Puisi-puisi Djoe HT Bagindo dan Ulasannya oleh Ragdi F. Daye

Pelarian

Berpuluh puluh derita
Melepaskan busur panahnya
Tak kuasa kutepis semuanya
Berlindung hanya dengan kelemahan diri
tak akan pernah selamatkan hati

Telah kucoba berlari
Berpuluh puluh waktu kulewati
Kusambangi semua sudut untuk bersembunyi

Ah
Aku lelah
Pelarian entah harus kubawa kemana
Bayangan itu selalu mengejar jiwa
hingga ke lubang lubang mimpi
Harus ke mana bersembunyi
Selain ke pangkuan-Mu hendak kuhempaskan diri.

Pariaman, 27 Januari 2021

 

Rumah Kita

Tidak besar
hanya tiga kamar saja
Satu untuk kita berdua
Kenangan dan cerita
kita pahat dan letakkan pada tiap ruangnya

Tak ada perkakas yang istimewa
Cukup dengan hati yang terima

Kau, aku, kita seperti pintu dan daunnya
Saling menggenggam dan menyangga
Membuka menyapa setiap yang tiba
Dalam ruangnya yang sederhana

Rumah kita,
Tak besar. Kecil saja
Tak ada lagi cerita kita pahat di sana
Hanya air mata melukis hari pada sudutnya
Dan aku tiang yang keropos dimakan usia.

Pariaman, 26 Januari 2021

 

Perjalanan Terakhir

Menapak jalan berbatu mendaki bukit derita
Gerimis menetes di atasnya. Bilamana harus berhenti
Sungkuplah kepala dengan bongkahan bongkahan beban
pada tengkorak kepala.

Menangislah, jika itu bisa membuat hatimu tenang
Katamu berbisik saat sesak menghimpit dada
dan kehidupan ditarik dari akarnya

Aku tak hendak menangisi
Karena mati bukanlah untuk di hindari
tapi sahid itu yang dinanti.

Menapaki jalan berbatu
Mendaki bukit derita
Kurapal semua wajah mereka
yang dulu hadir dalam tiap doa
Hingga sesak naik ke tenggorokan
dan tengkorak kepala
lalu diam dalam perjalanan pulang
ke hadapan Kasih yang tercinta.

Pariaman, 27 Januari 2021

 

Djoe Dt BagindoDjoe HT Bagindo  terlahir dengan nama Hendri Tanjung di Kabun Sunur, Padang Pariaman. Setelah menamatkan SLTA, ia sempat menimba ilmu di Fakultas Bahasa Sastra dan Seni (FBSS) UNP. Hobi menulis sejak SLTP namun tulisannya baru dipublikasikan sejak tergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumbar. Saat ini, penulis tinggal di kota kelahirannya sebagai pengajar di sebuah sekolah.

 


 

Lari kepada Puisi

Oleh:
Ragdi F. Daye

(Ketua FLP Sumbar; Penulis buku
kumpulan puisi
 Esok yang Selalu Kemarin)

 

Harus ke mana bersembunyi
Selain ke pangkuan-Mu hendak kuhempaskan diri.

Seorang teman dari teman saya, seorang polisi, berkomentar ketika membuka sebuah buku kumpulan puisi yang tergeletak di meja dekat kertas-kertas referensi makalah ilmiah saat kami berdiskusi tentang permasalahan trantibmas beberapa waktu lalu. “Kalau membaca ini, kita perlu dua kali. Sudah berulang kali pun tetap sulit dimengerti,” komentarnya setelah membaca sebait puisi.

“Baca saja,” sahut saya. “Puisi tak selalu harus dimengerti. Kadang cukup dirasakan. Tangkap emosinya. Kesannya. Getaran yang ditimbulkannya. Sudah, itu saja.”

Dia tidak mengiyakan, tidak pula membantah. Namun, saat diskusi selesai, dia minta izin untuk membawa buku itu agar bisa membacanya lagi. Saya persilakan dan membayangkan dirinya menggantung seragam cokelatnya di kusen, lalu membaca judul demi judul puisi sambil bersandar ke jendela. Barangkali, suatu waktu, ketika harus menembakkan sebutir peluru, akan ada sebait puisi yang singgah di pikirannya sehingga dia berpikir ulang untuk menarik pelatuk atau berkuat hati membidik sasaran—jika mesti.

Puisi memiliki dimensi refleksi ganda bagi penulis dan pembacanya. Seorang pembaca dapat terpantik imajinasinya untuk menyelami suatu realitas yang muncul sebagai efek kreatif puisi. Meski tidak sama persis dengan pengalaman yang melatari tulisan penyair, namun pembaca dapat masuk ke alam imaji yang terbangun dari diksi dan metafora. Pada sisi lain, puisi dapat menjadi manifestasi kegelisahan batin seorang penyair atas peristiwa di dalam kehidupannya atau respons personalnya terhadap fenomena yang terjadi di sekitar dunianya. Pada proses tersebut. Puisi dapat menjadi langkah memulihkan atau menyembuhkan permasalahan psikologis di dalam diri kreator.

Sarwoko (2020) mengungkapkan bahwa puisi dapat dijadikan bagian dari terapi menulis kreatif. Mengapa puisi? Karena puisi merupakan terapi untuk tubuh dan jiwa. Salah satu nilai terapeutik menulis puisi, menurut Bolton dalam bukunya “The Therapeutic Potensial of Creative Writing” (1999), membantu penulis menemukan sistem pengalamannya orang sakit dan yang mengalami tekanan batin. Lebih lanjut seorang peneliti bernama Robin Philipp menjelaskan bahwa puisi memiliki efek menenangkan dan menenteramkan. Berdasarkan penelitian terhadap 196 orang di Inggris, Philipp menemukan bahwa tiga per empat merasakan membaca puisi dapat mengurangi stres. Dua per tiga merasakan bahwa menulis puisi juga memiliki efek yang serupa dengan membaca puisi.

Pada edisi ini, Kreatika menampilkan tiga buah puisi karya alumnus FBS Universitas Negeri Padang yang juga anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Sumbar, Hendri Tanjung. Puisi lelaki asal Pariaman ini berjudul “Pelarian”, “Rumah Kita”, dan “Perjalanan Terakhir”. Sekalipun inspirasi dapat datang dari mana saja dan sebuah karya dapat berisi tentang apa saja yang tidak ada sangkut pautnya dengan diri penulis, namun sedikit pengetahuan tentang kehidupan sang penyair yang belum lama ini ditinggal wafat istri beliau dalam sebuah kecelakan tragis, secara subyektif membuat pikiran saya langsung tertuju pada peristiwa memilikukan itu ketika membaca puisi “Rumah Kita”: “Rumah kita,/ Tak besar. Kecil saja / Tak ada lagi cerita kita pahat di sana / Hanya air mata melukis hari pada sudutnya/ Dan aku tiang yang keropos dimakan usia.” Rumah yang sebelumnya penuh keindahan dalam bait ini “Kau, aku, kita seperti pintu dan daunnya/ Saling menggenggam dan menyangga/ Membuka menyapa setiap yang tiba/ Dalam ruangnya yang sederhana” meninggalkan kesedihan ketika  orang yang membawa bahagia telah tiada. Puisi adalah sebentuk pelampiasan atas rasa sedih—tidak ada salahnya.

Selain jalan untuk menyembuhkan diri, puisi dapat pula mendekatkan penyair dan pembacanya kepada Sang Pencipta. Kedengarannya sangat religius. Menurut Mangunwijaya (1988: 11), pada awal mulanya, segala sastra adalah religius. Religius di sini bermakna bentuk proses perjalanan manusia terhadap spiritualitasnya yakni manusia yang berhati nurani serius, saleh, teliti dalam pertimbangan batin dan sebagainya, berdasar agama apa pun yang dianutnya. Asumsi dasar sastra religius berupa karya sastra yang berpotensi pada tindak berpengalaman dalam menyatukan dirinya pada Tuhan.

Mendekatkan diri pada Tuhan berarti menerima kesementaraan hidup dan menginsyafi status kehambaan diri. Pupuslah sifat angkuh berganti rendah hati dan ikhlas: “Aku tak hendak menangisi/ Karena mati bukanlah untuk di hindari/ tapi sahid itu yang dinanti.// Menapaki jalan berbatu/ Mendaki bukit derita/ Kurapal semua wajah mereka/ yang dulu hadir dalam tiap doa/ Hingga sesak naik ke tenggorokan/ dan tengkorak kepala/ lalu diam dalam perjalanan pulang/ ke hadapan Kasih yang tercinta.”

Kehidupan dunia tak hanya berisi canda tawa, namun juga duka cita dan kecamuk pelik. Tak ada salahnya memilih puisi untuk mengobati hati. Menulisnya. Membacanya. Merenung dengan merentang jarak. Melepaskan apa yang menyesakkan. Menyimak apa yang dibisikkan hati kecil. Syukur-syukur setelah lari kepada puisi kita justru semakin dekat pada-Nya, seperti kata Y.B. Mangunwijaya di atas.

Saya teringat pada sosok perempuan paruh baya bernama Fern dalam film perjalanan berjudul Nomadland. Janda tangguh itu menyarankan seorang pengelana muda untuk menyampaikan pesan melalui puisi kepada orang yang tidak bisa memahami dirinya—daripada terpuruk dalam frustasi dan mengutuki kelemahan diri karena maksud yang konkret pun tak bisa dimengerti orang lain—puisi yang abstrak barangkali dapat sebagai penyampai perasaan. Tidak harus dimengerti, cukup dirasakan. Diresapi.

Inilah puisi Fern tentang tak ada yang kekal abadi di dunia ini, namun hidup tetap perlu dijalani. “Haruskah aku membandingkanmu dengan musim panas? Engkau lebih indah dan lebih tenang. Angin kencang mengguncang kuncup bulan Mei. Dan musim panas berlalu begitu singkat. Terkadang panasnya matahari begitu terik. Dan sering kali sinarnya meredup. Dan semua keindahannya kian memudar. Entah kebetulan atau karena perubahan iklim. Namun, keindahanmu takkan pudar. Atau pun hilang dari dirimu. Takkan. Juga. Kematian juga takkan membual pada engkau di bawah naungannya. Saat dalam bait kekal engkau akan tumbuh. Selama manusia mampu bernapas dan mata mampu melihat. Selama ini hidup dan ini memberikan kehidupan padamu.” []

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *