![Dapur Muklis Talen, produsen dakak-dakak dan bungo durian di Nagari Batu Basa, Kabupaten Tanah Datar mulai berproduksi setelah diterpa kerugian akibat pandemi Covid-19. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/01/WhatsApp-Image-2021-01-26-at-19.59.26-1.jpeg)
Suasana yang sudah begitu lama tak terlihat di dapur milik Muklis Talen, warga Nagari Batu Basa, Kabupaten Tanah Datar. Dialah sosok yang dengan gigih mempertahankan usaha dakak-dakak dan bungo durian, cemilan tradisional khas daerah itu. Sejak pandemi Covid-19 meradang setahun terakhir, dia tak dapat berbuat banyak. Merugi, ya, seperti kebanyakan UMKM lainnya.
“Ini merupakan ujian yang sangat berat yang dirasakanya selama menjalani usaha. Namun berkat keyakinan, walaupun sedikit saya selalu membuat stok barang untuk mengisi langganan yang masih bertahan,” ujar Muklis Talen.
Pandemi memang menghantam bisnisnya. Dalam kondisi normal dia bisa menghabiskan bahan baku sampai 10 kg tepung dan menyerap 4 orang tenaga kerja lepas. Malang, selama pandemi hanya 2 kg tepung yang bisa diproduksi dengan 2 orang tenaga kerja.
“Itupun tidak setiap hari,” keluhnya.
Sekarang usaha nya sudah mulai bangkit lagi. Pesanan dari langganannya sudah mulai berdatangan. Berbekal bantuan tunai dari pemerintah, ia pun kembali menggerakkan roda produksinya.
“Alhamdulillah bantuan tunai pemerintah telah diterima dan sangat membantu sekali,” ungkap Muklis.
Di tempat terpisah, Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Kabupaten Tanah Datar, Lola Nasution membenarkan pahitnya kondisi yang dialami UMKM. Namun dia memastikan dukungan untuk pelaku usaha agar bisa bertahan.
“Mereka yang bertahan kini mulai melanjutkan usahanya,” terangnya.
Adanya bantuan tunai UMKM untuk memperkuat modal yang digulirkan pemerintah melalui Kementerian Koperasi, kata Lola, merupakan salah satu instrumen mendorong UMKM agar tidak menyerah.
“Menggeliatnya kembali UMKM di Tanah Datar memberikan angin positif kepada pemerataan pendapatan masyarakat di nagari. UMKM sangat banyak menyerap tenaga kerja, pembelian bahan baku, terutama sekali hasil pertanian. Ini akan memberikan dampak yang sangat luas kepada pendapatan masyarakat dan perputaran uang di nagari,” imbuh Lola Nasution. (Afrizaldi Noerdin)
Tinggalkan Balasan