Ayah, Si Kumbang, dan Pujaanku

Cerpen: Armini Arbain

“Bubar! Bubar! Berburu hari ini dibatalkan” kata Mak Sutan.

Mendengar seruan Mak Sutan, semua peserta berburu babi pagi itu ternganga. Buyung yang dari tadi sibuk memegang rantai anjingnya merasa gusar. Dengan suara lantang, ia mempertanyakan keputusan Mak Sutan yang mengejutkan para pencandu buru babi pagi itu.

“Ada apa Mak Sutan? Mengapa acara ini dibatalkan? Bukankah dari kemaren kita sudah mempersiapkan acara ini dengan matang?”

“Ya, saya baru saja mendapat telepon dari kapolres bahwa acara ini harus dihentikan sementara karena salah seorang anggota kita diamankan polisi.” Mendengar jawaban Mak Sutan, semua pemburu yang telah berkumpul di pangkalan ojek dekat Pasar Simabur itu kaget dan bertanya-tanya dan berpandangan satu sama lain. Buyung pun kembali bertanya.

“Apa hubungan rencana buru babi besar-besaran ini dengan salah seorang anggota kita yang diamankan polisi. Siapa yang diamankan dan apa masalahnya”, tanya Buyung lagi dengan beruntun dan nada yang sedikit emosi” Pertanyaan Buyung itu juga dianggukkan oleh pemburu yang lain. Mereka mendesak Mak Sutan untuk menjelaskan perkara yang sebenarnya yang menyebabkan rencana besar yang telah lama mereka tunggu itu dibatalkan.

“Nah itulah yang saya belum paham. Hanya ada perintah dari Kapolres bahwa buru babi kali ini tidak diizinkan. Saya berencana akan pergi ke Polres pagi ini untuk minta penjelasan tentang anggota kita yang diamankan itu. Ada yang mau ikut dengan saya? tanya Mak Sutan. Mendengar jawaban Mak Sutan semuanya mengangguk dan menyatakan akan ikut ke Polres di Batusangkar. Mereka pun berduyun-duyun menuju Polres. Jalan menjadi riuh oleh suara anjing-anjing yang mereka bawa.

***

Gibran  siswa Madrasah Aliyah Negeri itu merasa jengah ketika tulisannya yang ada di mading sekolah digemari banyak siswa sekolah itu. Gibran memang pendiam dan sedikit pemalu, apalagi kalau sudah berhadapan dengan siswi-siswi di sekolah itu. Namun, ia banyak menulis terutama cerpen dan puisi sehingga namanya menjadi terkenal. Banyak siswi yang mengandrungi cerpen dan puisinya yang terkesan melankolis.

Salma siswi  kelas 1.3, salah seorang siswi yang sangat menggemari tulisan Gibran. Tak jarang, ia mencari-cari Gibran setelah membaca tulisan Gibran di mading sekolah. Bahkan, suatu ketika Salma menyapa Gibran dan juga memuji cerpen Gibran yang isinya menyentuh hati. Sapaan dan pujian Salma itulah yang membuat Gibran memperhatikan adik kelasnya itu. Sejak itu, pulalah  mereka sering bertegur sapa dan kemudian berteman.

Di akhir tahun, setelah ujian semester, OSIS mengadakan sejumlah lomba termasuk lomba menulis cerpen. Salma berminat untuk mengikutinya sehingga Salma minta saran pada Gibran bagaimana menulis cerpen. Dengan senang hati, Gibran memberi arahan. Entah karena arahan Gibran atau karena memang tulisan Salma yang bagus, cerpen yang ditulis Salma meraih juara pertama. Salma sangat senang dan mengajak Gibran untuk merayakan kemenangannya itu makan di kantin sekolah. Melihat mereka berdua sangat akrab, teman mereka meledeki mereka sebagai pasangan yang serasi. Mendengar ledekan itu, mereka jadi malu-malu. Gibran menatap mata indah Salma dan wajah salma pun bersemu merah ketika Gibran menatapnya. Keduanya jadi salting. Hati mereka pun berdebar.

Malamnya, Gibran tidak bisa memjamkan mata. Wajah lembut Salma selalu menganggunya. Gibran ingin doi jadi miliknya. Gibran juga merasakan kalau Salma sangat menyukainya. Namun untuk memperoleh kepastian, Gibran tidak memiliki keberanian untuk menyatakan isi hatinya. Lelaki pemalu itu memutar otaknya untuk menyatakan cintanya. Ia membatin. “ Minta tolong teman, ah tidak mungkin. Bisa-bisa teman akan meledeki saya. Kalau begitu saya akan membuat cerpen yang isinya menceritakan tentang lelaki yang merana karena cintanya tak kesampaian”

Sebelum libur kenaikan kelas cerpen itu terpampang di mading  sekolah. Salma pun membaca dengan serius. Hatinya berdebar dan bertanya-tanya, siapa gadis yang dimaksud pengarang dalam ceritanya. Ia merasa bahwa gadis itu adalah dirinya. Salma sengaja menunggu Gibran dan ia memancing Gibran untuk mengatakan siapa gadis yang dimaksud. “Wah cerpennya bagus banget, itu kisah kakak ya?” Gibran yang tidak menyangka Salma akan berkata begitu menjadi kaget dan dengan spontan berkata.

“Eh kok kepo banget. Kalau itu kisah pengarangnya, menurutmu gimana?”

“Ya, ndak apa. Bodoh kali gadis yang menolak cinta pengarangnya, emang siapa gadis itu Kak” tanya Salma ingin tahu. Tampa disadarinya, Gibran langsung menjawab bahwa gadis itu adalah orang yang ada di dekatnya. Mendengar itu, Salma terlonjak dan mukanya bersemu merah. Dengan pelan, ia berkata kalau ia juga suka sama Gibran. Hati keduanya pun berbunga-bunga. Mereka berpisah dan berjanji akan berkomunikasi melalui handphone karena sekolah libur selama sepuluh hari.

Beberapa hari setelah itu, Gibran mendapat pesan singkat dari Salma. Salma mengatakan kalau ia tidak ingin berpacaran, ia ingin sekolah dulu. Gibran kaget dan mendesak Salma untuk menyatakan yang sebenarnya. Melalui WA, dengan polos Salma menyatakan kalau ayah Gibran memelihara anjing. Dan ia sering melihat ayah Gibran membawa anjing kemana-mana. Menurut ayahnya yang seorang ustadz, jika ada anjing di rumah seorang muslim, malaikat rahmat akan jauh dari rumah itu.

Membaca pesan itu, Gibran menjadi sangat terpukul sehingga ia sangat marah pada ayahnya  dan si Belang, anjing peliharaan ayahnya itu. Sudah lama, ia merasakan kalau ayahnya lebih sayang pada si Belang dari pada kepada anak dan istrinya. Setiap pagi dan sore, Gibran melihat ayahnya mengelus-ngelus si Belang. Ayahnya selalu membanggakan kehebatan anjing itu sehingga ia muak melihatnya. Kalau telah bersama si belang, ayah tidak bisa diganggu,. Ayah melupakan segalanya termasuk sering terlambat untuk mengarap sawah mereka yang merupakan sumber penghidupan keluarganya.

Suatu sore, ia pernah melihat kakak perempuannya beradu mulut dengan ayahnya. Hal itu terjadi karena ayah sering mengabil shampoo kakak untuk memandikan si Belang. Pernah pula ia melihat ibunya marah-marah karena ibu kehilangan telur yang baru dibelinya, ternyata diberikan ayah pada si Belang. Akibatnya, malam itu kami serumah hanya makan sayur pucuk ubi dan samba lado saja. Yang lebih menyakitkan, Gibran adalah ketika ayah mengatakan tidak punya uang untuk membelikan keperluan sekolahnya namun ternyata untuk membeli kebutuhan si Belang ayah memiliki uang.

Ingin rasanya ia membunuh atau membuang si belang. Namun jika ia ingat akan karakter ayahnya yang pemarah, niat itu tidak dijalankannya. Sering ia berdoa, jika ayahnya pergi berburu babi pada hari minggu, si Belang mendapat cerlaka. Namun, itu tidak pernah terjadi. Malah setiap pulang berburu, ayah selalu bercerita tentang kehebatan dan kegesitan si Belang dalam berburu babi. Si Belang yang mungkin paham tentang pujian itu semakin manja dan menjilati badan ayah dan sering juga wajah ayah. Ayah sangat senang dengan perlakuan belang itu. Gibran sangat jijik dan sering menyindir ayah dengan cara memberikan tanah untuk menghilangkan najis dari tubuh ayah. Ayah hanya menyeringai dan berkata dengan  pongah.

Waang kiro  wakden ndak tau jo najih. Wakden dulu sikola agamo juo mah, selalu menjaga salat dan membersihkan najis itu dengan baik. Tau apo Waang jo agamo, den lah lamo makan asam garam”. Rutap ayah dalam bahasa ibunya yang fasih. Kalau telah demikian, seisi rumah hanya menghindar  dan membiarkan ayah bersenang-senang dengan anjingnya itu.

Walaupun sangat benci melihat perlakuan ayah pada belang, Gibran tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menggerutu dan menghindar dari ayah. Baginya, selama anjing itu tidak dibawa masuk rumah, ia masih bisa mentolerir sikap ayah. Namun, kali ini, Gibran tidak bisa menahan marahnya, anjing itulah yang menyebabkan cintanya kandas. Gadis itu dengan polos mengatakan gara-gara anjing itu cintanya diputuskan. Gibran bergitu terpukul. Hatinya yang berbunga-bunga dalam beberapa hari ini menjadi hancur begitu membaca pengakuan Salma, sang gadis pujaannya.

Saat hati gibran sedang   remuk itu, ia melihat ayahnya mengelus-ngelus anjingnya sambil berkata-kata “ Belang besok pagi kita akan berburu babi besar-besaran. Kali ini peserta buru babi dari semua pelosok, tidak hanya dari Tanah datar, tetapi juga dari Agam dan Lima Puluh Kota. Aku yakin kau akan menjadi bintang dalam perburuan kali ini. Aku bangga memilikimu Belang. Malam ini tidurlah kau dengan nyenyak dan kumpulkanlah kekuatanmu,” kata ayah sambil memberi anjing itu tulang dan telur yang sengaja dibelinya.

Mendengar ayahnya bicara dan memperlakukan si belang demikian, hati Gibran makin meradang. Ia kepalkan tinjunya lalu dipukulkannya ke dinding dan ia pun berkata.

“Kau tak akan pernah pergi berburu lagi belang. Besok pagi, riwayatmu harus selesai. Gara-gara kau belang, cintaku kandas. Bersenang-senanglah kau dengan tuanmu sekarang. Besok pagi, tuanmu akan menjerit.” Gibran mulai menyusun rencana. Setelah salat Subuh, Gibran menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan tulang sup yang ada di dapur. Kemudian menyemprotnya dengan obat nyamuk dan mengaduknya, kemudian diberikan pada si Belang.

Pukul tujuh, ketika ayah telah bersiap-siap akan berangkat berburu, terdengar ayah  menjerit. Ia melihat anjing itu telah kaku dengan lidah terjulur dan berbusa. Ia berteriak dengan lantang. “Siapa yang tega membunuhmu Belang? Akan kupatahkan batang lehernya! Aku tak peduli, walau itu anakku sendiri.” Mendengar perkataan ayah Gibran menggigil. Rencananya untuk lari dibatalkannya sehingga ia mengunci kamarnya dan berpura-pura tidur.

Gibran semakin ketakutan ketika ayah memanggilnya dari belakang rumah karena Gibran tidak menjawab. Ayah makin meradang dan mencari Gibran ke dalam rumah. Begitu melihat pintu kamar Gibran terkunci ayah semakin marah dan mengedor-gedornya. Ibu dan kakak perempuanya ketakutan sehingga membujuk Gibran keluar. Mendengar bujukan ibu dan kakak, Gibran membuka pintu kamar. Baru saja pintu kamar terbuka, ia langsung dihajar ayah. Ibu dan kakak mencoba memegang ayah dan menyuruh Gibran pergi lari ke luar rumah. Baru saja Gibran sampai di teras rumah, ayah berhasil menangkap tangannya. Dan dengan kalap menendang Gibran dengan keras sehingga Gibran jatuh dan kepalanya menghantam tembok. Gibran rubuh dan darah mengucur deras dari kepalanya, melihat Gibran pingsan, ibu dan kakak menjerit dan tetangga pun berdatangan.

Orang ramai mendatangi tempat kejadian, Gibran dilarikan ke rumah sakit terdekat. Tanpa diketahui, polisi pun datang dan membawa ayah ke kantor polisi. Setelah dimintai keterangan, ayah ditahan karena telah melakukan kekerasan terhadap putranya. Berhubung permasalahan terjadi karena anjing dan rencana buru babi, acara tersebut harus ditunda. Semua peserta buru babi itu pulang dengan kecewa.

Berita mengemparkan itu juga sampai ke telinga Salma. Walaupun tidak mengetahui secara persis apa yang terjadi pada Gibran, Salma tetap merasa sedih dan untuk meyatakan simpatinya Salma datang ke rumah sakit. Mendengar cerita kakak Gibran, Salma mulai merasa kalau Gibran membunuh anjing ayahnya karena  cinta ditolak. Salma merasa bersalah telah menolak cinta Gibran. Kini, Salma tahu kalau Gibran amat mencintainya. “Ah, aku akan selalu ada di sampingmu, kekasihku” Bisik Salma dalam hatinya.

Sampai siang, Gibran tak kunjung sadar sehingga ibu dan kakak perempuan Gibran sangat sedih. Salma pun dengan setia menungui Gibran dengan sabar. Menjelang Asar, Gibran membuka matanya. Walaupun telah sadar, Gibran meresa kepalanya sangat sakit sehingga ia malas membuka matanya. Ia tidak melihat ada Salma di sampingnya, Namun ketika mendengar kakaknya berbicara dengan seseorang, Gibran seolah mendengar suara yang amat dirindukannya. Ia merasa bermimpi, kalau Salma gadis pujaannya ada di sampingnya.

Suara itu ia dengar makin jelas seolah suara itu ada dekatnya.  Gibran penasaran sehingga ia membuka matanya dengan pelan. Begitu Gibran melihat kalau yang dilihatnya adalah gadis pujaannya, ia kaget dan tidak percaya pada penglihatannya. Setelah suara merdu itu menyapanya, barulah ia sadar kalau ia tidak bermimpi. Ia tatap mata gadis itu, ia bisa merasakan ada kecemasan di mata gadis pujaanya. Kepalanya yang sedari tadi pusing kini terasa segar apa lagi ketika sang gadis membatunya duduk.

Ibu dan kakak Gibran sangat senang melihat Gibran telah sadar. Karena Gibran telah sadar, kakak peempuannya pergi memberitahu dokter dan ibu pergi salat Ashar. Ketika itulah Gibran merasa perutya lapar, ia pun minta makan pada Salma. Ia makan dengan lahap karena  disuapkan oleh sang pujaan. Dari cara Salma memperlakukannya, Gibran bisa merasakan kalau Salma amat mencitainya. Dengan penuh keyakinan, ia pegang tangan gadis itu dan kemudian mereka bertatapan dengan mesra. Dalam hatinya, Gibran bersenandung girang sambil  berkata dalam hatinya “Alhamdulillah, mungkin ini yang dikatakan orang, sengsara membawa nikmat. Terima kasih ayah, terima kasih Belang”.

Padang, Desember 2020

Penulis adalah Dosen Jurusan Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Budaya,
Universitas Andalas


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *