Rumah Bagi Orang Fujian
berlayarlah orang fujian dalam kecamuk ombak
seraya memangku masa lalu di atas geladak
sirna petang diganti malam
di arung bintang cahaya pualam
cahaya kian dekat
pada sebuah malam
bagai kobar api
yang menggapai pulau kehidupan
tongkang disandarkan di tepi bagan
cericit burung layang-layang menyambut
tanpa peta menginjakkan kaki di kota seribu kubah
kemudian tongkang dibakar dalam ritual suci
menadahkan doa kepada dewa Kie Ong Ya
yang menuntun jalan menuju daratan
di lengan selat
rumah menepikan rindu pekat
maka, nyala cinta terasa begitu dekat
Tanah Putih, 2020
Buaya Rokan
pada malam keramat
tok jahari dibisiki gaib:
“tabur bunga tujuh rupa
beberapa keping logam dan sebatang rokok
di sungai rokan,” desis suara itu
jimat melumat doa
ia diamanatkan mengunjungi sungai
harap hajat munajat tertambat
sang raja buaya mengamati dari jauh
ia mendekat, mengibaskan ekor
dengan cepat, mencengkram dan mencabik tok jahari
nasib naas menimpa
pada malam yang tak diharap
tok jahari tinggal nama
hari-hari pudar seketika
setelah dimangsa
luruh mimpi seluruh
pada jiwa tak bertuhan
Tanah Putih, 2020
Pada Sebuah Kanal
tuhan memanggil dalam gemuruh doa
pada gulungan ombak
yang menghantam terumbu jiwa
di bibir pantai rindu meriak
gelombang surut dan menepi di dada
tabir rindu pada kebiruan laut mengharu biru
mengenang deburan
yang mengabarkan dendang tentang kapal-kapal yang pergi berlayar
lalu oleng pada waktu yang kian mengerut
terhempas musim yang menuai badai
pada rimba zaman, di kanal-kanal media sosial
membuncah keriangan yang ambigu dan penuh tahayul
kini, pada kanal itu
tinggallah bayang wajah yang pasi
sambil mengenang dan merajut semua luka
Tanah Putih, 2020
Perjalanan Kata-Kata
aku lupa daratan sejengkal
kularikan diriku sekencang-kencangnya
tapi masih di kordinat yang sama
ada angin yang seketika menelusup ke telinga
perih menjalar ke seluruh tubuh
menimbun setiap kata yang tumbuh
mencatat saat suara berkeliaran
mulutku tak mampu mengeluarkan suara
lalu kugenggam erat kata-kata itu dengan cepat
ia melompat dari tanganku
mulutku terkunci
Padang, 2018
Usia
Nada Karenina Mumtaza
usia menjenjang menapaki detik-detik
merajut kehidupan dalam mimpi dan simpul senyum
pada setiap bait doa dan rindu
saat memandangi jam-jam yang kian larut pada malam
hati menjadi gelanggang jiwa merajut harapan
pikiran mengembara pada masa lalu
saat hari kelahiranmu
bahkan jika umurmu tidak seribu tahun
suguhkanlah Tuhanmu segala kebajikan
terbangkanlah mimpimu hingga langit
taburlah berkah dihidup
dan jika kelak tercapai semua mimpi-mimpimu
jadilah bait yang membawa kenangan indah
di dadaku
Tanah Putih, 2020
Biodata Penulis
Rara Handayani, lahir 30 Mei 1989 di Maninjau, Sumatra Barat. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Bung Hatta ini cerpennya termaktub di dalam antologi bersama Cerita Setelah Keramaian (Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumbar, 2009). Puisinya dibukukan dalam antologi Masa Depan Koin (Wadaskelir Publisher, 2020). Kini menetap di Tanah Putih Tanjung Melawan Provinsi Riau. No Ponsel : 081266600449 dan Email: rarahandayani3005@gmail.com

Tinggalkan Balasan