
Cerpen: Nengsih Sri Rahayu Putri
“Karpet, karpet, karpet….. murah meriah bisa digunakan sesuai kebutuhan,” lantunan suara penjual karpet keliling. Langkah demi langkah, ia kayuhkan untuk mencari rezeki demi sesuap nasi untuk ibunda dan adiknya di rumah. Ada niat baik yang tersimpan di lubuk hatinya yang dalam. Ia mengelilingi permukiman warga dengan meneriakkan.
“Karpet, karpet, karpet Buk, Pak, Kak.”
Ia berhenti di setiap ada warga yang berkumpul dan berharap ada yang mau meminang karpetnya hingga ia mampu membawa sebuah kertas yang bernama uang untuk memenuhi kehidupannya. Ia sudah berkeliling di bawah teriknya matahari. Cucuran keringat menjadi saksi bahwa kelelahan telah menghampirinya. Ia berhenti di sebuah pohon mangga milik warga untuk melepaskan penatnya sambil menyadarkan tubuhnya di batang pohon manga tersebut.
Tiba-tiba, ada seorang nenek menghampirinya.
“Berapa harga karpet ini, Nak?”
Penjual karpet tersebut terbangun lalu menghadap kepada nenek dengan senyuman manis.
“Yang mana Nek? Lihat-lihat aja dulu Nek yang mana yang Nenek suka.”
Penjual karpet itu membentangkan karpetnya di depan nenek tersebut.
“Yang warna merah ini.” Nenek itu memegang karpet itu sambil memperlihatkan kepada penjual karpet.
“Karpet warna merah ini Rp 150.000” ucap penjual karpet itu
“Mahal sekali, Rp120.000 saja kalau bisa saya ambil,” jawab nenek itu.
“Ya tipis sekali Nek. Naikin sedikit lagi ya Nek harganya dan saya yakin barang yang saya jual ini kualitasnya bagus Nek.”
Penjual karpet itu masih berusaha membujuk si nenek.
“Kalau mau Rp120.000,00, saya akan ambil kalau tidak saya pergi,” nenek itu ketus.
“Iya nek tidak apa-apa, karena nenek pembeli pertama saya dari tadi saya belum ada jual-beli maka saya silakan nenek ambil karpet ini dengan harga Rp120.000,00”
Penjual karpet itu melipat karpet yang sudah di pegang nenek tersebut.
“Baik saya ambil karpet ini, tapi uang saya masih di rumah. Kamu tunggu di sini saja saya jemput uang dulu.” nenek itu terus berjalan dengan tergesa-gesa.
“Rumah nenek dimana biarkan saya yang antar karpetnya,” ucap penjual karpet itu, tapi ia sudah tidak melihat nenek itu.
Penjual karpet itu masih menunggu nenek tersebut di tempat yang sama. Namun, nenek itu juga tidak menghampirinya. Dengan hati gelisah, penjual karpet itu mencari nenek tersebut hingga menanyakan ke orang-orang sekitar permukiman namun tidak ada yang mengenali beliau. Wajah kecewa menghampiri penjual karpet. Ia berharap hari ini bisa membawakan sesuap nasi untuk ibu dan adiknya, tapi apa yang terjadi ia selesai ditipu oleh nenek tua yang wajahnya sulit untuk ia ingat.
Langkah lambat ia kayuhkan menuju Rumah Allah. Ia meletakan barang dagangannya di samping tempat mengambil air wudhu. Ia masuk ke dalam masjid lalu menunaikan kewajibannya di depan Allah SWT. Cucuran air mata kembali membasahi pipi penjual karpet. Ia mencurahkan isi hati serta beban yang lagi ia rasakan kepada Sang Penciptanya. Ia berharap hari ini mampu memberikan sesuap nasi untuk adik dan ibunya di rumah namun yang terjadi adalah ia selesai ditipu oleh seorang nenek. Penjual karpet itu merasa kebinggungan mau cari uang di mana untuk membayar ganti rugi kepada bosnya karena ia sudah menghilangkan satu karpet.
Selesai berdoa penjual karpet tersebut kembali mengambil barang dagangannya. Saat mau meninggalkan rumahnya Allah tanpa ia sengaja melihat seorang kakek lagi kesulitan memasang bola lampu di kamar mandi laki-laki di bagian sebelah kanan masjid. Penjual karpet tersebut menghampiri kakek itu.
“Maaf Kek, bisa Kakek turun sekarang! Kelihatannya kakek kesulitan memasang bola lampunya biarkan saya saja yang naik ke atas untuk memasang bola lampunya.”
Si penjual karpet menawarkan diri untuk membantu kakek tersebut.
“Alhamdulilah, terima kasih anak muda,” kakek itu tersenyum sambil turun dari tangga secara perlahan-lahan agar tidak jatuh. Penjual karpet langsung naik ke atas untuk memasang bola lampu. Hasilnya bola lampu itu terpasang dengan baik hingga si penjual karpet turun dengan selamat.
“Terima kasih sekali lagi anak muda,” ucap seorang kakek yang sedang memindahkan anak tangga ke samping masjid.
“Sama-sama Kek. Saya pamit Kek,” penjual karpet itu meninggalkan kakek tua itu.
“Tunggu sebentar anak muda,”tegur kakek itu.
“Iya ada apa Kek? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya penjual karpet itu dengan wajah penuh tanda tanya.
“Jangan cepat-cepat pergi anak muda. Kebetulan saya ada makanan lebih yang disediakan istri saya. Daripada saya makan sendiri, lebih baik kamu temani saya makan. Kamu pasti belum makan kan? Ayolah duduk di sini. Kita makan bersama.”
“Alhamdulilah iya kek, terima kasih banyak kek,” penjual karpet itu duduk di samping kakek tua itu sambil membuka bungkusan nasi yang diberikan si kakek. Sambil makan bersama, si kakek bertanya kepada anak muda tersebut “Nak, tadi pada saat kamu salat kakek melihat kamu sangat sedih. Apa kamu ada masalah?” Tanya si kakek.
Anak muda itu hanya menjawab, “Saya baik-baik saja kakek. Hanya saja kelelahan akibat keliling kampung jualan,” jawab pejual karpet yang berusaha menutupi masalahnya.
“Oh, kamu jualan. Jualan apa?”, tanya kakek.
“Jualan karpet Kek,” jawab penjual karpet itu singkat.
“Kebetulan anak muda. Masjid ini masih kekurangan karpet. Boleh kakek lihat-lihat karpetnya?”
“Sangat boleh kek,” penjual karpet itu membentangkan karpetnya di depan kakek itu.
“Bagus-bagus karpet kamu. Saya boleh beli semua karpet kamu untuk tambahan karpet masjid.” Bahasa yang diungkapkan si kakek membuat air mata penjual karpet berlinang.
“Kakek serius?” Tanya penjual karpet.
“Saya serius. Kamu angkat karpetnya ke dalam masjid ya! Kita hitung berapa semuanya harga karpetmu.”
Penjual karpet itu membawa karpetnya ke dalam masjid dengan senang hati. Kelelahannya terbayar sudah hari ini di rumah Allah.
Biodata Penulis
Nengsih Sri Rahayu Putri tinggal di Api-api Pasar Baru, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia Universitas Negeri Padang ini juga penulis buku berjudul “Petualang Rasa”. Cerpen dan puisinya sudah dimuat di berbagai media online dan cetak. Anggota Komunitas Rumah Gerimis (generasi milenial menulis) dan KMD (kelas menulis daring) juga bergiat di Rumah Baca Pelopor 19.
Tinggalkan Balasan