Setangkup Penantian
tinggal aku di sini; menunggu
jawab ombak dari laut pilu
jangan hantar luka dahulu
sebelum fajar ‘jamah kalbu.
lihatlah aku di sini; menunggu
hadir cinta dan kasih putihmu
dekap aku dalamdalam dalam dadamu
tenggelamkan aku di kelopak rambutmu
hentas tubuh ini dari air dosa-dosa.
dengarlah aku di sini; bernyanyi
dengan sisa suara tangis, dengan gelombang rindu,
serta dengan segala kisah malam lalu
dan gitar dan kecapi dan piano
dan semua yang aku bunyikan,
adalah balada luka-luka kepergian jiwa
ragamu dari gerbong kereta kisah asmara.
Siremeng, 25 Maret 2020
Sepasang Air Mata
sepasang bulir air
yang menggantung di matamu
terus berayun dengan syahdu
melengkingkan lagu kesedihan
kata-kata tersirat
lewat isak luka yang berkarat
memutar waktu untuk kembali ingat
pada perjamuan awal kau memikat
jatuh sudah bulir air dari matamu
menjelma jadi rintik-rintik sendu
menghujam sela-sela tanah kering
meresap ke dasar kalbu
dan mengendapi ayat-ayat perpisahan
seamsal suara tangis di ujung kenangan
Siremeng, 2020
Satu dari Beberapa
benda-benda mendekap tubuhku
menata kembali sebagian bau yang hilang
dan jatuh setelah satu dari lima
kelopak mawar berhambur di halaman.
sebuah kata dari buku puisi Sapardi
adalah satu dari lima sayap yang singgah
menata aroma pada lumbung ingatan
sebelum para wanita melenyap keperawanan.
pasang surut angin musim kemarau
tak`kan pernah sampai pada rongga
ruang sakit dan sesak dalam dada.
Pulosari,2020
Pesan dari Malam
sebuah pesan sampai di pangkuanku
pesan dari malam yang berangin
menghantar sikapmu yang teramat dingin
di sini tampak binar purnama
dan bintang-bintang menulis kabar
tentang air yang menggenangi ceruk matamu
tentang suara tangis yang tak henti-henti menderu
juga tentang doa yang dipanjat atas nama rindu
aku tahu, bahwa kanal-kanal cinta
telah terbuat di ranah luka
sedang senyummu kini
takluk-bersemayam di lembah sunyi
Siremeng, 2020
Merawat Bosan
entahlah, Dik
aku lebih suka merawat bosan akhir-akhir ini
tak ada lagi cerita selain dongeng sepi
dan sebuah pertanyaan ringan setiap pagi
barangkali, memang beginilah jadinya
jika rasa tumbuh semena-mena
tanpa kendali arah dari kita
tanpa sedikit pengertian perihal luka.
atau mungkin, Dik
bayang-bayang harapan kita selama ini
hanya fatamorgana sumber air di padang pasir
yang tak pernah bisa aku tafsir
apakah akan terus begini, Dik?
entahlah, aku tidak lagi takut
dengan perpisahan akhir-akhir ini.
Pulosari, 2020
Tentang Penulis
RM Maulana Khoerun, lahir di Siremeng, Pulosari, Pemalang. Menulis Puisi dan Cerpen. Salah satu pendiri grup literasi “RASI PENA”. Prestasi yang sudah diraihnya, antara lain Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tk. Nasional PBSI UHAMKA. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Graf Indonesia. Penulis terfavorit Lomba Cipta Puisi KMSI Universitas Diponegoro, Juara Harapan 1 Lomba Cipta Puisi se Jateng-DIY UMNU Kebumen. Tulisannya pernah dimuat di media Analisa, Majalah Lentera Bayuangga, Harian Bhirawa, BMR Fox, Bangka pos, Tanjungpinang Pos, Medan Post, Bali Post, Malang post, Pos Bali, Radar Banyuwangi, Radar Madura, Radar Tasikmalaya, Kabar Madura, Radar Cirebon, Kataloka, Apajake, Literasi Kalbar, Banaran Media, Nalar Politik, KBM Solo Raya, Komunitas Kampoeng Jerami, Societas News, Kabapesisir, kamianakpantai, Takanta, Akarrantingdaun, dan Travesia. Puisi-puisinya juga terkumpul dalam antologi bersama; Goresan Luka(2020), Kenangan(2020), Palestina di Hati(2020), dan Sajak Untuk Indonesia(2020). Instagram : rm_maulanakhoerun, Facebook : RM Maulana Khoerun

Tinggalkan Balasan