Cerpen: Amalia Aris Saraswati
Kalender masih Agustus, namun dua pekan terakhir hujan tak dapat lagi dibujuk. Mestinya petani kakao masih menghamparkan biji-biji kakaonya di halaman, pun petani gambir. Hari masih pukul empat belas. Namun, hamparan biji kakao dan gambir sudah lenyap dari halaman lantaran gerimis mulai menciumi permukaan bumi.
Jarak rumah dari mataku masih sekitar lima kilometer mengular tanjakan di depan. Jika kupaksakan menerabas hujan, aku takut buku-bukuku basah. Jika buku-bukuku basah, esok hari aku tak dapat mencatat pelajaran di sekolah, atau parahnya tinta-tinta pena yang tergurat di dalamnya akan luntur. Soal demam, itu urusan nomor dua. Nomor tiganya seragam basah. Nomor satunya jelas menyelamatkan buku-buku pelajaranku.
Ada sebuah gubuk bongkok yang kesepian, aku menepi dan berteduh di berandanya. Sepedaku di luar, kedinginan. Sepeda Rally Robinson made in England tahun 1940. Benda yang sudah bersamaku sejak aku sekolah dasar, sepeda tua warisan kakekku. Satu-satunya harta yang berharga di keluargaku. Ayah percayakan sepeda tua itu untuk menemaniku menuntut ilmu. Ah, Ayah. Sebuah sebutan yang membuatku selalu ingin dipeluk. Kata yang selalu membuat mataku mengembun.
Tatapanku menelisik ke jajaran pepohonan damar di seberang beranda. Hujan semakin deras. Bulir-bulir hujan merayapi tubuh-tubuh damar yang kokoh. Angin menebarkan aroma Aghatis dammara yang merasuk ke relung jiwa yang lelah. Lelah, namun bibirku masih mampu tersenyum. Senyum penuh syukur. Di keluargaku, hanya aku yang dapat menikmati duduk di bangku sekolah. Dari sekolah dasar hingga menengah atas. Sebentar lagi, aku akan hengkang dari sana dan terbang ke Jakarta untuk menjemput impian sekolah setinggi-tingginya.
Sesuatu mengusik kenyamanan meresapi simfoni hujan di atas jalanan tanah latosol yang merah kecoklatan. Dedaunan damar yang berjatuhan telah ringkih dan tak kuasa lagi melekat di ranting-rantingnya. Setiap daun yang jatuh tak pernah luput dari kehendak Yang Maha Kuasa. Ada aroma hujan yang menguar di udara, aroma wangi damar, dan aroma tanah yang bersenyawa dengan hujan. Aku begitu menikmati momen hujan dan aroma tanahnya, petrichor.
Kata para pembual syair, petrichor selalu membuatnya terhisap ke dalam kenangan yang tak dapat membuatnya beranjak dari masa lalu. Kudengar dari para pemabuk cinta, petrichor adalah aroma yang paling membuatnya rindu saat-saat ia jatuh cinta. Dari kajian agroklimatologi, biasanya hujan memiliki kadar asam pH 6. Air hujan dengan pH di bawah 5,6 dianggap hujan asam. Banyak orang menganggap bahwa bau yang tercium pada saat hujan dianggap wangi atau menyenangkan. Sumber dari bau ini adalah petrichor, minyak atsiri yang diproduksi oleh tumbuhan. Kemudian diserap oleh batuan dan tanah. Kemudian dilepas ke udara pada saat hujan.
Terserah orang-orang itu menganggap apa arti petrichor dalam hidup mereka. Namun, bagi lelaki hujan yang telah mengecap pahit sejak mata pertama melihat dunia, petrichor membuatku gelisah. Petrichor berbau amis darah segar, yang bermandikan bulir-bulir presipitasi. Tragedi yang mengguncang jiwa rapuh bocah enam tahun. Sudah belasan tahun berlalu, setiap aroma petrichor menguar ke hidungnya, seakan amis darah yang mengalir deras itu tak mau luput darinya. Selanjutnya, air mataku yang kemudian menghapus jejak-jejak gambar hitam putih tragedi itu dalam kepalaku. Aku begitu jatuh cinta, lalu kehilangan, sendirian, dan selalu ingin dipeluk. Kristal cair mengaliri pipi penuh debu.
***
Zul menggamit tangan ayahnya keluar gubuk. Wahid membonceng anaknya dengan sepeda Rally Robinson made in England buatan tahun 1940. Jalanan menurun Bukit Gentawangi membuat Zul seakan menerabas awan berlapis-lapis dengan cepat. Kedua tangannya direntangkan dan lembar puisinya dibiarkan berkibar-kibar.
Wahid menggandeng tangan mungil putranya berjalan di antara semak yang setinggi lutut. Di hadapannya, kini ada pusara almarhumah wanita yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Zul mendekati pusara ibunya dan mulai bercerita tentang sekolahnya yang menyenangkan di sekolah dasar hingga puisi yang dapat nilai 95 dari gurunya.
Tiga orang pria bertubuh besar bertopeng mengintai dari balik rumpun bambu pemakaman. Sedari Wahid keluar rumah, pria-pria itu telah mengikutinya dan mengintai setiap gerak-geriknya. Saat Wahid benar-benar lengah, pria berkulit hitam membekuk Wahid dari belakang dan mengunci kedua lengannya ke punggung. Zul yang belum usai menceritakan puisinya tak sempat waspada dibekap pria yang kulitnya lebih cerah. Sementara itu, orang dengan pakaian rapi seperti orang kaya, tersenyum remeh memandangi Wahid dan putranya. Keduanya meronta namun tak berhasil melepaskan diri dari cengkraman pria asing itu.
“Jadi inilah saksi kunci pembakaran perkebunan gambir di Genta Jaya? Cih!” Nada pria baju rapi itu mengejek Wahid yang kelihatan jelek, hanya buruh kasar di PT Genta Jaya, perusahaan kakao di Gentawangi. Mata Zul ditutup tangan kasar pria itu. Mulutnya dibekap. Ia tak mampu berteriak meminta bantuan. Ia hanya bisa meronta-ronta yang membuatnya makin erat dibekap.
“Saya hanya tak sengaja melintas saat orang perusahaan Anda membakar lahan,” iba Wahid. Pria berkulit cerah yang tampak seperti seorang bos tak terima.
Kasus kebakaran perkebunan gambir PT. Genta Jaya yang diduga disengaja karena penolakan perusahaan tersebut menjual lahan untuk pembangunan proyek agrowisata dan hotel oleh sebuah perusahaan dari luar kota.
“Kau bisa membuat aku masuk jeruji besi, ‘kecoa’! Habisi ‘kecoa’ ini!” perintah bos pada anak buahnya.
Dua preman itu melancarkan aksinya. Dengan membabi buta, seorang berkumis lebat menyabetkan golok tajamnya ke hampir seluruh tubuh Wahid. Kawannya yang hitam gemuk berminyak-minyak menusuk abdomen hingga meninggalkan sayatan lebar. Zul mendengar suara benda tajam yang diayunkan mencabik daging dan tulang belulang, suara ayahnya mengiba dan mengerang menahan rasa sakit. Bocah itu ketakutan. Ia memanggil ayahnya dalam suara tertahan, mulutnya masih dibekap bos kejam itu. Setelah Wahid dipastikan tumbang meregang nyawa, mereka semua kembali mengenakan topeng dan melarikan diri. Awan abu-abu mengapung berat di langit Gentawangi. Titik-titik air tumpah darinya. Zul menangis histeris melihat ayahnya sudah tertelungkup bersimbah darah. Perasaannya begitu hancur melihat satu-satunya keluarga yang dimilikinya juga telah kembali ke Sang Pencipta.
“Akan kuadukan kalian pada Allah!” pekiknya memaki pembunuh ayahnya.
Hujan menderas di tanah pemakaman yang lengang. Tanah menguarkan aroma khas saat hujan yang selalu ia sukai. Bersama ayahnya, ia menikmati teh di beranda dan menikmati aroma tanah yang basah oleh hujan, yang saat sekolah menengah nanti ia tahu bahwa aroma itu adalah petrichor. Di bawah hujan yang tak lagi sama, aroma petrichor yang selalu ia sukai bersenyawa dengan aroma amis darah segar milik tubuh orang tercintanya. Sejak hari itu, setiap hujan dan tanahnya menguarkan bau khasnya. Lelaki pendiam itu menangis. Teringat tragedi mengerikan yang menimpa ayahnya. Setiap petrichor di hidupnya selalu bercampur dengan bau amis darah.
***
Hujan sudah reda, menyisakan gerimis tipis berlapis-lapis. Seseorang yang tak asing bagiku melintas cepat di jalanan dengan sepeda Rally Robinson made in England tahun 1940. Aku terkejut.
“Ayah!” seruku, pada lelaki yang barusan melintas di jalan depan gubuk tempatku berteduh. Namun, sepeda Rally Robinson itu masih di muka beranda, kedinginan.
*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian Unand dan Anggota FLP Sumbar
Tinggalkan Balasan