Romantika Akhir Zaman
Bermacam vaksin terbaiat
Di dalam kitab romansa yang ditulis di negeri Cina
Tinta darah penuh duka
Memenuhi coretan tiap lembar halaman, katanya
Laju aliran darah semakin menerjang
Lembah suram menanti ujung pena!
Kesia-siaan, memukul telak ulu hati
Negara-negara menunggu datangnya keajaiban
Lesatan ketikan mesin tik seperti tak ada artinya lagi
Berhenti!
Kisah romansa daerah-daerah dan kota-kota
yang kita gaungkan tidak menghentikan laju virus ini
Kini, sudah semakin terkikis oleh kusuk-kusuk lembut
jari-jemari tikus-tikus penjajah
Mati sudah kita yang ditendang oleh zaman ini
Menitik peluh setiap malam
Lalu dipaksa bermenung diri
Menunggu coretan tinta darah yang entah kapan akan berlalu
Padang, 2020
Sedang Kita Tahu
Fajar menyingsing di lautan yang memerah
Sedang tumbuh-tumbuhan mulai mengerayap dari tanah
Satu dua kali gedebug bunyi ledakan menghiasi cakrawala
Dua tiga kali terdengar gema suara pasukan pejuang
Dari mana?
Sedang kita tahu,
Tidak ada lagi perayaan-perayaan itu
Sedang kita tahu,
Banyak orang-orang berdasi
yang mengatasnamakan pejuang rakyat
hilang akal di masa ini
Sedang kita tahu,
Kita pun sudah hilang akal
Kita tidak mengadopsi darah-darah dan sikap patriotik pejuang
Sampai kapan bumi pertiwi ini kotor dan diliputi kenestapaan?
Sampai kapan bumi pertiwi ini diisi
diduduki oleh oang-orang yang dzalim?
Sampai kapan?
Padang, 2020
Biodata Penulis:
Adel Yuhendra lahir di Kota Padang 22 tahun silam. Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Bergiat di komunitas Padang Coffee Enthusias dan Metasinema (Unand).
Tinggalkan Balasan