Cerpen Siswati dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

NELANGSA

Cerpen: Siswati

Malam kian merangkak. Dinginnya  merasuk hingga ke tulang sum-sum. Rasa kantukku serasa tidak bisa kuajak kompromi lagi. Seharian tadi aku disibukkan dengan merekap nilai siswaku yang telah menyelesaikan Penilaian Tengah Semester (PTS).

Selintas kulihat layar pipih yang sedari  tadi kubiarkan tergeletak di tepi ranjangku. Ada tiga panggilan yang tak terjawab. Rasa kantukku ternyata mampu terkalahkan dengan rasa penasaran “Siapa ya yang menelfon tengah malam ini”pikirku penasaran. Kuraih Oppoku. Ternyata Rina atau Ina biasanya dia kusapa, adik sepupuku yang menelepon. Rasanya sudah beberapa tahun belakangan aku jarang berkomunikasi dengannya. Sejak dia menikah dan diboyong suaminya ke kota lain, ditambah kesibukkannya menjadi ibu rumah tanggga dan wanita karier, mungkin inilah yang menjadikan kami  terpisahkan, terpisahkan oleh jarak dan waktu. Sebenarnya, Ina adalah teman sepermainanku waktu kecil. Usianya denganku hanya terpaut tiga tahun dari usiaku. Postur tubuhnya yang besar dan kepandaiannya dalam bersosialisasi menjadikannya bisa berteman dengan siapapun. Yach, Ina begitu banyak kenanganku bersamanya. Spontan jemariku sudah gesit  menanyainya lewat chat. Tak sampai hitungan menit, tanda centang dua abu-abu chat-ku telah berubah biru.

Chatku langsung dibaca! Berarti ada hal urgen. Selarut ini, dia masih menunggu chat-ku,” pikirku. Segera kuhubungi dia. Tak menunggu lama,  aku telah mendengar sebuah suara diujung sana.

“Uni, maafkan Ina  karena telah menganggu waktu istirahat Uni,” ungkap adik sepupuku itu.

“Abak dinyatakan positif Covid Uni. Abak sesak napasnya Uni. Sekarang, Abak dibawa ke rumah sakit. Tapi Ni, Abak tidak bisa dirawat di rumah sakit karena pihak rumah sakit bilang kalau ruangan perawatan penuh,” jelasnya sambil terisak.

Tercekat, aku mendengar penjelasan adik sepupuku itu. Tubuhku serasa lunglai. Aku binggung dan tak tahu harus berbuat apa. Dulu, aku hanya mendengar, nun jauh di tanah seberang puluhan ribu warga tumbang gegara Covid.  Sekarang, Covid itu telah menyebar hingga ke negeriku dan keluargaku.  “Oh, tidaaak! Aku tak rela dia merongrong hingga keluargaku,” lirihku geram. Detak jantungku serasa berpacu dengan kuat, menyisakan sesak di dadaku. Kugengggam erat benda pipih itu agar tak terjatuh seraya kugapai sebuah kursi yang senantiasa membersamaiku di kamar untuk menyelesaikan segala sesuatu yang perlu kuselasaikan. Akhirnya aku berhasil mendaratkan tubuhku di kursi itu.

“Uni, kenapa diam Ni? selidik adik sepupuku diseberang sana. Aku berusaha menenangkan diri dengan beristiqfar.

“Uni baik-baik sajakan? Tanyanya lagi. Kutarik nafas dalam-dalam.

“Gimana kalo dirawat dirumah saja. Tapi tetap dengan protokol Covid yang ketat dan harus ada yang benar-benar standby merawat beliau,” usulku spontan. Aku tak tahu apakah usulku itu yang terbaik.

“Ya Uni, ntar Ina komunikasikan dengan yang lain. Terima kasih Uni”jawab Rina serak. Seraya mengakhiri pembicaraan.

Pikirku pun langsung melayang terbang. Sedih,nelangsa, dan sesak serasa dada ini ketika tadi pagi masih ada teman yang men-share di media sosial ngumpul bareng teman, pergi baralek dan makan bareng teman-teman tanpa masker dan tanpa menjaga jarak aman. Dulu, ketika wabah ini baru muncul, hampir semua orang cemas. Semua bersiap dengan tameng perlindungan diri. Sekolah ditutup, pasar ditutup, agenda dan kegiatan yang melibatkan orang banyak juga dilarang bahwa ada beberapa daerah yang melarang shalat berjemaah. Semua ketakutan, semua waspada, dan semua berusaha menjaga diri. Namun ketika wabah ini mulai redup, semua kembali beraktifitas seperti sediakala, seolah-olah wabah ini benar-benar sudah ditelan bumi. Dimana-mana pesta pernikahan dilangsungkan. Kafe, pasar, dan tempat wisata kembali buka tanpa memperhatikan lagi kalau wabah siap mengintai. Imbauan dari pihak yang berwenang tidak lagi diindahkan.

Masih segar dalam ingatanku ketika hari Minggu kemarin aku keluar komplek perumahan. Di simpang menuju perumahan, banyak sekali satpol PP dan beberapa tentara melakukan razia pada pengendara yang tidak memakai masker.  Di bawah terik sinar mentari yang membakar kulitnya, para satgas tersebut berusaha mengingatkan pengendara agar mematuhi protokol covid yang ada dalam  perda Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) serta memberikan sosialisasi  mengenai  aplikasi sipelada(Sistem informasi pelanggar perda) yang baru diluncurkan dengan harapan  mata rantai penyebaran covid terputus.

***

Sejak Ina menutup pembicaraan tadi, aku merebahkan tubuhku diranjang, namun mataku tetap tak mau terpejam. Entah kenapa resah itu menghantuiku. Wajah Abak Ina menari-nari dipelupuk mataku.

Abak Ina biasa kupanggil Apak War. Beliau adalah adik laki-laki  dari ayahku yang bungsu. Sehari-hari, beliau bergelut dengan ikan. Orang kampungku mengenalnya sebagai touke ikan kering. Apak War memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Ia suka membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya meskipun kehidupannya pas-pasan. Pernah suatu waktu beliau menyumbangkan  lebih dari sepuluh kilo ikan terinya untuk dibuatkan sambal yang akan disumbangkan pada pengungsi korban banjir di kampung tetanggaku. Padahal, Apak War hanya mendapatkan untung dari penjualan ikan terinya hanya sepuluh  ribu rupiah dalam sekilo.

Semenjak ayahku berpulang kehadirat Allah, Apak War dan keluarga bakoku yang lain siap siaga membantu aku dan sudaraku yang lain. Bahkan, salah satu dari saudaraku disekolahkan Apak War hingga tamat SLTA.  Masih segar dalam ingatanku ketika aku masih kuliah, beliau sering memberiku ikan teri dalam jumlah yang banyak. Katanya biar semua teman sekostku menikmati ikan teri pemberian beliau.

“Kok banyak Pak, ntar Apak rugi!” tanyaku heran karena pernah waktu itu beliau memberiku ikan teri sekantong plastik penuh, kira-kira berat lima kilo.

“Apak dengar katanya teman akrab kamu di kampus mau baralek. Kamu kasihlah dia teri ini sebagai bukti kalau dia punya teman orang pantai,” jelas beliau sembari menyerahkannya padaku.

“Kalau memberi jangan pikirkan untung rugi. Yakinlah jika memberi dengan ikhlas pasti untung,” lanjut beliau lagi karena masih menyaksikan wajah binggungku.

Tinut!!!…tinut!!!….tinut!!!….suara benda pipih persegi itu mengagetkanku. Entah kenapa pikiranku langsung pada Apak War. Setengah berlari aku meraihnya dari meja kecil yang terletak disamping ranjangku disertai degupan kencang didadaku.

“Uni, Abak Uni!” serobot adik sepupuku itu. Tubuhku serasa tidak dialiri darah. Berbagai pikiran buruk merasukiku.

“Ada apa Ina? Tanyaku setengah berteriak.

“Abak telah dijemput  Yang Maha Kuasa Uni. Abak dijemput dalam perjalanan pulang dari rumah sakit Uni” jawab Rina terisak.

Inna Lillahi wa Inna Illaihi Raji’un,” gumamku lirih.

“Rabb! Beri Kami  kekuatan, beri Kami perlindungan. Jauhkan Kami dari segala marabahaya covid  ini,” gumamku penuh harap. Mataku mengabur,semua jadi menghitam.

Padang, Oktober 2020

 

Biodata Penulis:

Siswati kelahiran Nanggalo, 14 April 1981. Ia merupakan anak  bungsu dari 5 bersaudara. Ia salah satu peserta Sekolah Menulis FLP Sumbar 2020 dan alumni Sastra Indonesia, Fakultas Sastra (Sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Sejak tahun 2008 hingga sekarang, ia menjadi guru di Perguruan Islam Ar Risalah Padang. Siswati telah menerbitkan tulisannya dalam buku berjudul “Perjalanan Berkah Menuju Ka’bah (sebuah memoar).”

 


 

Wabah dalam Karya Sastra: Tanggapan atas Cerpen “Nelangsa” karya Siswati

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Pengurus FLP Sumatera Barat dan
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta)

 Dalam sejarah umat manusia, wabah atau bencana adalah salah satu hal yang tak luput dari kenangan. Beribu-ribu tahun lalu, manusia telah mengabadikan bencana yang menimpa melalui lukisan-lukisan purba di goa batu. Ketika peradaban semakin berkembang, wabah dikisahkan melalui sastra lisan dari mulut ke mulut. Kemudian ketika aksara ditemukan, wabah dan bencana dipahat pada batu-batu, diukir pada kayu. Selanjutnya, wabah dan bencana pun direkam dalam bentuk tulisan melalui kertas. Kini, ketika peradaban sudah semakin maju, manusia pun tak lupa mengabadikan wabah melalui berbagai media audiovisual. Namun, hal yang tak hilang adalah bagaimana manusia selalu mengingat wabah melalui karya sastra yang mereka ciptakan.

Pada tahun 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dahsyat sehingga abu dari letusan gunung di Selat Sunda itu sampai ke Semenanjung Arab. Muhammad Saleh salah seorang pribumi Nusantara mengabadikan peristiwa besar itu melalui Syair Lampung Karam  (1888) yang menceritakan bagaimana letusan Gunung Krakatau itu membuat tsunami setinggi lebih kurang 40 meter kemudian menghancurkan kampung-kampung di pesisir Lampung dan Banten.

Contoh lain ketika tenggelamnya kapal Van der Wicjk pada tanggal 20 November 1936, HAMKA mengabadikannya dalam sebuah novel legendaris berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk. Walaupun cerita dalam novel itu tidak melulu berkisah tentang kapal Van der Wicjk, namun setidaknya ulama sastrawan itu mampu mengabadikan kejadian besar tersebut dalam karya sastra. HAMKA membuat monumen tenggelamnya kapal Van der Wijck dalam karya fiksi yang memukau generasi selanjutnya.

Selain itu, nyaris semua bencana besar yang dialami manusia saat ini seperti tsunami Aceh, erupsi Gunung Merapi, gempa Sumatera Barat, dan berbagai bencana lainnya diabadikan dalam karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel. Begitulah cara manusia mengabadikan kenangan melalui karya sastra. Karya sastra memang acap kali menjadi titik temu dari cara mengenang kejadian besar dalam hidup umat manusia dan juga menyampaikan kesedihan. Walaupun ia sering dihujat sebagai media yang tidak bisa dijadikan rujukan sejarah, karya sastra kadang menjadi media yang jujur dalam mengisahkan kesedihan umat manusia.

Hilal dan Widodo dalam artikel mereka yang berjudul “Eksistensi Tiga Tokoh “Sampar” dalam Menghadapi Absurditas” dimuat dalam Jurnal Aksara 2015, menuliskan bahwa novel sebagai sebuah karya sastra merupakan potret realitas. Sebagaimana diceritakan dalam Novel The Plague karya Albert Camus kemudian dalam versi Bahasa Indonesia diterjemahkan NH. Dini diberi judul Sampar diceritakan bagaimana berjangkitnya wabah sampar di Kota Oran, Aljazair, sebuah negara koloni Perancis.

Dalam novel itu, Albert Camus menggambarkan bagaimana sebuah kota yang kering, tiada pepohonan, dan tidak memiliki keistimewaan. Hilal dan Widodo (2015) menyebutkan bahwa dengan pelukisan itu, Camus merefleksikan kehidupan yang monoton tanpa jiwa. Wabah sampar tiba-tiba menjangkiti manusia. Orang-orang mulai menyadari arti kecemasan, kebingungan, dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit. Manusia ketakutan karena akan terpisah dengan sanak saudara. Selain itu, manusia cemas karena terkungkung dalam kota yang tertutup.

Albert Camus dalam penderitaannya menghadapi penyakit TBC mengisahkan kesedihan dan ketakutan umat manusia menghadapi wabah yang menakutkan itu. Karya monumental Albert Camus ini sekali lagi menunjukkan kepada kita bahwa karya sastra mampu membuat irisan antara dokumentasi kejadian yang dihadapi umat manusia dengan cara menjalani kesedihan.

Di luar proses kelahiran karya sastra yang mendokumentasikan wabah sebagai badan ceritanya, karya sastra pada dasarnya juga mampu menjadi media pembelajaran bagi manusia. Melalui karya sastra yang bercerita tentang bencana-bencana, pengarang mampu memberi penyadaran pada manusia bahwa kejadian-kejadian besar bisa mengubah sejarah peradaban manusia.

Pada kolom Kreatika edisi minggu ini, kita mendiskusikan sebuah cerpen berjudul “Nelangsa” karya Siswati, seorang guru di Perguruan Islam Ar Risalah Padang. Dalam cerpen “Nelangsa”, Siswati menceritakan bagaimana wabah Corona atau Covid-19, telah memporak-porandakan kehidupan masyarakat Indonesia sejak awal 2020 yang lalu. Hal yang lebih menyedihkan bagi Siswati adalah wabah tersebut turut merenggut nyawa keluarganya.

“Nelangsa” mengisahkan bagaimana seorang tokoh “Aku” dalam cerpen ini mendapat kabar dari sepupunya, bahwa Pak War, adik ayahnya terjangkit wabah Corona. Kemudian cerita mengalir menjadi kenangan-kenangan tokoh “Aku” tersebut terhadap tokoh Pak War yang dikaguminya. Pak War adalah salah seorang keluarga yang banyak membantu tokoh “Aku” dalam cerita tersebut.

Cerita mengalir perlahan menceritakan bagaimana situasi masyarakat dihantui wabah Corona. Dalam ingatan penulis, sebagai kesaksiannya atas wabah yang melanda manusia, tidak hanya di Indonesia tetapi nyaris di seluruh dunia, pengarang menyampaikan bagaimana wabah Corona itu telah membuat kehidupan masyarakat berubah. Hingga kemudian cerita sampai pada tokoh “Aku” mendapat kabar bahwa Pak War telah meninggal dunia karena wabah Corona itu.

Cerpen “Nelangsa” karya Siswati yang juga merupakan alumni Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas ini sudah didiskusikan di Forum Lingkar Pena (FLP). Beberapa tanggapan atas karya Siswati ini di antaranya muncul dari Ragdi F Daye. Ragdi menanggapi bahwa masih ada penulisan kata yang salah dalam cerpen tersebut, seperti: ‘ketulang sum-sum’ yang betul adalah ‘ke tulang sumsum’, ‘”Siapa ya yg menelfon tengah malam ini “pikirku penasaran.’ Yang benar  adalah ‘”Siapa ya yang menelepon tengah malam begini?”pikirku penasaran.’ dan kesalahan lainnya.

Ragdi F Daye juga menyarankan agar pengarang memperhatikan logika teks dalam cerita, seperti: ‘Spontan tanganku sudah menari  indah menanyainya lewat chat.’ Ungkapan ‘menari indah’ memang lumrah, namun untuk suasana yang tidak menyenangkan karena orang tua sedang sakit klausa tersebut kurang tepat.

Selain itu untuk memperkuat cerita, Ragdi F Daye juga menyarankan agar penulis jangan buru-buru mengakhiri cerita. Akan lebih menarik jika pengarang menceritakan hal-hal lain yang menghidupkan karakter tokoh dan menjelaskan relasinya dengan ‘Pak War’. Terakhir meski barangkali terinspirasi dari peristiwa nyata, ketika dijadikan cerpen, penulis perlu memainkan imajinasi untuk menyusun realitas fiktif baru supaya cerita menjadi utuh.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan cerita ini, yang pasti adalah pengarang sudah berhasil membuat monumen atas peristiwa besar yang dialami manusia pada tahun 2020 ini. Penulis juga telah mampu mengabadikan kehilangannya dengan indah melalui karya sastra. Sebagai karya sastra, walaupun tidak bisa dijadikan rujukan sejarah, karya sastra mampu memberi kenangan atas kejadian pilu yang menimpa masyarakat saat ini. (*)

 

Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *