Puisi-pusi Fitria Kartika
Menikmati Hujan Bersama Kalam Tuhan
Rintik demi rintik hadir berjatuhan
Denting-denting irama genteng bersahutan
Payoda menyapa senja dengan sejuta kerinduan
Lenyapkan resah gelisah bersama kucuran rahmat Tuhan
Menjelang malam tiba menyapa
Pejuang al-Qur’an masih mengeja kalam-Nya
Sang balita mengeja Alif, Ba, Ta dengan terbata-bata
Lantunan kalam Illahi beriringan dengan gemericik atmaja
Sirami gersangnya tatanan tandus dalam sukma
Belaian mesra tangan Tuhan pada tetumbuhan
Bentangkan hamparan hijau nan menyegarkan
Buat takjubku makin mendalam
Kan kukaji setiap jeda tetesan hujan yang menjemput malam
Payakumbuh, 03 Juli 2020
Menjalani Suratan Takdir
Secerah cahaya rembulan malam nan menyinari
Taburan kerlap-kerlip bintang menghiasi
Qalbuku mesti berdamai dengan kesunyian nan makin sepi
Jalanan harus ku tempuh dengan semangat juang tiada henti
Kakiku kerap tersandung kerikil jalanan
Langkahku kadang terseok dalam lamunan
Lajuku hampir terhenti di persimpangan jalan
Sekelilingku hanya ada jurang curam yang siap menyambut keputusasaan
Lalu, tuntunan-Mu hadir tuk menopangku bangkit dari keterpurukan
Kurapalkan bersama jiwa yang bercampur kekalutan
‘Tuk mencari sejenak nyenyak dalam ketentraman
Berdamai bersama takdir yang telah Kau goreskan dalam suratan
Payakumbuh, 04 Juli 2020
Sebuah Janji
Seringkali kata itu hilang
Seketika lafaz itu terlupa
Kala keindahan penuhi sang jiwa
Bersama perih luka yang tetiba menganga
Hanyut dalam fana….
Padahal, ia telah menanti di ujung cerita
Janji telah terakadkan kala denyutan pertama
Ia kan ditepati, pasti….
Tanpa sejenak mau membisikkan aba-aba
Sanggupkah, duhai jiwa?
Siapkah, wahai raga?
Maut ‘kan datang tiba-tiba
Sementara iman masih berkelana
Kota Biru, 01 Oktober 2020
Anganku Menuju-Mu
Semilir angin di sore menuju malam ini mengibaskan butiran-butiran rasa yang menghinggapi qalbu. Gelapnya malam dihiasi kerlap-kerlip bintang membawa anganku jauh menuju-Mu. Cinta kasih yang tak terpilih, rindu menggebu tiada temu.
Akankah aku terhitung sebagai pilihan-Mu? Atau hanya akan jadi dedaunan kering yang diterbangkan angin bagaikan debu?
Mungkinkah aku akan menjadi ratu dalam singgasana jannah-Mu? Atau hanya akan jadi babu sasaran amarah malaikat penjaga neraka-Mu?
Mungkinkah aku akan menginap nyenyak dalam dekapan cinta-Mu? Atau hanya akan jadi gelandangan tak tau arah yang dituju? Atau aku akan sibuk mencari pembenaran atas segala salah dan khilafku, mencari pelindung dari gejolak jahannam-Mu, mencari setetes syafa’at dari Rasul-Mu.
Mungkinkah??? Sedangkan aku masih lalai bershalawat di sepanjang hari-hariku. Aku masih ragu melangkah menuju majlis ilmu tuk perdalam agama-Mu. Aku masih sungkan berlari mengejar waktu shalat ke rumah-Mu.
Mungkinkah Engkau akan ridhai hidupku di bumi-Mu? Sementara novel dan cerita halu masih sering menemani hari-hariku daripada kitab suci yang berisi petunjuk nyata dari-Mu. Kisah-kisah para kekasih-Mu masih terkalahkan oleh kisah kasih sang aktor favorit di film tontonanku.
Mungkinkah husnul khatimah akan mengakhiri kisah cerita hidupku? Sementara syair dan lagu lebih aku senangi daripada senandung shalawat dan tilawah kitab suci-Mu. Kumandang tahlil para sufi masih terasa asing di telingaku, mengusik ketenangan malamku, padahal aku tahu, kalimah itu adalah sebaik-baik kalimah dalam mendekati cinta, meraih kasih menggapai ridha-Mu.
Aku, hamba-Mu yang selalu mengharap cinta, tapi kerap lupa berbagi cinta pada sesama pertanda mencintai-Mu. Aku mengharap kasih, tapi sering lalai menjemput kasih di sepertiga malam-Mu. Aku berharap berkah, tapi jarang menengadah tatkala berkah tercurah di sepenggalah cahaya mentari-Mu.
Long City, 28 Oktober 2020
Biodata Penulis:
Fitria Sartika lahir 06 Juli 1993. Ia berasal dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Mahasiswa Pascasarjana UMSB ini merupakan penulis yang belajar mengasah rasa jadi bait-bait makna. Baginya, menulis adalah jalan dakwah terbaik di era millenial saat ini.
Dengan Puisi, Aku Ber–muhasabbah

Oleh :
Ragdi F. Daye (Ketua FLP Sumbar & Penulis buku
kumpulan puisi Esok yang Selalu Kemarin)
Aku, hamba-Mu yang selalu mengharap cinta, tapi kerap lupa berbagi cinta pada sesama pertanda mencintai-Mu. Aku mengharap kasih, tapi sering lalai menjemput kasih di sepertiga malam-Mu. Aku berharap berkah, tapi jarang menengadah tatkala berkah tercurah di sepenggalah cahaya mentari-Mu.
Puisi adalah sarana mengungkapkan suara jiwa. Menyampaikan perasaan dan pikiran yang mengendap di relung kalbu. Sebab berasal dari sesuatu yang abstrak, puisi muncul dalam bentuk bahasa simbolik. Puisi menyimpan pesan di dalam struktur teks yang berkesan indah. Keunikan ini membuat puisi dapat dinikmati meskipun tidak secara serta-merta dapat dimengerti.
Pada edisi ini, Kreatika menampilan empat buah puisi dari Fitria Kartika, Mahasiswa Pascasarjana UMSB asal Kabupaten Solok. Keempat puisi tersebut berjudul “Menikmati Hujan Bersama Kalam Tuhan”, “Menjalani Suratan Takdir”, “Sebuah Janji”, dan “Anganku Menuju-Mu”. Dari pilihan judulnya, segera terasa nuansa religiositasnya.
Puisi pertama, “Menikmati Hujan Bersama Kalam Tuhan”, dengan lembut dan syahdu menggambarkan kedatangan hujan: “Rintik demi rintik hadir berjatuhan/ Denting-denting irama genteng bersahutan/ Payoda menyapa senja dengan sejuta kerinduan/ Lenyapkan resah gelisah bersama kucuran rahmat Tuhan”. Hujan yang sangat digemari para penyair melankolis, oleh Fitria tidak turun menghadirkan galau, namun justru mencurahkan belas kasih yang melenyapkan resah gelisah bersama kucuran rahmat Tuhan. Sebagai bagian dari peristiwa alam, turunnya hujan dapat diterima secara negatif—yang membuat perjalanan terganggu, pakaian yang sedang dijemur tidak kering, atau menimbulkan banjir—atau positif—membuat sawah-sawah kembali berair, tanaman yang layu mekar lagi, dan menghilangkan kondisi gerah. Dari persepsi keimanan, hujan adalah rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Bait kedua dan ketiga lebih lanjut membawa pembaca masuk ke suasana orang-orang yang sedang berinteraksi dengan Alquran: bertilawah, membaca dan memaknai kandungannya. Membaca Alquran dan mentadaburi maknanya adalah pelajaran bagi orang-orang yang berpikir. ‘Kan kukaji setiap jeda tetesan hujan yang menjemput malam’, bagi orang-orang yang beriman. Alam adalah tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang mesti dihayati dan direnungkan untuk menguatkan keyakinan.
Ada beberapa kata dari bahasa Sanskerta yang digunakan Fitria, seperti ‘payoda’ dan ‘atmaja’ yang turut memperkaya diksi. Payoda berarti awan atau mega. Kehadiran diksi ini cukup unik mengingat tema tilawah dan murajaah Alquran lebih dekat dengan pilihan kata bahasa Arab, bukan bahasa Sanskerta yang cenderung lekat dengan Hinduisme—sama uniknya dengan nama penulis yang berasal dari dua bahasa, ‘fitria’ (bahasa Arab, ‘fitrah’) berarti suci, dan ‘kartika’ (bahasa Jawa) berarti bintang.
Puisi kedua, “Menjalani Suratan Takdir”, tak kalah kontemplatif. “Kakiku kerap tersandung kerikil jalanan/ Langkahku kadang terseok dalam lamunan/ Lajuku hampir terhenti di persimpangan jalan/ Sekelilingku hanya ada jurang curam yang siap menyambut keputusasaan”. Klausa-klausa ‘tersandung kerikil jalanan’, ‘terseok dalam lamunan’, ‘terhenti di persimpangan’, dan ‘jurang curam yang siap menyambut keputusaan’ tidak sekadar fase dalam perjalanan, namun merupakan alegori dari dinamika kehidupan yang penuh godaan dan ujian. Menurut Nurgiantoro (2017:239), alegori adalah sebuah cerita kiasan yang maknanya tersembunyi pada makna literal. Seorang insan akan menghadapi berbagai macam keadaan di dunia yang menguji kesungguhan komitmennya. Dia dapat mempertanyakan, melawan, mencari jawaban kebenaran hingga pada akhirnya “berdamai bersama takdir yang telah Kau goreskan dalam suratan”.
Puisi ketiga, “Sebuah Janji”, seperti melanjutkan ‘perjalanan’ pada puisi kedua. “Seringkali kata itu hilang/ Seketika lafaz itu terlupa/ Kala keindahan penuhi sang jiwa/ Bersama perih luka yang tetiba menganga/ Hanyut dalam fana….” Perjalanan hidup yang penuh romantika dapat membuat manusia terlena. Di dalam akidah Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah di dunia dengan usia yang fana. Dengan semangat dakwah bil qalam, Fitria bertanya, ‘Sanggupkah, duhai jiwa?/ Siapkah, wahai raga?/ Maut ‘kan datang tiba-tiba/ Sementara iman masih berkelana’.
Puisi-puisi Fitria Kartika seperti muhasabah hamba yang berusaha merenungi kelemahannya yang penuh khilaf dan dosa. Namun, dia berusaha untuk tetap berusaha memperbaiki kehidupan, memanfaatkan waktu untuk memperbaiki diri setelah menghitung berapa banyak kesalahan yang telah dia perbuat. Bait-bait yang dapat dijadikan media refleksi diri. Pilihan kepenulisan Fitria mencerminkan kaidah berkreativitas yang disyaratkan Q.S. Asy-Syu’ara’ ayat 224- 227: Dan para penyair, mereka diikuti orang-orang tersesat. Tidakkah kau lihat, bahwa mereka mengembara di setiap lembah. Kecuali (penyair) yang beriman dan beramal saleh, banyak mengingat Allah.
Puisi keempat laksana muara. Apabila tiga puisi sebelumnya mempertahankan bentuk puisi dengan struktur baris yang cenderung pendek dan dipenggal-penggal. Puisi terakhir ini seolah lepas menyerupai kalimat. Konstruksi yang dipilih Fitria berupa kalimat-kalimat panjang. Pembuka puisinya seperti ini: “Semilir angin di sore menuju malam ini mengibaskan butiran-butiran rasa yang menghinggapi qalbu. Gelapnya malam dihiasi kerlap-kerlip bintang membawa anganku jauh menuju-Mu. Cinta kasih yang tak terpilih, rindu menggebu tiada temu.” Sangat kentara narasi pengenalan latar cerita yang diikuti rangkaian peristiwa dan kondisi-kondisi persoalan seorang aku lirik. Tidak hanya kalimat-kalimat panjang yang lugas, imaji-imaji yang dihadirkan juga begitu realis, misalnya bait keenam, “Sementara novel dan cerita halu masih sering menemani hari-hariku daripada kitab suci yang berisi petunjuk nyata dari-Mu. Kisah-kisah para kekasih-Mu masih terkalahkan oleh kisah kasih sang aktor favorit di film tontonanku.” Larik-larik ini cukup terang benderang.
Puisi-puisi dakwah Fitria sangat menyentuh sanubari. Akan lebih menarik lagi bila diperkuat dengan metafora. Negeri tempat dia berasal sangat kuat dengan bahasa sastra, menyampaikan pesan dengan bahasa tersirat, menggunakan majas atau umpama, seperti “menyuruk di ilalang sehelai”, “menggenggam bara”, “pulang pinang ke tampuk”, “jalan dialih orang lalu”, dan “menantang matahari”. Pesan-pesan tidak disampaikan secara langsung, namun dikiaskan. Fitria perlu mencari metafora baru, bentuk-bentuk bahasa yang baru. Itulah sumbangsih seorang penulis puisi, seorang sastrawan.[]
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan