Cerpen “Pulang” dan Ulasannya oleh M.Adioska

Pulang

 

Cerpen: Abdurrahman Amato

I

“Kami belum mempunyai lowongan. Kami belum membutuhkan tambahan anggota!” Begitu kata lelaki pemilik toko kelontong itu kepada saya.

“Tolonglah, Pak. Saya sangat butuh pekerjaan. Saya punya istri yang sedang hamil di rumah.” Saya memelas.

“Itu bukan urusan saya. Kalau kau tidak punya pekerjaan, kenapa kau dulu kawin?” Kata lelaki itu lagi sembari mengibaskan tangannya, mengusir saya.

Saya melanjutkan langkah. Selalu jawaban yang seperti ini yang saya terima dari toko-toko di pasar ini. Prospek saya mendapatkan pekerjaan suram dan gelap. Segelap malam yang akan segera menjelang.

“Hoi, Rezki. Apa khabar? Kenapa kau seperti orang bingung begitu?” Seorang memanggil nama saya.

Saya terkejut, menoleh ke arah suara. Untuk beberapa saat, saya mencoba mengingat-ingat lelaki kekar yang tiba-tiba menyapa saya. Lelaki ini adalah Anto, teman masa kecil saya.

“Saya sedang bingung. Saya tidak punya pekerjaan. Istri saya sedang hamil.” Saya menjelaskan.

“Wah, kebetulan sekali. Saya punya pekerjaan untukmu. Beberapa jam lagi kami akan beraksi, tetapi kami membutuhkan tambahan anggota, agar pekerjaan kami lebih cepat selesai.” Anto menawarkan.

“Benarkah?” Saya tidak yakin dengan kata-katanya.

“Tentu saja. Walau bagaimanapun kau dan saya adalah teman. Sudah seharusnya kita saling membantu. Apa kau sudah makan? Ini ada sedikit uang, belilah nasi. Makan yang banyak. Tenagamu akan sangat kami butuhkan. Temui lagi aku di sini tengah malam nanti. Aku masih ada urusan yang harus aku selesaikan.” Anto meyakinkan sembari menyerahkan uang lima puluh ribuan kepada saya.

Saya menggangguk. Saya berjanji untuk menemuinya lagi beberapa jam lagi nanti malam.

Saya sedikit ngeri ketika memasuki pasar lagi di tengah malam gelap gulita. Kedai-kedai yang tadinya ramai, sekarang tidak berpenghuni. Saya menguatkan diri, karena saya tahu saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Anto datang menjelang tengah malam, bersama dua orang yang tidak saya kenal, dengan mobil L-300. Saya tidak tahu bahwa Anto sudah memiliki sebuah mobil.

Setelah memarkir mobilnya di depan salah satu toko kelontong, dia datang menghampiri saya.

“Ayo beraksi. Toko itu adalah sasaran kita.” Katanya sambil menunjuk ke toko serba ada di dekat mobilnya terparkir.

“Beraksi? Sasaran kita?” Saya terpangu.

Anto tersenyum. Dia merangkul saya. “Ya, kita akan beraksi mengambil barang-barang di toko itu. Beras, tepung, minyak goreng, gula, garam, pokoknya semua yang dapat kita jual kembali.” Anto menjelaskan.

“Maksudmu, kita akan mencuri?” Saya bertanya.

“Kau boleh menyebutnya seperti itu. Tetapi yang sebenarnya mencuri adalah si pemilik toko itu. Saya telah mengamati toko itu seminggu belakangan. Timbangan barang-barang yang dijual di sana tidak ada yang cocok. Maka bolehlah sekali-kali kita memberi dia pelajaran.” Anto masih merangkul dan mendorong saya mendekati teman-temannya yang menanti kami.

“Jika kau tidak mau ikut, tidak apa-apa. Tetapi, terpaksa kami harus menghabisimu agar tutup mulut.” Berdiri bulu roma saya mendengar kata Anto. Terpaksalah saya mengikuti Anto dan teman-temannya yang tidak repot-repot dia perkenalkan.

Salah seorang teman Anto, yang lebih tinggi di antara mereka kemudian mengeluarkan pemotong besi. Dengan itu dia memotong tiga buah gembok di pintu toko.

“Ayo, segera beraksi.” Anto memberi komando. Teman Anto yang lebih pendek naik ke mobil L-300. Saya mengikuti teman Anto yang lebih tinggi ke dalam toko. Dengan sigap dia mengambil sekarung beras, “Angkat ini.” Katanya kepadaku. Jelaslah peran saya sekarang, saya menjadi kuli angkut, sementara Anto memberi komando dan mengawasi keadaan. Temannya yang lain menyusun barang-barang yang saya angkut di atas mobil.

Peluh telah mulai berceceran di keringat saya. Saya telah menjadi seorang pencuri.

Tiba-tiba Anto berteriak, “Ada hansip yang berkeliling. Ayo kabur.” Anto segera menghilang, meninggalkan kami. Temannya yang di dalam toko segera mengikutinya kabur. Saya terpana. Tiba-tiba saja seorang berteriak, “Hoi, ada pencurian.” Saya menduga itu suara hansip yang mendapati aksi pencurian kami. Saya tersadar kemudian membuang karung tepung yang masih berada di punggung saya. Saya juga sebaiknya kabur. Tetapi terlambat, dua orang hansip segera menyergap saya. Salah seorang dari mereka memukul kepala saya dengan pentungan. Saya tertangkap. Hari-hari selanjutnya saya habiskan dengan mendekam di balik jeruji besi.

II

“Mas, saya ingin kita berpisah. Saya tidak ingin bersuamikan mantan narapidana.” Begitu kata istri saya ketika saya baru sampai di pekarangan rumah. Saya baru saja bebas, mendapatkan pemotongan masa penahanan dari pemerintah dikarenakan virus corona. Saya pulang. Tetapi tidak ada pelukan sayang dan kata-kata pelepas rindu dari istri saya.

“Karena Mas sudah pulang ke rumah ini, saya akan kembali ke tempat Ibuk dan Bapak.” Kata istri saya melanjutkan.

“Tetapi Mas sudah berubah, Dik. Mas tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ayo kita buka lembaran baru.” Saya berkata.

“Semua orang yang baru keluar dari penjara berkata seperti itu, Mas. Mas punya satu kesempatan untuk membahagiakan saya. Tetapi Mas telah menyia-nyiakannya. Benar kata Bapak, buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Pada akhirnya, Mas akan menjadi seperti ayah Mas, seorang maling dan berandal pasar. Saya tidak mengerti mengapa saya dulu jatuh cinta kepada Mas. Barangkali Mas mengguna-gunai saya sampai saya mau mas nikahi.”

Tidak ada kata-kata yang dapat saya temukan untuk membantah perkataannya. Memanglah saya anak dari seorang berandal pasar. Berandal yang bahkan pernah membunuh orang. Tetapi saya tidak pernah memelet dirinya.

Istri saya masuk ke dalam rumah, mengambil tas dan koper yang sudah siap untuk diangkut.

“Selamat tinggal, Mas. Tunggu saja surat cerai dari KUA.” Dia berkata, kemudian memberi tanda ke angkot yang lewat di jalan depan rumah. Dia naik ke angkot itu dan berlalu.

Sekarang setelah saya bebas, saya pikir, kehidupan saya akan kembali normal. Tidak ada lagi kesepian dalam malam-malam dingin di balik jeruji besi. Tetapi kenyataannya tidaklah seperti itu. Orang-orang tidak akan menerima saya. Saya tidak akan mendapatkan pekerjaan. Orang yang dulu mencintai saya, akan melupakan cinta mereka dan meninggalkan saya. Sekali muka saya tercoreng, saya tidak akan pernah bisa menghapusnya. Hidup seperti ini terasa lebih kejam dari kehidupan di balik jeruji besi. Istri saya, setelah kehilangan kehamilan ketika mendengar saya tertangkap, sepertinya juga pada tidak akan pernah memaafkan saya.

Saya masuk ke dalam rumah. Saya mencari minyak tanah. Beruntung, istri saya masih memakai kompor minyak tanah untuk memasak. Saya keluarkan semua minyak tanah dari kompor. Saya sebarkan di seluruh dapur dan seluruh rumah. Saya ingin membakar rumah ini. Jika tidak ada tempat saya kembali, maka lebih baik saya mati, bersama setiap kenangan di rumah ini.

 

Biodata penulis:

Abdurrahman nama pena Abdurrahman Amato. Penulis bekerja di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat dan dapat dihubungi di nomor ponsel 0813-7835-7375 dan alamat email abdur.amato@gmail.com.

 


 

Mengurai Alur Padat dalam Cerpen Pulang”

 

M. Adioska

Oleh: M. Adioska, M.Pd.
(Guru dan Anggota FLP Sumatera Barat)

 Tidak benar jika fiksi dianggap sebagai hasil kerja lamunan belaka, melainkan penghayatan dan perenungan secara intens, perenungan terhadap hakikat hidup dan kehidupan, perenungan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. (Nurgiyantoro, 2012)

***

Diartikan secara bebas, sesuai dengan namanya, cerpen adalah cerita pendek yang bisa selesai dibaca sekali duduk. Meskipun demikian, tidak ada ketentuan khusus berapa ukuran panjang sebuah cerpen tersebut jika dilihat dari fisiknya, sebab pada praktiknya seringkali ditemukan adanya cerpen yang begitu pendek atau cerpen mini, berkisar antara 750-1.000 kata, cerpen ideal panjangnya antara 3.000-4.000 kata ataupun cerpen yang cukup panjang, kira-kira 4.000-10.000 kata (M. Ilham, 2020).

Namun, yang paling mendekati tentang ukuran sebuah cerpen adalah pada aspek ceritanya yang hanya menjurus serta terfokus pada suatu peristiwa saja (J.S Badudu). Dalam penjelasan lain, juga disebutkan bahwa cerita pendek hanya memiliki satu arti, satu krisis dan satu efek untuk pembacanya. Pengarang cerpen hanya ingin mengemukakan suatu hal secara tajam (Jacob, 2001).

Menilik cerpen “Pulang” karya Abdurrahman terdapat beberapa hal yang menarik untuk dibahas. Cerpen ini bermula ketika tokoh “saya” yang bernama Rezki berusaha mencari pekerjaan karena desakan kebutuhan lantaran si istri yang sedang hamil. Namun demikian, tidak ada satu toko pun yang membutuhkan tenaganya ketika itu. Hingga saat kebingungan seperti itu, tiba-tiba muncul temannya yang menawarkan pekerjaan. Ia dijanjikan pekerjaan saat tengah malam di pasar itu. Tanpa basi-basi, tanpa banyak tanya, tanpa pikir panjang, ia pun menyanggupi untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut. Pada saat tengah malam, ketika waktu yang dijanjikan itu, ia baru tahu dan menyadari bahwa pekerjaan yang ditawarkan temannya adalah mencuri sebuah toko kelontong. Dengan terpaksa ia ikut dalam komplotan pencurian itu lantaran ada ancaman dari temannya tersebut.

Dari penggalan cerita di atas, tokoh “saya” digambarkan dengan begitu lugu sehingga sebuah pekerjaan yang belum jelas, dilakukan tengah malam pula, dengan serta-merta langsung disanggupi tanpa banyak tanya. Barangkali, telah menjadi stereotype dalam masyarakat bahwa sebuah pekerjaan yang hanya dilakukan tengah malam, biasanya akan berkonotasi pada pekerjaan yang bersifat negatif. Secara logika, hal ini menjadi batu sandungan dalam cerita ini. Atau, jika pun maksud penulis ingin menampilkan tokoh yang memang benar-benar lugu, yang benar-benar membutuhkan pekerjaan, yang benar-benar memerlukan penghasilan, sebuah penjelasan –yang juga harus masuk akal- akan sangat dibutuhkan dalam cerita ini.

Cerita kemudian berjalan sangat cepat dengan kejadian yang beruntun. Tokoh “saya” tertangkap, lalu dipenjara. Mendapatkan keringanan hukuman karena adanya pandemi virus corona. Ia bebas dari penjara namun saat kepulangannya ia ditolak oleh istrinya. Ujung cerita, si tokoh “saya” membakar rumahnya sendiri.

Alur yang digunakan dalam cerita ini begitu padat. Alur padat adalah cerita yang disajikan secara cepat, peristiwa terjadi secara susul menyusul dengan cepat dan terjalin erat, sehingga apabila ada salah satu cerita yang dihilangkan maka cerita tersebut tidak dapat dipahami hubungan sebab akibatnya. (Burhan, 2012).

Menggunakan alur apapun adalah seutuhnya kewenangan penulis. Penulis dengan semua kemampuannya bisa saja memilih alur yang menarik tergantung dari sudut mana ia mengembangkan ceritanya. Namun, setiap alur yang dipilih tentu akan memunculkan tantangan sendiri. Sebagai contoh, jika penulis ingin menggunakan alur flashback, atau alur mundur, tantangan yang dihadapi adalah menampatkan tanda waktu yang tepat agar cerita yang dibangun jelas, mana yang cerita yang terjadi pada masa lalu, dan mana cerita yang terjadi saat ini.

Begitu juga dengan menggunakan alur padat ini. Tantangan yang dihadapi jika menggunakan alur ini adalah seringkali penulis terjebak dalam beberapa peristiwa penting yang hanya dianggap sebagai pelengkap demi merunutkan jalan cerita. Dalam cerpen “Pulang”, paling tidak ada beberapa peristiwa penting yang dapat dikembangkan menjadi beberapa cerita lagi.

Pertama, tertangkapnya tokoh “saya” dan kehidupannya dalam jeruji besi. Peristiwa ini bisa saja dikembangkan menjadi sebuah cerpen lagi. Dengan sudut pandang lain, kehidupan di dalam jeruji besi bisa saja dikemas menjadi sebuah cerita yang menarik dan mungkin akan mengandung pesan-pesan moral yang lebih berharga. Namun dalam cerpen “Pulang”, penulis sengaja melipat kejadian ini, menyimpannya, dan melanjutkan pada rentetan cerita berikutnya. “Saya tertangkap. Hari-hari selanjutnya saya habiskan dengan mendekam di balik jeruji besi.. Habis.

Peristiwa berikutnya yang juga bisa dikembangkan menjadi cerita lain dan hanya dianggap pelengkap cerita dalam cerpen ini adalah pemotongan masa tahanan karena adanya pandemi virus corona. “Saya baru saja bebas, mendapatkan pemotongan masa penahanan dari pemerintah dikarenakan virus corona”. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan virus ini sangat mempengaruhi semua tatanan kehidupan saat ini, baik aspek sosial, budaya, ekonomi bahkan kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah sekalipun turut dipengaruhi oleh pandemi ini. Hal ini bagi penulis cerpen bisa jadi menjadi dasar untuk mengembangkan ceritanya. Tentu, cerita yang dimaksud adalah cerita hasil perenungan atas kejadian-kejadian atau hal-al yang menyangkut hidup selama pandemi ini.

Di sisi lain, pada akhir cerita, cerpen ini mengangkat peristiwa tentang pandangan masyarakat yang sulit menerima mantan narapidana untuk kembali ke dalam lingkungan sosialnya. Hal ini diwakili oleh tokoh si istri yang tidak mau menerima kehadiran “saya” lagi. “Mas, saya ingin kita berpisah. Saya tidak ingin bersuamikan mantan narapidana.” Tema tentang penerimaan masyarakat terhadap mantan narapidana sudah banyak diangkat oleh penulis-penulis sebelumnya. Sebagai contoh, Yusrizal KW, penulis nasional dari Sumbar, pernah mengangkat cerita dengan tema mantan narapidana dalam cerpennya yang berjudul “Pisau” dan dimuat Kompas tahun 2005. Dalam cerpen tersebut, diceritakan tentang kehidupan mantan narapidana ditengah masyarakat, yang tentu saja dengan apik diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Ceritanya diawali oleh satu kejadian saja, saat si mantan narapidana mewajibkan tokoh “saya” yang baru pindah ke daerah itu untuk mengasah pisaunya pada si mantan narapidana. Tidak ada peristiwa lain yang menyertai cerita dalam cerpen tersebut. Hanya terfokus pada peristiwa tersebut.

Dari pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa seyogianya, sebuah cerpen hanya mengangkat sebuah peristiwa dan fokus terhadap peristiwa tersebut. Penggunaan alur padat -yang mungkin bertujuan untuk memperpendek cerita- dalam cerpen “Pulang” ini barangkali perlu dipertimbangkan lagi agar cerita tidak memuat banyak peristiwa yang pada dasarnya bisa berdiri sendiri sebagai sebuah cerita lain. Sebuah peristiwa bisa saja menjadi sebuah cerita yang baik jika dibahas dengan alur yang tepat. Selain itu, sebuah cerpen akan menghasilkan nilai tersendiri jika ia dibuat dengan hasil perenungan yang intens tentang sebuah peristiwa yang ingin diangkat dalam cerpen tersebut. Sehingga pada ujungnya, cerita yang dihasilkan akan tetap fokus pada satu peristiwa dengan mengandung nilai-nilai kemanusiaan hasil dari perenungan tersebut.

Akhir kata, selamat kepada Abdurrahman yang telah menelurkan sebuah cerpen yang menarik ini. Teruslah berproses untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Bukankah kata orang proses tidak akan mengkhianati hasil?

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *