Puisi-puisi Mhd. Irfan

Penjara Tepian Pit Gempa

Izinkan aku memasukimu
akan kurenangi segala pilu yang tersemat
pada jantung yang kian jingga warnanya
mengalir deras pada nadi, melilit sansai itu

Meski tak segalanya dapat kuarungi
di sana akan kubangun sebuah menara
dengan teropong menghadap ke selatan daya
menyorot sepi beralun pasang

Sebelum tiba ke sini
menyingkap tirai bersulam bintang
dengan renda-renda limbubu
menjelma layar terkembang pada kapal tak bercadik

Izinkan aku melayarimu
maka sansai menjelma kehidupan dari kematian
antara yang terempas karang dan yang tenggelam bersama pelampung
saat laut ialah igau tangis mengisak dan sesak di dada akan terdampar ke penjara tepian

Pariaman, 2020

 

Rasian Pit Gempa

Sebuah perkenalan dini hari
ialah angin yang mendesau di tepi kolam
lidah api suluh togok bergoyang-goyang
dan cerita petang ditelan sunyi

Pada jalan berkerikil, setiap hari kulalui
bansi kawan pemutus tali-tali sunyi
yang bergelantungan dan sulam-bersulam di pelupuk kepala
rasian bertandang silih berganti

Tentang anjing malam hilang pagi
tentang ayam jantan berkokok tinggi hari
tentang sapi betina diperkosa anak sendiri
dan tentang kerbau kehilangan runcing tanduknya

Di sudut paling subuh
segelintir tampuk awan bertengger dalam kabut
menyentakkan pekatnya di bawah bulan
di sini tak jua ada yang singgah

Sementara banyak kelelawar kian berdatangan
memasuki telinga
merayap ke pangkal ubun-ubun
bergelantungan di urat-urat saraf

Pariaman, 2020

 

Kalimat Terakhir Pit Gempa

Seperti katamu yang terlontar di bibir rengkah itu
bunga sakura akan berguguran musim ini
gemersiknya terdengar ke jauh jalan
dan tak ada yang mekar selain percumbuan rindu

Bagai mengembang dari kuncupnya
telah siap untuk dipanen
senantiasa tabah saban hari
menggenggam dan mengepal potret lama

Kau bingkai setangkai aroma pagi
dari embun yang jatuh pada tampuk harap
dan dingin bercerita tentang angin mendayu
mengibas ke guratan luka pada cermin tua

Akulah anjing yang hilang malam
saat hampa menghamba pada kita
dan tiga bilangan dari jam yang berdetak
telah kita padamkan dari detik kalimat terakhir

Pariaman, 2020

 

Seperti Tahun Lalu

Di teras malam kebisingan kota begitu mengusik
kendaraan berlalu-lalang tiap sebentar
ada yang datang singgah pelepas canggung perkampungan
dan ada yang bertandang ingin mendekap malam seutuhnya

Sementara di meja ini robusta memahit di lambung
memuncak di kepala
kabar tak kunjung datang
perjumpaan di bulan September

Kuhitung dalam bayang laju langkahmu
kian memberat di kaki yang bertuliskan angka maya ribuan kilo
kau usung mantel hujan di bawah kerutan awan
tengadah kota hendak tiris dan mengiris

Seperti tahun lalu
ia berwajah oval menari di beranda kamar
sembari memetik cemas pada ranum
buah bibir terlanjur membusuk diperam hari

Pariaman, 2020

 

Seorang Pit Gempa

Sedari tadi timur melepaskan kabar
tentang bunga kamboja yang kau cangkokkan di dada
kau kata ingin bermekar ketika sore serupa darah purnama
dan hilalang telah menjadi padang pasir

Batu-batu tua bertuliskan huruf-huruf baru
tinta spidol melekat dengan rapi
berjuta kesah kembali pada kisah-kisah tua
mengenang kengerian mengenggam sepi

Penjajah hari kosa menuai kata
diri menanti luka
dari duri yang menancap tajam di mata satu telinga enam bibir
mencari buruan dalam lipatan dunia

Kabar tak terbendung
tak menemu kawan
pada bibir penelan canggung
di gelas kaca berisikan tinggam seekor pari

Pariaman, 2020

 

Tentang Penulis:

Mhd. Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Ia sedang menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia Unand dan aktif menulis puisi, cerpen, serta esai. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan elektronik dan bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh 9. Senang bertingkah bodoh dan dapat disapa di email: irfanjelah@gmail.com, instagram: @muhamad_irfan2, dan wa: 085274088086.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *