Cerpen Yulfia Afaz “Akibat Terlalu Manja” dan Ulasannya oleh Azwar Sutan Malaka

Akibat Terlalu Manja

menyesal

Cerpen: Yulfia Afaz

 “Ra, buatkan mama teh, kerongkongan mama terasa pahit,” ujarku sambil menyandarkan punggung di sisi ranjang. Tanpa berkata sepatah kata pun, kudengar langkah kaki Zahra menuju ke arah dapur. Tidak berapa lama kemudian, anak sulungku itu menyodorkan sebuah gelas lengkap dengan teh celup di dalamnya.

“Lho…, kok dingin. Bikinnya tidak pake air panas, Ra?” tanyaku dengan kening berkerut.

“Tadi Zahra tuang air yang dalam teko, Ma,” ujarnya polos. Aku hanya tersenyum kecut memandang gula yang masih menggumpal di dasar gelas. Tidak hanya itu, teh celup yang melayang di atas permukaan air  itu pun tidak kunjung larut. Bagaimana bisa larut jika disiram dengan air dingin. Kuperhatikan Zahra hingga punggungnya menghilang. Aku hanya bisa mengelus dada sambil beristigfar dalam hati. Sesekali kupijit pelipis mata berharap pikiran ini tenang.

Sudah seminggu aku terkulai tak berdaya karena vonis dokter mengatakan tekanan darahku tinggi. Untung aku tidak dirawat. Kata dokter, aku kurang istirahat. Aku dianjurkan untuk banyak beristirahat selain menelan beberapa butir pil yang sudah tidak asing lagi di tenggorokan. Ragaku memang bisa beristirahat pada kasur empuk. Tetapi tidak dengan pikiranku. Selama sakit, pikiranku melayang-layang entah kemana. Banyak hal yang menjadi bahan pikiran. Ada rasa sedih, cemas, sesal, kecewa bahkan marah. Aku tidak sedih karena penyakit yang hinggap ini. Ada hal lain yang lebih membuatku jauh lebih sedih dan takut, yaitu suami dan kedua anakku.

Selama ini, mereka terlalu kumanjakan. Alhasil, di saat aku sakit, mereka seperti lumpuh. Tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan untuk membantu  memasak makanan kesukaanku, sekedar membuat teh manis saja, Zahra anakku yang sudah duduk di bangku SMA  tidak bisa. Ahh…aku menelan ludah yang terasa semakin pahit. Kucoba mengaduk teh dingin meski gulanya tak kunjung larut. Kuteguk sedikit. Hambar. Tak terasa mataku mengembun. Kerongkonganku semakin tercekat dibuatnya. Rangkaian kisah hidup yang pernah kulalui mendesak otakku bekerja untuk kembali mengingatnya.

“Biar mama yang masak air, nanti tangan Zahra terbakar.”

“Bajunya dalam lemari, sudah mama cuci dan setrika.”

“Biar mama yang beli garam ke warung, Zahra belajar saja.”

“Jangan pulang sebelum mama datang. Tunggu mama di sekolah.”

“Air panas sudah mama siapkan. Silahkan mandi.”

“Tidak usah bantu mama, nanti Zahra capek.”

“Baju  untuk ke kantor sudah kusiapkan, Mas.”

Masih banyak kalimat-kalimat lain yang membuat kepalaku semakin pusing mengingatnya. Otakku terasa mau meledak. Aku telah membuat suami dan anak-anakku manja. Mereka tak kubiarkan membantu pekerjaan rumah. Cukup aku yang melakukan semuanya. Hingga akhirnya, aku kelelahan dan tekanan darahku kembali naik. Setiap hari aku sibuk bekerja sebagai teller di Bank. Berangkat pagi-pagi dan sering pulang larut malam. Semua pekerjaan rumah kuselesaikan malam hari. Mulai dari membersihkan rumah, mengepel lantai, mencuci pakaian, menyetrika, memasak dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Aku sering tidur larut malam. Lebih sering aku tidur pukul 02.00 Wib dan jam 04.20 sudah bangun lagi untuk menyiapkan keperluan anak-anak sekolah serta memanaskan air mandi mereka. Mengingat aktivitasku yang dulunya super sibuk, ada rasa sedih yang menghujam. Aku ikhlas menjalaninya. Namun, mengenang suami dan anak-anakku yang tidak bisa apa-apa membuat batinku tersiksa. Aku melayani mereka laksana raja dan akulah pelayannya. Nasi tinggal dimakan, baju tinggal dikenakan, kopi tinggal diminum dan masih bayak hal lain yang aku sebenarnya malas memutar otak untuk kembali mengingatnya.

Zahra, anakku yang kelas XI SMA belum pernah menyentuh detergen hingga sekarang. Memang salahku  melarangnya sejak dulu. Baju kotornya kubiarkan saja berserakan di lantai kamar tidur dan kamar mandi. Gilang, anak keduaku yang sudah duduk di kelas VIII SMP, sampai sekarang tidak punya teman di rumah. Aku melarangnya bermain ke luar rumah dengan alasan nanti demam terkena terik sinar mentari.

Kubelikan Gilang banyak mainan agar ia tidak bermain keluar. Sekarang, anak lelakiku itu betah di rumah dan tidak punya teman seperti anak-anak tetangga lainnya. Sementara suamiku? Sejak aku terbaring, belum pernah kulihat ia meminum kopi buatan sendiri karena memang belum bisa membuatnya. Seluruh kebutuhan tinggal beli, mulai dari nasi hingga lauknya. Suamiku menghidupkan kompor hanya untuk memanaskan air mandi. Itupun terpaksa karena jika tidak dipanaskan, maka kedua anakku tidak akan mandi. Otomatis mereka tidak bersekolah.

Kuusap bening kristal yang mulai membelah pipi membentuk aliran sungai. Sekarang aku semakin sadar. Ternyata, memanjakan mereka hanya mempersulit keadaan. Mereka terlalu bergantung sepenuhnya padaku. Jika tidak ada aku, maka mereka tidak makan dengan layak. Kemaren, Galih memasak air sampai gosong pancinya karena lupa mematikan kompor. Zahra mencoba memasak nasi di Magic com. Sudah seharian nasinya tidak kunjung matang karena tombol cooking tidak ditekan. Suamiku yang biasanya minum kopi sebelum bekerja, sekarang memilih minum di luar. Belum lagi piring-piring kotor yang berserakan di dapur membuat rumah seperti kapal pecah.

Aku merasa menjadi ibu yang malang. Memanjakan mereka tanpa tahu akibatnya. Ketika kecil, hidupku serba kekurangan. Jangankan untuk membeli baju baru, untuk membeli semangkuk bakso saja aku mesti menabung dahulu. Berkat rajin belajar, aku menerima beasiswa hingga bisa melenggang bebas ke perguruan tinggi. Sementara suamiku, seorang ASN yang bekerja di kantor pemerintahan. Sekarang  hidupku mapan. Mau beli apa saja aku sanggup. Aku tidak ingin kedua anakku merasakan hidup susah seperti yang pernah kurasakan dulu. Makanya mereka kumanjakan. Mau  apa saja langsung kuturuti. Tanpa diminta pun sudah kuberi.

Setiap libur kuajak mereka  jalan-jalan dan makan enak. Aku berdalih, biarlah hanya aku yang merasakan susahnya hidup di masa kecil, asalkan mereka jangan. Namun, aku tidak menyangka jika imbasnya seperti ini. Mau mencari pembantu rumah tangga, gajiku sudah habis dipotong pihak Bank untuk membayar cicilan rumah yang dibeli 4 tahun yang lalu. Sekarang hidup kami bergantung pada gaji suami. Sekedar untuk keperluan hidup masih cukup, namun tidak untuk memperkerjakan orang lain. Kuhembuskan nafas dengan kasar berharap sesak di dada perlahan hilang.

“Jangan terlalu dipaksakan bekerja, nanti kamu sakit.” Sering kudengar Mas Rahmat memintaku untuk banyak beristirahat. Namun aku yang keras kepala tetap bersikukuh untuk bekerja.

“Lebih baik uang bonus ini kita simpan untuk tabungan. Kita belum punya simpanan. Jika nanti punya cukup uang, kita jalan-jalan lagi,” ujar mas Rahmat sebulan yang lalu.

“Uang bisa dicari, Mas. Yang terpenting sekarang anak-anak bisa liburan. Biarlah mereka menikmati hidup ini dengan bahagia,” jawabku bangga. Kala itu kulihat mas Rahmat hanya tersenyum. Ia tahu jika aku wanita yang keras kepala. Jika dilarang pun hasilnya akan sia-sia. Sekarang, di saat sakit dan tak berdaya begini, aku tidak punya uang simpanan. Miris sekali.

Kurebahkan badan yang mulai terasa penat. Cuplikan kehidupan yang muncul tiba-tiba semakin membuat jiwaku tersiksa. Di saat aku sakit, mereka  tidak bisa berbuat apa-apa. Jika nanti aku tiada, bagaimana dengan mereka? Makin lama makin banyak air yang luruh dari sudut mataku. Aku tidak tega membuat mereka menderita. Tetapi, bukankah aku yang telah membuat keadaan mereka menjadi demikian? Bagaimana nasib kedua anakku nanti setelah mereka dewasa? Hingga sekarang, Zahra hanya tahu garam, cabe, bawang merah dan bawang putih. Bumbu masak yang lain ia tidak tahu. Bagaimana nanti jika ia sudah berumah tangga jika melipat pakaian saja ia belum bisa? Kubenamkan wajah ke dasar bantal. Semoga Zahra yang sedang belajar di kamarnya tidak mendengar isakku yang mulai keluar.

Tak berselang lama, Hp ku bergetar. Kuraih benda multifungsi berwarna merah yang terletak di atas nakas. Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Kugeser ke atas.

“Hallo…mama…ini Gilang, Ma,” ujar suara di seberang yang membuat denyut nadiku semakin kencang. Tidak biasanya anak itu menelpon dengan nomor lain. Ada apa dengannya?

“ Iya Gilang, Ada apa?” ujarku sambil menahan nyeri di dada.”

“Ma…, Gilang nyasar,” jawabnya dengan suara yang masih jelas kudengar.

“Tadi Gilang keluar jalan-jalan. Sekarang Gilang tidak tahu berada dimana. Gilang tidak tahu jalan pulang, Ma. Hp ini dipinjam dari orang yang Gilang jumpai,” sahutnya dengan nafas yang tidak teratur.

Detak jantungku makin kencang tak terkendali. Langit-langit kamar seperti mau roboh dan seperti mau mengimpitku. Kamar yang kutempati seakan siap menjepit tubuhku yang terkulai tak berdaya. Bagaimana aku mencari Gilang sementara untuk berdiri saja belum kokoh, sedangkan mas Rahmat keluar kota tadi pagi. Dalam hitungan detik,  kulihat ribuan bintang menari-nari di pelupuk mata. Entah dari mana datangnya. Semakin lama semakin banyak saja jumlahnya. Pandanganku mulai mengabur. Pada detik berikutnya, aku tidak ingat apa-apa lagi. Gelap.


 

Perempuan dan Sastra Indonesia dalam
Cerpen “Akibat Terlalu Manja”

Oleh: Azwar Sutan Malaka
(Pengurus FLP Sumbar dan Dosen
Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Jakarta
)

Awalia Ramadhani dalam tulisannya berjudul “Penulis Perempuan dalam Mendobrak Stigma Patriarki,” yang dimuat pada tabularasa.id pada tanggal 8 April 2019 menuliskan bahwa di era milenial ini penulis, pengarang, atau penyair perempuan memang telah berhasil menempatkan dirinya pada ruang yang cukup luas dalam kesusastraan Indonesia sehingga peran perempuan telah sejajar dengan laki-laki. Mereka berhasil melepaskan stereotip bahwa perempuan memiliki nilai yang rendah dalam dunia literasi, bahkan merekapun menerapkan konsep-konsep baru dalam wacana sastra Indonesia karena pada hakikatnya karya sastra bukan hanya konsumsi emosi semata, tapi juga merupakan konsumsi intlektual bagi pembaca demi meningkatkan kualitas membaca sastra kita.

Kabar baik tersebut seperti yang disampaikan Awalia, tentu melegakan untuk dunia kesastraan di Indonesia. Pernyataan tersebut membantah bahwa dunia sastra di Indonesia didominasi oleh para laki-laki. Kita bisa menyatakan bahwa saat ini perempuan mendapatkan tempat yang sama dengan laki-laki di ranah kesastraan. Wiyatmi, Dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta dalam tulisannya berjudul “Kiprah Perempuan dalam Penulisan Sastra Indonesia 2000-An” yang dipresentasikan dalam Intenational Conference Woman in Public Sector, Rabu-Kamis, 16-17 Juli 2008, di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Menyampaikan bahwa masuknya para perempuan ke dunia sastra kreatif di Indonesia sebenarnya sudah diawali oleh Selasih (1908-1995) pada tahun 1930-an yang menulis Pengaruh Keadaan (1937).

Kemudian disusul oleh Fatimah Hasal Delais (Kehilangan Mestika, 1935), Suwarsih Djojopuspito (Manusia Bebas, 1975), Arti Purbani (Ny. Husein Djajadiningrat, Widyawati, 1949), Nursiah Dahlan (Arni, 1953), Zunaidah Subro (Patah Tumbuh Hilang Berganti, 1953), Ny. Johanisun Iljas (Anggia Murni, 1956), Waluyati Supangat (Pujani, 1951).

Pada tahun 1970-an, di samping muncul Nh. Dini (karyanya antara lain Hati yang Damai, 1961, Pada Sebuah Kapal, 1973, La Barka, 1975, Keberangkatan, 1977, Namaku Hiroko, 1977, Orang-orang Tran, 1985, Pertemuan Dua Hati, 1986, Jalan Bandungan, 1989, Tirai Menurun, 1994), yang dapat dikatakan sebagai perempuan sastrawan yang paling produktif, juga muncul sejumlah nama baru, antara lain Aryanti, yang pada tahun 1978 menerbitkan Selembut Bunga, disusul oleh Hidup Perlu Akar (1981), Dunia tak Berhenti Berputar (1982), dan Getaran-getaran (1990), Lilimunir C (Anak Rantau, 1992 dan tiga jilid Rumah Besar, 1994), Maria Sugiharto (Sang Diplomat (1994), Titis Basino (Pelabuhan Hati, 1978, Bukan Rumahku, 1986, Di Bumi Aku Bersua, di Langit Aku Bertemu, 1983, dan Dataran Terjal, 1988), juga Marianne Katoppo (Raumanen, 1977, Terbangnya Punai, 1978, dan Angrek Tak Pernah Berdusta, 1979).

Pada masa tahun 2000 sampai tahun 2021, ada banyak sastrawan-sastrawan perempuan Indonesia yang telah menerbitkan karyanya. Beberapa nama terkenal seperti Ratna Indraswari, Ayu Utama, Dewi Lestari, Helvy Tiana Rosa, Djenar Maesa Ayu, Fira Basuki, Asma Nadia, Laila S Chudori, Okky Madasari, Laksmi Pamuntjak, Intan Paramaditha, Ratih Kumala, Dorothe Rosa Herliany, Linda Cristanty, Ucu Agustin, Nova Riyanti Yusuf, Sinta Yudisia, Afifah Afra, Yetti AKA, dan sederet nama perempuan pengarang lainnya.

Mereka menulis dengan gaya kepengarangan masing-masing, mewarnai dunia sastra Indonesia dengan cara mereka. Pada periode 2000-an sampai saat ini jumlah sastrawan perempuan dapat dikatakan begitu menggembirakan. Sampai-sampai maestro sastra Indonesia Sapardi Djoko Damono mengatakan bahwa masa depan novel Indonesia berada di tangan perempuan (Kompas, 7 Maret 2004).

Bagi saya banyaknya sastrawan-sastrawan perempuan bukan hanya dalam rangka menciptakan kesetaraan gender ataupun dalam rangka memposisikan perempuan sama dengan laki-laki. Akan tetapi hal yang lebih substansial adalah berharap munculnya karya sastra yang khas perempuan yang barangkali persoalan-persoalan tersebut tidak akan muncul jika ditulis oleh laki-laki. Rasa sastra yang lahir dari tangan, jiwa dan sukma perempuan akan berbeda dengan karya sastra yang ditulis oleh laki-laki. Terkait hal ini tidak bisa dipaparkan pada kesempatan ini, tapi ahli psikologi telah mengakui bahwa ada yang berbeda karya-karya sastra perempuan dibandingkan dari penulis laki-laki.

Salah satu contoh karya sastra yang dilahirkan oleh penulis perempuan adalah cerpen “Akibat Terlalu Manja” Karya Yulfia Afaz, yang dimuat pada kolom Kreatika minggu ini. Sebuah cerpen yang sederhana, berkisah tentang hal-hal sederhana, akan tetapi memuat pesan moral yang mendalam yang tentunya banyak dialami oleh perempuan-perempuan di Indonesia.

Cerpen “Akibat Terlalu Manja” ini menceritakan seorang tokoh Ibu yang sangat mencintai keluarganya dan bahkan terkesan “salah” dalam mengartikan cintanya. Dia beranggapan mencintai suami dan anak-anaknya itu haruslah melayani mereka sampai lupa mendidik mereka untuk menjadi manusia mandiri. Yulfia menceritakan bahwa anak perempuannya yang sudah kelas XI (Kelas 2 SMA) belum pernah menyentuh detergen sama sekali. Begitu tokoh “Ibu” dalam cerpen tersebut membahasakan bahwa anaknya belum pernah mencuci bajunya sendiri.

Walau ungkapan tokoh tersebut sangat berlebihan, akan tetapi kita paham bahwa maksudnya penulis ingin menggambarkan betapa dia begitu memanjakan anak-anaknya. Bahkan dalam bagian selanjutnya Yulfia menceritakan:

“Biar Mama yang masak air, nanti tangan Zahra terbakar.”
“Bajunya dalam lemari, sudah Mama cuci dan setrika.”
“Biar Mama yang beli garam ke warung, Zahra belajar saja.”
“Jangan pulang sebelum Mama datang. Tunggu Mama di sekolah.”
“Air panas sudah Mama siapkan. Silahkan mandi.”
“Tidak usah bantu Mama, nanti Zahra capek.”

Kutipan di atas menunjukkan betapa kelirunya seorang Ibu dalam mendidik anak-anaknya. Maksudnya ingin mencitai anak-anaknya akan tetapi justru dengan terlalu memanjakan itu membuat anak-anaknya tidak mandiri. Hal ini, hal yang sederhana ini sering terjadi dalam dunia perempuan Indonesia. Kekeliruan mereka dalam mendidik anak-anak yang beranggapan pendidikan itu hanya belajar di sekolah saja, bisa berhitung matematika, pintar menjawab pertanyaan-pertanyaan Fisika atau hebat dalam menggunakan rumus-rumus Kimia. Mereka keliru bahwa mengajarkan anak-anak memasak itu penting agar kelak mereka bisa memasak sendiri untuk melanjutkan hidup mereka. Mereka lupa bahwa mengajarkan anak-anak mencuci pakaian itu penting karena orang tua tidak selamanya hidup untuk mencuci pakaian-pakaian mereka.

