Brigdence, Atlet Segudang Prestasi yang Berakhir di Bank Sampah

“Berasal dari Nagari Sumaniak. Pemulung sampah,” tulis Brigdence menjawab pertanyaan Scientia.

Brigdence, sang atlet angkat berat Tanah Datar dengan segudang prestasi yang sehari-hari memungut sampah untuk bertahan hidup. [Foto; Scientia/Zal]
Brigdence, sang atlet angkat berat Tanah Datar dengan segudang prestasi yang sehari-hari memungut sampah untuk bertahan hidup. [Foto; Scientia/Zal]
Batussangkar, Scientia – Badannya kokoh, kekar. Terlihat kontras dengan perawakannya yang kecil. Sambil berjalan gontai mempertahankan bobotnya, ia menyusun karung-karung sampah. Di matanya, sampah-sampah itu adalah harapan penyambung hidup.

Brigdence, begitulah sosok ini dipanggil. Setidaknya itulah yang ia tulis di secarik kertas saat Scientia menemuinya di Bank Sampah Induk Kabupaten Tanah Datar, Selasa (9/2) siang. Brigdence memang memiliki keterbatasan berbicara. Menulis dan isyarat tubuh adalah caranya berkomunikasi.

Namanya mungkin terdengar asing bagi kebanyakan orang. Tapi di dunia olahraga, Brigdence adalah legenda. Ia merupakan seorang atlet angkat berat difabel yang memiliki segudang prestasi. Beberapa kali, Sumatera Barat pun dibuat harum olehnya di kancah olahraga Tanah Air.

“Berasal dari Nagari Sumaniak. Pemulung sampah,” tulis Brigdence menjawab pertanyaan Scientia.

Terdaftar sebagai Atlet National Paralympic Commitee( NPC), Brigdence telah mengikuti berbagai kejuaraan. Pada tahun 2006, ia berhasil menyabet medali perak pada kejuaraan di Semarang. 2008 dan 2011 dia mendapatkan medali perak, serta terakhir 2012 dia mendapatkan medali emas pada kejuaraan NPC di Pekanbaru.

Ironis, dengan prestasi yang luar biasa itu justru ia tak dapat bangkit dari masalah ekonomi dan harus menjadi pemulung untuk melanjutkan hidup.

Sebenarnya, Brigdence tak benar-benar terlupakan. Tahun ini pun ia telah dipanggil ke Padang untuk mengisi data. Lagi-lagi Brigdence akan mewakili Sumatera Barat dalam kejuaraan angkat berat NPC di Papua pada bulan Mei 2021.

Optimis Raih Emas

Beratnya hidup tak melunturkan semangat Brigdence, persis seperti senyuman yang senantiasa terlukis di wajahnya yang legam. Saat disinggung tentang persiapannya menghadapi kejuaraan di Papua tahun ini, Brigdence sangat optimis bisa meraih emas. Ini diisyaratkannya dengan mengacungkan telunjuk berkali-kali.

Sayangnya, Brigdence mempersiapkan diri seorang diri. Pendampingan dan pembinaan belum didapatkan. Bahkan, kecukupan gizi untuk persiapan atlet menghadapi kejuaraan pun belum juga ia peroleh.

Dengan bahasa isyarat, ia menceritakan usahanya mempersiapkan diri. Sehari-hari ia terpaksa meminta putih telur ke warung-warung untuk mempertahankan kesehatan dan kondisi tubuhnya. Seketika, wajahnya mengisyaratkan kekecewaan.

Brigdence tentu menginginkan kesejahteraan. Telah lama ia menyimpan harapan, agar suatu saat bisa bekerja di pemerintahan. Kini Brigdence menunggu datangnya pemimpin yang memiliki nurani dan mau memperjuangkan nasibnya, sekeras perjuangan Brigdence mengharumkan nama daerah yang sangat ia cintai.

Ia menunjuk dadanya, mengisyaratkan harapan dan optimisme.

Difabel dan Kesulitan Berjalan

Direktur Bank Sampah Induk Kabupaten Tanah Datar, Bujang Saukani bersama Brigdence di lokasi kerjanya, Selasa (9/2). [Foto: Scientia/Zal]
Direktur Bank Sampah Induk Kabupaten Tanah Datar, Bujang Saukani bersama Brigdence di lokasi kerjanya, Selasa (9/2). [Foto: Scientia/Zal]
Keterbatasan yang dimiliki Brigdence membuat ia mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat sekitar. Terlebih, atlet berbadan kekar ini suka menghibur warga dengan kelucuannya.

Direktur Bank Sampah Induk Kabupaten Tanah Datar, Bujang Saukani yang saat itu mendampingi Brigdence mengisahkan perjuangan laki-laki unik ini. Brigdence telah bekerja sebagai pegawai lepas memungut dan mengumpulkan sampah cukup lama. Sampah-sampah itu ia peroleh dari lingkungan sekitar dan kemudian dijual lagi ke Bank Sampah.

“Keterbatasan Brigdence dalam berjalan dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik tak mengurangi semangatnya untuk bertahan hidup. Dia tetap semangat, dan sesekali menghibur,” kata Bujang.

Prihatin dengan nasib Brigdence, ia lantas meminjamkan satu unit becak motor. Kendaraan itu diharapkan dapat memudahkan sang atlet dalam kesehariannya.

“Awalnya kita ragu dengan kemampuan mengemudinya, namun di luar dugaan. Dia sangat mahir,” ujar Bujang. (Afrizaldi Noerdin)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *