Geopark Masa Depan Wisata Sumbar, Daerah belum Sinkron

Tapi fakta dan data apa? Justru miris hanya ada dua kota dari 19 kota dan kabupaten di Sumbar RPJM-nya memasukan pariwisata. Ini tantangan kita semua.

Dr Sari Lenggogeni, Akademisi Universitas Andalas

Harau menjadi salah satu objek yang diusulkan ke UNESCO sebagai geopark utama GRM. [Foto: Dok. Dispar Sumbar]
Harau menjadi salah satu objek yang diusulkan ke UNESCO sebagai geopark utama GRM. [Foto: Dok. Dispar Sumbar]
Padang, Scientia – Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sumatera Barat, Novrial optimis dengan gagasan pengembangan Geopark Ranah Minang (GRM) yang disebut-sebut sebagai masa depan pariwisata Sumbar. Namun, ide tersebut mendapatkan tantangan yang cukup berat. Sebagian besar kabupaten dan kota di Sumatera Barat dinilai belum sinkron.

 

Akademisi Universitas Andalas, Dr Sari Lenggogeni menilai rencana Dispar Sumbar itu merupakan harapan banyak pihak. Hanya saja banyak hal yang perlu diperhatikan mengingat eksekusi program membutuhkan integrasi daerah yang selaras.

“Tapi fakta dan data apa, justru miris hanya ada dua kota dari 19 kota dan kabupaten di Sumbar RPJM-nya memasukan pariwisata. Ini tantangan kita semua,” ujar Sari menanggapi gagasan ini saat memberikan pemaparan dalam Diskusi Bulanan Jaringan Pemred Sumbar (JPS), Sabtu (13/2).

Tak lupa Sari menyentil peran pers yang menurutnya perlu menyoroti ketidaksinkronan RPJM antar daerah itu.

“Kalau kita mau menjadikan pariwisata triger pertumbuhan ekonomi Sumbar, semua pihak perlu bersinergi,” sebutnya.

Anggota DPRD Sumbar HM Nurnas ikut memberikan komentar senada. Ia mengatakan rencana besar Novrial sebagai sesuatu yang sangat mungkin terwujud. Hanya saja perjalanan GRM memerlukan kerja keras dalam mendorong setiap kabupaten/kota agar sama-sama bertindak.

“Saya katakan GRM bisa, tapi melihat komitmen daerah di Sumbar memang butuh kerja keras. Sinergisitas dan intgeralitas antar kota dan kabupaten masih jauh panggang dari api,” ujar HM Nurnas.

Untuk menyelesaikan ketidaksinkronan tersebut, Kadispar Pariaman Marhen berharap Kadispar Sumbar memainkan peran yang lebih besar untuk menghentikan ego sektoral yang kini menjadi batu sandungan tajam.

“Kadispar Sumbar harus bisa memainkan peran selaku pembantu gubernur. Gubernur ini kan wakil pemerintah pusat di daerah untuk menghentikan ego sektoral itu. Ayo bersinergi melakukan kampanye pariwisata tersutuktur, sistemik dan masif,” imbau Marhen.

GRM Ide Besar Dispar Sumbar

Diskusi Tigabelasan JPS, Sabtu kemarin, akhirnya menjawab pertanyaan banyak pihak mengenai strategi pemerintah merevitalisasi pariwisata Sumbar yang porak-poranda usai pandemi Covid-19. Dinas Pariwisata (Dispar) Sumbar yang dipimpin Novrial ternyata merancangan gagasan GRM, sebuah konsep pariwisata premium yang memang sesuai dengan potensi daerah.

“Paradigma baru pariwisata adalah peralihan dari wisata massal (mass tourism) menjadi wisata berkualitas (quality tourism). Utamanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan, lama tinggal dan belanja wisatawan yang akan di terima langsung masyarakat di sekitar objek,” ujar Novrial memulai penjabaran gagasan itu.

Ia melanjutkan, Sumbar merupakan wilayah dengan potensi wisata yang kompleks.

“Salah satu potensi Sumbar adalah geopark yang sudah menjadi substansi dalam RIPKP Sumbar 2014-2025 dan RPJMD Tekhnokratik 2021-2026, serta sudah mendapatkan dukungan dan Menparekraf saat bertemu dengan Gubernur Sumbar di Jakarta tanggal 4 Februari 2021,” ujarnya.

Sumbar saat ini memiliki tiga geopark nasional, Maninjau-Sianok, Sawahlunto dan Silokek.

“Ada empat calon geopark nasional lagi yaitu, Talamau, Harau, Singkarak, dan Solok Selatan. Keempat calon itu, Insya Allah tahun ini kita ajukan menjadi satu paket pengajuan menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Dokumen pengajuan ke UGG sedang disusun oleh Dispar Sumbar dengan melibatkan akademisi, pegiat pariwisata dan insan media seperti JPS,” lanjut Novrial memaparkan.

Ia optimis dengan adanya tujuh geopark di Sumbar, potensi wisata akan semakin besar. Terlebih karena ketujuh geopark itu mempunyai spesifikasi dan keunikan masing-masing.

“Gunung Talamau dengan 13 telaganya, Maninjau yang merupakan kawah Gunung vulkanik tua Sitinjau, Sianok dan Harau dengan dinding lembah yang indah akibat pergeseran kerak bumi,” Novrial menjabarkan. “Singkarak yang merupakan pusat patahan Simangko, Talang dengan panorama kelas dunia dengan view lima danau. Sawahlunto dan Silokek dengan batuan geologi langka, unik dan variatif, serta gua batu kapal di Solok Selatan yang mempesona,” ujarnya.

Ketujuh geopark diusulkan oleh Dispar Sumbar  ke UNESCO dengan nama Geopark Ranah Minang (GRM).

“Masuk indikator penilaian UNESCO karena GRM mengangkat tema ‘Bukti Patahan Besar Sumatra’ atau The Great Sumatra Fault,” ujar Novrial.

Lagi-lagi upaya memperoleh dukungan UNESCO menghadirkan tantangan baru yang tidak mudah. Pegiat Pariwisata M Zuhrizul merespon GRM yang punya georpark site tetap saja menuntut semua pihak harus bahu-membahu.

“Penilaian UNESCO itu mudah tapi kadang sulit. Bisa saja ke murid sekolah dasar mereka menanyakan tahu apa itu geopark? Atau analisanya bagaimana kelestarian alam dan korelasi kesejahteraan masyarakat di georpark,” ujar Zuhrizul. (rls, cw01)


Posted

in

by

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *