Jangan sampai terjadi ketimpangan di daerah yang menjadi kawasan pariwisata. Jangan sampai masyarakat lokal tetap saja miskin dan yang kaya hanya para pelaku wisatanya.
Dr Naslindo Sirait, mantan Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai
![Seorang turis sedang berselancar di pantai Kepulauan Mentawai. Selain menyuguhkan event olahraga internasional, Kepulauan Mentawai dinilai sukses memadukan alam, budaya dan kearifan lokal menjadi kekuatan pariwisatanya. [Foto: Pixabay/gridkid]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/02/surf-1150958_1280.jpg)
Naslindo Sirait, seorang doktor tamatan Universitas Andalas yang telah lama berkecimpung dalam pembangunan daerah dan kepariwisataan. Baginya, pembahasan pengembangan wisata tak boleh lepas dari dua faktor utama, cita rasa dan imajinasi.
“Ngomongin pariwisata ya cita rasa dan imajinasi. Kenapa orang harus datang ke suatu daerah? Ya itu tadi. Ingin menuntaskan imajinasinya dan memperoleh cita rasa dari kunjungan mereka,” sebut Naslindo Sirait dalam Diskusi Tigabelasan Jaringan Pemred Sumbar (JPS) di Aula Istana Gubernuran Sumbar, Sabtu (13/2), .
Memperjelas statement itu, dia mengambil contoh Bali yang kaya akan seni dan budaya. “Seni dan budaya itu adalah jiwanya pariwisata. Salah satu keunggulan Bali itu ya terletak di sana,” sebutnya.

Jika Sumbar ingin pariwisatanya maju seperti halnya Bali, lanjut Naslindo, pembinaan seni dan budaya yang selaras dengan kearifan lokal perlu dilakukan. Dua hal tersebut merupakan nilai unik yang akan menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Ia juga mewanti-wanti agar pemerintah mampu menempatkan diri secara optimal dalam pebangunan pariwisata. Keterlibatan banyak stakeholder menjadi hal penting di mana upaya pemerintah mendorong banyak pihak diperlukan. Di sisi lain, pemerintah perlu menjadi fasilitator yang baik.
“Jangan sampai terjadi ketimpangan di daerah yang menjadi kawasan pariwisata. Jangan sampai masyarakat lokal tetap saja miskin dan yang kaya hanya para pelaku wisatanya,” tuturnya. (cw01)
Tinggalkan Balasan