
Cepen: Fachri Hamzah
Di sebuah pelatihan jurnalistik kampus, aku mengenalmu.
Sepasang mata yang menggoda ditutupi sebuah kacamata yang menambah kesan manis di wajahmu. Senyum indahmu membuat jantungku berdetak tak beraturan. Suara halus nan lembutmu, membuatku ingin mendengarkannya setiap pagi. Di kala itu, aku menjadi pelaksana kegiatan dan kau peserta. Tak kusangka, semesta mendengarkan doaku agar kita bisa berkenalan. Awalnya, aku tak menduga kau mau berkenalan denganku. Malahan, kau mau bertukar nomor handphpone denganku. Aku besyukur dan berterima kasih kepada tuhan.
Tak kuduga ternyata kita seumuran. Awalnya, aku mengira kau lebih tua dariku. Wajar kau mahasiswa satu tingkat di atasku. Mengetahui itu, harapan yang semakin membesar ini tak bisa lagi kubendung. Pertemuan pertama kita itu begitu berkesan bagiku. Aku ingin sekali mengulang untuk bertemu denganmu. Pertemuan yang membuatku rindu dan pada akhirnya jadi candu. Namun, kerap kaliku mengajak kau temu, tapi hanya penolakan yang kudapatkan. Semua itu kumaklumi ketika itu kau sibuk dengan tugasmu di kampus.
Ketika itu, rindu ingin temu tak dapat lagiku menahannya. Kusempatkan melihat tempatmu walau hanya sekedar lewat. Mungkin kau tahu sebab aku sering memberitahumu. Ya, kau juga pernah berkata padaku jangan ada rasa di antara kita. Namun, sudahku usahakan agar tak ada rasa. Semakinku ingin membunuh rasa itu, semakin kuat pula ia ingin tumbuh dalam hati ini Puan. Lalu apa yang harusku lakukan agar rasa ini tak ada. Ya kuusahakan rasa ini agar tak ada tapi jangan salahkanku jika rasa ini tetap tumbuh.
***
Sebentar lagi, aku akan memasuki umur dua puluh tahun. Dua puluh tahun bukan sebuah umur yang muda lagi. Aku berharap pada umurku yang ke dua puluh ini. Akan ada seorang perempuan yang akan merubah hidupku. Tidak seperti ulang tahun sebulumnya, hanya sebuah kesendirian, kesepian, dan kesunyian. Tak terasa hati ini sudah empat tahun tak disinggahi seorang wanita, mungkin ada, tapi tak menjalin sebuah ikatan.
Tiba-tiba, aku teringat dengan seorang Puan yang dulu sempat ingin aku dekati. Apa kabarmu? Puan yang dulu berkata jangan ada rasa di antara kita. Puan yang selalu memberiku semangat agar bisa jadi jurnalis hebat. Puan rasa ingin bertemuku belum dibayar tuntas. Puan yang punya sepasang mata yang mengoda di balik kaca matanya. Aku hanya ingin berkata padanya rasa ini tak kunjung bisaku bunuh. Ia terus berjuang untuk hidup di hatiku. Kau ajarilah aku bagaimana cara membunuh rasa.
Rasa yang tetap tumbuh di hatiku walaupun sudah agak pudar. Sekekita, aku diberi kabar kau akan datang ke tempatku biasa menghabiskan hari. Tetapi sayang, semesta tak menghendaki kita untuk bertemu Puan atau semesta punya rencana untuk kita, tapi sudalhah. Aku tak ingin menduga-duga. Aku juga tak ingin mendahului Sang Pencipta. Aku yakin yang disampaikan Banda Neira dalam lagu Sampai Jadi Debu itu nyata. Kabar kedatanganmu kudapatkan dari seniorku, katanya ada rapat asosiasi. Ia menyuruhku menunggu sembentar. Tapi ketika itu, aku ada aksi yang sudah kusiapkan dan kunanti begitu lama.
Beberapa saat kemudianku laju sepeda motor menuju tempat aksi. Ini merupakan sebuah aksi mingguan yang telah lama tak diadakan. Sesampaiku di lokasi ternyata belum ada yang datang. Kutunggu sambil memainkan handphone-ku. Tak segaja kulihat status whasapps-mu ternyata kau sudah sampai di tempat dimanaku dibesarkan dua tahun ini. Dengan penuh basa-basi, kutanya kau dimana?, walau aku sudah tau jawabnya. Sesal dalam hati, mengapa aku tak menunggumu, padahal bisaku bayar tuntas rasa ingin temu ini, atau sepertinya bukan hanya sekadar rasa ingin temu yang bisaku bayar tuntas hari itu. Ego entah semesta yang telah menggariskan ini.
***
Semenjak Puan itu datang ke tempatku, sudah lima bulan lamanya. Saat ini, aku malah tak bisa untuk bertemu. Karena bumi sedang tidak baik-baik saja. Sudah dua bulan, wabah penyakit yang tak ada obatnya ini menyerang segala lini bumi. Wabah ini tak peduli tua maupun muda. Terpaksa aku menahan rasa ingin temu ini lagi Puan. Sebenarnya, aku tahu di mana rumahmu, tapi aku tak berdaya pergi ke sana. Pemerintah tidak mengizinkan, di rumah saja katanya padaku Puan.
Semoga bumi ini lekas sembuh Puan agar rindu yang telah kutanam ini dapatku tuai. Aku selalu berdoa kau baik di sana Puan. Bila bumi ini sudah baik, rindu ini harusku bayar tuntas. Kutak ingin mengulang hal yang sama lagi terjadi. Kutanam rindu yang tak dapatku tuai.
“Cerpen ini kupersembahkan untuk Puan yang di sana
Puan yang tak bisa kusebutkan namanya
Puan doaku selalu menyertaimu. Semoga sehat selalu”
Tentang Penulis:
Fachri Hamzah seorang yang sebenarnya lebih suka menulis cerita yang bertemakan kritik sosial. Namun, tak pernah bisa. Ia juga seorang mahasiswa tingkat dua di Universitas Islam Negeri (UIN) Iman Bonjol Padang. Baru belajar menulis dan terinspirasi dari seorang Sastrawan bernama Agus Noor.

Tinggalkan Balasan