Batu Basa Bertransformasi jadi Sentra UMKM Tanah Datar

Seorang pekerja memproduksi berbagai jenis makanan kering di salah satu rumah gadang di Nagari Batu Basa, Tanah Datar. Kini banyak rumah gadang setempat yang dimanfaatkan sebagai sentra UMKM. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Seorang pekerja memproduksi berbagai jenis makanan kering di salah satu rumah gadang di Nagari Batu Basa, Tanah Datar. Kini banyak rumah gadang setempat yang dimanfaatkan sebagai sentra UMKM. [Foto: Scientia/Afrizaldi Noerdin]
Tanah Datar, Scientia – Berpenduduk 4.103 jiwa, Nagari Batu Basa di Kecamatan Parahyangan, Kabupaten Tanah Datar diberkahi bentangan alam nan elok dengan nuansa adat dan budaya Minang yang menenangkan. Meski berada di ketinggian jejeran Bukit Barisan, hebatnya nagari ini mampu bertransformasi menjadi sentra UMKM.

Kesan kawasan industri memang tak tampak di sini. Saat Scientia menjelajah Batu Basa, justru kompleks-kompleks rumah gadang nan megah dan tertata apik masih berdiri kokoh memperlihatkan adat budaya Minang yang dianut penduduknya dengan teguh hingga kini. Tapi, saat ditelisik, dapur bangunan iconic urang awak itu sarat dengan aktivitas produksi kuliner.

“Inilah pemandangan yang lumrah kita temukan di sini,” kata Walinagari Batu Basa, Jalinus, S,Pd.i menjawab rasa penasaran wartawan Scientia di kantor nya, Selasa (2/2).

Sepuluh tahun belakangan, lanjut Jalinus, banyak warga mulai merintis usaha rumahan. “Ini tentu ada yang melatarbelakangi kenapa UMKM berkembang pesat disini,” lanjut Jalinus.

Walinagari Batu Basa, Jalinus, S.Pd.i [Foto: Scientia]
Walinagari Batu Basa, Jalinus, S.Pd.i [Foto: Scientia]
Masyarakat Batu Basa sama dengan masyarakat Minang lainnya. Mereka suka merantau. Diperantauan mereka bekerja dan berinduk semang. “Ketika mereka balik ke kampung di samping bertani dan berkebun mereka mengembangkan keahlian yang mereka dapatkan selama mereka merantau,” Jalinus mengisahkan.

Dengan sisa modal dan keterbatasan itu sejumlah warga memulai usaha nya. Sebagian mereka berhasil dan telah mampu menyerap tenaga kerja. Pun mesin-mesin penunjang usaha juga telah mereka miliki.

“Bahkan ada beberapa warga yang juga sudah memiliki mobil pickup untuk memasarkan sendiri produk mereka,” papar Jalinus.

Kini setidaknya terdapat 26 unit UMKM Batu Basa yang bergerak di bidang kuliner, khususnya produksi kue kering. Produk seperti kipang, rakik maco (peyek ikan), kue sapik, kerupuk sanjai dan anake cemilan khas Minangkabau dihasilkan dalam skala yang menjanjikan.

Salah satu pelaku UMKM Kipang Bareh dan Kipang Jagung yang cukup sukses, H. Yunius, kepada Scientia mengatakan, berkembangnya UMKM di Batu Basa telah berkontribusi positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Bahkan tak jarang pelaku UMKM membantu pendidikan anak-anak dari pekerja.

“Kita sadar untuk merubah taraf hidup masyarakat tentunya dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat. Dengan terpenuhinya kebutuhan pendidikan masyarakat di sini, semoga usaha kuliner bisa berkembang lebih pesat lagi. Juga lebih ter-manage dengan baik sehingga bisa berkesinambungan dan berkelanjutan,” lanjutnya. (Afrizaldi Noerdin)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *