Cerpen: Salmi Ramadhani
Adiba Shalimar adalah seorang gadis yang bisa dibilang biasa saja. Dari segi akademis, dia tidak terlalu menonjol. Dari segi penampilan, dia juga tidak terlalu elegan. Dia hanya senang sendirian dan menghabiskan waktunya membaca dengan suasana tenang. Seperti saat ini, gadis itu membaca dengan tenang di pendopo. Sebenarnya tidak masalah di mana saja, tetapi suasana tenang juga membantu untuk tetap fokus kan? Adiba menutup bukunya setelah menyelesaikan kalimat terakhir yang dibacanya. Melepas kacamata bacanya dan mengusap matanya sebentar. Matanya melirik ponselnya, sudah memasuki waktu Zhuhur. Gadis itu mulai beranjak dari duduknya menuju mushala untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Inilah yang kelebihan yang dimiliki Adiba. Mungkin dari segi ‘duniawi’ dia tidak terlalu menonjol, tetapi dari segi ‘akhirat’ Adiba selalu berusaha untuk melakukannya sebaik mungkin. Menunaikan kewajibannya dengan tepat waktu dan tak lupa dzikir serta tilawah yang dilakukannya setiap hari. Selesai menunaikan salat, gadis itu berjalan ke kelas mengambil bekalnya. Adiba bukannya tidak memiliki teman, dia hanya senang sendirian. Lagi pula, teman-temannya lebih suka makan di kantin dari pada membawa bekal dari rumah. Adiba makan dengan tenang di pendopo yang tadi sempat menjadi tempatnya bernaung sementara. Memakan bekalnya dengan tenang. Tidak terlalu memperdulikan kebisingan di sekitarnya.
“Boleh ikut bergabung?”
Adiba mengangkat kepalanya barang sebentar lalu menundukkan pandangannya ke arah lain.
“Silahkan.”
“Terima kasih.” Ucap seseorang yang menjadi lawan bicara Adiba.
Seandainya saja gadis itu tidak menunduk, mungkin dia bisa melihat senyum manis dari orang di depannya.
“Sendirian saja?” tanya orang itu memulai pembicaraan. Agaknya ia tak tenang dengan suasana hening di antara mereka. Adiba hanya menunduk. Bukan tidak ingin menjawab, dia hanya terlalu bingung berhadapan dengan lawan jenisnya mengingat dia tak pernah berdekatan dengan lelaki.
“Namaku Raka Septian. Panggil saja Raka. Adiba?” ujar orang itu memperkenalkan dirinya dengan pandangan tak lepas dari wanita di hadapannya. Adiba tetap dengan sifat tenangnya walau dia sedikit terkejut mendengar ucapan orang di depannya. Seingatnya, dia tidak mengenal orang bernama Raka ini, bahkan mereka tidak pernah sekelas.
“Salam kenal Raka.” jawab Adiba sekenanya.
Raka semakin melebarkan senyumnya mendengar suara lembut Adiba yang mengalun di udara. Baru saja akan membuka percakapan, Adiba tiba-tiba berdiri dari duduknya dan membereskan barang-barangnya sebelum melangkah meninggalkan Raka.
“Maaf, saya permisi dulu.” Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan oleh Adiba untuk Raka. Tidak ada yang salah dengan ritme berjalan Adiba. Ini hanyalah sebuah kecelakaan kecil. Seseorang tak sengaja menabrak Adiba membuat ia sedikit terhuyung ke belakang.
“Maaf, aku tidak sengaja.” Orang itu sambil menarik lengan Adiba agar tak terjatuh.
Adiba dengan refleks menepis tangan orang yang menariknya itu.
“Tak apa.” jawabnya pelan sebelum akhirnya ia melanjutkan langkahnya.
“Astagfirullahaladzim.”
Gadis itu selalu mengumamkan kalimat istighfar sambil menggenggam erat kedua tangannya. Tangannya bergetar dan dingin. Wajahnya juga sedikit pucat.
“Kamu tak apa?”
Jihan temannya yang melihat Adiba pucat sambil menggumamkan sesuatu. Gadis berhijab itu memaksakan senyumnya, “Aku tak apa.”
Penguntit. Mungkin itu kata yang cocok untuk lelaki dengan jaket dongker itu. Dia dengan sabar berjalan di belakang gadis berkerudung di depannya. Tidak ada niatan untuk menyapa tak ada niatan juga untuk menghampirinya. Lelaki itu hanya ingin memastikan gadis itu pulang dengan selamat. Tidak terjadi hal yang tak diinginkan pada gadis itu. Tidak sampai ke rumah gadis itu. Hanya sampai perempatan jalan lalu membiarkan gadis itu berjalan sendirian ke rumahnya. Biasanya seperti itu, tapi saat ini sedikit berbeda. Gadis itu mengambil rute yang berbeda. Kendati begitu, lelaki itu dengan setia mengikuti gadis itu dari belakang. Sampai kakinya menapak di tempat suci.
Adiba tidak terlalu mengerti, tapi dia merasa diikuti. Jadi dia mengambil rute yang sedikit berbeda dari biasanya mengingat dirinya belum menunaikan salat Ashar. Biasanya, gadis itu salat di mushala sekolah. Tapi karena air mati di sekolah, ia memutuskan untuk salat di rumah saja. Kebetulan dia melewati masjid jadi tanpa pikir panjang dia langsung melangkah ke sana.
“Nenek bisa? Perlu bantuan?” tanya Adiba saat melihat seorang nenek yang kesusahan berjalan.
“Tidak perlu. Nenek bisa sendiri,” jawab nenek itu.
Adiba mengulas senyum tipis, “Tak apa. Biar saya bantu, Nek.”
Dengan tangan gemetar, Adiba membantu nenek itu berjalan memasuki masjid.
“Terima kasih, ya. Kamu anak yang baik,” ucap sang nenek.
“Iya, sama-sama, Nek.”
Adiba meremas kedua tangannya yang gemetar dan dingin.
“Ya Allah, terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk berbuat kebaikan,” gumamnya pelan.
Adiba melanjutkan salatnya walau dengan perasaan tak nyaman dan gemetaran. Tak menyadari orang yang sejak tadi mengikutinya memandanginya dari kejauhan. Adiba berjalan ke rumahnya dengan tenang. Salat memang bisa menjadi obat penenang bagi Adiba. Saat ini perasaannya tetap gelisah. Rasanya ada yang mengikutinya sejak tadi. Tapi dia tak berani berbalik. Mungkin ini hanya pikiran burukku, husnudzon Adiba batinnya.
Walaupun sudah berusaha berpikir positif, Adiba tetap tidak tenang. Dengan ragu, dia membalikkan badan. Matanya membulat kaget. Pemikirannya tentang penguntit atau preman yang berniat jahat padanya sirna seketika.
“Raka?” panggilnya saat melihat sosok Raka yang berdiri tegap di belakangnya.
“Assalamu’alaikum, Adiba,” ucap Raka .
“Wa’alaikumsalam,” jawab Adiba.
“Ada perlu apa, ya?” tanya Adiba pelan.
Raka berjalan mendekati Adiba. Membuat gadis itu mundur perlahan.
“Ah, ya, mungkin seharusnya tidak terlalu dekat.” Raka saat menyadari Adiba yang menjauhinya.
Lelaki itu mundur beberapa langkah, membuat jarak dengan Adiba.
“Maaf sebelumnya mengikutimu sehingga membuatmu suudzon padaku, tapi aku tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam padamu.”
“Aku melakukannya karena aku tahu kamu pasti akan menjauhiku seperti saat ini. Kamu perempuan baik yang tahu batasan dengan lawan jenis. Jadi, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tak mau kamu merasa dilecehkan karena aku nekat mendekatimu.” jelas Raka.
“Lalu ada apa?” tanya Adiba.
Gadis itu merasa Raka belum memulai inti dari percakapannya. Kalimat panjang lebar itu diucapkan agar gadis itu tidak takut padanya begitulah pikir Adiba.
“Adiba, tolong jaga pandanganmu dari lelaki lain termasuk aku. Menunduklah. Jangan paksakan untuk menatap lawan bicaramu ini. Adiba tetaplah menjaga kehormatanmu.
Tetaplah menjalankan perintah Allah. Tetaplah berdzikir. Aku tau kamu gadis yang baik.”
“Aku yakin bukan itu inti dari apa yang ingin kamu sampaikan, Raka,” sela Adiba.
“Adiba, Sang Pencipta sudah menitipkan perasaan suka padaku. Sebagai seorang manusia biasa, tentu sulit bagiku untuk menahan perasaan yang seperti itu. Itu bukanlah kuasaku.”
“Seandainya begitu tetaplah berada di jalur seharusnya. Jangan melewati batasnya jika tidak ingin semakin sulit,” jawab Adiba.
Raka mengulum senyum.
“Ya. Karena itu mari saling menjaga. Saling menatap bumi dan tak menengadah menantang langit. Jangan sampai jarak ini menjadi semakin sempit. Itu menyulitkan. Jika memang jodoh dan sampai pada waktunya, jarak ini akan menyusut dengan sendirinya dan menuntun pada kebaikan.”
Adiba tersenyum simpul.
Gadis itu mengangguk pelan mengiyakan perkataan lelaki di hadapannya.
“Pulanglah. Aku hanya bisa sampai di sini. Semakin lama kita berbicara akan semakin sulit,” pinta Raka.
Adiba, gadis itu berbalik meninggalkan Raka di belakangnya.
“Adiba, berdoa dan salatlah jika ragu. Aku juga akan menunggu dengan doaku,” gumam Raka.
*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Sastra Jepang FIB Unand

Tinggalkan Balasan