ke sawah, sawah yang menguning pun bak disirami dedaunan lapuk  ulah kepala unggas yang bertengger. Kicauan mereka seolah memperolok langkah Mak Ujang yang sudah pincang berjalan menuju sawah  hendak mengusir mereka.

“Akhhhhh.”, erang Mak Ujang.

Sakit lututnya yang tersungkur ke jalan bertambah dengan kepiluan hati menjalani hidup. Jangan ditanya kemana sanak saudaranya. Memang, malanglah nasib Mak Ujang yang ditakdirkan sebagai orang “pudua” dikampungnya. Saudara perempuan tak ada. Dua saudara laki-laki pun jauh di perantauan. Istri meninggal setelah berjuang melawan sakit yang dinamakan kista. Anak laki-laki tunggal, bak hilang ditelan tanah rumah mertua.

“Mak Ujang, singgah minum dulu,” Basa-basi Tek Sarimah setelah meletakkan segelas kopi untuk suaminya yang duduk di teras rumah.

“Makasih Mah. Alah.” Jawaban singkat Mak Ujang.

Tek Sarimah sedikit terheran dengan cara Mak Ujang menjawab basa-basinya pagi itu.

Ia pun mengutarakan tanda tanya yang ada di kepalanya kepada suaminya.

“Biaso tu. Urang pudua buak-buakkan.”, seru suami Tek Sarimah.

Entah terdengar atau tidak oleh Mak Ujang, Tek Sarimah merasa tak enak hati dengan jawaban suaminya. Ia pun enggan untuk memperpanjang percakapan kemudian berlalu ke dapur membersihkan lengkuas dan kunyit bakal jualan untuk keesokkan harinya. Seperti biasanya, setiap hari Rabu dan Sabtu Tek Sarimah berangkat ke pasar untuk menjual hasil kebunnya.

Sembari membersihkan lengkuas dan kunyitnya, Tek Sarimah terus berusaha mencari jawaban atas tanda tanya yang ada di kepalanya. Ia masih bertanya-tanya akan rona wajah Mak Ujang yang sedikit dingin saat ia sapa.

Tek Sarimah adalah salah satu warga yang cukup prihatin dengan keadaan Mak Ujang. Kondisi Mak Ujang yang sudah sakit-sakitan membuat Tek Sarimah sering berpikir aneh. Ia sering membayangkan Mak Ujang yang meninggal tanpa dilepas siapa pun mengingat kondisinya yang tinggal sendiri di rumah papan berukuran empat kali lima.

“Alah sudah langkueh, Tek?”Seru Kak Erni dari jendela samping dapur Tek Sarimah.

“Alun, tolonglah.”, jawab Tek Sarimah.

Basa-basi itupun berlanjut ke percakapan panjang.

Setelah bercakap-cakap dengan topik hilir mudik, percakapan Tek Sarimah dan Kak Ernipun mengarah kepada Mak Ujang. Kak Erni juga mengutarakan keprihatinannya terhadap Mak Ujang. Melihat keadaan Mak Ujang yang sudah sakit-sakitan, Bu Erni pernah berniat untuk membawakan makanan untuk Mak Ujang sebagai rasa prihatin dan tolong-menolong. Namun, niat itu diurungkannya karena rasa takut akan timbul fitnah. Sebagai seorang janda, tentu saja fitnah akan lebih mudah menghinggapi Kak Erni apabila ia menunaikan niatnya untuk menolong Mak Ujang.

*****

Ada yang berbeda dengan malam Rabu kali ini. Dingin malam terasa menghujam tubuh Tek Sarimah. Angin kencangpun seolah memberikan sinyal akan turunnya hujan kepada Tek Sarimah. Pikirannya langsung tertuju kepada kunyit dan lengkuas yang sudah ia bersihkan untuk dijual esok harinya. Pun dengan Mak Ujang. Tubuh ringkih yang beralaskan “palupuah” terpaksa meringkuk di bawah sehelai selimut tua peninggalan istrinya. Jangkrik pun nampaknya ikut kedinginan hingga tak menyapa Mak Ujang malam ini. Hanya belalang coklat yang ditakuti kaum ibu beranak kecil menemani Mak Ujang malam Rabu ini.

Meskipun kedinginan, ia terlihat ingin menyapa belalang tersebut dengan telapak tangannya. Namun sayang, gerakan tangannya lebih lambat dari pada gerakan belalang yang terbang dan kembali hinggap di atas lengan kirinya. Mak Ujang memilih untuk diam, tanpa mengibas belalang coklat yang dulu pernah menjadi musuhnya. Kala itu, ia amat marah terhadap binatang kecil dengan dua antena itu.

“Palasik.” Begitulah kata kata keluar dari mulut Mak Ujang dengan nada marah ketika belalang coklat itu bertamu ke rumahnya.

Dengan amarah, ia mengangkat belalang tersebut dengan cara memegang kedua antenanya dan memasukkannya ke dalam api tungku yang sedang menyala. Namun, itu dulu. Kala ia dititipi seorang putri kecil yang manis. Putri kecil yang tak bertahan lama, ia lebih memilih kembali ke surga.

“Dek Palasik,” kata-kata itulah yang selalu terlontar di benaknya ketika teringat akan kematian putrinya.

Hal itu pulalah yang kemudian menjadi sebab musabab dendam kusumatnya terhadap belalang coklat. Konon, belalang coklat adalah jelmaan makhluk halus yang mengintai bayi hingga meninggal dunia. Jika belalang coklat dengan kepala hitam tersebut sering mendatangi rumah warga yang memiliki seorang bayi, bayi tersebut sering sakit-sakitan bahkan berumur pendek. Namun itu dulu, saat Mak Ujang masih memiliki teman hidup. Untuk sekarang? Ia lebih memilih berdamai, sebab terlalu menyedihkan dan kesepian dirinya apabila tetap memusuhi binatang kecil yang setia menemani sepinya itu.

Dingin malam semakin menghujami tubuh Mak Ujang. Ia tak mampu lagi membolak-balikkan tubuhnya di bawah selimut tipis merah yang sudah lapuk. Penglihatannya kian nanar. Pikirannya  perlahan memutar klise kehidupannya. Tiga anak kecil bermain kelereng di halaman rumah panggung. Sang  ibu berlari-lari kecil menyuapi mereka satu persatu. Klise pun terus berjalan memutar adegan-peradegan. Nampaklah oleh Mak Ujang dua laki-laki besar yang berpamitan kepada ibunya untuk mendiami rumah istri masing-masing di seberang pulau.

Tinggallah Maka Ujang, si sulung yang hidup bersama ibunya yang sudah renta. Tak lama kemudian, sang mamak datang ke rumah meminta tanah untuk membesarkan anak-kemenakannya. Si sulung tak dapat lagi mempertahankan tanah pusaka yang selama ini dimiliki ibunya. Sebagai seorang laki-laki, ia tak memiliki hak atas tanah pusaka. Lepaslah tanah pusaka tersebut ke tangan adik perempuan ibunya yang memiliki tiga anak perempuan. Tentu, tiga anak perempuan itu ialah sepupu si sulung. Namun sayang, si sulung tak memiliki pengharapan sedikit pun terhadap ketiga sepupunya.

Datanglah masanya si sulung memiliki seorang istri. Tepat dua bulan berumah tangga, ibu tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa. Apalah daya, anak istrilah satu-satunya tempat menumpangkan jiwa. Sebagai kepala keluarga, adalah sebuah kewajiban bagi si Sulung memiliki kebun dan sawah untuk membesarkan anak istrinya. Tiga puluh tahun hidup bersama hingga maut memisahkan, si sulung berhasil mendapat sepetak sawah dan kebun untuk digarap. Sepetak sawah dan kebun kecil itulah harta yang bertahan di sampingnya hingga akhir hayatnya.

Sebelum klise kehidupan Mak Ujang berhenti berputar, belalang coklat yang tadinya bertengger di atas lengan Mak Ujang tiba-tiba terbang ke atas tiang rumahnya. Entah apa yang membuat belalang tersebut memutuskan pindah. Entah karena kibasan napas Mak Ujang yang sudah mulai sesak atau karena getaran tubuh Mak Ujang yang semakin menggigil.

****

Setiap dua jam, Tek Sarimah terbangun dari tidurnya. Ada yang mengganjal di hatinya. Malam pun berlalu. Jarum jam yang sudah menunjukkan pukul empat menggiring Tek Sarimah bangun dari tempat tidurnya. Tek Sarimah mulai berkemas setelah mendirikan salat sunat.

Pagi buta adalah waktu yang tepat untuk pergi ke pasar. Waktu dan jarak tempuh yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit menuju pasar, membiasakan Tek Sarimah bersiap-siap ke pasar setelah melaksanakan salat Subuh. Sekitar lima belas menit menuju waktu subuh, Tek Sarimah masih merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia terus mencari tahu hal apa kiranya yang mengganjal di hatinya. Lambaian tepi atap rumah yang disapa oleh angin pagi membuat Tek Sarimah berpikir akan turunnya hujan. Hal itu membuat jiwanya seolah berpindah berdesakkan antarsesama pedagang yang mencari tempat di bahu jalan.

Ketika hari hujan, para pedagang akan berangkat lebih awal agar dapat berteduh di teras-teras toko atau pun terpal berukuran  tiga kali empat pada sudut toko. Perasaan was-was tidak mendapat tempat berdagang pun membuat Tek Sarimah berpikiran untuk mendirikan salat subuh lebih awal mendahului muazin. Namun kembali diurungkannya setelah teringat akan kata-kata putrinya.

Allah saja menyuruh kita bertebaran mencari reski setelah salat subuh. Lalu kenapa kita tergsa-gesa salat subuh dengan mendahului muazin? Itulah salah satu pertanyaan yang mengurungkan niat Tek Sarimah untuk salat sebelum diseru muazin. Dengan membulatkan keyakinan, Tek Sarimah pun berusaha menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Ia pun pasrah apabila memang tidak mendapatkan tempat untuk berdagang ketika rintikan hujan memaksa pedangang mencari tempat berteduh.

Kerisauan hati Tek Sarimah kian bertambah. Perlahan, ia menyadari bahwa kehilangan tempat untuk berjualan bukanlah menjadi penyebab kerisauan hatinya saat ini. Tiba-tiba, ia teringat akan Mak Ujang. Namun, ingatan itupun langsung tertepis saat Tek Sarimah berpikir membatalkan niatnya ke pasar dan menjual dagangannya ke Ni Yet atau yang sering disebutnya dengan sebutan Ni Yet.

“Tek Mah,,, Tek Mah.”, terdengar suara Kak Erni memanggil Tek Sarimah. Dengan sedikit terengah-engah Kak Erni mengabarkan bahwa Mak Ujang ditemukan dalam keadaan kaku di atas dipan ‘palupuah’ yang terletak di sudut rumahnya.

Dingin hujan pagi itu semakin membuat Tek Sarimah menggigil setelah mendengar kabar kematian Mak Ujang. Rasa herannya akan kerisauan hatinya terjawab setelah kabar kematian Mak Ujang. Sayang seribu sayang, Mak Ujang tak dapat menikmati hasil jerih payahnya di sawah. Unggas pun seolah enggan berkicau. Suara kicauan itu berganti dengan kehebohan manusia-manusia rakus yang memperdebatkan pembagian hasil panen sawah Mak Ujang. Begitulah malangnya nasib Mak Ujang si “Urang Pudua”. (*)

  1. Mak: Mamak atau Paman
  2. Makasih: Terima kasih
  3. Alah: Sudah
  4. Tek: Berasal dari kata ‘Etek’ yang berarti Tante
  5. Ni : Berasal dari kata ‘Uni’ yang berarti Kakak perempuan
  6. Palupuah: Bambu yang dibelah menjadi bidang datar, biasa digunakan sebagai alas atau dinding pada sebuah pondok.
  7. ‘Buak-buakkan’: Bahasa Minang untuk mengungkapkan keadaan hati yang selalu berubah-ubah

 

Jalan Lelaki di Ranah Matrilineal dalam Cerpen “Nasib Si Urang Pudua”

M. Adioska

Oleh: M. Adioska, M.Pd
(Pengurus FLP Sumatera Barat)

Ketika rehat saat menghadiri pertemuan dengan beberapa penulis Melayu beberapa tahun yang lalu, ada sebuah selorohan menggelitik yang muncul di antara peserta pertemuan tersebut. Selorohan itu berupa pertanyaan kenapa lelaki di Minangkabau banyak yang menjadi sastrawan. Masih sambil bercanda, jawaban pertanyaan itu tak lain adalah karena nasib kaum lelaki di Ranah Minang sangat memilukan. Ketika masih kecil sampai remaja, lelaki Minangkabau tidak memiliki kamar di rumah sendiri, mereka harus tidur di surau. Setelah menikah, mereka “tergadai” ke rumah si istri. Itupun diibaratkan hanya sebagai abu di ateh tunggua. Mudah diterbangkan angin. Jika nasib tak beralamat baik, hingga terjadi perceraian, mereka akan kembali ke surau. Merenungi jalan nasib hingga terbentuklah sebuah cerita. Semua tertawa mengakhiri jawaban yang ironi itu.

Membaca cerpen “Nasib Si Urang Pudua” karya Loli Rahmana Putri ini seakan memberikan pembenaran terhadap selorohan bahwa nasib lelaki di Minangkabau memang memilukan. Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui tokohnya Mak Ujang. Ia diceritakan hidup sebatang kara dan hanya mendapatkan sedikit bagian dari harta pusaka untuk dimanfaatkan, bukan menjadi hak milik; “… si sulung berhasil mendapat sepetak sawah dan kebun untuk digarap. Ia bahkan tidak memiliki hak atas tanah pusaka yang notabenenya adalah peninggalan kaumnya; Sebagai seorang laki-laki, ia tak memiliki hak atas tanah pusaka. Lepaslah tanah pusaka tersebut ke tangan adik perempuan ibunya yang memiliki tiga anak perempuan”. Hingga pada akhir cerita, Mak Ujang diceritakan meninggal sendiri, tanpa ada yang menemani, dan baru diketahui bahwa ia sudah tidak bernyawa pada pagi harinya; “…Kak Erni mengabarkan bahwa Mak Ujang ditemukan dalam keadaan kaku di atas dipan ‘palupuah’ yang terletak di sudut rumahnya.

Sebagaimana yang diketahui, sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang mengambil garis keturunan dari pihak ibu. Sistem ini mencakup keseluruhan aspek, mulai dari suku yang diturunkan kepada anak, sistem pewarisan, serta aspek lainnya. Tipe sistem keturunan ini mempunyai beberapa ciri yang menarik dan bukan sekedar mencerminkan lawan dari patrilin (Fox, 1967).

Khususnya di Minangkabau, sistem ini sudah diatur sedemikian rupa dan terhitung kompleks. Hal ini lantaran masyarakat Minangkabau menerapkan falsafah hidup adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Sistem matrilineal yang diterapkan di ranah ini sejalan dengan aturan agama.

Kata pudua sendiri dapat disamakan maknanya dengan padam. Di beberapa daerah lain di Minangkabau, urang pudua disebut juga urang puna(h), yaitu anak laki-laki yang tidak memiliki saudara perempuan. Karena tidak memiliki saudara perempuan, harta pusaka dari garis ibunya tidak dapat ia warisi. Secara mutlak, harta pusaka tersebut akan turun ke saudara perempuan ibunya; “Lepaslah tanah pusaka tersebut ke tangan adik perempuan ibunya yang memiliki tiga anak perempuan. Tentu, tiga anak perempuan itu ialah sepupu si sulung.

Secara teknis, cerpen “Nasib Si Urang Pudua” menggunakan alur maju. Meskipun pada pertengahan cerita, terdapat sedikit penjelasan tentang masa lalu Mak Ujang, namun dengan piawai penulis mampu mengembangkannya menjadi sebuah alur yang cukup menarik.

Cerpen ini juga diceritakan dengan gaya narasi yang ringan. Mudah dicerna dan lugas dalam penyampaian. Latar suasana kampung dalam cerita ini juga terasa hidup. Ditambah lagi pengarang menyelipkan percakapan-percakapan yang menggunakan bahasa daerah –dalam hal ini, bahasa Minangkabau. Barangkali, karena pengarang memang hidup dalam suasana seperti itu sehingga penggambaran suasana serta dialognya terasa begitu dekat dan nyata.

Di lain sisi, dalam cerpen ini terdapat beberapa unsur instrinsik yang sedikit menggelitik. Pertama, tentang tema. Tema yang diangkat dalam cerpen ini sangat menarik karena membahas tentang fenomena sosial tentang nasib lelaki dalam penerapan sistem matrilineal.  Fenomena ini benar terjadi, bukan rekaan atau hasil imajinasi pengarang sendiri. Banyak cerita dari mulut ke mulut yang menceritakan tentang Si Pudua. Di satu sisi, pengarang tampaknya berhasil mengkonversi fenomena ini dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Namun, alur cerita yang ditawarkan dalam cerpen ini hampir sama persis dengan cerita lisan atau kejadian nyata yang banyak berkembang di masyarakat. Cerpen ini hanya melibatkan sedikit proses kreatif, baik itu kreatif dalam ide cerita ataupun kreatif dalam alur penceritaannya. Hal ini mengakibatkan ending dari cerita ini mudah ditebak dan sudah merupakan hal yang lumrah terjadi dalam masyarakat. Si Pudua, hidup seorang diri dan meninggal tanpa ada yang mengetahui. Itu adalah kenyataan yang kebanyakan terjadi.

Sebagai tambahan, menilik pada penerapan sistem matrilineal, khususnya tentang hak waris, nasib lelaki pudua bisa saja tidak melulu memilukan. Di Minangkabau, terdapat dua jenis harta pusaka, yaitu harta pusaka tinggi dan harta pusaka randah. Harta pusaka tinggi adalah harta pusaka warisan turun temurun dari nenek moyang dahulu dalam satu kaum. Harta inilah yang tidak bisa diwarisi si lelaki pudua. Sementara itu, harta pusaka randah adalah harta hasil pencaharian dari orang tua. Harta pusaka ini bisa diwariskan menurut syari’at islam. Maka, tidaklah mengherankan jika pada kenyataan sebenarnya ada lelaki pudua yang memiliki harta disebabkan warisan orang tuanya.

Masih banyak kemungkinan lain yang dapat muncul dari nasib si lelaki pudua. Kemungkinan tersebut tentu saja akan memberikan alternatif lain terhadap jalan atau ending cerita. Bisa saja pada akhir cerita, akan timbul plot twist dan unsur kejutan yang sukar ditebak sehingga membuat sebuah cerita lebih menarik.

Unsur berikutnya yang juga sedikit menggelitik adalah penokohan Mak Ujang dan Tek Sarimah yang kurang penjelasan. Pada ujung cerita, dikisahkan bahwa Tek Sarimah merasa ada yang mengganjal dalam hatinya; Setiap dua jam, Tek Sarimah terbangun dari tidurnya. Ada yang mengganjal di hatinya”. Hingga pada akhirnya, kerisauan Tek Sarimah akhirnya terjawab: Rasa herannya akan kerisauan hatinya terjawab setelah kabar kematian Mak Ujang. Dari alur tersebut, dapat dibaca bahwa Tek Sarimah memiliki ikatan batin terhadap Mak Ujang.

Sampai saat ini, ikatan batin masih sangat sulit untuk dibuktikan secara ilmiah. Namun dari beberapa penelitian ditemukan bahwa pada umumnya, kontak batin yang kuat terjalin dalam hubungan ibu dan anak, saudara kandung, dan suami istri. Selain itu, kontak batin juga bisa terjadi pada bentuk-bentuk hubungan istimewa lainnya, misalnya kontak batin dengan sahabat atau dengan orang lain yang tidak punya ikatan sedarah tetapi memiliki kedekatan emosional

(http://www.catatanmel.com/, 2016).

Berdasarkan penokohan yang ada dalam cerita, keterikatan yang terjadi antara Tek Sarimah dan Mak Ujang hanyalah perasaan prihatin antara satu warga dengan warga lainnya. Secara teori, tidak ada faktor yang menyebabkan terjadinya kontak batin di antara mereka. Namun barangkali, ceritanya akan lain jika hubungan kontak batin itu diceritakan penyebabnya. Mungkin mereka dahulu hingga kini adalah sahabat dekat yang saling berbagi susah dan senang. Atau bahkan, bisa jadi Tek Sarimah itu adalah salah seorang dari sepupu Mak Ujang. Dengan sedikit mengeksplor hubungan kedua tokoh itu, secara otomatis logika bercerita akan terpenuhi dan akan memberikan nilai tambah pada cerpen ini.

Terakhir, selamat kepada Loli Rahmana Putri yang telah menghasilkan sebuah karya. Teruslah berproses karena setiap proses akan memberikan jalan menuju hasil. Insya Allah.

Taeh, September 2020

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

 


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *