![Tim PT Hutama Karya memaparkan data pembangunan Tol Padang-Pekanbaru di ruas Padang-Sicincin saat rapat dengan Gubernur di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Sabtu (6/3). [Foto: dok/DiskominfoSB]](https://scientia.id/wp-content/uploads/2021/03/WhatsApp-Image-2021-03-06-at-20.00.26-e1615089583286.jpeg)
“Intinya PT Hutama Karya bukan menghentikan pembangunan, tapi hanya akan mengerjakan pada lahan yang sudah dibebaskan. Jika tersedia kelebihan sumber daya, maka akan dilakukan refocusing ke ruas lain yang lebih siap lahannya,” ujar Project Director Jalan Tol Padang-Sicincin PT Hutama Karya, Marthen Robert Singal, saat rapat dengan Gubernur di Aula Kantor Gubernur, Sabtu (6/3).
Marten mengakui saat ini PT Hutama Karya mengalami keterbatasan kemampuan sumber daya dan kemampuan ekuitas. Kondisi ini mengharuskan manajemen untuk melakukan refocusing sehingga hasilnya bisa lebih cepat dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Dengan keterbatasan lahan yang ada mengakibatkan produktivitas rendah sehingga biaya overhead BUJT dan main contractor menjadi tinggi. Biaya bunga selama masa konstruksi dan biaya eskalasi akan semakin mahal serta biaya supervisi dan pengawasan konsultan bertambah sehingga menjadi tidak efektif dan efisien,” tambah Marthen.
Jika dibiarkan hal-hal tersebut di atas juga akan berdampak pada meningkatnya total biaya investasi. Tarif tol per-km menjadi lebih mahal dan nantinya menimbulkan beban pada masyarakat pengguna jalan tol.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyatakan pihaknya terus berupaya dalam percepatan pengerjaan jalan Tol Padang-Pekanbaru. Menurut Mahyeldi, pada prinsipnya tidak ada satupun yang menolak pembangunan, hanya sosialisasi saja yang belum maksimal.
“Hari ini kita bicara percepatan pembangunan. Hambatan yang ada harus diminimalisir dan carikan solusi sehingga pembangunan berjalan sesuai yang diharapkan,” ujar Mahyeldi. (rls/pzv)
Tinggalkan Balasan