Menulis Cinta
Tak tuli hati berkata
Aksara terangkai makna
Lisan kelu berujar asa
Hati rindu syahdu bahagia
Munajat jiwa ya Rabbul’izzati
Belajar makna cinta sejati
Membangun cinta hakiki
Berbuah pahala firdausi
Menulis cinta suci ridho-Mu
Mengharap ampunan ghafur-Mu
Menuju berkumpul di syurga-Mu
Mengharap ampunan rahmat-Mu
Padang, 8 Desember 2015
Keinginan
Waktu berlari tak kenal kompromi
Masa muda pasti akan pergi
Syahdu hangat rindu menanti
Usia dewasa harap sukses diri
Angin sesal sering mendera
Kala usia senja di depan mata
Ruang jiwa ringkih penuh noda
Digulung lalai tikar nestapa
Laju nakhoda lurus indah
Mengarungi samudra susah payah
Keinginan tekad jadi mujahadah
Mereguk asa memeluk berkah
Rindu berbalut harap wangi syurga
Keinginan harap akhirat bahgia
Arungi fana dunia ikhlas ceria
Suka cita kelak di firdaus-Nya
Padang, 2 Januari 2015
Rintihan Masjid
Takbir menyeru kita setiap waktu
Memanggil muslim mengadu
Bersujud syukur ke haribaan-Mu
Mengharap ridho dan rahmat-Mu
Sudahkah kita melakukannya?
Rintihan mesjid terkadang ada
Mesjid rumah Allah tercinta
Banyak umat abai dan lupa
Bogor, 30 Mei 2018
Ali Usman, S.S., M.Pd. lahir di Padang, 25 Februari 1982. Memiliki satu istri dan empat orang mujahid dan mujahidah. Sehari-hari bertugas sebagai Guru Bahasa Indonesia di SMP Perguruan Islam Ar Risalah (Islamic Boarding School) Kota Padang Sumatera Barat. Pernah beberapa kali terpilih sebagai kepala sekolah berprestasi tingkat Kota Padang dan Provinsi Sumatera Barat.
Refleksi Diri dengan Puisi Sederhana

Oleh: Ragdi F. Daye
(Ketua FLP Sumbar & Penulis Buku
Kumpulan Puisi Esok yang Selalu Kemarin)
Angin sesal sering mendera
Kala usia senja di depan mata
Tidak mudah menulis puisi, apalagi puisi yang tampak sederhana; dapat dibaca dengan mudah, dirasakan isinya, ditangkap maknanya, dan dinikmati keindahannya, meskipun sulit untuk diungkapkan seperti apa sesungguhnya keindahan yang sederhana itu. Contohnya puisi pendek Sapardi Djoko Damono yang legendaris ini: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Tidak salah bila Steve Jobs mengatakan “Membuat hal menjadi rumit adalah mudah, tapi membuat hal jadi sederhana adalah sulit.” Puisi adalah salah satu hal yang sederhana namun rumit.
Pada Kreatika edisi perdana di tahun 2021 ini, kami pilihkan tiga buah puisi dari Ali Usman, Bapak Kepala Sekolah berprestasi Sumatera Barat yang sangat rajin menulis dan sedang menyiapkan penerbitan buku kumpulan puisi tunggalnya berjudul “Mengukir Sejarah”. Puisi-puisi tersebut berjudul “Menulis Cinta”, “Keinginan”, dan “Rintihan Masjid”.
Kekuatan utama puisi-puisi Ali terletak pada kesamaan bunyi yang menjadi perhatian khusus sang penulis. Setiap bait memiliki rima akhir yang sama pada setiap barisnya. Usaha ini memerlukan kejelian dan ketajaman intuisi dalam memilih diksi agar puisi tidak terjerembap menjadi teks yang hanya berasyik-masyuk dalam penyamaan bunyi tanpa koherensi makna. Coba kita lihat puisi pertama ini: Tak tuli hati berkata/ Aksara terangkai makna/ Lisan kelu berujar asa/ Hati rindu syahdu bahagia. Bentuk puisi ini merujuk ke format puisi lama Melayu, syair, yang empat barisnya berima a-a-a-a. Contohnya “Syair Abdul Muluk” berikut: Berhentilah kisah raja Hindustan/ Tersebutlah pula suatu perkataan/ Abdul Hamid Syah Paduka Sultan/ Duduklah Baginda bersuka-sukaan// Abdul Muluk putera Baginda/ Besarlah sudah bangsa muda/ Cantik menjelis usulnya syahda/ Tiga belas tahun umurnya ada// Parasnya elok amat sempurna/ Petak majelis bijak laksana/ Memberi hati bimbang gulana/ Kasih kepadanya mulia dan hina (dalam Ikram, 1991).
Gaya pengulangan bunyi akhir baris ini juga diulang Ali pada puisi kedua dan ketiga. Kesamaan bunyi ‘ah’ seperti ini: Laju nakhoda lurus indah/ Mengarungi samudra susah payah/ Keinginan tekad jadi mujahadah/ Mereguk asa memeluk berkah. Pengulangan bunyi ‘u’ pada bait yang lain: Takbir menyeru kita setiap waktu/ Memanggil muslim mengadu/ Bersujud syukur ke haribaan-Mu/ Mengharap ridho dan rahmat-Mu. Pengulangan bunyi yang sama membuat puisi menjadi indah dan enak dibaca. Namun, ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan ketika memilih kata dalam puisi, seperti pertimbangan makna (apakah kuat atau tidak), keselarasan rima dan irama, serta kedudukan kata tersebut di tengah kata-kata lainnya. Dalam menulis puisi, kita mesti menimbang-nimbang kata mana yang memiliki daya yang lebih kuat (Aspahani, 2018).
Supaya tak sekadar penarik, kesamaan bunyi juga disertai dengan pemilihan kata yang tepat sehingga membangun keutuhan imaji, adanya pertalian logika, dan tentunya kandungan makna. Puisi-puisi klasik yang memiliki persamaan bunyi tertata dengan bagian pengantar dan isi cenderung memilih kata dalam kelompok wacana yang sama sehingga tetap mempunyai kejernihan logika. Di samping itu, selain keindahan bunyi, pesan atau amanat yang berisi nilai-nilai pelajaran kehidupan juga menjadi bagian tak terlepaskan dari puisi klasik. Nilai-nilai tersebut hadir berupa norma sosial, ajaran adat budaya, dan ajaran agama.
Sebagai penutup, mari kita baca sebuah puisi reflektif Sutan Takdir Alisjahbana berjudul “Air Mata” ini:
Ngalir, ‘ngalirlah air mata,
Aku tiada akan ‘nahanmu.
Apa gunanya aku halangi,
Engkau ‘ngalirkan penuh kalbuku.
Seperti air jernih memancar
Dari celah gunung rimbun,
Seperti hujan sejuk gugur
Dari mega berat mengandung
Ngalirlah, wahai air mata
Engkau pun mendapat hakmu
Dari Chalik yang satu.
Ngalir, ‘ngalirlah air mata,
Aku hendak merasa nikmat
Panasmu ‘ngalir pada pipiku.
20 April 1935
Tidak mudah menulis puisi, apalagi puisi yang tampak sederhana. Mari terus berlatih!
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.
Tinggalkan Balasan