Sepasang Manusia Kesepian

Cerpen: Resti Alya Putri

Mataku sering menangkap seorang lelaki tua dari balik kaca jendela. Ia tinggal di sebelah rumahku. Rambutnya memutih, tubuhnya renta dimakan usia. Jalannya lambat dan terlihat kepayahan. Aku selalu melihat ia berjalan sambil termenung. Entah apa yang mengganggu pikirannya. Lantas, apa peduliku? Ia menghabiskan waktu tuanya dengan membosankan.

Lelaki itu berjam-jam duduk di serambi rumah dengan sesekali berbicara sedikit kencang. Aku tak tahu pasti apa yang ia ucapkan. Ia tinggal bersama wanita paruh baya. Bisa kulihat, wanita itu masih cukup kuat berjalan atau sekadar berlari kecil mengejar pedagang ikan keliling yang lewat pada sore hari. Kata Ibu, wanita tersebut adalah adiknya yang telah menjanda. Sementara itu, anak-anak si lelaki hanya sesekali pulang dari perantauan.

Ah, benar-benar pasangan yang kesepian.

***

Senja menggantung di kaki langit. Aku bersandar di kursi kayu yang terletak di bawah pohon sawo di halaman rumah sambil menikmati keindahan cahaya jingga. Entah mengapa, aku sangat menyukai senja. Bicara soal senja, aku teringat sepasang manusia berusia senja yang tinggal di sebelah rumahku. Aku tak melihatnya akhir-akhir ini. Juga dengan adiknya itu. Ah! Kuakui, wanita  itu jarang ada di rumah. Kesibukannya di luar sana kadang-kadang membuatku tak mengerti. Bagaimana bisa ia meninggalkan lelaki tua yang kesepian itu sendirian?

Kemarin siang, saat aku duduk di serambi rumah sambil membaca buku, lelaki tua itu datang menghampiriku. Jujur, aku jarang bercakap dengannya. Bahkan, aku tak pernah menyapa lelaki tua itu.

“Kau lihat ibuku?” tanyanya.

Ibu? Aku sedikit terkejut. Ibuku bilang ibu kakek itu sudah tiada. Bagaimana mungkin kakek itu bisa lupa?

“Aku tidak melihatnya,” jawabku sedikit ragu. Aku tidak ingin melukai hatinya jika kukatakan bahwa ibunya telah tiada. Kurasa, lelaki tua itu sedang merindukan ibunya. Rindu yang tak berujung temu itu pilu.

“Aku sedang sakit perut. Jika kau melihatnya, katakan kepadanya,” katanya lagi.

Aku terkejut. Mataku membelalak ketika melihat tubuh lelaki itu bergetar. Sesakit itukah ia saat ini? Lantas, apa yang harus kulakukan?

“Lebih baik, Kakek istirahat saja di rumah.” Ucapku.

“Baiklah, aku akan istirahat di rumah sembari menunggu ibuku datang.” Lelaki tua itu pergi dan masuk ke rumahnya.

***

Menyedihkan sekali. Seharusnya, ia menghabiskan waktu yang tersisa bersama orang-orang terkasih. Bagaimana bisa anak-anak dan istrinya meninggalkannya dalam keadaan seperti itu? Kudengar dari Ibu, istri lelaki tua itu masih muda dan mencampakkannya begitu saja. Kupikir, mungkin karena lelaki tua itu sudah tak mampu lagi bekerja dan menghasilkan uang.

Aku mengembuskan napas kasar sembari menatap rumah lelaki tua itu. Memikirkannya kadang-kadang memunculkan rasa iba di hatiku. Semoga pada usia senjaku nanti, aku dikelilingi orang-orang yang kucintai.

Tak lama kemudian, lelaki tua itu keluar. Ia melihatku yang juga kebetulan sedang memperhatikannya. Cepat-cepat kualihkan pandangan. Kemudian, lelaki tua itu datang menghampiriku.

“Apa yang sedang kaulihat?” tanyanya.

“A-aku sedang melihat pemandangan senja saja,” jawabku tanpa menatapnya. Sungguh, aku gugup saat ini. Apakah ia akan marah?

“Kau menyukai senja?” tanya lelaki tua lagi.

Aku terkejut dengan pertanyaannya. Kukira, ia tidak akan menanyakan itu. “Hem, sangat,” jawabku sambil mengangguk. Kuberanikan untuk menatap matanya yang mulai sayu.

“Mengapa?”

“Aku tak memiliki alasan khusus mengapa  menyukai senja. Tapi, menurutku, senja itu hangat. Memberiku kehangatan saat melihat kilau jingganya yang menyinari langit,” jelasku sambil tersenyum. Entah mengapa, aku mau berbicara sebanyak ini dengan orang lain. Yang kutahu, aku adalah manusia terasing yang menyukai kesendirian. Namun, ini persoalan beda. Ia membahas perihal senja yang amat kukagumi. Entahlah, senja begitu indah untuk kupandang berlama-lama. Aku selalu bersemangat membahas ini.

“Cobalah ke pantai. Kau akan menikmati keindahan senja yang sesungguhnya.” Lelaki tua itu menatapku.

Ada apa dengannya hari ini? Ah mungkin, ia hanya ingin berbincang dengan orang lain sebagai pengusir rasa sepi.

“Aku selalu bermimpi melihat senja di pinggir pantai. Mengamati sang surya yang jatuh tenggelam ditelan lautan. Lalu, hangatnya senja berganti dinginnya malam.”

“Maka, datanglah, jangan mengurung dirimu sendiri dalam sepi yang kauciptakan.”

Ia benar. Aku menjadikan diriku seolah-olah manusia kesepian. Mengurung diri dari dunia luar. Kurasa, hidupku terlalu menyedihkan.

“Maaf, bukankah Kakek juga kesepian?” Huh, entah bagaimana pertanyaan itu keluar dari mulutku.

“Aku tidak benar-benar kesepian. Aku hanya ditakdirkan untuk sendiri pada sisa waktu yang kumiliki. Mungkin, Tuhan memberiku ruang untuk lebih mempersiapkan diri menyambut dunia yang sesungguhnya. Kau harus tahu, tidak selalu sendiri itu kesepian.”

Kutatap matanya, begitu sendu. Ada kesedihan yang begitu mendalam meski ia berpura-pura untuk baik-baik saja. Ah, sejujurnya aku lebih menyukai suasana sepi dan sendiri karena dunia luar dan segala keramaiannya adalah hal yang membosankan. Aku merasa seperti mempunyai waktu untuk memahami diriku sendiri.

“Pada usiamu saat ini, jangan terlalu mengasingkan diri. Ada banyak hal di luar sana yang perlu kau pelajari,” ucap lelaki tua itu lagi kemudian mengalihkan pandangannya pada langit  yang mulai menggelap.

“Sudah berapa banyak hal yang Kakek pelajari sepanjang waktu yang Kakek lalui?” Aku makin tertarik dengan obrolan ini.

“Setiap waktu adalah pelajaran baru. Kau bisa menghitungnya sendiri jika kau mau. Usiaku telah delapan puluh tahun. Jika setiap waktu adalah pelajaran baru tentang kehidupan, menurutmu, sudah berapa banyak hal yang kudapatkan?” Lelaki tua itu kembali menatapku.

“Tentu sudah sangat banyak,” jawabku.

“Kini, waktunya kau mencari pelajaran baru untuk hidupmu. Entah dengan cara sendiri  yang menurutmu menyenangkan. Atau, bersama orang-orang baru yang kautemui.”

Aku mengangguk. Mengerti dengan apa yang ia ucapkan.

“Matahari telah tenggelam sepenuhnya. Masuklah!” suruh lelaki tua itu.

Aku menatap langit. Senja telah ditelan malam.

“Terima kasih untuk waktunya hari ini,” ucapku. Berkat berbicara dengannya, banyak hal baru yang kupelajari.

Lelaki tua itu hanya mengangguk lalu berjalan pulang. Aku pun ikut beranjak memasuki rumah. Namun, langkahku terhenti saat lelaki tua itu kembali memanggilku.

“Hei!”

Aku berbalik dan menunggu apa yang ia ucapkan selanjutnya.

“Esok, aku akan menemui ibuku.” Wajahnya tampak berseri-seri. Kemudian, ia beranjak masuk tanpa menunggu responsku.

Aku hanya menatap bayangan samar tubuhnya yang tersorot lampu remang-remang rumahnya. Entahlah, aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.

***

Aku tersentak. Rasanya, pagi datang terlalu awal.  Sayup-sayup kudengar suara gaduh di rumah sebelah. Aku bergegas keluar melihat apa yang sedang terjadi.

Ibu menghampiriku. “Lelaki tua itu telah berpulang,” ucapnya.

Air mataku menetes. Ini kali pertama aku menangis karena orang asing.

Kini, lelaki tua itu tidak benar-benar kesepian. Ia telah pergi, menemui ibunya.

Padang, Januari 2019

 

Biodata penulis :

Resti Alya Putri lahir 13 November 1999. Menetap di Balai Selasa, Pesisir Selatan. Hobi menulis dan memotret. Bercita-cita menjadi seorang penulis, agar ia tak perlu lagi memendam apa yang ia rasa. Sebab menulis lebih menyenangkan daripada berbicara. Facebook: Resti Alya Putri, Instagram : @mrphs_13, Email restyalyaputri1999@gmail.com


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *