Pulang

Kuusap benda pipih yang sedang dalam genggaman. Setelah menekan tombol yang tertera pada aplikasi berwarna hijau, terdengar nada panggilan keluar.
“Assalamualaikum, Nak. Apa kabarmu?” kulihat ibu di seberang.
“Waalaikumsalam, Bu. Alhamdulillah sehat,” ujarku sambil memperbaiki posisi hijab yang sedikit berantakan.
“Bagaimana dengan cucu-cucu, Ibu. Adakah mereka sehat?” ujar Ibu.
Aku mengangguk mantap.
“Mereka sedang les bahasa Inggris, Bu,” jawabku bangga.
“Ibu sudah makan?” tanyaku.
“Udah. Ibu masak sambal terasi. Andai saja kamu ada di sini, pasti makanmu lahap Rum,” sahut ibu dengan raut wajah sedih yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
Aku mulai hanyut oleh suasana. Bagaimanapun, aku rindu pada ibu. Rindu akan masakan lezatnya. Rindu akan cerita-cerita masa kecilku dan segudang alasan rindu lainnya. Namun, apa daya. Badanku sudah tergadai di rantau orang. Aku menikah dengan lelaki dari pulau seberang. Sejak menikah, bisa dihitung dengan jari kepulanganku ke kampung halaman. Aku sibuk dengan beragam aktivitas sebagai karyawan di salah satu perusahaan. Sementara itu, suamiku yang berstatus sebagai seorang dosen. Hampir seluruh waktunya berkutat dengan dunia kampus. Setiap kali ingat ibu, aku selalu menyempatkan diri untuk video call meskipun hanya sebentar. Sejak kepergian bapak, ibu tinggal sendirian di rumah. Sementara kakak tertuaku Syarif, meski tinggal di komplek yang sama, ia juga jarang menengok ibu karena kesibukannya sebagai sopir angkut barang. Hanya Kak Minah, istri bang Syarif yang sesekali menjenguk ibu untuk memastikan apakah perempuan yang melahirkanku itu baik-baik saja.
“Kok kamu diam, Rum?” ujar ibu membuyarkan lamunanku.
“Ah…Tidak apa-apa, Bu. Rumi hanya membayangkan betapa lezatnya sambal terasi yang ibu bikin,” ujarku berbohong sambil melemparkan senyum. Ibu juga tersenyum. Tidak berapa lama, sambungan telepon kututup.
Setiap kali video call dengan ibu, ada rasa rindu yang membuncah. Rindu untuk pulang. Namun, pekerjaan selalu melenyapkan niatku untuk sekedar menjenguk tanah kelahiran. Kedua anakku, Aina dan Galih hanya dua kali melihat wajah neneknya secara langsung. Pertama, saat Galih berumur 5 tahun, ketika bapak meninggal dunia. Terakhir, ketika lebaran entah berapa tahun yang lalu aku lupa. Sekarang, mereka sudah dewasa. Aina sudah di bangku SMA, sementara Galih sudah kelas VII SMP. Selama ini, aku selalu mengajak kedua anakku untuk berkomunikasi dengan ibu melalui video call. Terkadang, kulihat mata ibu berkaca-kaca. Mungkin ia sangat rindu melihat cucunya yang sudah beranjak dewasa.
Setiap ada niat pulang, ada saja alasan yang menahan langkah kakiku. Terkadang, pekerjaan Mas Bayu yang menumpuk membuatku urung untuk pulang. Tak jarang, alasan sepele itu berasal dari kedua anakku yang tidak mau pulang meskipun sudah dibujuk berulang kali. Aku hanya pasrah. Pernah kutawarkan ibu untuk datang ke kota namun ia mengelak karena kondisi kesehatan yang sudah mulai menurun. Ibu tidak lagi kuat berjalan jauh karena asam uratnya sering kambuh. Aku maklum itu. Niatku untuk pulang hanya tinggal angan belaka.
“Kamu tidak kangen sama ibu, Rum?” ucap ibu minggu lalu yang masih terngiang hingga kini di kepalaku.
“Kangen lah, Bu, tapi harus gimana lagi. Ibu tidak usah bersedih. Sekarang, zaman sudah canggih. Ibu bisa video call Rumi kapan saja ibu mau. Ibu tidak hanya bisa mendengar suara Rumi, tetapi juga bisa melihat secara langsung wajahnya,” jawabku menghibur. Kuperhatikan mata ibu mulai mengembun. Aku tahu ibu sangat rindu.
“Ibu sehat-sehat saja itu sudah cukup buat Rumi senang,” lanjutku lagi. Ibu kembali tersenyum. Terlihat jelas beberapa garis terlukis di wajahnya. Guratan itu mengisyaratkan bahwa sudah panjang lika-liku kehidupan yang dilaluinya. Terkadang, setelah menelpon ibu aku ingin pulang. Namun setelah itu, hatiku kembali goyah.
Aku memiliki jabatan yang strategis di perusahaan tekstil. Hal itu yang membuatku sibuk bekerja. Setiap bulan, tak lupa kukirimi ibu uang. Tidak hanya itu, ibu juga sering kukirimkan pakaian, jilbab, sendal serta berbagai benda lainnya. Ibu tidak pernah kekurangan uang, bahkan berlimpah.
“Mi, minggu depan liburannya tidak di–cancel, kan?” ujar Galih membuyarkan lamunanku. Kutatap wajah ganteng putraku. Aku pun mengangguk. Aku sudah berjanji kepada Galih jika nilainya bagus, kami akan berlibur ke negeri ginseng, Korea. Ia sudah lama menginginkan liburan ke sana. Dengan berat hati, akhirnya aku mengambil cuti beberapa hari untuk pergi ke luar negeri. Begitu juga dengan Mas Bayu. Aina dan Galih selalu giat belajar karena mereka terbiasa diiming-imingi ke luar negeri jika memperoleh nilai yang bagus. Aku bangga dengan mereka. Banyak prestasi yang telah mereka toreh. Jika ke luar negeri, tak lupa ku-video call ibu. Aku ingin ibu tahu seperti apa negara luar yang belum bisa dikunjunginya. Terkadang, ada bulir bening menetes di pipi ibu.
“Ah…mungkin ibu terharu melihat aku yang sudah sukses dan bisa jalan-jalan ke luar negeri,” terkaku dalam hati.
***
“Mi…kok diam? Apa benar Mami tidak apa-apa?” ujar Aina kala aku sibuk menempelkan kain berisi es pada sendi yang terasa sakit. Raut kecemasan di wajahnya jelas tergambar pada layar pipih yang kugenggam. Aku tahu ia cemas melihat keadaanku. Asam uratku kambuh lagi. Aku merasa sangat terganggu ketika berjalan jika penyakit itu datang. Jika malam, rasa nyeri pada lututku sangat tak tertahankan. Persendianku rasanya panas. Di saat itulah, aku sangat merindukan kedua anakku. Sering aku meneteskan air mata menahan sakit sendirian tanpa siapa-siapa.
“Tak apa-apa Ain, tapi mami kangen,” ujarku dengan suara tertahan.
“Kapan-kapan jika ada waktu Ain pulang. Mami jaga kesehatan ya,” ujar Aina.
Aku mengangguk karena suaraku sudah tercekat. Tidak berapa lama sambungan telepon pun terputus. Aku menangis sejadi-jadinya. Melepaskan kerinduan yang kutahan setelah sekian tahun lamanya. Aku kangen mereka. Aina dan Galih, kedua anak yang kubesarkan dengan sepenuh hati. Sekarang, mereka sudah sukses. Tinggal di luar negeri dan memiliki keluarga sendiri di sana. Sementara aku? Asam urat telah menggerogoti tubuh rentaku. Gaya hidupku yang tidak sehat di masa muda telah menampakkan hasil. Ditambah lagi ibu juga pernah mengalaminya. Kata dokter, aku punya riwayat penyakit asam urat. Sekarang, aku tidak bisa kemana-mana. Aku hanya menatap iba wajah kedua anakku beserta cucu dan menantu lewat layar sentuh. Aku merasa jiwa ini sudah mati. Tidak ada lagi gairah menjalani hari. Mas Bayu telah pergi untuk selamanya lima tahun yang lalu.
Terkadang, aku merasa hidup sebatang kara. Meskipun dari segi materi aku berkecukupan, jiwaku merasa kekurangan. Aina dan Galih terlalu sibuk di negeri orang. Entah kapan mereka akan pulang. Sementara cucuku? Sudah tiga orang namun aku hanya mampu menatap mereka tanpa bisa berbicara sepatah kata. Sejak kecil, mereka sudah fasih berbahasa Inggris dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Hatiku perih. Terasa disayat-sayat sembilu. Teramat pedih. Punya cucu namun hanya bisa menatap saja. Kedua anakku sukses namun tidak bisa terjangkau raganya. Terkadang, aku berdoa berharap mereka kembali kecil seperti dulu lagi. Kemana-mana selalu bersama dan senantiasa bisa kupeluk kapanpun aku mau.
“Aina, Galih… Mami butuh ragamu Nak, bukan uangmu,” ujarku tergugu di sandaran sofa. Kusandarkan tubuh ringkih ini sambil menatap foto demi foto yang tersimpan di galeri HP. Cucuku begitu tampan dan cantik. Namun, entah kapan bisa kupeluk. Sekarang, hanya sepi yang selalu menyelimuti hari-hariku. Jika aku rindu, kucium dan kupeluk Hp tempat mereka bersemayam. Aku sering membawa benda pipih itu kemana pun aku pergi. Tidak hanya tidur, di saat menonton TV pun aku sering mencuri-curi pandang sekedar melepas rindu yang mendera. Sering rindu datang menyergapku secara tiba-tiba sama halnya dengan asam urat yang juga datang tiba-tiba.
Lebaran kemarin, aku memohon pada mereka untuk pulang. Sudah kusiapkan rendang kesukaan Aina dan Galih. Jauh-jauh hari kupesan daging sapi kualitas terbaik. Namun, mereka membatalkan niat pulang dan memilih ke Turki menghabiskan sisa lebaran. Saat video call, tangisku meledak. Bagaimana tidak. Mereka memilih ke negara lain ketimbang menjenguk aku, ibunya yang sudah renta. Foto-foto yang dikirim pun tidak lagi mengobati kerinduanku namun menjadi racun bagi pikiranku.
Sudah kuputuskan untuk tidak lagi menunggu mereka pulang. Aku tidak berharap lagi apakah nanti mereka hadir atau tidak di pemakamanku, seperti aku yang tidak sempat datang untuk melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya. Aku sudah berpesan kepada tetangga jika nanti ajal memanggil, jangan siksa jasadku dengan menunggu kehadiran mereka. Rindu telah meracuniku perlahan dan menggerogoti setiap inci pikiranku. Sekarang, aku sudah merasakan apa yang dulu ibu rasakan. Tiba-tiba, aku kangen ibu. Jauh lebih kangen dari sebelumnya. Mungkin sudah saatnya aku pulang menemui ibu di surga. Melepaskan rasa rindu dan memohon ampunannya. Di kala sendiri, aku selalu bertanya-tanya dalam hati. Apakah dengan menemui ibu, rinduku akan terobati dan rasa bersalahku akan hilang padanya?
Biodata Penulis
Yulfia Afaz, S.Pd dilahirkan di Harau, Kabupaten Lima Puluh. Saat ini, ia mengabdi di MTsN 2 Lima Puluh Kota sebagai guru bahasa Indonesia. Ia telah menerbitkan kumpulan cerpen “Racun dari Istri” (2019), Antalogi Puisi bersama peserta didik, “Malaikat yang Terlihat” (2020), novel “Impian Kartini” (2020), “Menulis Teks Eksposisi dengan Game Kabar Narsis” (2020). Ia juga kontributor gerakan menulis pantun nasihat 1000 guru ASEAN, pantun Nasihat Guru untuk Muridnya, dan pantun Mutiara Budaya Indonesia. Penulis dapat dihubungi via email yulviaafaz@gmail.com.
Cerpen “Pulang” Karya Yulfia Afaz dan Kisah Sedih Para Perantau

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Dosen UPN Veteran Jakarta dan Pengurus FLP Sumbar)
Rantau dan segala seluk-beluk persoalan yang ditimbulkan tidak pernah usang menjadi tema dalam karya sastra yang dilahirkan sastrawan-sastrawan Minangkabau. Tema-tema tentang merantau dan segala rindu dendam atas kampung halaman sudah menjadi topik cerita penulis-penulis dari negeri matriakat ini. Sebutlah beberapa judul karya sastra seperti Novel Merantau ke Deli karya HAMKA yang terbit pertama tahun 1941, Novel Anak Rantau (2015) karya Ahmad Fuadi, Novel Karena Mentua karya Nur Sutan Iskandar (terbit pertama kali tahun 1932), Novel Keadilan Ilahi karya Hamka (terbit pertama kali tahun 1938), Novel Panggilan Tanah Kelahiran karya Nurdin Yacub (1966), Novel Negeri Lima Menara karya Ahmad Fuadi ( 2009), dan (5) Novel Cindaku karya Azwar Sutan Malaka ( 2015).
Selain beberapa judul karya sastra tersebut, tentu banyak lagi novel, kumpulan cerita, dan bahkan puisi-puisi yang mengangkat persoalan merantau. Karya sastra dari penulis-penulis Minangkabau ini banyak bertemakan fenomena merantau karena sebagian besar masyarakat di Ranah Minang ini memang memilih rantau sebagai jalan pengembaraan hidup mereka. Aktivitas merantau ini bahkan menjadi suruhan oleh orang tua di Minangkabau kepada anak-anaknya.
“Karatau madang di hulu…
babuah babungo balun,
Karantau Bujang dahulu…
di rumah banguno balun.”
Armini Arbain, Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas menuliskan bahwa mamangan adat tersebut merupakan himbauan terhadap generasi muda Minangkabau untuk pergi merantau. Merantau bagi anak-anak Minangkabau, tidak hanya bagi laki-laki, tapi juga perempuan merupakan sebuah jalan untuk memperbaiki hidup menjadi lebih baik. Selain itu, merantau adalah sekolah kehidupan anak-anak Minangkabau untuk menimba pengetahuan dari negeri orang, baik di Nusantara maupun di belahan dunia lainnya.
Selain menjadi tema karya fiksi, budaya merantau dalam masyarakat Minangkabau juga telah banyak dibahas dan dipublikasikan. Wahyuni (2017) mengangkat budaya masyarakat Minangkabau dalam kajiannya “Menguak Budaya Matrilineal dalam Cerpen “Gadis Terindah”. Wahyuni mengungkapkan bahwa dalam budaya matrilineal terdapat suatu keharusan bagi laki-laki untuk pergi meninggalkan kampung halamannya yang dikenal dengan istilah merantau. Biasanya, msetelah berhasil di rantau orang, anak-anak Minang akan pulang membawa pencariannya itu untuk menambah harta kaumnya dengan menikahi gadis Minangkabau.
Armini Arbain dalam tulisannya berjudul “Merantau dan Filosofinya dalam Novel-Novel Indonesia Berlatar Minangkabau” yang dimuat dalam Jurnal Puitika terbitan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas tahun 2020 menyampaikan bahwa tradisi merantau tidak saja terlihat dalam realitas keseharian masyarakat Minangkabau, tetapi juga terekspresi dalam karya sastra (novel-novel) yang dikarang oleh pengarang yang berasal dari Minangkabau.
Lebih jauh Armini mengutip Damono (1979) yang menyampaikan bahwa apa yang diekpsresikan pengarang yang berasal dari Minangkabau ini tidak dapat dilepaskan dari kenyataan sosial yang ada di Minangkabau. Hal ini disebabkan seorang pengarang dilahirkan, dibesarkan, dan dipengaruhi oleh masyarakat yang melahirkan.
Selanjutnya, Armini juga menyitir pendapat Maman Mahayana (2007) yang mengatakan bahwa pengarang digelisahkan oleh dinamika dan berbagai benturan yang terjadi di tengah kehidupan sosial budaya masyarakatnya. Begitu pentingnya aktivitas merantau bagi orang Minangkabau sehingga menjadi kegelisahan bagi pengarang sehingga mereka ekspresikan melalui novelnya. Pada umumnya, tokoh-tokoh yang ada dalam novel yang dikarang oleh pengarang yang berasal dari Minangkabau (dari zaman Balai Pustaka sampai era reformasi) pergi merantau atau pernah hidup di rantau.
Kolom Kreatika edisi ini menayangkan sebuah cerpen berjudul “Pulang” Karya Yulfia Afaz, seorang Guru MTsN di Payakumbuh. Yulfia Afaz yang merupakan guru bahasa Indonesia ini kembali mengangkat tema merantau dalam cerpennya. Rantau yang menjadi tempat diri anak Minangkabau tergadai di negeri orang dikisahkan Yulfia dengan mengharukan. Rintihan mengharukan tentang kisah anak rantau dapat dilihat dari kutipan cerpennya berikut ini:
…Bagaimanapun aku rindu dengan ibu. Rindu akan masakan lezatnya, rindu akan cerita-cerita masa kecilku serta segudang alasan rindu lainnya. Namun apa daya. Badanku sudah tergadai di rantau orang. Aku menikah dengan lelaki dari pulau seberang… (Afaz, 2021).
Sebelum lebih jauh membahas tentang cerpen “Pulang” ini, lebih baik dilihat jalan ceritanya terlebih dahulu. Cerpen “Pulang” ditulis dalam sudut pandang orang pertama dimana tokoh utamanya bernama Rumi menceritakan kesedihannya karena tidak bisa pulang melihat ibunya. Rumi setelah menikah dengan laki-laki dari tanah seberang (begitu bahasa Yulfia) jarang sekali pulang kampung. Terakhir, dia pulang kampung sudah lima tahun yang lalu.
Rumi yang berprofesi sebagai karyawan di pabrik textil kariernya sedang naik daun. Suaminya yang merupakan seorang dosen pun sangat sibuk dengan pekerjaannya. Satu lagi hal yang membuat Rumi jarang pulang kampung adalah kedua anaknya Aina dan Galih yang tidak mau pulang ke kampung halaman Ibunya. Kedua anak metropolitan itu lebih memilih berlibur ke luar negeri daripada menengok neneknya di kampung.
Yulfia sangat piawai memanfaatkan alur cerita dalam cerpen ini. Setelah bercerita tentang dirinya yang tidak bisa pulang melihat Ibunya, dia yang hanya bisa video call saja, Yulfia membawa pembaca meloncat pada masa depan, di mana tokoh Rumi sendiri sudah menjadi perempuan tua. Rumi yang sudah ditinggal suaminya karena meninggal sejak lima tahun lalu. Ia mengalami nasib persis seperti ibunya dulu. Ia menanggung rindu ingin bertemu dengan anak-anak dan cucu, tapi anak dan cucunya lebih memilih merantau jauh ke luar negeri karena nasib mereka masing-masing.
Pada bagian kedua cerpen “Pulang” yang ditulis Yulfia ini, penulis menceritakan bagaimana dia (tokoh Rumi) hanya bisa video call dengan Aina anak perempuannya yang juga sudah memiliki anak. Aina dan Galih tinggal di luar negeri, anak-anak mereka atau cucu Rumi sudah sangat asing bagi Rumi. Cucu-cucunya itu sejak kecil berbahasa Inggris. Mereka tidak pandai berbahasa Indonesia.
Perasaan nelangsa seorang perempuan tua itu sangat menyentuh dalam tulisan Yulfia. Kesedihan seorang perempuan, seorang ibu bagi anak-anaknya dan seorang nenek bagi cucu-cucunya tak dapat terbayar dengan segala materi dunia. Uang yang berlimpah, barang-barang mewah yang dikirimi anak-anak dari rantau tidak bisa menggantikan kehadiran orang-orang yang dirindu itu.
Yulfia menutup cerpennya dengan sangat sedih. Ia menuliskan bagaimana rasa putus asa seorang perempuan tua menunggu kehadiran anak dan cucu yang setiap detik dirindukannya.
“Sudah kuputuskan untuk tidak lagi menunggu mereka pulang. Aku tidak berharap lagi apakah nanti mereka hadir atau tidak di pemakamanku, seperti aku yang tidak sempat datang untuk melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya. Aku sudah berpesan kepada tetangga, jika nanti ajal memanggil, jangan siksa jasadku dengan menunggu kehadiran mereka. Rindu telah meracuniku perlahan, menggerogoti setiap inci pikiranku…” (Afaz, 2021).
Begitulah petikan paragraf terakhir cerpen “Pulang” karya Yulfia Afaz. Kisah sedih perempuan yang tidak hanya dialami oleh Rumi dan Ibunya, tetapi juga menjadi perasaan kolektif perempuan Minangkabau yang ditinggalkan anak-anak mereka pergi merantau. Sukses atau tidak sukses seorang perantau sama-sama mengikat kakinya di tanah perantauannya. Jika ia sukses, kesuksesannya itu membuat dia sibuk sehingga membuat ia lupa jalan pulang. Jika ia gagal mengubah hidup di rantau, hal ini juga akan menjadi penghalang bagi perantau untuk pulang. Untuk apa pulang kampung kalau nasib masih tidak berubah. Begitulah, rantau seperti lumpur hidup yang menelan para perantau.
Catatan:
Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.
Tinggalkan Balasan