Palli-Palli

Cerpen: Elly Delfia

Di tengah salju halus yang berjatuhan, aku berlari mengikuti Anton dan Rida. Kami menuju kereta bawah tanah yang tidak jauh dari apartemenku. Apartemen yang terletak sekitar 700 meter di atas stasiun kereta bawah tanah bernama Namsanyok. Namsan nama tempat dan yok artinya stasiun. Stasiun bernomor 132 juga terletak tepat di samping kanan Toserba Daisoo yang terkenal dengan barang-barang harga terjangkau. Hari itu, Anton dan Rida akan mengajakku menemui beberapa orang Indonesia yang ada di Kota Busan. Anton dan Rida, pasangan suami istri dan teman Indonesia-ku yang sudah lama tinggal Korea. Ia sudah sangat berpengalaman dan paham semua tentang negara ini.

Palli-palli!

Seorang nenek-nenek berlari sambil mengucapkan kata itu. Ia menyenggol tubuhku sampai miring-miring  dan hampir terjatuh.

“Nenek itu bicara apa?”,tanyaku pada Rida. Waktu berangkat ke sini, aku cuma bermodal bahasa Korea annyeonghaseyo dan khamsahabnida.

“Palli. Palli artinya cepat-cepat,” jawab Rida.

“Oh…”

“Di sini, nenek-nenek biasa seperti itu. Semua ingin berlari dan ingin cepat-cepat. Nenek-nenek juga masih kuat berlari. Kau harus hati-hati dekat halmoni.“ lanjut Rida sedikit geli melihat aku yang kaget-kaget.

Halmoni artinya apa? “

Halmoni itu nenek dalam bahasa Korea,”tambah Anton.

“Oh.. Baik. Lain kali, aku akan lebih hati-hati.”

Aku belum selesai dengan kagetku. Kami langsung masuk kereta bawah tanah. Cepat-cepat kuraih handlegrip atau pegangan tangan yang berjuluran dari langit-langit kereta bawah tanah. Pegangan tangan itu sebuah bukti keramahan layanan transportasi publik di sini. Kalau tidak ada pegangan tangan, aku pasti sudah kehilangan keseimbangan lagi jika disenggol nenek-nenek. Kagetku bercampur-aduk dengan udara dingin yang membuat bibir terasa beku. Negara ini menyambutku dengan rasa kaget yang bertambah-tambah setiap hari setelah hampir satu bulan hidup di sini.

Serupa setrum-setrum kecil, pikiran dan tubuhku terkaget-kaget mendapati kenyataan ini. Aku tak menyangka para halmoni masih sehat dan kuat berlari pada umur mendekati 70-an. Berbeda dengan nenek-nenek di Indonesia yang rata-rata sudah tidak kuat bergerak dan lebih banyak duduk di kursi roda pada umur yang sama. Kata Rida, halmoni di Korea masih kuat berjalan jauh, naik gunung, dan berolahraga di taman-taman kota. Satu dua orang tersenyum kepadaku. Sesekali, mereka mengomentari hijab penutup. kepalaku.

Yeppen. Nomu yeppoda.”

Artinya, lebih kurang, “Kamu cantik dengan hijab itu.”

Memang, aku punya beberapa hijab dengan warna pastel, biru muda, merah muda, maroon, coklat muda, dan selalu ku-matching-kan dengan warna baju saat mengenakannya. Alhasil, warna-warna hijab yang lembut itu membuat mereka suka, bahkan beberapa temanku juga pernah jatuh cinta pada warna-warna hijabku, bahkan itu sampai mengubah persepsi mereka tentang Islam.

“Your hijab always matching with your coat. You are looking adorable. Islam is different in you.”

Temanku dari Myanmar dan Rusia pernah berkata seperti itu. Aku tersenyum dan berterima kasih atas pujian-pujian kecil yang tidak membuatku lupa diri. Pujian yang cukup mengangatkan hati pada musim dingin. Aku tidak dengan sengaja melakukannya. Itu adalah efek dari kesukaanku untuk menghadirkan keindahan dan kedamaian dalam caraku menjalankan agama.

***

Palli-palli.
Lee Su Bin berteriak pada Kim Yu Mi. Mereka berlari sampai terengah-engah. Mereka tidak ingin kudahului masuk kelas. Aku memacu langkah secepat mungkin. Aku tidak terbiasa berlari seperti mereka. Aku hanya mempercepat langkah. Aku juga belum terlambat. Jarum jam masih menunjukkan angka 08.55. Masih ada 5 menit lagi sebelum kelas dimulai. Aku masuk dan duduk menghadap ke arah mereka. Sebagian besar mahasiswa sudah duduk di dalam kelas. Terlambat adalah hal yang tidak biasa di sini. Mereka belajar keras menghargai waktu sama seperti kerasnya mereka belajar untuk masuk dan lulus dari universitas.

“Selamat pagi semuanya. Apa kabar hari ini?”
“Selamat pagi Bu. Kabar baik”, jawab mereka serentak.
“Sekarang, topik kita mengenai kebiasaan (habbit). Coba jelaskan mengapa orang-orang di sini selalu berlari dan palli-palli?”

Semua mahasiswa terdiam. Agaknya, mereka mengerti perintah yang kuberikan, tapi  butuh berpikir untuk menjawab. Semua diam sampai dua menit telah berlalu.

“Saya Bu.” Tiba-tiba, salah seorang mahasiswa laki-laki mengacungkan tangan dari sudut kiri kelas. Di mejanya, terlihat sekotak susu cair putih dan sepotong roti. Barangkali, ia belum sempat sarapan.

“Ya. Silakan.”

“Terima kasih. Saya Han. Saya pikir kami harus berlari dan palli-palli agar bisa membuat negara ini terus maju dan berkembang.”

“Ya. Kami sudah terbiasa seperti ini. Tidak ada waktu untuk santai.”

“Benar. Saya sudah punya jadwal belajar sampai jam 5 sore. Setelah itu, saya juga harus albaite atau bekerja paruh waktu sampai jam 12 malam. Keesokan harinya, saya harus kuliah lagi. Saya sangat sibuk dan harus palli-palli.”

“Saya juga harus palli-palli dan belajar di perpustakaan sampai jam 10 malam agar dapat nilai bagus dan dapat beasiswa.”

“Saya juga harus belajar keras dan palli-palli agar dapat nilai bagus dan dapat hadiah berlibur ke luar negeri dari orang tua.”

Begitu jawaban selanjutnya sambung-menyambung dengan alasan tak jauh berbeda. Intinya tentang visi, misi, dan mimpi yang ingin mereka capai. Itu yang membuat mereka selalu berlari dan palli-palli. Ingatanku melayang jauh ke Indonesia pada mahasiswa-mahasiswa yang kutinggalkan untuk sementara waktu. Adakah mereka juga sedang memikirkan negaranya dan punya banyak mimpi tentang masa depan?

Selama menjadi dosen tamu di sini, aku tampaknya akan menemukan kejutan-kejutan lain di antara orang-orang yang berlari dan palli-palli. Keramahan dan kesibukan saling berkejaran. Modernitas dan tradisionalitas saling berhimpitan. Di tengah orang-orang yang berlari dan palli-palli, kusaksikan perkembangan teknologi, plastic surgery, dan juga segala hal yang menyentuh hati, seperti keramahan dan penghormatan pada guru. Dari lantai empat apartemen tempat tinggalku, sering kusaksikan para gadis yang palli-palli dan berlari dengan sepatu hak tinggi. Mungkin mereka kesakitan, tetapi mereka harus berlari untuk menggapai mimpi. Mereka harus belajar keras, bahkan bekerja pada malam hari di cafe-cafe, restoran, toko roti, dan di mall-mall di kota ini.

***

Keluar dari kereta bawah tanah, kami sampai di Pantai Haeundae, tempat janji bertemu dengan beberapa teman Indonesia. Aku, Rida, dan Anton kembali melangkah di bawah butiran salju halus yang masih berjatuhan. Salju di kota ini tidak selebat di daerah-daerah lain di sekitar Ibu Kota, Seoul karena kota ini adalah kota pantai dan cuacanya lebih hangat.  Walaupun begitu, butiran es mungil tetap terasa dingin saat mendarat di pipiku. Aku merabanya sebelum ia menghilang. Aku benar-benar ingin merasakan keberadaannya. Aku menikmati sensasi es yang berjatuhan sambil menikmati kejutan-kejutan yang kualami sampai di sini. Aku ingin menatapnya lebih lama saat ia mendarat di pipiku, menempel di coat-ku, dan jatuh di telapak tanganku sembari menyaksikan orang-orang yang berlari dan palli-palli.

Korea Selatan 2018-Padang 2020


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *