Raja Ngalau Guci

Cerpen: Silvianti
Mentari bersembunyi di balik pepohonan yang tumbuh liar di sepanjang lereng terjal Ngalau Guci. Dua ekor burung punai kecil berekor putih berkejar-kejaran di antara dedaunan kayu ngalau yang rimbun. Tembolok kedua burung itu kelihatan penuh, maklumlah sekarang sedang musim buah, jadi burung dengan sayap warna-warni itu tak perlu susah payah terbang dari satu pohon ke pohon lain mencari buah atau biji-bijian. Kalau pun tak ada buah atau biji-bijian, ulat atau belalang yang lengah pun cukup untuk mengganjal usus mereka yang hanya sebesar ujung lidi.
Bahagianya kalau aku bisa seperti mereka. Terbang kesana-kemari dengan bebasnya, terbang dari satu pohon ke pohon lain, menikmati sejuknya hembusan angin di lereng ngalau batu. Kalau lapar cukup hinggap di pohon yang berbuah. Tak perlu membawa martir seberat 10 kilo kemana-mana.
Raja menghapus keringat yang menetes dari balik topinya. Sudah satu jam dia berusaha memecahkan batu sebesar rumahnya. Terbayang olehnya lembaran-lembaran rupiah yang akan diterimanya jika batu besar yang menyembul ke luar dari dinding ngalau guci itu berhasil digulingkannya ke kaki ngalau. Menurut perkiraannya, jika batu besar itu berhasil menggelinding ke kaki ngalau petang ini, seharian besok Raja akan memecahnya menjadi sebesar induk kambing adiknya yang hilang sebulan sebelum Lebaran Haji yang lalu. Sore atau malamnya dia sudah bisa menerima hasil kerjanya selama tiga hari.
Setelah penatnya berkurang, Raja kembali meraih gagang martil seberat 10 kilo itu. Sekuat tenaga dipukulkannya pada batu besar itu. Krakkk. Sebuah retakan memanjang di sekeliling badan batu, Raja mundur beberapa langkah.
“Hoooiiiiii……, ado urang di bawah!!!….. Awaaas…. iko ado batu yang ka jatuaaah…..!!!!” teriak Raja memberi aba-aba pada orang yang mungkin ada di kaki ngalau.
Ia tak ingin kejadian yang menimpa Uda Suman terjadi lagi. Waktu itu, setelah makan siang, Uda Suman tidur-tiduran di kaki ngalau, batu yang sudah dua hari dibakarnya, ditingggalkan sebentar untuk istirakat dan makan siang. Ketika tertidur, batu yang sedang dibakarnya menggelinding ke kaki ngalau. Uda Suman mati tergencet oleh batu yang sedang dibakarnya. Suara letusan batu yang diledakkan oleh pekerja tambang mengalahkan gemuruh batu yang menimpa Uda Suman. Raja yang ketika itu baru saja selesai sholat Zuhur, berlari ke arah lokasi tambang yang baru saja diledakkan. Sepanjang jalan Raja berteriak-teriak meminta tolong kepada siapa saja yang ditemuinya.
Sekali lagi Raja berteriak. Sepi, hanya suara excavator dari tambang milik bos bermata sipit yang terdengar. Aman. Raja mengayun kembali martil bertangkai rotan itu sekuat tenaga. Setelah menggelinding beberapa kali, batu sebesar rumah itu berhenti tepat di kaki ngalau, di seberang jalan yang biasa dilalui truk-truk berwarna kuning pengangkut batu, terganjal oleh sebatang pohon karet milik Pak Iban.
Alhamdulillah, bisik Raja. Bersamaan dengan itu, terdengar suara azan Zuhur menyelusup di balik relung-relung Ngalau Guci. Raja mengemasi barang-barangnya lalu berjalan menuruni pinggang ngalau guci. Baterai lima suap nasi, sepotong tahu, dan sayur daun singkong yang sejak pagi tadi membantu menggelindingkan batu, kini telah pupus. Raja membuka bekal nasi yang dibungkusnya dengan daun pisang, lalu menggelosor duduk di bawah pohon banyu sebesar kelapa. Selesai makan siang, Raja berjalan ke arah ladang milik Pak Iban. Pondok kecil di ladang karet Pak Iban, menyediakan air dalam sebuah drum besar yang dialirkan dari sebuah mata air di bagian atas ladang, menjadi tempat istirahat dan sholat bagi para penambang liar Ngalau Guci.
“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba, dosa-dosa ibu hamba, tempatkanlah beliau di tempat yang mulia, hindarkanlah beliau dari siksa kubur, sayangilah dia sebagaimana beliau mengasihi kami ya Rabb, pertemukanlah kami kelak dalam surgamu ya Allah…”
“Ya Rahman ya Rahiim, limpahkanlah kesabaran kepada hamba, berilah hamba kekuatan agar mampu melakoni pekerjaaan hamba, berilah hamba kekuatan untuk tetap berjuang, kabulkanlah ya Rahman….Aamiin.”
***
“Setelah salawat dulang, makan bajamba juga merupakan salah satu tradisi yang Islami yang terdapat di daerah kita, di Minangkabau. Tradisi ini biasanya dilangsungkan dalam peringatan hari-hari besar Islam atau juga dalam acara-acara adat. Makan bajamba mengajarkan kepada kita nilai-nilai kesopanan dan etika,” kata Bu Yati, guru Sejarah Kebudayaan Islam.
Kenangan indah bersama ibunda tercinta berkelebat diingatannya. Masa ketika sang ibunda masih berada di tengah-tengah mereka. Namun, Allah berkehendak lain. Ibu Raja meninggal ketika dalam perjalanan pulang setelah seharian bekerja di sawah Etek Halimah. Kata bidan yang tinggal di poskesri jorong, ibunya mengalami dehidrasi akut dan kelelahan yang berlebih.
Sepeninggal ibunya, Raja tinggal bertiga saja dengan ayah dan adiknya. Kendati nenek dan saudara lainnya dari pihak ayah dan ibunya, masih hidup dan tinggal sekampung dengan mereka, namun pernikahan ayah dan ibunya yang tak direstui oleh keluarga membuat hubungan keluarga mereka merenggang. Kebersamaan dengan ayahanda tercinta hanya berlangsung tiga bulan saja. Ayah yang mereka harapkan akan meneman hari-hari mereka, menikah lagi dengan salah seorang bako-nya yang menetap di daerah Kerinci.
Semenjak itu, Raja tinggal berdua saja dengan adiknya, Ihsan, yang masih duduk di kelas enam sekolah dasar.
“Ja, maafkan Ayah, kalian baik-baik di rumah, tolong jaga Ihsan, dia masih kecil untuk bisa memahami keadaan kita. Kelak kalau kamu dewasa kamu akan memahami posisi ayah saat ini. Sekali lagi ayah minta maaf,” kata ayahnya sehari sebelum berangkat ke Kerinci, bersama ibu baru Raja.
Waktu itu, Raja hanya bisa menekur. Diam sambil memandangi ujung kaki dalam-dalam. Ayahnya merengkuh Raja dalam pelukannya. Tangis Raja pecah, ia terisak di pelukan ayahnya. Ia juga merasakan tubuh ayahnya berguncang, ia tahu ayahnya juga berat meninggalkan mereka. Tapi apa mau dikata. Raja harus merelakan ayahnya. Malam itu, mereka bertiga tidur bersama di kamar ayah mereka.
Ketika pagi, Raja hanya menemukan Ihsan yang meringkuk di sebelahnya. Ia lihat selimut ayahnya telah dilipat rapi, diletakkan di atas bantal yang semalam dipakai ayahnya. Terdengar mesin mobil menjauh, segera ia berlari menerobos temaram di Subuh itu, berlari ke halaman rumah, mengejar mobil yang membawa ayahnya. Namun yang ia dapati hanya dua bulatan lampu berwarna kemerahan menjauh perlahan dalam dinginnya udara subuh itu.
Raja merasakan panas menjalari wajahnya. Bahunya berguncang, ia sesengukan di sebuah tikar lusuh yang terbentang di lantai kasar rumah mereka. Tikar yang menjadi saksi kebahagian mereka beberapa bulan yang lalu. Tikar yang biasanya mereka gunakan sebagai alas sajadah ketika melaksanakan sholat berjamaah. Tikar yang mereka gunakan untuk duduk mengaji bersama ayah dan ibu. Tikar yang mereka gunakan untuk makan bajamba setiap malam. Tikar yang mereka gunakan untuk bercengkerama dengan ayah dan ibu mereka.
“Raja… Bangun kamu!” Raja tersentak. Bu Yati menyangka ia tertidur lagi. Perlahan diangkatnya kepalanya, sambil menekurkan kepala, ia menghapus bening-bening panas yang menggenang dipelupuk matanya. Setelah itu ia mengelap bibir secara bergantian dengan kedua tangannya. Raja tak ingin siapapun tahu kalau ia menangis.
“Eh, ah, enggg, aku tidak tidur, Bu,” kata Raja mencoba mencairkan kekakuannya.
“Sudah jelas-jelas kamu tidur di kelas, masih saja berbohong,” kata Bu Yati dengan nada tinggi. Raja diam. Ia lihat Bu Yati berjalan ke arah mejanya, mengambil sebuah buku bersampul hijau.
“Nih, lihat! Nilai latihan kamu selama dua bulan ini nihil, kosong semuanya. Nilai tugas kosong, nilai latihan kosong, nilai ulangan harian kosong, nilai catatan juga kosong, pertengahan bulan depan kita sudah ujian nasional. Lalu apa yang akan ibu masukkan ke aplikasi nilai rapor kalau begini keadaannya.”
Raja berusaha tersenyum ke arah Hafidz yang menoleh ke arahnya.
“Sudah salah masih senyam-senyum, Ibu tidak mau tahu, besok pagi ayahmu harus datang ke sekolah menemui ibu. Ingat, sebelum ayahmu hadir menemui ibu, kamu tidak usah dulu belajar di jam ibu,” kata-kata Bu Yati mengiris-ngiris jantung Raja yang masih memerah. Luka lantaran ditinggal ayah diam-diam masih menganga dan basah.
***
Sore itu, setelah sholat Ashar, Raja kembali ke Ngalau Guci. Hari ini, untuk kesekian kalinya Raja mesti mengubur dalam-dalam keinginannya untuk mengikuti kegiatan belajar sore di sekolahnya. Dia harus mengumpulkan uang yang cukup banyak untuk membayar beberapa keperluannya dan Ihsan sebelum ujian akhir dilaksanakan. Mulai dari uang belajar sore sampai uang perpisahan.
Sudah sebulan lebih ayahnya belum mengirimkan uang belanja. Itu artinya Raja juga mesti mencari uang untuk membeli beras, ikan kering, cabe, bawang, dan belanja tetek bengek lainnya untuk kepeluannya dan Ihsan. Raja juga mesti menabung sedikit demi sedikit untuk menyambut bulan Ramadhan. Dia takut kalau nanti tidak bisa bekerja maksimal selama puasa.
“San, sore nanti mungkin abang pulang agak lambat, sore ini abang akan menyadap getah karet, setelah Maghrib nanti abang muat batu, kamu masak sayur, ya,” ucap Raja pada adiknya. Adiknya, Ihsan, mengangguk. Raja mengemasi barang-barangnya lalu berangkat ke Ngalau Guci.
***
Pagi itu, Raja datang ke sekolah tanpa didampingi ayahnya. Dia ikhlas kalau hari ini mesti dimarahi atau bahkan diusir dari sekolah. Bagaimana mungkin ayahnya hadir, sosok ayah yang begitu dicintainya sudah dua bulan ini tak lagi bersama dengan mereka. Ayah telah tinggal dengan keluarga barunya.
Sesampainya di sekolah, Raja langsung menuju ke kelasnya. Berharap kalau Bu Yati melupakan ancamannya kemarin. Malang bagi Raja, Bu Yati yang sedang berdiri di depan kantor majelis guru melihatnya.
Hei, Raja, ke sini kamu!
Raja berjalan mendekat. “Ya Bu,” Kata Raja sambil memandangi ujung sepatunya.
“Ayah kamu mana? “ tanya Bu Yati. Raja menggeleng.
“Maaf, Bu. Ayah saya tidak bisa hadir,” Bu Yati mengajak mengajak Raja ke ruangan BK.
“Silahkan duduk, Ja, kata Bu Sari,” guru BK di sekolah itu.
Sekarang coba ceritakan kepada ibu, kenapa nilai kamu selama dua bulan ini menurun drastis, kenapa kamu sering tertidur di kelas, dan kenapa tidak pernah sama sekali ikut kegiatan belajar sore?
Satu per satu mengalirlah cerita dari mulut Raja. Bagaimana setiap hari sepulang sekolah ia bekerja keras di Ngalau Guci dan di kebun karet peninggalan ibunya. Lalu dilanjutkan dengan menjadi kuli muat setelah Maghrib. Bagaimana letihnya dia ketika hari Ahad atau hari libur Raja seharian berada di Ngalau Guci, menggelindingkan batu-batu besar yang lalu memecahnya menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian menjualnya. Raja juga menceritakan pilunya ketika ayah yang diharapkan akan melindungi dan mengayominya sepeninggal ibu mereka, menikah lagi dengan perempuan lain dan meninggalkannya berdua saja dengan sang adik.
Raja juga mengisahkan lapar yang melilit perutnya ketika beberapa kubik batu berwarna putih di Ngalau Guci yang sudah dionggoknya di pinggir jalan belum laku, ketika karet yang sudah disadapnya dicuri oleh orang sebelum ia sempat menjualnya. Raja terisak. Dilihatnya Bu Sari keluar dari ruangan, menuju ruang Wakil Kesiswaaan. Sepuluh menit berlalu, Bu Sari kembai lagi ke ruangannya.
“Raja, sekarang silahkan kamu ke kelas, belajar seperti biasa, besok setelah jam istirahat, kamu temui ibu, ya…” kata Bu Sari.
Raja menghapus bekas-bekas air matanya. Lalu berjalan menuju kelas.
***
Keesokan hariya, setelah jam istirahat, Raja menemui Bu Sari di ruangannya. Ternyata di sana juga ada, Bu Fatma, wali kelasnya, ada Pak Bahri, wakil kesiswaan, dan seorang bapak setengah baya yang belum pernah dilihatnya, mengenakan baju koko berwarna putih dan kopiah haji. Bu Sari, menyalami semua orang yang ada di ruangan itu. Lalu duduk di samping kanan bapak berbaju koko tadi.
“Raja,” kata Pak Bahri padanya setelah berbasa-basi dengan semua orang yang ada di ruangan itu.
“Mulai besok kamu tidak perlu susah payah lagi mengambil batu ke Ngalau Guci atau menjadi kuli muat batu. Tugas kamu dan adik kamu sekarang hanya belajar dan belajar. Fokus menyelesaikan pendidikan kalian,” ucap Pak Bahri.
Raja melihat ke arah Pak Fauzan, lalu juga ke arah guru-gurunya. Kemudian Pak Bahri melanjutkan pembicaraannya.
“Kami sudah menceritakan tentang perjuanganmu kepada bapak yang duduk di sebelahmu, Bapak Fauzan dari Baznas kabupaten, dan mulai hari ini kamu dan adikmu menjadi anak asuh Baznas. Itu artinya semua keperluanmu dibiayai oleh Baznas.”
“Alhamdulillah, terima kasih Pak”, kata Raja sambil menyalami bapak berbaju koko yang duduk di sebelahnya lalu semua orang yang ada di ruangan itu. Raja lalu berjalan ke pojok ruangan BK, melakukan sujud syukur kepada Allah SWT, yang telah menjawab doa-doanya. Bahunya berguncang hebat, isak tangisnya memenuhi ruangan itu. Lama sekali, sehingga Raja tak sempat melihat semua orang yang ada di ruangan itu juga mengusap air matanya.
Tentang Penulis
Silvianti adalah penulis kelahiran Halaban, 13 Juni 1980. Penulis merupakan alumni Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas dan saat ini mengabdi di MTsN 4 Lima Puluh Kota dan MTsS Halaban Kab. Lima Puluh Kota. Pernah Juara 1 Lomba Karya Ilmiah, Juara 1 Guru Berprestasi, dan Juara 2 Lomba Penulisan Sejarah Kemenag di Kab. Lima Puluh Kota tahun 2015. Artikelnya pernah dimuat di Jurnal PAB Sumatera Barat, yaitu tahun 2014 dan 2015.
PELAJARAN MORAL DALAM KARYA SASTRA

Oleh:
Azwar Sutan Malaka
(Dosen UPN Veteran Jakarta dan Pengurus FLP Sumbar)
Edisi minggu ini Kolom Kreatika menghadirkan cerpen “Raja Ngalau Guci” karya Silvianti, seorang guru MTsN 4 Lima Puluh Kota dan MTsS Halaban Kabupaten Lima Puluh Kota. Silvianti yang lahir di Halaban, 13 Juni 1980 ini seolah bercerita tentang realitas yang ada di sekitar pengarangnya. Tentang orang-orang yang menggali batu di Bukit Barisan Kabupaten 50 Kota.
Penulis yang berlatar belakang pendidikan Sastra Indonesia Universitas Andalas ini paham bahwa karya sastra harus menyampaikan sesuatu dalam balutan imajinasi. Ada pesan-pesan sosial yang disampaikan pengarang melalui cerita yang dia suguhkan ke hadapan pembaca.
Sekilas membaca judul “Raja Ngalau Guci” sebagai pembaca saya mengira akan membaca kisah-kisah cerita rakyat. Ternyata, cerpen ini mengisahkan tentang seorang tokoh yang memang bernama “Raja”. Raja adalah seorang pelajar (mungkin pelajar MTsN) yang piatu. Ibunya meninggal karena kelelahan bekerja sebagai petani. Beberapa bulan setelah meninggalnya sang ibu, ayahnya menikah lagi dan pergi mengikuti istri barunya ke Kerinci.
Ngalau Guci adalah lokasi penggalian batu kapur, tempat Raja menggali batu atau memuat batu ke atas truk pengangkat batu tersebut. Lain waktu, Raja juga menyadap karet untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama adiknya yang ditinggal orang tua. Membaca kisah dua anak kecil yang ditinggal pergi ayahnya, kita memang merasa betapa kejam ayah yang tega meninggalkan anak sendiri dan pergi bersama istri barunya beberapa bulan setelah kematian istrinya. Akan tetapi, dalam cerita ini, melalui tokoh utama (Raja), kita digiring untuk “memahami” posisi ayahnya yang terpaksa menikah setelah meninggalnya ibunya.
Raja memang sedih ditinggal pergi ayahnya, bahkan sangat sedih, tetapi dia tidak membenci ayahnya. Sebelum pergi, ayahnya memang menyampaikan bahwa kepergiannya hanya bisa dimengerti laki-laki dewasa. Raja dalam tokoh itu walaupun masih belia, tapi diposisikan sebagai lelaki yang sudah dewasa karena tuntutan hidup mengharuskan dia lebih dewasa dibanding usianya. Dialog ayahnya yang membuat dia memahami posisi ayahnya sebagai berikut:
“Ja, maafkan Ayah, kalian baik-baik di rumah, tolong jaga Ihsan. Dia masih kecil untuk bisa memahami keadaan kita. Kelak, kalau kamu dewasa kamu akan memahami posisi ayah saat ini. Sekali lagi ayah minta maaf,” (Silvianti, “Raja Ngalau Guci”, 2020).
Walau ayahnya menyampaikan bahwa nanti setelah dewasa anaknya akan memahami kondisi mereka, Raja seolah sudah memahami keadaannya dan posisi ayahnya yang harus meninggalkannya beserta adiknya yang masih kelas 6 SD. Penulis sepertinya sengaja tidak membuat pembaca membenci tokoh ayah dalam cerita itu, karena sejatinya ia ingin menyampaikan kritik sosial atas fenomena yang memang sudah sering terjadi di Minangkabau itu.
Cerita-cerita tentang “ibu mati, ayah bajalan” itu sudah sering menjadi tema cerita atau kaba di Minangkabau. Bahkan, dalam lagu-lagu Minang pun tema “ibu mati ayah bajalan” itu pun sudah sering hadir dalam lirik lagu. Penulis sepertinya ingin menyampaikan bahwa sepahit apa pun kehidupan seseorang (dalam cerita ini anak piatu) hidupnya akan selamat jika lingkungan sosialnya adalah orang-orang yang peduli.
Risman Iye, dkk (2020) dalam artikel mereka berjudul “Moral Tokoh Utama Pada Novel” Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur” Karya M. Dahlan,” menyampaikan bahwa “pada hakikatnya, sastra menggambarkan keadaan manusia dalam masyarakatnya. Sebuah karya sastra dengan kedalaman pemikiran sastrawannya akan mampu memberikan gambaran tentang karakteristik suatu bangsa atau bahkan berhasil mengungkapkan kebobrokan sistem masyarakatnya.”
Kutipan di atas menunjukkan bahwa sastra adalah salah satu bentuk gambaran realitas masyarakatnya. Pahit getir sebuah cerita sedikit atau banyak dipengaruhi realitas sosial yang dialami pengarangnya. Namun dalam hal positif, kisah bagaimana lingkungan sosial yang baik hadir dalam sebuah karya fiksi, seperti dalam cerpen “Raja Ngalau Guci” ini juga bisa disimpulkan sebagai realitas masyarakatnya.
Saya ingin menyampaikan bahwa lingkungan sosial pengarang cerpen “Raja Ngalau Guci” ini masih baik. Masyarakatnya masih peduli. Guru-guru di sekolah tidak hanya berperan sebagai guru, tetapi mereka juga mencarikan solusi terhadap persoalan hidup siswa-siswanya. Tokoh Raja dalam cerpen ini yang dicarikan Bapak Asuh oleh pihak sekolah agar Raja dan adiknya bisa melanjutkan sekolah seperti anak-anak lainnya yang tidak harus banting tulang sebagai pemecah batu di Ngalau Guci.
Risman Iye, dkk (2020) lebih jauh menyampaikan bahwa “Tidak selamanya suatu peristiwa yang terjadi selalu diikuti dengan lahirnya sebuah karya sastra.” Kompleksitas kehidupan memang tidak dapat dirangkum secara utuh oleh karya fiksi, namun setidaknya potongan kisah hidup itu bisa menjadi pelajaran moral bagi pembaca karya sastra.
Walaupun Iye, dkk (2020) menyampaikan bahwa “karya sastra tidak dapat menggambarkan kehidupan masyarakat yang sesuai dengan keadaan masyarakatnya pada saat itu,” namun karya sastra tetaplah memiliki sisi positif untuk memberikan pelajaran moral bagi pembacanya. Cerpen Silvianti ini contohnya ia akhiri dengan ending yang bahagia, karena Raja, tokoh utama yang menderita dalam cerita ini dikisahkan mendapat Bapak Asuh karena kepedulian guru-gurunya di sekolah.
Catatan lain yang perlu diingat adalah bisa jadi justru pelajaran moral inilah yang ingin disampaikan oleh pengarang cerita ini. Ia ingin menyampaikan bahwa lingkungan sosial yang baik akan mampu menyelamatkan kehidupan masyarakatnya. Barangkali pengarang cerita ini menginginkan agar masyarakat bisa memetik pelajaran dari fiksi yang ia tulis. Dalam hal ini berlaku hal yang sebaliknya bahwa karya sastra mempengaruhi kehidupan masyarakat pembacanya.
Apapun itu, apakah realitas memengaruhi karya sastra atau sebaliknya karya sastra memengaruhi kehidupan masyarakatnya, hal yang penting adalah ada ikatan antara karya sastra dan masyarakat. Hal ini semakin mengukuhkan bahwa karya seorang sastrawan itu tidak hadir dari ruang hampa. Dia hadir melalui renungan-renungan atas kehidupan masyarakat sekitarnya. Ketika karya itu kembali kepada masyarakat, karya sastra juga bisa memengaruhi masyarakat tersebut.
Dengan kesadaran bahwa sastra adalah media untuk pendidikan moral pada masyarakat, maka tak heran masih banyak penulis-penulis yang menghadirkan moralitasnya dalam karya fiksi. Jika dilihat dampaknya tentu saja ada dampak yang tidak baik jika terlalu banyak menitipkan pesan moral dalam sebuah fiksi. Fiksi akan terkesan sangat berat karena beban yang dititipkan padanya.
Inilah salah satu kekurangan dalam cerpen karya Silvianti ini. Karena pengarang ingin menitipkan pesan moral yang sangat ideal untuk kehidupan, maka terkesan cerpen “Raja Ngalau Guci” ini terlalu berat untuk sebuah karya fiksi. Bayangkan saja anak remaja (tokoh Raja) harus menanggung beban berat kehidupan harus menyadap karet, menjadi pemecah batu, kemudian menjadi buruh pemuat batu sementara itu ia masih tetap harus sekolah. Hal ini seolah terlalu berat untuk tokoh Raja, walaupun dalam realitas kehidupan ada anak-anak remaja yang memang hidupnya kurang buruntung seperti Raja ini.
Dari sisi cerita, hal lain yang saya rasakan sebagai pembaca cerpen ini adalah alur yang begitu cepat sehingga kisah terlihat melompat-lompat. Ibu Raja meninggal dunia, ayahnya menikah dan kemudian pergi meninggalkannya, serta ending cerita Raja menemukan Bapak Asuh, hal ini sejatinya bisa direntang panjang menjadi novel atau novelet. Untuk sebuah cerita pendek, akan lebih menarik jika cerita tidak menjadi panjang seperti cerita yang sudah ditulis Silvianti ini.
Menurut pendapat saya, akan terasa menarik cerpen ini jika diakhiri pada saat Raja harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya setelah kepergian ibu dan ayahnya. Sisi batin pembaca akan diketuk oleh cerita yang menyedihkan itu.(*)
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan