Saranghae Korea

Cerpen: Tesya Armelia

Suara notifikasi chat grup WhatsApp menyadarkanku dari lamunan di sore hari . Aku langsung meraih smartphone yang berada di atas meja belajarku. Segera aku  membuka WhatsApp dan melihat belasan pesan yang sudah terabaikan di salah satu grup. Ternyata salah seorang dosenku mengirimkan gambar dari sebuah event yang dilaksanakan oleh salah satu kampus ternama di kota ini. Satu kata yang langsung tertangkap oleh mataku ialah Korea.

Korean Culture Festival. Wow.

Sepertinya menarik. Mataku langsung hingar-bingar karena membaca salah satu perlombaan yang diadakan.

Menulis.

That’s it. That’s Me.

Menulis sudah menjadi rutinitas sehari-hariku sembari menjalani kewajiban menuntut ilmu di kota perantauan ini. Sampailah aku pada kesempatan yang luar biasa ini.

Aku akan menceritakan kisahku dengan Korea.

Jadi bersiaplah duduk manis membaca ceritaku ini.

Dari zaman aku duduk di bangku SMP, aku benci sekali dengan yang namanya Korea. Aku tidak seperti remaja kebanyakan yang sangat tergila-gila pada Korea. Teman-teman sepermainanku selalu membahas Korea di setiap kesempatan. Saat jam istirahat, ketika belajar kelompok, bahkan saat bermain sepulang sekolah mereka tetap membahas Korea. Memang pada saat itu, sedang booming-nya atau bisa juga disebut dengan demam Korea.

Teman-temanku sampai rela menyisakan uang jajan mereka demi bisa membeli barang-barang dan pernak-pernik Korea seperti; poster, pin, kaset, lalu mereka koleksi sebanyak-banyaknya sebagai ajang keren-kerenan dengan sesama mereka. Setiap kali mereka memulai perbincangan tentang Korea, aku langsung mengasingkan diri dan tenggelam dengan duniaku sendiri. Karena kalau aku paksakan untuk ikut nimbrung bersama mereka percuma saja.

Aku tidak akan mengerti dan tidak mau mengerti pada saat itu.

Masa SMA-ku tetap tidak jauh-jauh dari Korea. Bahkan, teman sekelasku membentuk beberapa grup dance lalu mereka meng-cover dance dari grup yang mereka sukai. Setiap hari Sabtu sore mereka mengadakan perkumpulan dan memamerkan cover dance masing-masing yang mana pada jam-jam seperti itu aku lebih memilih tinggal di rumah dan bermain playstation sambil mendengarkan lagu-lagu Justin Bieber di Mp3 kesayanganku.

Pernah pada satu kesempatan ketika berada di labor komputer, aku selesai lebih dulu mengerjakan instruksi tentang Corel Draw yg diperintahkan guru TIK-ku, karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, langsung saja aku membuka Google dan tanpa sengaja tanganku mengetikkan ‘idol Korea’. Hanya untuk menjawab rasa penasaranku terhadap artis korea yang sering digembor-gemborkan oleh teman-temanku.

Apakah benar apa yang selama ini mereka katakan bahwa para idol Korea memiliki wajah yang ganteng-ganteng dan cantik-cantik? Apakah benar musik-musik mereka mampu mengubah mood seketika? Apakah benar drama-drama yang mereka suguhkan lebih keren dan berkelas daripada sinetron Indonesia yang menyuguhkan cerita cinta-cintaan yang bahkan sampai beribu-ribu episode?

Satu hal yang terlintas dalam pikiranku. Kenapa wajah mereka sama saja. Kenapa sulit sekali membedakan satu personil grup band dengan yang lainnya.

Aku bahkan tidak bisa membedakan antara Hong Jun dan Cing Juhun.

Siapa mereka?

Apa yang mereka lakukan sehingga bisa membius para remaja, sebegitu spesial kah mereka. Setelah memperhatikan, melakukan berbagai survey dan pengamatan yang mendalam (lebay), akhirnya aku menemukan jawabannya.

Dari segi manapun kita memandang, artis-artis Korea terlihat begitu sempurna. Mereka memiliki wajah yang putih bersih, hidung mancung, tubuh ideal dan multitalent. Terkadang, para aktor Korea yang bermain film atau drama, mereka juga bisa bernyanyi dan bahkan banyak dari mereka memiliki suara yang bagus. Begitu juga sebaliknya, para penyanyi solo atau yang tergabung pada sebuah grup. Mereka bisa bermain di sebuah film atau drama dengan akting yang memukau. Namun, fakta-fakta tersebut tetap tidak mengubah pandanganku terhadap Korea. Aku tetap saja tidak menyukainya. Terkadang, kita tidak butuh alasan untuk membenci atau menyukai sesuatu, itu berjalan begitu saja.

Bayangan korea mengitariku bahkan sampai aku duduk di bangku kuliah. Aku punya teman dekat yang benar-benar tergila-gila pada Korea. Bahkan, dia sampai mengaku-ngaku bahwa dia adalah istri dari Jeon Jungkook (salah satu personil BTS). Aku hanya bisa mengiyakan dan mengikuti imaginasi-nya yang luar biasa itu. Kami bahkan sering memperdebatkan dan membanding-bandingkan idola kami masing-masing. Tentu saja aku tidak mau kalah darinya. Yang mana menurutku Justin Bieber adalah idola dari semua idola. Bahkan dengan penuh percaya diri aku mengatakan padanya bahwa Jungkook juga mengidolakan JB. Tentu saja dia tidak terima dengan pernyataan tersebut. Oh iya kita sebut saja nama temanku ini Angel. Angel ini menyukai Korea sampai ke ubun-ubun. Dia akan berusaha bagaimanapun caranya agar orang-orang di sekitarnya juga menyukai Korea seperti dirinya. Dia bahkan terus-terusan memaksaku menonton drama Korea yang disukainya.

Hingga pada suatu malam, Angel mengirimku sebuah lagu dan menyuruhku untuk mendengarkannya. Tentu saja lagu itu tidak lain dan tidak bukan adalah lagu Korea. Ia mengatakan padaku bahwa lagu itu adalah soundtrack dari salah satu drama Korea yang ia sukai. Lalu tanpa pikir panjang, langsung saja aku dengarkan lagu itu untuk menyenangkan hatinya. Ketika aku mendengar lagu itu untuk pertama kali, aku merasa ada sesuatu yang merasuki hati dan pikiranku. Ketika aku mengulang untuk kedua, ketiga, bahkan keempat kalinya. Lagu itu semakin dalam menyelami emosiku. Bahkan, setiap malam menjelang tidur aku selalu memasukkan lagu itu kedalam playlist pengantar tidurku. “It’s Okay That’s Love” oleh Davichi.

Angel tersenyum lega ketika aku mengatakan padanya kalau aku suka lagu itu. Lalu, ia dengan bangga mengangkat kedua bahunya dan memperlihatkan wajah sengaknya seakan-akan ia memenangkan sesuatu.

“Aku bilang juga apa?”, katanya menyombongkan diri.

“Palingan cuma itu saja yang bagus, kebetulan.”, jawabku.

“ Issh, enak saja. Masih banyak lagi yang bagus. Lagu BTS bagus-bagus semua. Besok aku kirim lagi ke kamu”. timpalnya.

Benar saja. Pada malam-malam berikutnya, dia mengirimiku lagu-lagu Korea yang menurutnya easy listening. Namun, tidak semua dari lagu yang dia kirim bisa meluluhkan hatiku. Ya, menurutku itu normal karena tidak semua orang memiliki selera musik yang sama. Pernah suatu ketika ada suatu event yang mengadakan lomba dance Korea di salah satu kampus ternama di kota ini. Karena Angel merasa itu adalah salah satu event yang keren dan sayang untuk dilewatkan, dia mengajakku untuk pergi menonton bersamanya. Tentu saja aku menolak. Namun karena ia memohon-mohon padaku, akhirnya aku iyakan karena aku tak tega melihatnya.

Sesampai di sana, aku melihat ruangan sudah ramai anak-anak k-popers, begitu sebutannya. Awalnya, aku biasa saja dan tidak merasa begitu excited. Namun, ketika para peserta satu persatu memperlihatkan aksi cover dance mereka, aku jadi terbawa suasana dan menikmati acara tersebut. Ternyata remaja Padang memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Mereka bisa menirukan gerakan-gerakan dance yang keren dan bahkan hampir menyerupai para idol Korea. Aku salut dengan mereka.

Seiring berjalannya waktu dan setelah beberapa lama bersahabat dengan Angel. Akhirnya aku tersebar virusnya. Aku menyerah, kalah. Korea benar-benar berhasil  merasukiku sampai ke tulang-tulang. Bahkan, aku mengunduh semua soundtrack dari drama yang aku tonton. Aku tidak tahu. Mengapa aku tiba-tiba saja merubah pendirianku selama ini. Aku jadi berubah tiga ratus enam puluh derajat menyukai Korea. Aku mengetahui lagu-lagu k-pop terbaru, bahkan terkadang aku lebih dahulu menonton drakor ter-update dari pada Angel.

Ketika nongkrong di cafe atau dikosan. kami selalu menyisihkan ruang untuk membahas Korea. Bertiga dengan temanku satu lagi, namaya Dila. Dila awalnya sama denganku. Tidak begitu fanatik dengan Korea. Namun, lama-kelamaan karena termakan hasutan dan rayuan Angel, akhirnya dia juga terbuai dengan Korea. Terkadang, pada suatu kesempatan, kami menonton film atau drama Korea bersama. Kami juga sering membahas budaya dan orang-orang di Korea. Sampai-sampai Angel bermimpi akan pergi ke Korea.

Di saat sela-sela kegiatannku memainkan smartphone, aku tak jarang menulusuri google atau membaca artikel-artikel yang berbau Korea. Aku mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu.

Well, people change.

Kali ini, aku melihat Korea dari sudut pandang yang berbeda. Aku merasa sedikit kagum dengan beberapa kebiasaan mereka, tapi yang positif tentunya. Contohnya saja para artisnya. Usaha dan kerja keras mereka semenjak sebelum debut sampai menjadi idol yang terkenal patut diacungi jempol. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang sudah Go International hingga sampai ke Amerika sana, seperti BTS, PSY, Blackpink dan masih ada lagi yang mungkin belum aku ketahui. Begitu juga dengan drama-drama yang mereka suguhkan dengan akting para aktor dan jalur cerita yang tidak membosankan. Sekarang ini, drama Korea begitu populer, baik di kalangan remaja maupun dewasa. Penampilan aktor yang beragam, episode yang tidak terlalu banyak serta cerita yang tidak menye-menye membuat drakor dikagumi.

Masih banyak lagi fakta-fakta menarik tentang Korea yang belum aku ketahui. Aku tidak menampik bahwa aku menyukai Korea karena faktor lingkungan, sosial media dan teman-temanku, tentu saja sosial media memegang peran yang sangat penting. Kita bisa mencari update-update tentang Korea melalui Instagram, Facebook, WhatsApp, Line, Webtoon, dan masih banyak lagi. Bahkan berita dan gosip tersebut muncul langsung di beranda sosmed kita tanpa bersusah payah mencarinya di kolom pencaharian.

Berkat Korea aku mempelajari suatu hal bahwa kita tidak boleh membenci sesuatu teramat dalam, karena suatu hari nanti keadaan pasti berbalik. Kita menjadi tidak bisa terlepas dari hal tersebut, bahkan kita sampai menyukainya. Satu lagi, jangan pernah menilai sesuatu baik atau buruk jika kita belum mengenal sesuatu tersebut. Semoga kisah ini memberikan manfaat kepadaku dan dapat menghibur seseorang yang membacanya. Sudah dulu ya. Annyong!

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Dharma Andalas


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *