Helikopter Bambu
bak, ibu pertiwi terbelah jurang teramat dalam
pendapat bersilangan tak berkesudahan
anjungan mulai miring
haluan tak tentu
dermaga entah di mana
bak, setiap kepala sudah lelah memutar otak
awak kapal dan penumpang berjuang menambal dinding berlubang
sementara
pikiran penguasa teralihkan, bak
sibuk mempersiapkan buritan
tempat mendarat helikopter bambu
hingga terlupa
ada perut-perut lapar di dek paling bawah
sungguh, aku tak rela jika ada yang dilarung, bak
Payakumbuh, 28 Oktober 2020
Sampai Bila-Bila
lalu kau kuteruskan sampai bila-bila
senyata alasan selalu mengganggu pikiran
bagiku perangkap keyakinan itu adalah penjajahan
sebuah rasa yang entah
inikah pedih yang setiap hari kau syukuri
bersenang-senang meski hanya dalam imajinasi
sesekali singgah lalu buru-buru pergi
meningkahi debat yang diam-diam menghilangkan sunyi
tenang saja
kau masih kuteruskan
sampai bila-bila
Payakumbuh, 1 Oktober 2020
Perlombaan Berlagak
seringkali kau mual
kesalmu menggumpal tebal
semua hanya tentang perlombaan berlagak, katamu
mereka dengan perut kenyangnya
terlena dalam lingkaran paling nyaman
karcis-karcis bertumpuk itu tak akan bisa membawa ke mana-mana, erangmu
semua perayaan tak mengajarkan apa-apa
setiap pencapaian belumlah layak dipuja
dan musim ini seharusnya berakhir
segera
Payakumbuh, 3 November 2020
Tentang Penulis:
Dian Fajrina lahir 31 Maret 1989. Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Padang ini tercatat sebagai peserta Sekolah Menulis 2020 FLP Sumatra Barat dan tim kreatif Kelas Menulis Daring asuhan Muhammad Subhan. Beberapa antologi puisi dan cerpennya telah tebit pada tahun 2019 dan 2020. Buku kumpulan puisi pertama guru Bahasa Inggris SMA Negeri 5 Payakumbuh ini berjudul Inikah Rasanya? terbit Juni 2019. Dian dapat dihubungi via Facebook Dian Fajrina dan email dianfajrina1989@gmail.com.
Lagak Helikopter yang Menyindir

Oleh:
Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar& Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)
semua perayaan tak mengajarkan apa-apa
setiap pencapaian belumlah layak dipuja
Kreatika edisi kali ini menghadirkan tiga buah puisi dari Dian Fajrina, seorang gadis Minangkabau alumni Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Padang yang berprofesi sebagai guru di Payakumbuh. Gaya berpuisi Dian menunjukkan proses yang cukup matang dalam pemilihan kata (diksi) dan mengemas ide dalam rangkaian metafora yang menarik.
Puisi “Helikopter Bambu” misalnya, sangat bagus dalam permainan metafora, termasuk judul yang unik. Penulis dengan intens membangun imaji negeri yang mengalami krisis multidimensi ke dalam bentuk kapal yang mengalami kebocoran dan kerusakan fisik serta menghadapi situasi sulit dengan jauhnya dermaga untuk berlabuh. Persoalan di kapal juga kompleks karena tidak hanya dinding kapal yang berlubang harus ditambal, juga pemimpin pelayaran yang tidak memedulikan keadaan karena sibuk menyiapkan kedatangan helikopter tamu sementara para penghuni dek paling bawah telah kelaparan. Pilihan diksi Dian Fajrina begitu solid sehingga puisi padat kata ini dapat dinikmati. Pemilihan gaya dialog kepada tokoh liris ‘bak’ membuat puisi menjadi lebih dekat dan personal. Baris penutup, “sungguh, aku tak rela jika ada yang dilarung, bak” menyuarakan kegelisahan idealis penulis yang tak menginginkan ada yang ditumbalkan untuk menyelamatkan keadaan, terutama dari ‘dek paling bawah’. Sedikit yang menganggu adalah kehadiran diksi ‘ibu pertiwi’ pada bait pertama yang mengacaukan imaji kapal.
Puisi kedua, “Sampai Bila-Bila” terasa nakal seperti anak kecil bertingkah usil supaya dikejar. Bait terakhir, “tenang saja/ kau masih kuteruskan/ sampai bila-bila”, seperti janji yang diucapkan untuk basa-basi ketika si pengucap dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan pemenuhannya di masa depan. Seperti janji orang tua kepada anak kecilnya yang merengek minta dibelikan mainan mahal, “sekarang lihat-lihat saja dulu, bila-bila kita beli kalau ada uang banyak.” Lalu ‘bila-bila’ atau ‘kapan-kapan’ itu tidak pernah datang hingga dilupakan.
Dengan larik-larik yang paradoks, “inikah pedih yang setiap hari kau syukuri/ bersenang-senang meski hanya dalam imajinasi/ sesekali singgah lalu buru-buru pergi/ meningkahi debat yang diam-diam menghilangkan sunyi”, penulis mengungkapkan sebuah fase perubahan dalam kehidupan ‘kau’ lirik. Perubahan menimbulkan ‘pedih’ karena keluar dari zona nyaman dengan risiko yang kadang tidak sesuai harapan. Kondisi yang perlu disyukuri dan dinikmati dengan ‘bersenang-senang dalam imajinasi’. Khayalan dan impian indah dapat membakar semangat sehingga motivasi tetap menyala.
Esten (1989) menyatakan bahwa karya sastra mengungkapkan masalah-masalah manusia dan kemanusiaan. Ia melukiskan tentang penderitaan manusia, perjuangan, kasih sayang dan kebencian, nafsu, dan segala yang dialami manusia. Dengan sebuah cipta sastra pengarang ingin menampilkan nilai-nilai yang lebih tinggi dan agung, ingin menafsirkan tentang hidup dan hakikat hidup. Nurgiyantoro (2010) menyatakan bahwa suatu karya sastra yang memaparkan kritik disebut sastra kritik, apabila yang diungkapkan tentang penyimpangan-penyimpangan sosial masyarakat maka disebut dengan kritik sosial. Kritik sosial adalah sindiran maupun tanggapan yang ditujukan pada sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kritik sosial dalam sebuah karya sastra merupakan upaya yang dilakukan oleh seorang pengarang, dengan memberikan tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat, yaitu berupa ketimpangan sosial yang sering menimbulkan masalah-masalah sosial.
Kritik Dian Fajrina juga terlihat pada puisi ketiga, “Perlombaan Berlagak” yang menyorot fenomena masyarakat milenial yang gemar pamer di media sosial, seperti memajang tiket nonton film terbaru di biokop, label merek produk fashion yang dibeli, paket belanja di online shop, atau mengunggah menu makanan dan minuman yang dipesan di restoran. Di balik fenomena narsisisme yang memamerkan diri dan kehidupan untuk mendapatkan perhatian dan mendongkrak kelas pergaulan, ada sebagian orang yang menjalani hidup serba kekurangan. Dian menulis “seringkali kau mual/ kesalmu menggumpal tebal// semua hanya tentang perlombaan berlagak, katamu// mereka dengan perut kenyangnya/ terlena dalam lingkaran paling nyaman….//dan musim ini seharusnya berakhir/ segera”. Gaya pamer agar orang lain tahu pencapaian material individu perlu diganti dengan bentuk-bentuk kepedulian dan kebaiakan yang tulus.
Puisi-puisi Dian sangat enak dibaca. Tiga judul rasanya tidak cukup.[]
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.

Tinggalkan Balasan