Bahkan anaknya yang laki-laki yang sudah kelas VIII atau kelas 3 SMP tidak paham secara geografis daerah-daerah di sekitar rumahnya. Penulis menceritakan bahwa anaknya yang bernama Gilang, hilang/nyasar ketika jalan-jalan ke kota dekat rumah mereka.

“Tadi Gilang keluar jalan-jalan. Sekarang Gilang tidak tahu berada dimana. Gilang tidak tahu jalan pulang, Ma. Hp ini dipinjam dari orang yang Gilang jumpai,” sahutnya dengan nafas yang tidak teratur.

 Anak laki-laki kelas 3 SMP tidak tahu jalan pulan ke rumahnya. Ini memang sebuah sindiran untuk Sang Ibu dalam mendidik anak-anak mereka. Cerpen yang ditulis Yulfia Afaz ini menarik dalam kesederhanaannya. Cerita sehari-hari yang banyak dialami oleh keluarga di Indonesia saat ini. Saya menduga karya sederhana ini dengan tema yang sederhana tetapi memukau pembaca dengan pesan “mengena” ini akan sulit lahir dari penulis laki-laki, karena biasanya kreativitas laki-laki dalam berkarya menuliskan hal-hal besar baik dalam tema cinta, tema-tema pemberontakan, dan juga tema-tema kemiskinan.

Cerpen-cerpen seperti yang ditulis Yulfia Afaz ini lahir karena perasaan perempuan yang sensitif menangkap fenomena keseharian yang dianggap sepele, akan tetapi berdampak besar dalam kehidupan. Contohnya hal-hal sederhana yang ditulis Yulfia, khawatir pada anak perempuan kelas 3 SMA yang tidak tahu apa itu merica atau tidak bisa membedakan antara kunyit dan jahe, apalagi membedakan mana yang jahe mana yang lengkuas.

Begitulah cerita sederhana yang sarat pesan moral ini, menertawakan kehidupan kita yang kadang memang sering keliru dalam menempatkan sesuatu, termasuk menempatkan pendidikan yang fokus pada pendidikan formal saja, lupa mendidik anak-anak dengan keterampilan hidup yang sangat penting untuk masa depan mereka.

Sebagai sebuah cerita sederhana, tentu banyak kekurangan dalam cerita karya Yulfia Afaz ini. Beberapa kekurangan dalam cerpen ini seperti pemilihan judul yang terlalu polos, melupakan keunggulan cerpen yang bisa memanfaatkan kata-kata kiasan, hiperbola, atau gaya bahasa lainnya. Pada sisi lain, penulis bisa begitu melebih-lebihkan peristiwa seperti menuliskan anak perempuan yang kelas 2 SMA dalam cerita ini tidak pernah menyentuh detergen. Ini kan terlalu berlebihan sampai tidak masuk akal. Karena hal ini akan menyeret pertanyaan pembaca, “Apakah si anak yang sudah gadis itu tidak pernah mencuci pakaian dalamnya sendiri?” Maaf, pertanyaan nakal karena begitu tidak logisnya perumpamaan yang dipilih penulis untuk menunjukkan bahwa tokoh perempuan kelas 2 SMA tersebut tidak bisa mencuci pakaiannya.

Terlepas dari kurang dan lebih dalam cerita ini, tentunya kita apresiasi karya Yulfia Afaz ini. Kisah sederhana yang diceritakan secara sederhana namun penuh makna. Selama membaca kepada pembaca. Selamat berkarya kepada penulisnya. (*)

Catatan:

Kolom ini diasuh oleh FLP Sumatera Barat bekerja sama dengan Scientia.id. Kolom ini diperuntukkan untuk pemula agar semakin mencintai dunia sastra (cerpen dan puisi). Adapun kritik dalam kolom ini tidak mutlak merepresentasikan semua pembaca.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *