Arunika
Gelisah mengetuk sela-sela nurani
Membisiki lembut ruas-ruas jemari
Menuntunmu ‘tuk menjawab
Di sepertiga akhir yang menggelap
Masih beratkah jejak ini melangkah
Padahal ribuan angan melimpah ruah
Masih kalahkah pada kelopak yang basah
Hingga malu segan merayu pasrah
Masih menafikkah pada raga yang melemah
Di kala detik mengantar waktu menuju tanah
Siang takkan menahan dan terang kian menjelang
Menanyakanmu lagi
Sejauh apa kakimu bisa berlari
Setelah Patah
Tak masalah jika mendung enggan berlarian
Ataupun pelangi enggan berbagi senyuman
Harapku padamu tak selemah itu
Seperti rerumputan yang tersiram hujan
Seperti itu aku kan mencintaimu
Yang terinjak akan tumbuh
Yang patah akan tergantikan
Tak masalah jika gayungku tak bersambut
Atau pintaku tak kau sahut
Rinduku padamu lebih daripada itu
Seperti angin yang menggugurkan dedaunan
Seperti itu aku kan mencintaimu
Yang jatuh tak akan membenci
Yang tertinggal tak akan tersakiti
Sandiwara
Empatinya telah mati
Nuraninya habis kau beli
Kepingan emas atau sekarung beras
Terlewat batas jadi jalan pintas
Kau di atas lupa identitas
Sedang yang di bawah mengais ampas
Lakuku berliku seperti lakumu berseru
Berlagu seirama sandiwara yang kau tuju
Sebagaimana kau perintah
Lalu pisau kau asah
Menikam berdarah dan bersembunyi di jalan tengah
Mereka bertanya, siapa pelakunya
Kau jawab, bukan saya
Mungkin dia
Dia yang meninggalkan jejak
Dia yang kau jebak
Dia yang tergelak
Betapa bodoh kian membajak
Betapa lapar tak bisa menolak
Cinta Buta
Ketakutan membelengguku
pada ikatan kita yang serapuh jaring laba-laba
Menyampirkan harap pada tangan tak berkuasa
Lalu bersiap kecewa karena anganku dan anganmu tak bersua
Takutku kehilanganmu
mengalahkan takutku kehilangan Sang Pemilik Cinta
Berupaya mengubah takdir
Menggantikan peran Tuhan
Lalu kandas dihempas kenyataan yang tak bersisian
Aku marah pada semesta
Mengapa tak ia ubah jalan kita jadi mudah
Ia tertawa lantas berkata, “Memang kamu siapa?”
Apalah aku, cuma serpihan debu
Memegang nyawaku sendiri saja ku tak mampu
Apalagi memegang janji sehidup semati
Mengetahui bila hujan bila panas saja aku tak bisa
Apalagi mengetahui takdir terbaik mana di depan mata
Mengatur lurus di jalan-Nya saja aku lalai
Apalagi menjadi Tuhan, aku abai
Ulul Ilmi Arham lahir di Padang, 22 April 1992. Gemar menulis sejak SMA saat bergabung di Media Smansa. Beberapa karyanya sudah dibukukan dalam antologi cerpen dan puisi serta di laman instagram pribadinya. Penulis pemula ini masih butuh banyak kritik dan saran. Silahkan layangkan ke instagram @ululilmiarham atau email ululilmiarham@gmail.com
Seberapa dalam Kata-kata Menyampaikan Rasa

Oleh: Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar dan Penulis Kumpulan Puisi
Esok yang Selalu Kemarin)
Yang terinjak akan tumbuh
Yang patah akan tergantikan
Menurut Tarigan (1985: 7), satu-satunya tolok ukur untuk menikmati puisi adalah ‘rasa’. “It’s sole arbitrer is taste.” Sebuah puisi dapat dipahami dengan menganalisis unsur-unsur pembentuknya, yang terdiri atas externe strukturrelation (struktur eksternal) dan interne strukturrelation (struktur internal). Externe strukturrelation terdiri atas imaji, diksi, kata nyata, imajas, dan bunyi, sedangkan interne strukturrelation meliputi perasaan, tema, nada, dan amanat.
Menganalisis puisi adalah aktivitas menafsirkan pesan yang diungkapkan seorang penyair melalui puisinya. Menurut Pradopo (1988:68), hal ini dapat dilakukan melalui kajian lapis norma dan pengalaman jiwa. Lapis norma merupakan nilai-nilai yang muncul dari wujud puisi. Lapis norma merupakan kajian yang membahas puisi dari satuan bunyi terkecil hingga penafsiran makna yang implisit, sedangkan pengalaman jiwa terukur dari rangkaian kata.
“Kajian pengalaman jiwa dalam puisi mengangkat kedalaman penjelmaan pengalaman jiwa ke dalam kata” (Pradopo, 1988: 68). Ada beberapa dalil yang disampaikan Pradopo, yakni (1) Puisi mempunyai nilai seni bila pengalaman jiwa yang menjadi dasarnya dapat dijelmakan ke dalam kata. Nilai seni itu bertambah tinggi bila pengalaman itu makin lengkap. (2) Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya bila pengalaman itu makin banyak meliputi keutuhan jiwa. (3) Pengalaman jiwa itu makin tinggi nilainya bila pengalaman itu makin kuat. (4) Pengalaman itu makin tinggi nilainya bila isi pengalaman itu makin banyak (makin luas dan makin jelas perinciannya).
Puisi-puisi Ulul Ilmi Arham yang dimuat dalam Kreatika edisi ini berisi kegelisahan. Setiap puisi diawali dengan frasa atau klausa yang bernuansa gundah dan tidak gembira: Gelisah mengetuk sela-sela nurani (“Arunika”), Tak masalah jika mendung enggan berlarian (“Setelah Patah”), Empatinya telah mati (“Sandiwara”), dan Ketakutan membelengguku (“Cinta Buta”). Begitu pula judul-judulnya, meski ada vokal ‘a’ yang biasanya menimbulkan suasana ceria (kakafoni), namun kali ini muncul dengan kesan yang tidak menyenangkan. Secara main-main, keempat judul puisi dapat dijadikan sebaris kalimat berbunyi “Arunika telah patah karena sandiwara cinta buta.”
Apa yang terjadi pada diri penyair ketika menulis puisi-puisi ini? Untuk menggalinya diperlukan informasi tentang sejarah penyair beserta karya-karyanya, termasuk peristiwa atau situasi yang menyebabkan puisi-puisi tersebut lahir. Namun, tulisan pendek ini tidak dimaksudkan untuk hal demikian. Ulasan ini akan mencoba menafsirkan puisi-puisi Ulul dari kata-kata yang digunakan.
Puisi pertama berjudul “Arunika”. Arunika adalah seberkas cahaya matahari setelah terbit di kala pagi. Secara makna, kata ini mengandung keindahan dan harapan baru. Di dalam puisi ini seberkas cahaya pagi itu muncul untuk mengungkapkan harapan ruhaniyah yang mengungkapkan pengalaman kontemplasi ‘kamu’ lirik dari kegelapan menuju terang. Perjalanan spiritual insaniah ini tergambar dari tiga larik berikut: “Di sepertiga akhir yang menggelap”, “Di kala detik mengantar waktu menuju tanah”, dan “Sejauh apa kakimu bisa berlari”. Pemilihan kata dalam puisi ini cukup apik dengan memperhatikan kandungan makna dan perpaduan bunyi, meskipun ada beberapa struktur yang terasa belum padu.
Puisi kedua mengandung pengalaman jiwa yang dirundung melankolia. Pengulangan bentuk ‘tak masalah jika’ seolah penyair ingin menyampaikan kondisi yang tidak bermasalah, kondisi baik dan aman. Susunan kata yang mengikutinya menunjukkan kondisi yang tidak menyenangkan, yaitu ‘mendung enggan berlarian’, ‘pelangi enggan berbagi senyuman’, ‘gayungku tak bersambut’, dan ‘pintaku tak kau sahut’. Empat klausa ini menunjukkan kondisi buruk yang dibayangkan ‘aku’ lirik yang dapat terjadi pada masa depan, lebih khusus menyangkut masa depan ‘ku’ dengan ‘mu’. Ada upaya untuk mengantisipasi keadaan buruk dan kesiapan untuk menerima kenyataan dengan lapang dada. ‘Aku’ lirik memiliki kebesaran jiwa untuk tidak menaruh dendam dan kebencian sekalipun misalnya harapannya tidak menjadi kenyataan. Puisi ini menyampaikan keberanian untuk optimistis bermimpi sekaligus langkah antisipasi supaya tidak sakit hati di kemudian hari. Jangan terlalu berharap, tetap sediakan ruang untuk bersikap realistis.
Waluyo (2003:2) mengungkapkan bahwa menulis puisi berarti menulis deretan kata-kata yang tidak membentuk kalimat atau alinea. Antara kalimat dan larik memiliki hakikat yang berbeda. Begitu juga dengan alinea dan bait. Larik atau bait memiliki makna yang lebih luas, yang disebut Waluto sebagai proses pemadatan kata. Proses seperti ini dilakukan agar puisi yang ditulis memiliki kekuatan untuk masuknya berbagai tafsiran makna hingga mendalam.
Seorang penyair menulis puisi dengan menggunakan kata-kata yang khas. Kata-kata tersebut tidak dapat diartikan secara langsung karena mengandung makna konotatif. Penyair menggunakannya kata-kata dengan mempertimbangkan semua aspek kepuitisan, terutama dalam rima dan irama yang berefek pada pengucapan. Unsur yang dipertimbangkan penyair dalam memilih kata untuk puisi yaitu diksi, kata konkret, dan majas. Teks puisi Ulul memakai bentuk rata tengah sehingga membentuk tipologi menyerupai tabung atau vas bunga. Kata-kata disusun membentuk larik-larik berisi pesan-pesan tersembunyi. Ada yang gelap sulit ditebak, ada pula yang mudah ditangkap ibarat menyuruk di balik ilalang sehelai. Puisi adalah permainan tanda, simbol, yang mewakili maksud penyair.
Puisi ketiga yang berjudul “Sandiwara” adalah sebentuk puisi yang “menyuruk di balik ilalang sehelai” itu. Larik-lariknya dapat ditafsirkan dengan mudah: “Empatinya telah mati/ Nuraninya habis kau beli/ Kepingan emas atau sekarung beras/ Terlewat batas jadi jalan pintas/ Kau di atas lupa identitas/ Sedang yang di bawah mengais ampas” Namun, puisi ini menang dalam pilihan bunyi. Tak hanya bait pertama, bait terakhir juga menunjukkannya: “Dia yang meninggalkan jejak/ Dia yang kau jebak/ Dia yang tergelak/ Betapa bodoh kian membajak/ Betapa lapar tak bisa menolak”
Seorang penyair adalah kreator, pencipta yang membebaskan imajinasi dan kreativitasnya untuk membuat karya. Seorang penyair akan mencari bentuk-bentuk bahasa baru, menggubah metafora, membuat perumpamaan yang tidak klise. Itulah yang membuat penyair dan sastrawan dianggap sebagai pihak yang berjasa dalam mengembangkan bahasa: Pembaharu.
Upaya mencari bentuk-bentuk pengucapan baru adalah tantangan yang tidak bisa dikatakan mudah. Pada puisi keempat, Ulul mencoba bermain-main dengan pilihan kata. Agak keteteran. Bait ini misalnya: “Apalah aku, cuma serpihan debu/ Memegang nyawaku sendiri saja ku tak mampu/ Apalagi memegang janji sehidup semati/ Mengetahui bila hujan bila panas saja aku tak bisa/ Apalagi mengetahui takdir terbaik mana di depan mata/ Mengatur lurus di jalan-Nya saja aku lalai/ Apalagi menjadi Tuhan, aku abai” Tidak hanya larik ‘apalah aku, cuma serpihan debu’ tergolong klise. Larik-larik lain juga kedodoran dalam menyampaikan gagasan.
Apapun itu, pencapaian Ulul Ilmi Arham ini layak diapresiasi. Mari nikmati sambil menyeruput secangkir kopi.[]

Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan