
Cerpen:M. Adioska
Pertanyaan orang tuaku akhir-akhir ini membuatku bosan dan pusing. Bagaimana tidak, setiap aku pulang kampung hal serupa selalu ditanyakan. Bahkan, sering kali dalam sehari pertanyaan itu masuk ke telingaku lebih dari lima kali. Tentu bisa dibayangkan dan dihitung secara matematika. Jika aku tinggal di kampung selama minimal tiga hari, pertanyaan itu akan menerpaku paling sedikit lima belas kali. Jika aku pulang sekali dalam tiga bulan, tentu hasilnya juga bisa di perkirakan berapa kali aku harus mengkonsumsi pertanyaan itu dalam setahun. Yang lebih menjemukan lagi, ternyata tanpa kusadari, pertanyaan yang satu itu telah dilontarkan orang tuaku lebih dari tiga setengah tahun yang lalu. Tentu saja dapat ditaksir betapa bosannya aku.
Bukannya apa-apa, bukan karena jawaban dari pertanyaan itu sulit, bukan juga karena aku tidak menjawab. Namun sebaliknya, aku telah memaparkan dan menerangkan jawaban itu kepada kedua orang tuaku seterang-terangnya. Namun, mereka tetap saja nyinyir menanyakannya, seakan tidak mendengar jawabanku apalagi memahaminya. Yang dapat kulakukan selama ini hanya bersabar dan mencoba mengerti. Mungkin itu sudah menjadi sifat orang tua.
“Mat…kapan lagi? Kamu kan sudah mendapatkan pekerjaan tetap…lalu apa lagi?”
“Sabarlah…Pak, Bu..”
“Sabar..sabar… Sudah berapa kali kau mengatakan sabar. Kami sudah bosan mendengarnya.” kata orang tuaku selalu.
Begitulah, mereka selalu menanyakannya sampai mereka juga selalu mengatakan bosan setiap aku memberikan jawaban. Seharusnya, mereka juga mengerti. Bukan hanya mereka yang bosan mendengar jawabku, tapi aku juga bosan mendengar pertanyaan mereka. Kalau sudah begitu, kenapa tidak mereka saja yang berhenti bertanya. Dengan demikian, mereka tak akan lagi mendengar jawabku. Dalam artian, kami tidak akan sama-sama bosan lagi.
“Kan sudah aku katakan, saat ini aku ingin memberikan… ya, serupa balas jasalah kepada bapak dan ibu.” kataku dengan sejelas-jelasnya.
“Kan sudah kami katakan juga, kami itu tidak menuntut apa yang kau namakan balas jasa itu. Yang kami inginkan, kamu itu segera ber-rumah. Kamu tidak malu di katakan tidak laku? Ingat usiamu…”
Untuk setiap perdebatan dengan tema yang sama, dapat dipastikan aku akan selalu terdiam. Bukan mengaku kalah atau mengakui kebenaran orang tuaku, tapi karena itu tadi, bosan. Alih-alih dari kebosanan, sebenarnya untuk urusan satu itu aku sudah punya rencana dan calon yang aku pikir sangat tepat. Namun, sampai saat ini aku masih belum mengataknnya kepada orang tuaku karena pertimbangan tertentu, antara lain karena aku belum pernah berbicara terlalu jauh dengan orang yang kusebut calon itu. Aku pun berpikir aku dan orang yang kusebut calon itu selama ini baru berteman saja. Oleh karena itu, aku rasa butuh konfirmasi lebih lanjut untuk urusan itu. Tambahan lagi, jika sekarang aku mengatakan itu kepada kedua orang tuaku, aku pikir, aku sudah tahu jawabannya;
“Kapan acara itu akan dilaksanakan? Jangan menunggu tahun besoklah. Bulan besok? Atau kalau bisa minggu besok.” Begitulah kira-kira jawaban kedua orang tuaku. Aku yakin.
Lelah dengan perdebatan berulang dan membosankan akhirnya kuputuskan untuk mencoba meluluskan permintaan orang tuaku. Aku berencana untuk mengatakan semacam konfirmasi kepada orang yang yang kusebut calon itu tentang maksud dan tujuanku untuk memenangkan hatinya. Tentu saja aku takkan mengatakan bahwa ini adalah kemauan orang tuaku. Dengan sedikit retorika yang lebih dewasa, aku akan menyampaikan niatku itu –bisa dikatakan semacam rayuan-
Untuk hal ini, kemampuanku sebagai PR di perusahaan swasta terkenal pasti akan sangat membantu. Paling tidak, untuk urusan lobbying aku takkan lagi gugup.
Di sisi lain, tentu rencanaku ini belum kusampaikan kepada orang tuaku dengan pertimbangan…ya, itu tadi. Aku tak ingin didesak dengan urusan seperti itu. Layaknya sebuah karier, aku yakin hal ini juga membutuhkan proses dan tahapan tertentu. Tidak mungkin kita meraih jabatan yang tinggi secara langsung. Semuanya pasti di mulai dari nol. Dan seiring dengan waktu serta kegigihan. Tentunya suatu saat jabatan kita pasti akan meningkat. Begitu juga urusan yang satu ini. Aku tak mungkin langsung ke tujuan. Semuanya tergantung proses dan usaha. Pikirku. Dengan cara yang tepat, aku akan meyakinkan orang yang kusebut calon itu bahwa dia akan kujadikan pendamping hidup.
Pertimbangan lain kenapa rencana ini belum kusampaikan kepada kedua orang tuaku adalah karena aku ingin sedikit memberi kejutan dan membuktikan bahwa selama ini aku tidak mengabaikan urusan yang satu itu. Aku ingin perlihatkan bahwa selain karier aku juga memikirkan hari tuaku.
***
Kemarin sore, aku berangkat dari rumah berniat untuk menemui orang yang kusebut calon itu dan menyampaikan maksudku. Waktu keberangkatan kemarin aku di lepas orangtuaku dengan pertanyaan yang sama,bahkan kali ini kurasakan lebih kepada pemaksaan. Apa boleh buat, saat itu pun aku diam. Lagi-lagi, aku bosan melayani mereka berdebat untuk tema yang selalu sama.
Senja. Sekarang, aku duduk di bawah sebatang pohon yang aku tak tahu namanya. Menunggu orang yang kusebut calon itu di sini, taman kota. Tempat di mana dulu aku dan dia biasa bersama, tertawa, dan bercanda melepaskan semua kepenatan pikiran dari hal-hal yang berbau kuliah. Biasanya, kami datang ke sini setiap akhir minggu. Duduk di bangku yang telah diatur sedemikian rupa mengelilingi setiap pohon yang ada di taman ini. Mengingat itu semua, aku ingin tertawa sendiri karena begitu banyak kelucuan yang aku dan dia ciptakan.
Awalnya, kami datang ke sini bergerombol. Maksudnya aku, orang yang kusebut calon itu, dan beberapa teman lainnya. Alasan pertama adalah iseng dan mengurangi stress. Katanya. Namun, ternyata acara akhir minggu ini berlanjut. Setiap minggu pasti kami datang kemari. Seiring dengan waktu, pada akhir-akhir kuliah, gerombolan kami terus menyusut karena berbagai alasan. Entah itu capek, ujian, atau masalah klasik, dana. Hingga akhirnya hanya tinggal kami berdua yang mengikuti ritual akhir minggu itu. Aku dan orang yang kusebut calon itu.
Mulanya kami berteman. Tak ada perasaan sama sekali. Namun lambat laun, aku merasa ada perubahan. Waktu itu aku merasa ada yang kurang jika tidak bertemu dengannya (orang yang kusebut calon itu). Walaupun demikian, dari dulu hingga kini, tak pernah secuilpun kata yang keluar dari mulutku untuk mengatakan bahwa aku mempunyai perasaan terhadapnya. Untuk hal ini, tentu aku juga punya pertimbangan tertentu.
Di sisi lain, melihat sikapnya terhadapku. Aku rasa aku takkan meleset dari perkiraan bahwa orang yang kusebut calon itu juga punya rasa terhadapku. Paling tidak sedikit. Bagaimana tidak, aku menangkap sikap gugupnya setiap kami bertemu. Tambahan lagi, setiap aku mengajaknya ke taman kota ini, dia (orang yang kusebut calon itu) pasti menyanggupi. Meskipun aku tahu saat itu dia sedang ujian, banyak tugas, atau kegiatan lainnya.
Terakhir kali, aku dan orang yang kusebut calon itu bertemu muka adalah sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu, aku telah menyelesaikan seluruh kredit kuliahku. Betapa senangnya aku, namun di sisi lain aku juga sedikit berat hati meninggalkan orang yang kusebut calon itu. Dalam hati, aku bertekad untuk suatu saat akan memenangkan hatinya. Dan masih dengan pertimbangan tertentu, pastinya saat itu pun aku belum mengungkapkan isi hatiku padanya.
Lima belas menit berlalu. Aku masih duduk di bangku taman. Sendiri. Sampai detik itu, aku belum juga melihat penampkan orang yang kusebut calon itu. Sebuah budaya keterlambatan yang lumrah untuk negara yang berbudaya demikian, pikirku. Aneh. Yang namanya budaya, tentu semua hal yang menyangkut dengan itu sudah melekat erat dalam otak manusianya, tanpa pengecualian. Begitu juga dengan terlambat, sadar atau tidak, barangkali otak yang menganut budaya terlambat itu telah secara otomatis terisi dengan sistem keterlambatan wlaupun pada kenyataannya penganut budaya itu telah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Aku menunggu.
Sembari menunggu, ku cek sakuku. Memastikan bahwa aku tidak melupakan sesuatu. Kotak kecil berwarna merah berisi cincin. Ya, cincin yang telah lama kusimpan. Dengan maksud suatu saat nanti akan ku pertunjukkan pada tempat, waktu dan untuk tujuan special. Kudapatkan cincin itu dua tahun lalu ketika aku dengan iseng berkunjung ke sebuah mall. Lalu tiba-tiba saat itu mataku menangkap penampakan sebuah cincin. Aku tertarik. Anehnya lagi, ketika aku menimang cincin itu untuk dibeli, aku langsung teringat pada orang yang kusebut calon itu. Mudah-mudahan ini pertanda baik. Do’a ku.
Tambahan lima belas menit lagi, juga telah berlalu. Itu berarti setengah jam sudah –mungkin lebih- aku menunggu orang yang kusebut calon itu di sini. Pikiran logisku muncul. Barangkali, dia tidak ingat, ada sesuatu yang harus dikerjakan, atau ada halangan lain. Kuputuskan, ada baiknya untuk menghubungi orang yang kusebut calon itu.
Kukeluarkan handphone, mencari nomornya dan dial. Nomor orang yang kusebut calon itu -selain untuk mengajak bertemu hari ini melalui fasilitas SMS-tak pernah kuhubungi. Bukannya apa-apa, bukan lupa padanya, bukan sibuk, bukan juga ingin menjauhinya. Aku hanya tak ingin menghubungi karena ada pertimbangan tertentu. Selain tak ingin menggangu, aku ingin agar dengan jarangnya aku menghubungi orang yang kusebut calon itu dia akan merasa kehilangan. Kuharap begitu. Lagi pula, semenjak aku berpisah dengan orang yang kusebut calon itu, aku sengaja mengganti nomor ponselku dengan alasan untuk sebuah keprofesionalitasan. Maksudnya, untuk batas waktu yang tidak tertentu, aku tak ingin diganggu oleh rekan-rekan yang dulu sering menelepon tak menentu. Ya, daripada mereka menggangu waktu aku bekerja, lebih baik aku mengganti nomor sekalian. Perlakuan ini kuratakan, termasuk kepada orang yang kusebut calon itu. Harapanku, dengan kulakukan hal seperti di atas, aku bisa lebih konsentrasi untuk menekuni duniaku hingga akhirnya karierku dapat melonjak dengan cepat.
Lima detik, enam detik, tujuh detik, akhirnya teleponku diangkat.
***
Di sebuah rumah yang lumayan mewah, seorang perempuan berparas cantik baru saja berbicara melalui handphone-nya. Setelah menutup perbincangan itu ia menuju sebuah kamar dan membaringkan di atas ranjang seorang gadis cilik berusia sekitar dua tahun yang sedari tadi tertidur dalam pangkuannya. Setelah membelai sesaat, ia meninggalkan gadis cilik itu sendiri terbuai dalam mimpi.
“Mbok…”
Seorang wanita setengah baya muncul dari dapur.
“Mbok…Nisa tidur. Nanti kalau ayahnya pulang, katakan bahwa saya keluar sebentar menemui kawan lama.”
Wanita setengah baya yang dipanggil mbok itu mengangguk dan langsung menuju dapur sesaat setelah majikannya berlalu, membuka pintu, dan menutupnya kembali. Ia pergi.
*Penulis adalah Guru SDN 06 Pulai Anak Air, Bukittinggi.

Tinggalkan Balasan