Alahan Nan Tigo, Surganya Dharmasraya

Oleh:
Yesi Sumarni
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi
Universitas Dharma Andalas)

Nagari Alahan Nan Tigo atau lebih di kenal dengan nama Batu Kangkung, terletak di Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya. Nagari ini bersebelahan langsung dengan Solok Selatan. Asal mula nama nagari ini berawal dari ditemukan sebuah batu yang diberi nama “kangkung”. Batu ini berbentuk seperti katak besar.

Konon kabarnya, batu ini bisa berpindah-pindah. Akan tetapi, masyarakat sampai saat ini belum bisa menemukan bagaimana cara batu ini bisa berpindah-pindah. Pada akhirnya, batu ini menghilang tanpa jejak. Itulah kenapa nagari ini disebut Batu Kangkung pada awal berdirinya. Sekarang nagari ini bernama Alahan Nan Tigo, sedangkan nama Batu Kangkung sekarang dijadikan nama jorong, tetapi nama Batu Kangkung tetap menjadi nama populer di masyarakat setempat maupun masyarakat dari nagari  lain. Di nagari ini, terdapat beberapa suku, yaitu suku Tengah, suku Tigo Lareh, suku Melayu, suku Dalam, dan suku Chaniago.

Nagari ini memiliki beberapa jorong, yaitu jorong Batu Kangkung, Sungai Papo, Lubuk Beringin, dan Lubuk Baru. Nagari Batu Kangkung dipimpin oleh wali nagari. Masyarakat yang sangat cinta ketentraman dan kedamaian sehingga bisa dikatakan masyarakat tidak ada yang tidak mengenal satu sama lain. Kebudayaan masyarakat masih sangat terjaga sampai saat ini. Mata pencaharian masyarakat mayoritas di bidang pertanian, pertambangan dan perdagangan. Masyarakat nagari ini bukan berarti tidak mengenal dunia modern.

Foto:Yesi Sumarni

Nagari ini bisa dikatakan nagari yang cukup maju karena pembangunannya terlihat sudah cukup sempurna dan anak mudanya sudah banyak yang berhasil, baik di bidang pendidikan umum maupun keagamaan. Buktinya  banyak yang sudah menyandang gelar S1, S2 dan juga hafidz-hafidzah bahkan ada salah satu dari hafidz tersebut diminta untuk menjadi imam di Malaysia.  Anggota DPRD termuda Kabupaten Dharmasraya tahun 2019 juga berasal dari Nagari Alahan Nan Tigo. Beberapa mahasiswa anak nagari ini juga aktif berorganisasi. Ada yang menjadi Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Padang dan ada juga yang aktif di berbagai organisasi lainnya di Kota Padang.

Keadaan alam di nagari ini masih terjaga keindahannya, jika di lihat nagari ini berbentuk seperti kuali, sekeliling nagari ini terlihat perbukitan yang masih hijau. Dua bukit yang terkenal di nagari ini, yaitu Bukit Cinta dan Bukit Rindu, Lucu memang namanya, tapi begitulah kenyataannya. Di Bukit Cinta, terdapat air terjun yang memiliki corak keindahan tersendir. Air terjun ini menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati di Batu Kangkung. Air terjun ini bernama “Air Terjun Batang Asam”.

Selain dua bukit tersebut masih, ada lagi satu bukit yang tak kalah menarik. Bukit ini dikenal dengan nama Bukit Hujan. Keindahan pagi hari dari atas bukit ini akan membuat pikiran dan hati para penikmatnya menjadi tenang serta kesejukan udara di pagi hari akan membuat para penikmatnya betah berlama-lama.

Selain bukit dan air terjun serta pemandangannya yang indah, nagari ini juga memiliki air sungai yang masih terjaga kebersihan dan kejernihannya. Sungai di nagari ini belum tercemar. Masyarakat sangat menjaga kebersihan karena mereka ingin anak cucunya bisa menikmati air yang bersih dan sehat. Hasil dari sungai tersebut juga sangat membantu kehidupan masyarakat, mulai dari kehidupan pribadi hingga pembangunan, seperti adanya kegiatan atau agenda rutin yang disebut “Lubuk Larangan.” yang dibuka sekali 3 tahun. Masing-masing jorong mempunyai lubuk larangan sendiri. Setiap akan dibuka kegiatan lubuk larangan, beritanya akan disebarkan ke kampung tetangga sehingga banyak warga kampung tetangga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Foto: Yesi Sumarni

Biaya pendaftaran untuk ikut kegiatan tersebut tidak terlalu mahal dan hasil dari pengumpulan biaya ini akan digunakan untuk membantu pembangunan di masing-masing jorong, seperti surau dan lain-lain. Bahkan, Bupati Dharmasraya sudah pernah terjun langsung untuk mencoba memancing ketika acara “Buka Lubuk Larangan” dilaksanakan. Kabarnya, nagari ini membuka wisata Arung Jeram yang bernama “Rafting Asam Sakti”.

Dengan segala kelebihannya, Nagari Alahan Nan Tigo memang layak disebut sebagai “Surganya Dharmasraya”. Nagari ini termasuk salah satu nagari yang masih terjaga mulai dari kebudayaan sampai pada keadaan alamnya. Di era modern ini, sangat sulit menjaga kedua hal tersebut.

 

 


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *