Bintang ke-12

Cerpen: Zikri Chaironi

Terbangun aku dari tidur lelah ini. Mataku masih sembab karena peristiwa tadi malam. Kupikir akan kebahagiaan itu akan lama. Ternyata hanya sekejab mata. Sepertinya air mataku sudah kering semua. Hanya kenangan manis yang tersisa. Semua memori indahnya negeri ginseng itu masih terpampang jelas diingatan.

***

Ku berlari mengejar bus. Dengan susah payah, akhirnya aku bisa pergi. Aku sangat telat. Telat sekali. Konser idolaku kira-kira 2 jam lagi. Aku bergegas bukan karena jauhnya, tapi karena melonjaknya penggemar yang akan datang. Terbukti dengan habisnya tiket sebanyak 20 ribu pada hari itu. Sepertinya keramaian sudah menjalar ke seluruh pintu masuk Gocheok Sky Dome. Aku harus cepat supaya antrianku tidak sampai di atas seribuan.

Sepanjang perjalanan, daun-daun sudah mulai berguguran. Pertanda musim gugur segera datang. Sepertinya alam sudah memberi pertanda bahwa ini akan menjadi hari yang melelahkan. Walaupun begitu, semangatku tidak goyah. Berjam-jam duduk di pesawat menuju Korea Selatan hanya untuk melihat konser terakhir idolaku, sepertinya bukan hal yang gila bagiku. Toh, ini adalah waktu terakhir melihat mereka. Idola yang aku lihat jauh dari layar kaca. Kini, aku bisa berada di negara yang sama dengan mereka. Tidak lama bergantungan di dalam bus kota besar itu, akhirnya aku sampai ditempat pertunjukan akbar yang diadakan selama 4 hari berturut-turut. Karena uang pas-pasan, aku hanya bisa mendapatkan tiket untuk hari terakhir. Hari inilah hari puncaknya. Sesuai dugaanku, antrian sudah menjalar kemana-mana saat aku baru saja melangkat keluar dari bus.

“Bagaimana ini?”, batinku. Aku pasrah. Hanya sendiri di negeri orang. Mencolok sekali warna coklat kulitku di antara orang-orang Korea. Mereka begitu putih dan tinggi. Beberapa di antara mereka sepertinya cocok untuk menjadi boyband dan girlband. Untung saja aku sudah menghapal hangeul. Beberapa kata-kata umum sudah aku ketahui jadi aku tidak terlalu canggung di sini.

Sudah hampir tiga puluh menit antri, akhirnya aku masuk ke stadium. Tentu aku tidak membawa badan saja. Sudah kusiapkan seperangkat alat tempur untuk menonton konser bias-ku ini. Mulai dari banner nama member grup, lightstick wajib dibawa setiap konser. Aku baru memegangnya untuk pertama dan terakhir kalinya di konser ini. Saat berjalan ke arah pintu masuk dan melihat secerca cahaya lightstick dari ribuan penggemar grup ini, aku akan menjadi bagian dari mereka. Kutunjukan kartu pengenal dan tiket masuk kepada pasukan pengawal konser ini. Terpampang jelas di kartu pengenal itu, “VVIP : Rizki”. Hanya itu yang ditulis dengan huruf latin. Selebihnya, hanya hangul yang memenuhi.

Setelah lama aku mencari, aku menemukan tempat dudukku sesuai dengan nomor di tiket. Kukira hanya aku saja. Ternyata ada ribuan orang menggambil seat ini. Baru saja duduk, semua lampu di arena yang super besar itu, yang cukup menampung 20.000 orang, padam seketika. Yang ada hanya cahaya lightstick dari penggemar yang memenuhi stadium Gocheok Sky Dome. Video intro mulai diputar. Setiap wajah member terpampang nyata dilayar raksasa, kira-kira cukup 20×10 m. Teriakan menggema ke seluruh stadium. Setiap wajah member berganti dilayar sorakan penggemar juga seperti itu. Terpampanglah wajah idolaku di layar itu. Spontan saja aku berteriak bersama dengan mereka yang menyukainya. Setelahnya, seluruh wajah member sebanyak 11 orang ditayangkan bersamaan di layar. Suara sorakan histeris dan kekaguman mulai keluar dari mulut setiap orang yang hadir di hari itu.

“Ladies and gentleman, please welcome”. Suara perempuan mulai terdengar mengalahkan suara ribuan penggemar. “WANNA YOU!!” Teriakan kembali pecah disambut dengan ledakan kembang api selama beberapa detik. Wajah yang sering aku lihat dilayar TV dan acara mereka yang sering aku lihat di laptop, yang aku kagumi lewat suara gadget-ku. Kini, mereka bener-benar berdiri di depanku. Ku angkat lightstick-ku tinggi-tinggi dan memanggil nama mereka. Aku tidak ingin adegan manis ini terbuang begitu saja. Kunikmati setiap lagu yang mereka nyanyikan.

Sudah lebih dari 3 jam. Akhirnya, konser ini berakhir. Berakhir juga kontrak mereka. Aku tidak menyangka bisa melihat mereka walaupun dalam waktu yang tidak cukup lama. Sebenarnya, aku sedih bersama ribuan penggemar lainnya namun karena grup idolaku begitu semangat di atas panggung dan kami tidak ingin menangis sehabis acara ini.  Kesedihan ini bisa ditahan. Hari sudah semakin malam dan waktunya untuk beristirahat.

Baru saja keluar dari tempat konser, aku melihat jajanan yang sering aku lihat di layar kaca saat aku menonton drama Korea. Tteokbokki kalau tidak salah namanya. Lalu ada odeng, seperti sate karena ada tusuknya. Semua jajanan yang ada di sepanjang jalan itu aku coba. Aku ingin memuaskan rasa penasaranku tentang makanan yang ada di negara ini. Aku berharap tidak ada penyesalan nantinya setelah aku ke Jakarta.

Sepanjang jalan menuju penginapan, aku melihat indahnya Kota Seoul. Kulihat dari kejauhan Namsan Tower yang berdiri gagah di atas bukit. Ingin sekali aku ke sana, tapi besok siang aku harus balik ke Jakarta. Setidaknya dengan melihatnya dari jauh, rasa penasaranku sudah terbayarkan. Sesampainya aku di penginapan, aku membaringkan badanku yang lelah ini di ranjang yang empuk. Walaupun begitu, aku beruntung sekali mendapatkan penginapan yang nyaman dengan harga yang terjangkau. Aku masih mengingat momen terakhir mereka, idolaku yang sudah lama aku tunggu penmpilannya secara langsung walaupun akhir dari konser itu membuat penggemar sedih. Para member akan berpisah. Mereka tetap memanjakan penggemar dengan penampilan yang memukau. Aku suka sekali seluruh idol di negara ini. Mereka diajarkan untuk tampil secara profesional di atas panggung walaupun mereka sedih. Mereka tidak akan menunjukan kesedihan kepada penggemar yang mencintai mereka secara tulus.

Untuk menjadi idola di negeri ginseng ini, tidak mudah. Banyak fase yang harus dilewati. Mulai dari harus ikut audisi ke sana-sini supaya diterima pada suatu agensi hiburan, sampai mereka harus di training. Mereka yang mengikuti pelatihan bakat dikenal dengan trainee. Mereka akan diberi pelatihan, baik olah vokal, akting, dan lainnya. Karena memerlukan waktu yang lama untuk training, seseorang bisa menjalani pelatihan minimal selama dua tahun sebelum mereka debut menjadi artis sesuai dengan impian mereka.

Di sini, agensi begitu ketat sekali dalam memilih siapa saja yang harus debut karena setiap member harus memiliki keunggulan masing-masing akan menguatkan grupnya nanti. Ada beberapa agensi hiburan yang mendebutkan artisnya dengan alasan mereka memiliki wajah yang cantik dan menawan, tapi tidak menunjukkan bakat yang dimiliki oleh setiap member. Akhirnya, grup itu bisa debut namun mereka tidak begitu laku di industri musik Korea Selatan.

Aku masih ingat awal terbentuknya WANNA YOU. Mereka diikutkan dalam ajang untuk para idola yang pada akhirnya 11 member laki-laki yang bertahan akan didebutkan. Mereka dipilih agensi masing-masing karena mereka sudah melewati masa training yang lama dan pasti sudah mengasah bakatnya dengan matang. Terbukti, saat mereka baru debut, semua album mereka laris manis di pasaran. Awalnya, aku belum mengenal mereka dan hanya melihat lagu mereka sekilas di youtube. Itu membuat aku bertekad menjadi penggemar mereka. Tidak hanya tampang mereka yang rupawan, tapi bakat setiap member juga jadi pemikat dari grup WANNA YOU. Sebelas member yang mempunyai bakat menonjol.

Korea Selatan yang sebelumnya tidak kukenal. Kini, aku mengenalnya berkat grup luar biasa itu. Mereka yang memperkenalkanku dengan negeri dengan sejuta keindahan ini. Tidak hanya dari teknologi yang modern yang membuat negera ini dikenal namun juga dari kebudayaannya nan elok. Setelah sebelas member WANNA YOU yang menjadi idola dan “Bintang” di hatiku, sekarang, Korea Selatan akan menjadi “Bintang yang ke-12” menjadi idolaku.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *